psikosomatik

psikosomatik

Minggu, 29 Desember 2013

Menuju Klinik Psikosomatik Bertaraf Internasional

Menuju Klinik Psikosomatik Bertaraf Internasional

Tidak terasa tahun 2013 segera berakhir. Kami melihat tahun 2013 sebagai Tahun Perkembangan Psikosomatik karena banyaknya prestasi yang telah kami capai selama tahun 2013 ini. Beberapa pencapaian yang dihasilkan di tahun 2013 ini adalah sebagai berikut :
  1.           Angka rata-rata kunjungan pasien di Klinik Psikosomatik RS OMNI mencapai 200 pasien per bulan.
  2.           Pasien di Klinik Psikosomatik RS OMNI berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Hampir seluruh pulau di Indonesia terwakili termasuk pasien dari Negara lain seperti Malaysia, Australia, Singapura dan RRC.
  3.           Saya sebagai Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI mendapatkan pengakuan tertinggi di bidang psikosomatik medis dari The Academy of Psychosomatic Medicine yaitu Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine. Ini merupakan yang pertama untuk psikiater Indonesia dan ke-5 untuk psikiater di Asia.
  4.           Klinik Psikosomatik tetap konsisten menyelenggarakan pendidikan berkelanjutan untuk para dokter umum dan spesialis non-psikiatri lewat Seminar dan Pelatihan yang diselenggarakan tiap menjelang ulang tahun Klinik Psikosomatik RS OMNI.
  5.           Saya kembali menerbitkan buku ke-2 saya yang berjudul Psikosomatik.

Saya berharap ke depan dapat memberikan kontribusi lebih lagi kepada perkembangan psikosomatik di Indonesia dan membawa Klinik Psikosomatik RS OMNI sebagai Klinik Psikosomatik terkemuka di tingkat Internasional.  Terima kasih atas dukungan semua pihak terutama pasien yang telah mempercayakan kesehatannya kepada Klinik Psikosomatik RS OMNI. Salam Sehat Jiwa


Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera
Dr.Andri,SpKJ,FAPM












Selasa, 17 Desember 2013

Bersih-bersih yang ini Gangguan Jiwa !

Bersih-bersih yang ini Gangguan Jiwa!
oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater)

Dalam praktek sehari-hari saya sering menjumpai berbagai jenis masalah gangguan kejiwaan. Masalah-masalah kejiwaan sering kali memang tidak mampu dipahami oleh orang yang tidak mengalaminya. Itulah mengapa terkadang sulit bagi pasien untuk membagi masalahnya dengan orang lain karena perbedaan cara pandang yang berbeda. Sering kali orang yang tidak mengalami gangguan jiwa terlalu memandang enteng keluhan atau masalah pada pasien gangguan jiwa. Mereka akan dengan mudah mengatakan “Itu cuma pola pikir kamu aja yang salah!”, atau “Kamu harus berubah dong jangan menyerah!”, lain lagi “Ah itu cuma pikiranmu saja!”. Orang banyak tidak menyadari memang masalah kejiwaan adalah masalah yang gejala dan tandanya terdapat di pikiran perasaan dan perilaku orang tersebut. Jadi apa yang dikeluhkan mereka memang sangat wajar terjadi.

Salah satu contoh gangguan jiwa yang menarik yang dibahas adalah Gangguan Obsesif Kompulsif atau bahasa Inggrisnya disebut Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Gangguan yang termasuk dalam gangguan kecemasan ini cukup sering ditemukan dalam praktek sehari-hari. Beberapa kasus di bawah ini mungkin bisa jadi gambaran pasien yang mengalami OCD ini.

Kasus 1.
Pasien laki-laki usia 60 tahun dengan keluhan sering kali lama jika mandi. Pasien bisa menghabiskan waktu sampai dengan 1,5 jam di kamar mandi. Selain mandi biasanya waktu di kamar mandi dihabiskan untuk membersihkan kamar mandi termasuk dinding kamar mandinya. Pasien juga sering sekali sulit jika harus berhubungan dengan hitung menghitung. Pekerjaannya sebagai pemilik toko agak membuatnya sulit menghindari diri dari hitung-hitungan. Dalam pergaulan sosial juga pasien kesulitan karena khawatir jika bersentuhan atau bersalaman dengan orang. Setiap habis melakukan sesuatu atau memegang sesutau yang orang lain pegang maka pasien akan segera mencuci baik dengan air atau alkohol yang dia bawa ke mana-mana. Tidak heran kulitnya tampak kering dan kelihatan terkelupas karena seringnya pasien mencuci tangan. Hal ini mulai semakin dirasakan mengganggu ketika pasien berusia 50an.

Kasus 2.
Perempuan usia 27 tahun dengan keluhan tidak mampu menahan diri untuk membersihkan seluruh ruangan apartemen di rumahnya setiap malam sampai dengan dini hari. Pasien hanya berdua tinggal dengan suaminya di apartemen. Pekerjaan bersih-bersih biasanya dilakukan setelah suami pasien pulang dan mandi. Itu disebabkan karena dia tidak ingin setelah dia bersih-bersih masih ada orang yang masuk ke apartemennya. Bersih-bersih ini selalu dilakukan sebagai ritual menjelang tidur dan ditutup dengan mandi serta membersihkan kamar mandi. Pasien melakukannya sampai menjelang pagi dan selama kegiatan tersebut suami pasien tidak boleh tidur dan harus menemani pasien.

Ritual Yang Melelahkan
Pasien yang menderita OCD memang sering kali melakukan ritual terkait bersih-bersih, menghitung dan mengecek barang berkali-kali. Pasien kesulitan menahan impulsnya untuk mengecek atau membersihkan sesuatu berkali-kali walaupun kenyataannya apa yang dilakukannya sudah dilakukan berulang-ulang. Pasien jika tidak melakukan hal tersebut akan merasa gelisah dan kecemasan yang sangat. Saran orang lain tidak akan dihiraukan dan malahan pasien marah-marah jika apa yang dilakukannya dilarang.

Gangguan kecemasan OCD termasuk salah satu gangguan kecemasan yang sulit sembuhnya. Terapi obat pada pasien ini pun pada kasus yang berat membutuhkan obat yang lebih besar dosisinya daripada pada kasus gangguan cemas biasa. Penggunaan obat Clomipramine dan Sertraline sebagai obat untuk kasus OCD sampai saat ini masih disarankan. Namun terlebih yang penting adalah terapi perilaku yaitu pasien harus belajar menahan impuls-impuls untuk melakukan ritual tersebut berkali-kali. Jika pasien biasanya melakukan tiga kali maka pasien belajar untuk merasa “puas” untuk melakukannya dua kali dan akhirnya satu kali.

Pikiran-pikiran berulang untuk melakukan ritual berulang memang tidak mampu dirasionalisasikan oleh pasien OCD. Pasien merasa kesulitan untuk mencegahnya datang dan jika datang juga pasien kesulitan untuk bisa menahannya. Akhirnya sering kali pasien harus menyerah dengan pikiran untuk melakukan ritualnya tersebut.
Peran keluarga sangat diharapkan sebagai orang yang bisa mendampingi pasien agar mampu lebih baik dalam pelatihan perilaku agar dia mampu untuk bisa mengurangi tindakan berulang (kompulsif) akibat pikiran-pikirannya yang berulang itu. Pengobatan ke psikiater juga diperlukan agar pasien mampu menjalani kehidupannya lebih baik. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Rabu, 11 Desember 2013

Saya Akui Saya Sakit Jiwa!

Saya Akui Saya Sakit Jiwa!
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater)

Dalam praktek sehari-hari sering kali pasien yang datang berkonsultasi pada akhir wawancara mengatakan “Jadi saya sakit jiwa bukan dok?”. Pertanyaan yang sebenarnya mempunyai makna retorik karena memang tentunya ketika memutuskan datang ke psikiater, pasien sedikit banyak telah memahami ada masalah dalam kejiwaannya. Namun mungkin lebih banyak pertanyaan ini diutarakan karena pasien kebanyakan memahami yang dimaksud sakit jiwa itu adalah gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. Lebih gamblang lagi pasien banyak yang menanyakan langsung “Apakah saya gila?”.

Stigma yang melekat pada gangguan jiwa memang tidak enteng. Pasien rata-rata dalam banyak diskusi dan sesi konsultasi mengatakan bahwa ke psikiater merupakan suatu hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Pasien kebanyakan menolak ide untuk ke psikiater karena merasa tidak cocok berkonsultasi masalah yang dihadapinya ke seorang dokter yang kebanyakan dikenal orang mengobati orang dengan masalah gangguan jiwa berat. Apalagi jika pasien mengalami masalah gangguan fisik sebagai manifestasi masalah psikis (psikosomatik), pasien bisa bertanya-tanya dalam hati, apa keperluannya dirinya berkonsultasi masalah fisik ke dokter jiwa.

Menerima diri apa adanya
Penerimaan akan kondisi diri sendiri merupakan suatu langkah yang sangat penting dalam proses terapi dengan psikiater. Pasien sering kali merasa ragu dan malu bahkan mungkin takut menerima bahwa dirinya saat ini membutuhkan bantuan seorang dokter jiwa. Banyak kesempatan pasien mengatakan bahwa mereka tidak habis pikir mengapa mereka yang dulunya sehat walafiat, bekerja dengan semangat dan penuh percaya diri, sekarang menjadi manusia yang penuh ketakutan, kecemasan dan rendah diri. Mereka tidak bisa menerima kehilangan dirinya yang dulu sehingga sering kita temukan pasien gangguan kecemasan juga mengalami gejala-gejala depresi.

Baiknya dalam proses terapi pasien mampu dan mempunyai kesadaran untuk menerima dirinya saat ini membutuhkan bantuan. Pasien juga perlu menerima bahwa apa yang terjadi pada dirinya adalah suatu hal yang memang bisa terjadi pada semua orang. Sering pasien merasa dirinyalah yang paling menderita dengan keluhannya sekarang. Pasien sering lupa bahwa gangguan jiwa itu banyak diderita oleh banyak orang di dunia ini, tua muda, laki-laki dan perempuan dari berbagai golongan dan status sosial yang beragam.

Kesulitan menerima diri dengan kondisi gangguan jiwa yang dialami sebenarnya akan menyulitkan pasien untuk sembuh. Contohnya seorang yang mengalami gangguan dan gejala-gejala fisik tapi tidak ditemukan dasar bermakna secara organik akan kondisinya itu. Ketika dia belum bisa menerima dirinya itu maka pasien akan terus berupaya melakukan pencarian pengobatan medis fisik yang bertujuan untuk mencari tahu dasarnya. Saat disarankan untuk ke psikiater, pasien akan menolak dengan tegas dan malah bisa tersinggung. Tidak heran dalam praktek sehari-hari, tidak banyak juga dokter yang mau menyarankan pasiennya untuk ke psikiater. Pemahaman tentang peran psikiater yang masih sempit ini yang membuat pasien menjadi tersinggung jika disarankan ke psikiater.

Padahal proses penerimaan yang baik tentang kondisi dirinya tersebut akan mampu membantu dalam proses terapi. Pasien akan bisa menerima dirinya dan kondisinya, mau berupaya dengan semangat untuk mengatasi masalahnya itu dan bisa memotivasi dirinya lebih baik. Jadi sebenarnya inti dalam pengobatan psikiatri sebenarnya adalah diawali dengan kemapuan untuk menerima diri apa adanya. Kalau memang sakit jiwa, mengapa harus malu mengakuinya? Salam Sehat Jiwa.

Maukah kita mengakui bahwa kita sakit jiwa seperti kita mengakui kita suka Durian? 


                                                                                                                                                                                      

Minggu, 01 Desember 2013

Dispepsia Fungsional : Gangguan Lambung Yang Sulit Sembuhnya

Dispepsia Fungsional : Gangguan Lambung Yang Sulit Sembuhnya
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine)

Sebagai seorang psikiater yang lebih banyak menangani kasus-kasus psikosomatik, dalam keseharian praktek saya lebih sering bertemu dengan kasus-kasus keluhan fisik yang sering tidak didasari oleh adanya masalah organ yang mendasarinya. Keluhan fisik ini kebanyakan disebabkan karena aktifitas sistem saraf otonom yang berlebihan. Beberapa gejala seperti jantung tiba-tiba berdebar kencang, sesak napas, keluhan lambung yang tidak nyaman adalah hal-hal yang sering dikaitkan dengan aktifitas sistem saraf otonom yang berlebihan. Belakangan saya juga banyak didatangi pasien dengan kasus-kasus gangguan lambung yang tidak kunjung sembuh dalam perawatan dokter penyakit dalam. Beberapa contoh kasus di bawah ini mungkin bisa membantu memahami.

Kasus 1.
Laki-laki usia 48 tahun dengan keluhan nyeri lambung yang sudah terjadi sejak 2 tahun yang lalu. Perasaan tidak enak di lambung tidak berkurang dengan asupan makanan. Pasien mengatakan rasa sebah/kembung yang dirasakan walaupun makan sedikit saja. Pemeriksaan gastroskopi (endoskopi dan kolonoskopi) sudah dilakukan dan hasilnya dianggap normal, tidak ada ulkus/luka di lambung. Pemeriksaan H.Pylori juga telah dilakukan dan hasilnya negatif. Pasien berobat ke internist khusus lambung (Gastoenterologis/SpPD-KGEH) dan diberikan terapi obat PPI (Proton Pump Inhibitor seperti gol Omeperazole dan kawan-kawannya yang dikenal dengan merk Nexium,Pariet,Prosogan dll) dan prokinetik (Domperidone dikenal dengan merk Motilium,Vometa,Vomitas). Hampir setahun memakai obat tersebut perubahan hanya terjadi jika makan obat saja. Jika obat dilepaskan rasa kembung dan tidak nyaman kembali terjadi. Pasien akhirnya memutuskan sendiri berobat ke psikiater dan diagnosis saat dilakukan pemeriksaan fisik dan mental lebih mengarah ke DIspepsia Fungsional dengan latar belakang kepribadian tipe anankastik/obsesif kompulsif. Pasien direncanakan pengobatan dengan antidepresan golongan SSRI dan sulpiride pada awal terapi. Perbaikan gejala dicapai pada hari bulan kedua dan masuk bulan ke tiga pengobatan SSRI hanya setengah dosis dan sulpiride sudah dilepaskan. Pasien merasa lebih baik. Pasien makan saat ini tidak terlalu takut lagi karena merasa sudah sangat nyaman perutnya walaupun makan makanan yang dulu biasa pasien hindari (cabe, cuka dan lada). Pasien mengatakan sempat lupa makan obat SSRI-nya selama dua minggu tapi kemudian gejalanya tidak kambuh. Itulah perbedaan yang dikatakan pasien, ketika dulu makan obat golongan PPI, jika tidak dimakan gejala kambuh sedangkan pengobatan dengan antidepresan ketika dihentikan pun tidak berulang. Saat ini pasien sedang dalam tahapan pelepasan obat dan disarankan untuk tetap makan obat dengan dosis setengah sampai akhir bulan Desember 2013.

Kasus 2.
Pasien perempuan 35 tahun dengan keluhan rasa tidak nyaman di lambung dan sering merasa perih seperti ingin makan. Karena keluhan ini pasien beberapa kali makan dalam sehari (bisa 5-7 kali) agar perutnya tetap terisi menurut pasien. Hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri yang timbul karena jika perutnya “kosong” pasien merasa perih. Pasien awalnya hanya mengobati dirinya sendiri dengan obat maag dari warung atau coba-coba makan obat golongan H-2 Antagonis seperti Ranitidine yang dibelinya di apotek. Tapi keluhan tidak berkurang. Karena khawatir maka pasien berobat ke dokter penyakit dalam dan kemudian diberikan obat-obat golongan PPI dan juga untuk antikembungnya. Belum banyak perubahan setelah 3 bulan pengobatan dan akhirnya disarankan untuk melakukan endoskopi. Hasil endoskopi tidak menunjukkan adanya ulkus/luka dan kelainan yang dianggap bisa menyebabkan kondisinya saat ini. Pasien mulai merasakan keluhan cemas dan mulai kadang sulit tidur. Pasien akhirnya memutuskan berobat ke saya karena merasa mulai menjadi sering ada keluhan cemas yang berlebihan karena sakit perut yang tak kunjung sembuh. Pemeriksaan fisik dan status mental mengatakan bahwa pasien ini mengalami Dispepsia Fungsional dengan kondisi kejiwaan Gangguan Penyesuaian. Terapi yang diberikan dengan menggunakan antidepresan SNRI dan terapi simptomatik untuk gejala lambungnya. Setelah dua bulan melakukan terapi dengan antidepresan pasien mengalami perbaikan. Saat ini pasien bisa makan 3 kali sehari seperti biasa tanpa rasa perih di lambung. Keluhan lambung sudah sangat minimal.

Aspek Psikososial Gangguan Lambung
Gangguan lambung sebagai suatu keluhan utama atau sebagai keluhan tambahan yang berhubungan dengan gangguan kejiwaan banyak ditemukan pada pasien-pasien yang berkunjung ke Klinik Psikosomatik RS OMNI. Lambung memang organ otonom yang sangat dipengaruhi oleh kondisi sistem saraf otak manusia dan terutama fungsi kejiwaannya. Lambung bahkan dianggap memiliki “otak” sendiri sehingga poros lambung dan otak (Brain-Gut Axis) sering dikatakan mempunyai makna dalam diagnosis dan tata laksana pasien dengan keluhan lambung. Serotonin yang dikatakan zat yang mempengaruhi perasaan sekalipun lebih banyak ditemukan di lambung daripada di otak manusia. Inilah yang menjadi dasar bahwa tata laksana gangguan lambung memang tidak lepas dari faktor kejiwaan orang itu sendiri.

Secara klinis dalam berbagai penelitian juga dikatakan bahwa keluhan lambung seperti rasa nyeri, rasa kembung, perasaan penuh setelah makan walau sedikit, mual, diare sampai sulit buang air merupakan keluhan lambung yang banyak dihubungkan dengan gangguan dyspepsia fungsional. Lebih dari 30-40% keluhan lambung berhubungan dengan dyspepsia fungsional yang berarti pasien tersebut tidak mengalami masalah organik di lambungnya mereka. Saat trend kuman Helicobacter Pylory ditemukan, orang ramai-ramai mulai beralih pengobatannya kepada antibiotic untuk kasus-kasus lambung namun ternyata banyak hasil yang tidak memuaskan dan juga ternyata tidak semua kasus lambung disebabkan oleh bakteri ini.

Kasus dyspepsia fungsional sekalipun memang mempunyai dua tipe yaitu tipe yang seperti ulcer atau yang dismotilitas. Keduanya mempunyai perbedaan dalam keluhan di mana yang tipe ulcer biasanya lebih sering mengeluh nyeri sedangkan dismotilitas lebih sering mengeluh kembung.  

Sering menjadi perhatian saya adalah ketika banyak dokter yang jika sudah merasa obat PPI dan beberapa obat lain tidak mampu mengatasi keluhan lambung, mereka menambahkan obat golongan benzodiazepine yang membuat relaks lambung dan pada beberapa kasus sangat membantu. Benzodiazepine yang paling dikenal di kalangan dokter kita tahu adalah golongan alprazolam yang mempunyai potensi mengalami ketergantungan dan peningkatan dosis (toleransi). Sayangnya pengobatan dengan obat golongan ini tidak bisa lama (tidak boleh lebih dari 4 minggu) dan masalahnya yang terkait adalah jika sudah tidak memakai obat ini, keluhan lambungnya biasanya akan lebih terasa tidak nyaman/makin menjadi.

Pengobatan untuk pasien dengan kasus dyspepsia fungsional memang menarik. Penerimaan pasien terhadap penyakitnya diutamakan daripada terapi lainnya. Dokter harus mengajak pasien untuk mampu menerima kondisinya dulu dengan baik agar terapi selanjutnya bisa berlangsung baik. Pengobatan simptomatik untuk lambung boleh terus dilakukan namun pada beberapa kasus dikatakan bahwa pengobatan dengan menggunakan antidepresan golongan SSRI atau SNRI dan TCA membantu dalam proses perbaikan gejala dan pencegahan gejala tersebut berulang. Selain itu keseimbangan sistem saraf otonom juga perlu diperhatikan. Pasien dengan gangguan kecemasan yang mengalami gangguan dyspepsia fungsional biasanya lebih sering sulit sembuh daripada yang tidak. Ini membuktikan bahwa adanya masalah gangguan jiwa memperberat kondisi gangguan medis fisik dan begitupun sebaliknya.
Semoga tulisan ini bisa sedikit memberikan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan Dispepsia Fungsional. Salam Sehat Jiwa

Sabtu, 16 November 2013

Mengejar Cita Menjadi Psikiater Tingkat Dunia

Mengejar Cita Menjadi Psikiater Tingkat Dunia

REP | 16 November 2013 | 10:01
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine)

Siang tadi pukul 13.30 waktu Tucson, Arizona saya telah dikukuhkan menjadi Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine dalam upacara sederhana di Ballroom hotel Westin La Paloma di Tucson. Rangkaian acara pengukuhan Fellow dan beberapa Award lainnya memang merupakan acara yang banyak ditunggu oleh banyak peserta terutama karena cara pengukuhan ini adalah ajang memberikan kehormatan yang layak untuk para psikiater yang telah mencapai pencapaian tertentu di bidang Consultation-Liaison Psychiatry/Psychosomatic Medicine.
Acara dibuka oleh Dr.Elizabeth Kunkel yang merupakan Chair of Fellowhip and Award of APM. Dalam kata sambutan awalnya Dr Kunkel mengatakan bahwa pencapaian yang dicapai oleh beberapa rekan pada hari ini semoga bisa menginspirasi teman-teman yang lain dan juga bisa memberikan semangat bagi yang menerima untuk tetap fokus berada di jalur pengabdian di bidang Psychosomatic Medicine.
Saya yang telah mengetahui akan menjadi salah satu penerima kehormatan Fellow of Academy Psychosomatic Medicine telah duduk di depan podium. Para penerima yang berjumlah 37 orang tahun ini telah disediakan tempat duduk di depan podium agar mudah memberikan penghargaan yang dilanjutkan dengan sesi foto. Saya merupakan urutan ke dua yang dipanggil.
Cerita tentang bagaimana proses ini terjadi pernah saya ceritakan di tulisan sebelumnya “Akhirnya Pengakuan Dunia Itu Didapatkan”. Saya berharap apa yang saya capai ini bisa menginspirasi teman-teman dokter, para mahasiswa kedokteran dan masyarakat pada umumnya. Pengakuan ini juga sekaligus kehormatan bagi saya karena saya merupakan orang pertama di Indonesia dan orang ke empat di Asia (tiga lebih dahulunya adalah orang Jepang) yang menerima pengakuan ini. Semoga bisa bermanfaat. Salam Sehat Jiwa
13845705641969781919
Senang dan bangga bisa menerima kehormatan sebagai Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine (dok.pribadi)
13845706931245692213
Bersama Dr Elizabeth Kundell yang merupakan Chair of Fellowship of APM
13845708441048891920
Prof Michelle Riba, mentor dan teman yang selalu mendukung. Sama-sama meraih kehormatan sebagai FAPM hari ini (dok.pribadi)

Jumat, 15 November 2013

Butuhkah Kita Terhadap Psikiater?

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater)

Saat saya menulis artikel ini saya sedang berada di Tucson, Arizona menghadiri 60thAnnual Meeting Academy of Psychosomatic Medicine (APM). Pagi tadi acara dibuka oleh Dr.James  Rundell sebagai Ketua Panitia dari acara APM ini. Laporan tentang kondisi terakhir organisasi ini dibawakan oleh President of APM, Dr. Wayne Katon. Dr Katon mengatakan sampai saat ini telah terdapat 54 pusat Fellowship Training Psychosomatic Medicine di seluruh Amerika sejak diresmikannya Subspesialis Psychosomatic Medicine ini sebagai subspesialisasi di bawah American Board of Medical Specialty (ABMS) dan American Board of Psychiatry and Neurology (ABPN) tahun 2005.
Dr.Katon juga menyampaikan bahwa peserta pada acara APM yang ke-60 ini berada di atas 700 peserta, naik 20% dari tahun lalu. Jumlah anggota sampai saat ini juga mencapai 900 psikiater dari sekitar 45 ribu psikiater di Amerika. Beberapa pencapaian yang diperoleh oleh anggota APM disebutkan dalam pembukaan acara ini. Dr.Paul Summergard adalah anggota APM yang menjadi President Elect American Psychiatric Association (APA) untuk 2014-2015 sedangkan Dr.Paul Muskin menjadi Program Chair dari kegiatan APM tahun 2014 nanti. Tentunya ini merupakan kebanggaan bagi APM turut berkontribusi di organisasi nasional seperti APA di Amerika Serikat.
Selanjutnya dalam acara Plenary Lecture yang pertama dikatakan oleh Prof Jurgen Unutzer dari University of Washington bahwa tahun 2013 ini aka nada 60 juta warga Amerika yang akan dilindungi oleh asuransi untuk kesehatan jiwanya. Pada kenyataannya di Amerika Serikat sendiri hanya 2 dari 10 orang yang membutuhkan psikiater atau psikolog mempunyai kesempatan untuk melakukan terapi. Lima dari 10 orang menerima terapinya di pelayanan primer. Sekitar 30 juta pasien yang menerima resep antidepresan untuk depresi di pelayanan primer hanya 25% yang mengalami perbaikan. Hal ini berarti semakin dibutuhkannya kolaborasi yang baik antara psikiater dengan dokter di pelayanan primer. Sayangnya pada kenyataan di lapangan, 40 ribu psikiater di Amerika Serikat tinggal di daerah perkotaan dan sisanya sekitar 5000 tinggal di daerah terpencil. Dalam perumpaan oleh pembicara tentang waktu yang dibutuhkan dalam konsultasi dikatakan bahwa Psikiater yang dididik di pendidikan spesialis membutuhkan waktu 50 menit per pasien, akhirnya hanya dapat menyisakan waktu 6 menit bagi pasien jika psikiater bekerja di lingkungan perkotaan dan hanya sekitar 1.5 menit per pasien bagi psikiater yang bekerja di daerah terpencil. Hal ini karena tidak meratanya psikiater yang ada dan kurangnya psikiater itu sendiri dibandingkan dengan populasi penduduk.
Dalam pembicaraan selanjutnya dikatakan apakah yang bisa dilakukan untuk mengurangi ketimpangan ini. Apakah dengan melatih lebih banyak psikiater? Atau dengan bekerja lebih keras lagi? Atau dengan meningkatkan layanan kesehatan jiwa yang dibantu oleh teknologi termasuk pemanfaatan telemedicine. Sampai saat ini ternyata di Amerika Serikat sendiri menjadi psikiater bukanlah hal yang diminati oleh mahasiswa kedokteran dan dokter yang baru saja lulus dari sekolah kedokteran. Hal yang sama hampir terjadi di banyak tempat di dunia ini.
Bagaimana di Indonesia?
Jika membandingkan dengan di Indonesia tentunya hal tersebut tidak jauh berbeda walaupun pada kenyataannya sangat jauh berbeda. Sampai saat ini jumlah psikiater di Indonesia sendiri belum mencapai 700 psikiater. Lebih dari 200 psikiaternya bekerja di Jakarta dan sisanya di kota-kota besar di Indonesia. Beberapa propinsi di Indonesia bahkan tidak mempunyai psikiater. Jika saja melihat angka kejadian depresi dan gangguan cemas yang bisa mencapai 20% populasi global, maka secara kasar bisa dikatakan bahwa dengan penduduk Indonesia yang anggap saja 230 juta jiwa terjadi ketimpangan yang luar biasa antara psikiater yang ada dengan kebutuhan psikiater di masyarakat.
Tapi apakah kebutuhannya di lapangan tergambar demikian? Ternyata tidak selalu benar. Psikiater yang bekerja di sektor swasta banyak yang praktek sehari-harinya tidak sampai mencapai 30 pasiennya perhari. Tidak semua psikiater yang praktek di Indonesia ternyata dibutuhkan oleh orang-orang yang seharusnya ke psikiater untuk berobat terkait masalah gangguan jiwanya. Kesibukan psikiater lebih terasa jika bekerja di institusi pemerintah seperti di RSJ, RSUD atau di RS Pusat Pendidikan, selain itu kebanyakan psikiater masih kalah jumlah pasiennya dibandingkan spesialisasi lain apalagi spesialisasi 4 besar seperti Penyakit Dalam, Anak, Bedah dan Obstetri Ginekologi. Apakah ini berarti yang membutuhkan psikiater di Indonesi lebih banyak dari golongan menengah bawah dengan asumsi bahwa pasien-pasien yang datang ke RSJ,RSUD atau RS Pusat Pendidikan itu adalah pasien yang demikian.
Saya menjadi berpikir bahwa kebutuhan psikiater secara global yang terlihat dari angka statistik perbandingan jumlah psikiater dengan prevalensi gangguan jiwa secara global ternyata tidak bisa selalu dijadikan patokan di Indonesia. Seorang pasien yang mengalami gangguan kejiwaan di Indonesia tidak selalu akan berobat ke psikiater apalagi berobat di pelayanan primer dengan dokter umum. Banyak dari mereka yang lebih banyak mungkin memilih alternatif pengobatan lain termasuk di antara pengobatan non-medis. Stigma terhadap profesi psikiater dan pasiennya mungkin masih membuat pasien enggan berobat ke psikiater. Lebih jauh lagi stigma ini berpengaruh pada keminatan dokter umum atau mahasiswa kedokteran untuk mengambil spesialisasi psikiater sebagai pilihan pendidikan spesialisasi.
Saya berharap ke depan dengan adanya kesadaran yang lebih baik dengan edukasi kepada masyarakat tentang masalah kesehatan jiwa kebutuhan masyarakat akan psikiater semakin meningkat. Tentunya secara langsung kebutuhan akan psikiater ini membuat pilihan profesi menjadi psikiater juga menjadi lebih banyak. Bagaimanapun menjadi dokter terutama bagi laki-laki adalah pilihan karier yang diharapkan dapat menunjang kehidupan ekonomi keluarganya. Jika contoh yang selalu dilihat mahasiswa kedokteran dan dokter umum adalah psikiater yang kebanyakan sepi pasiennya, siapa yang mau jadi psikiater di Indonesia? Semoga tulisan ini bermanfaat. Sala Sehat Jiwa dari Tucson.

13844798011040312069

Selasa, 22 Oktober 2013

Berjibaku Lepas Dari Alprazolam

1382493238460837466
Alprazolam generik (sumber : google image)
Oleh : Dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine)

Setahun belakangan ini saya banyak didatangi pasien yang ingin lepas dari ketergantungan terhadap alprazolam. Obat penenang yang dikenal dengan berbagai macam merek seperti Xanax, Alganax, Calmlet dan Zypraz ini memang suka membuat repot pasien yang tidak menyadari penggunaannya.

Alprazolam sebenarnya diindikasikan oleh Food Drug Administration (FDA) sebagai obat penunjang untuk Gangguan Kecemasan Menyeluruh dan Gangguan Cemas Panik. Dalam praktek sehari-hari ternyata obat Alprazolam ini lebih banyak digunakan sebagai obat pembantu tidur pada pasien-pasien yang mengalami insomnia. Indikasi ini sudah dikenal di kalangan dokter dan awam secara luas, bahkan di bawah tahun 2009 obat ini bisa dibeli bebas di apotek tanpa resep dokter.

Permasalahan timbul karena ketidaktahuan pasien dan dokter yang meresepkan tidak paham akan efek obat ini. Alprazolam adalah obat yang sangat mudah membuat toleransi dan mempunyai potensi untuk ketergantungan yang tinggi pada pemakaian lama. Pasien yang memakai obat ini dalam dosis terapi sekalipun bisa mengalami toleransi apalagi jika penggunaannya tidak diawasi oleh dokter psikiater. Pengguna alkohol sebaiknya tidak pernah menggunakan obat ini karena masalah ketergantungan dan toleransi akan lebih mudah terjadi pada mereka daripada orang yang tidak menggunakan alkohol.

Obat ini memang sangat berguna untuk kasus gangguan cemas panik. Apalagi jika dalam kondisi serangan panik, sampai saat ini obat ini termasuk yang paling efektif dan cepat mengurangi gejala-gejala panik tersebut dalam beberapa menit saja. Tetapi penggunaan di luar indikasi ini apalagi untuk mendapatkan rasa nyaman yang berlebihan tidak pernah disarankan. Khusus untuk mantan pengguna narkotika jenis heroin (putaw) obat ini sangat akrab bagi mereka karena efek anticemasnya yang kuat membantu meredakan gejala putus obat.

Di bawah ini akan saya sajikan kasus upaya lepas ketergantungan alprazolam pada seorang laki-laki muda. Pemakaian alprazolam sampai 10 miligram per hari.

Laki-laki usia 28 tahun datang dengan keinginan untuk bisa lepas dari ketergantungan Alprazolam yang sudah dia alami selama 1 tahun. Pasien mengatakan awalnya alprazolam digunakannya untuk membantunya tidur tetapi lama kelamaan pasien menggunakan alprazolam tersebut untuk tenang dan nyaman. Dosis dari 1 miligram terus bertambah sampai akhirnya pernah pasien menggunakan 10 miligram perhari. Bisa dikurangi sampai 6 miligram tetapi merasa sangat gelisah berlebihan.
Saat itu pilihan yang diberikan kepada pasien adalah lepas sama sekali dari obat dan mencari penggantinya atau menurunkan perlahan-lahan dengan menggunakan obat antidepresan yang ditambahkan. Pasien lebih memilih mengganti obat alprazolam dengan obat anticemas lain yang disarankan.

Saya memulai dengan memberikan edukasi kepada pasien bahwa penggunaan alprazolam yang berlebihan tersebut harus diketahui dulu sebabnya. Pasien mengatakan awalnya untuk mengatasi masalah tidurnya dan lama kelamaan untuk membantu lebih relaks. Hal ini memberikan gambaran bahwa ada kesulitan tidur pada pasien yang akhirnya mempengaruhi kehidupannya sehari-hari juga. Efek penggunaan alprazolam untuk tidur akhirnya membuat masalah kesulitan untuk mempertahankan kestabilan di pagi hari karena sering akhirnya pasien menjadi cemas juga di pagi hari dan menggunakan alprazolam untuk meredakannya juga.

Selanjutnya saya menyarankan untuk terapi penggantian alprazolam dengan anticemas yang lebih panjang kerjanya agar tidak mudah membuat pasien berkeinginan minum alprazolam kembali. Alprazolam adalah obat penenang yang mempunyai waktu paruh pendek, kerjanya hanya 3-4 jam saja di tubuh. itulah mengapa para pasien yang ketergantungan alprazolam bisa berkali-kali makan alprazolam dalam sehari. Kita memilih diazepam sebagai pengganti obat alprazolam dan menggunakan agomelatine sebagai tambahan obat antidepresan di waktu malam hari agar juga membantunya tidur. Agomelatine adalah antidepresan yang bekerja menyelaraskan irama sirkadian tubuh dan diindikasikan untuk depresi. Pada praktek obat ini banyak digunakan untuk mengatur irama sirkadian tubuh yang kacau terutama pada pasien gangguan cemas yang sulit tidur.

Terapi ini berlangsung lebih dari 3 bulan dengan penurunan dosis Alprazolam yang langsung dan pengganti alprazolam yaitu diazepam diberikan dengan dosis setara (equivalen). Pasien bisa melepaskan alprazolam langsung tanpa gejala-gejala putus obat yang mengganggu dan bisa mencapai tidur yang baik dengan penggunaan antidepresan agomelatine. Salah satu yang melegakan adalah pelepasan alprazolam secara langsung dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien yang akhirnya membuatnya bisa beraktifitas seperti biasa sehari-hari. Keluhan yang awalnya dikeluhkan adalah emosional yang kadang tidak stabil dan membuat pasien mudah marah. Pasien sampai saat ini sedang dalam terapi penurunan dosis antidepresannya dan kondisi kontrol terakhir sudah menunjukkan perubahan yang baik. Alprazolam tidak pernah diminum lagi sejak awal pengobatan.

Catatan dari kamar praktek :
Hal yang harus diperhatikan dalam upaya terapi ketergantungan alprazolam adalah komitmen dari pasien dan ketahanan diri pasien untuk menahan gejala-gejala yang tidak nyaman yang diakibatkan reaksi putus obat alprazolam. Sering kali pasien-pasien saya yang gagal terapi ini disebabkan karena pasien merasa sulit mentolerir gejala-gejala fisik dan psikis akibat putus obat alprazolam. Kebanyakan dari pasien ini inginnya langsung baik dan nyaman tanpa efek apapun, sesuatu yang agak sulit dicapai.

Komitmen yang baik dari pasien dan juga dukungan dari keluarga adalah hal yang sangat penting. Pasien harus didukung dengan baik. Pasien dalam kasus saya ini didukung oleh ayah dan istrinya untuk berobat. Ayah mengingatkan selalu pasien untuk makan obat sesuai aturan dan membuat komitmen yang bisa dijalani bersama.
Saya berharap tulisan ini dapat menginspirasi orang-orang yang saat ini masih ketergantungan alprazolam. Semoga segera melakukan perubahan. Salam Sehat Jiwa

Minggu, 13 Oktober 2013

Apa kata pembaca buku "Psikosomatik"?

Saya mencoba untuk meminta kesan dan kritik dari pembaca buku saya "Psikosomatik". Saya lihat di antaranya adalah sebagai berikut :

Saya sebagai dokter pelayanan primer lulusan tahun 80an, telah membeli buku ini melalui kirim tiki,setelah 

baca buku ini,komentar saya adalah satu2nya buku yang dituliskan dari isi pikiran,pengalaman pribadi dari

dr Andri sendiri,bukan seperti kita baca buku tekbook medis lain,kebanyakan hasil kutipan texbook lainnya 

Buku ini buku yang praktis dan perlu dibaca dan dimiliki.terima kasih dr andri mau sharing pengalaman utk 

kalangan dokter di Indonesia. (dr.Darwis Hartono)

Terima kasih atas kesediaan sejawat dan pembaca sekalian untuk berkontribusi dalam memberikan pendapat. Salam Sehat Jiwa

Sabtu, 05 Oktober 2013

Obati Psikosomatik dengan Tepat dan Menyeluruh

Oleh : Dr.Andri,SpKJ (Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI)

Sabtu 5 Oktober 2013 bertempat di Auditorium RS OMNI Alam Sutera, Tangerang Selatan berlangsung Seminar Psikosomatik ke-2 yang diselenggarakan oleh Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera. Kegiatan yang merupakan rangkaian acara Ulang Tahun Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera ini juga berkaitan dengan peluncuran buku terbaru saya “Psikosomatik” yang merupakan kumpulan artikel Psikosomatik di berbagai media online.
Seminar ini ditujukan untuk dokter umum dan dokter spesialis di pelayanan primer agar mampu mengenali kondisi medis psikosomatik dan pengobatan yang tepat dan menyeluruh. 

Seminar ini juga bertujuan agar pasien-pasien psikosomatik dapat terdeteksi sejak awal di pelayanan primer sehingga mendapatkan kesempatan meraih kualitas hidup yang lebih baik. Hal ini karena selama ini pasien psikosomatik sering kali tidak terdeteksi dengan baik karena walaupun merupakan kondisi gangguan kejiwaan, gejala psikosomatik pasien adalah gejala fisik. Dikotomi Jiwa dan Raga sendiri dari kebanyakan orang bahkan dokter sekalipun semakin membuat kasus-kasus Psikosomatik sering kali luput dari perhatian dokter.

Saya membuka acara ini dengan menampilkan presentasi tentang apa yang menjadi perhatian dalam penanganan kasus-kasus psikosomatik di pelayanan primer. Setelah mendiskusikan tentang perubahan yang terjadi pada kriteria diagnosis terbaru menurut American Psychiatric Association. Saya kemudian memaparkan penyakit-penyakit psikosomatik yang sering ditemukan di pelayanan primer seperti gangguan dispepsia (lambung) fungsional, gangguan nyeri kronik termasuk fibromialgia dan sindrom kelelahan kronik serta insomnia. Presentasi saya lebih menyoroti tentang aspek diagnosis dan hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien yang mengalami gejala tersebut. Seperti misalnya bahwa pada kenyataan klinis di lapangan terdapat lebih dari 60-70% kasus gangguan lambung adalah merupakan gangguan lambung fungsional. Ini artinya gangguan lambung tersebut tidak ditemukan dasar organisnya di lambung seperti luka atau peradangan berat. Kondisi psikiatrik seperti cemas dan depresi sering terjadi pada kasu-kasus seperti ini.

Pembicara selanjutnya Dr.Dharmawan A.Purnama,SpKJ dari RSJ Soeharto Herdjan lebih mengedepankan aspek pengobatan dengan menggunakan obat-obat psikiatrik yang bisa digunakan juga oleh dokter di pelayanan primer. Dr.Dharmawan menegaskan bahwa setiap obat memiliki indikasi sendiri dan tidak diperkenankan memberikan obat tanpa mengetahui cara kerja dan kegunaan obat. Pengetahuan tentang obat-obatan psikiatrik beliau pandang selama ini sangat lemah. Banyak dokter yang meresepkan obat-obatan dengan pengetahuan yang minim sehingga akhirnya menimbulkan masalah seperti ketergantungan dan kesulitan lepas obat. Hal ini sering terjadi pada penggunaan obat golongan benzodiazepine yang sering disebut obat penenang. Dalam presentasi ini beliau lebih menekankan bahwa obat bisa diberikan dengan baik dengan dasar diagnosis yang tepat dan kemampuan dokter yang kompeten. Dr.Dharmawan menegaskan kembali tentang profesionalisme dan kode etik kedokteran dalam praktek sehari-hari agar menjadikan pasien yang ditangani menjadi lebih mendapatkan kualitas hidup yang baik.

Pembicara terakhir Dr.Elly Ingkiriwang,SpKJ dari FK UKRIDA mempresentasikan tentang dasar-dasar konseling dan “The Art of Listening”. Kondisi psikosomatik kita ketahui banyak berhubungan dengan dasar mental emosional yang mengalami ketidakseimbangan. Kondisi ini tentunya membuat masalah yang berkepanjangan jika tidak dituntaskan. Dr.Elly pada kesempatan ini lebih banyak mengajak para dokter untuk bisa berperan sebagai pendengar aktif jika berhadapan dengan kasus-kasus psikosomatik. Dr.Elly juga memaparkan bagaimana suatu proses konseling dan psikoterapi bisa memberikan perbaikan pada kondisi pasien asalkan adanya kerjasama yang baik antara pasien dan dokter. Dr.Elly mengingatkan bahwa pada pasien psikosomatik pembicaraan berhubungan dengan kondisi fisik yang selalu ditekankan pasien bisa dialihkan ke hal-hal lain seperti kondisi keluarga dan lingkungan. Hal ini bertujuan agar pasien tidak selalu fokus pada “sakitnya” dan mencoba mengalihkan pikirannya pada hal-hal lain yang juga perlu dipikirkan dalam hidup ini.

Seminar ini ditutup oleh presentasi kasus oleh saya tentang kasus-kasus psikosomatik dan penggunaan obat psikiatrik dalam praktek klinis sehari-hari. Kasus insomnia menjadi titik utama dalam presentasi kasus ini karena begitu banyaknya kasus insomnia yang sering ditangani oleh dokter umum dan dokter spesialis di pelayanan primer.

Secara umum seminar ini berlangsung sukses. Peserta yang berjumlah 87 orang tampak antusias memberikan perhatian pada semua pembicara. Pembahasan kasus pun berlangsung baik. Beberapa pujian dilontarkan oleh peserta kepada para pembicara yang telah mampu memberikan gambaran yang baik tentang kasus-kasus psikosomatik yang sebenarnya sering ditemui oleh dokter umum di pelayanan primer.

Semoga acara ini bisa dilakukan kembali di tahun depan dengan topik yang lebih baik dan menyeluruh lagi. Saya ucapkan terima kasih atas kehadiran peserta yang telah berkenan mengikuti seminar ini. Salam Sehat Jiwa
13810161761575972792
Peserta seminar Psikosomatik di RS OMNI Alam Sutera (5/10/2013 dok pribadi)
13810162801423903095
Dr.Andri,Dr.Elly dan Dr.Dharmawan pembicara dalam Seminar Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera (5/10/2013 dok pribadi)

Sabtu, 21 September 2013

Pengakuan dunia itu akhirnya didapatkan

Oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater RS OMNI Alam Sutera)

Tahun 2013 ini memang tahun yang menggembirakan buat saya. Banyak hal-hal baik terjadi pada tahun ini. Menjelang akhir tahun 2013 kebahagiaan saya bertambah lagi dengan adanya berita dari organisasi tempat saya bergabung selama 6 tahun, Academy of Psychosomatic Medicine. Berita itu datang semalam yang mengatakan bahwa aplikasi saya menjadi salah satu anggota fellow dari organisasi tersebut dikabulkan. Potongan surat dari APM itu berbunyi :
Dear Dr. Andri
It is a pleasure to inform you that the APM Fellowship and Awards Committee has approved your application for Fellowship in the Academy of Psychosomatic Medicine. This action reflects recognition by your peers of your abilities, talents and contributions to our profession. We look forward to your continued support of, and active participation in the Academy’s activities.”

Tentunya penantian untuk diakui sebagai anggota fellow ini tidaklah sebentar. Saya sudah mengharapkan hal ini bahkan sejak saya mulai bergabung di tahun 2007. Keinginan untuk diakui oleh organisasi tingkat dunia seperti APM ini telah membuat saya lebih rajin lagi dalam belajar dan mengabdikan ilmu saya di bidang Psikiatri khususnya di bidang Psikosomatik Medis. Hal ini karena persyaratan menjadi Fellow yang diakui tidaklah mudah. Beberapa hal yang perlu dipenuhi adalah seperti yang tertera dalam persyaratan di bawah ini :

CRITERIA FOR ELIGIBILITY
Academy members who manifest additional, active participation as educators, researchers, or administrators in the fields of consultation-liaison psychiatry and psychosomatic medicine. To qualify for consideration as a Fellow, a candidate must:
1. Be a member in good standing of the Academy for five years and have completed a training program three years prior to election to Fellowship. (If APM member prior to 2004, must have been a member in good standing for a period of three years.)
2. Have attended at least one APM Annual Meeting in the last three years prior to applying for Fellowship.
3. Have received certification in Psychosomatic Medicine, or their country’s equivalent, if applicable. (Exceptions will be considered on a case-by-case basis.)
4. Show excellence in at least four of the five areas (I–V) outlined on the reverse as demonstrated by C.V. and other documentation.
5. Be sponsored by two Academy Fellows who must send a letter of recommendation on your behalf to the APM Fellowship Committee.
6. Be approved by the Fellowship Committee and by the Executive Council.
7. Submit a copy of your C.V. with this application, plus copies of title pages or
table of contents for journal articles, title pages for books, and letters of appointment for society and administrative offices.

In a letter to the Academy Fellowship Committee, please describe your activities
in each of the following areas.
I. Teaching
1. Undergraduate (medical school) education programs
2. Graduate (residency and fellowship) education programs
3. Continuing medical education or other medically related teaching
4. Supervision at the graduate or postgraduate level
II. Administration
1. Administrative responsibilities for consultation-liaison services
2. Special liaison activities
3. Other administrative positions related to consultation-liaison or psychosomatic
medicine
III. Scientific Activity
1. Recent publications in consultation-liaison psychiatry, psychosomatic
medicine, or related areas
2. Recent presentations in these areas at regional or national meetings
3. Grants in these areas
IV. Society Memberships and Activities
1. List memberships and activities
2. Committee assignments in these organizations
3. Offices or other positions held in these organizations
V. Awards
Any awards for teaching, administration, research, or service in consultationliaison psychiatry and psychosomatic medicine

Saya beruntung karena para senior dan guru-guru saya sangat mendukung saya dalam pencapaian ini. Sejak saya lulus fokus saya untuk menjadi psikiater yang mengkhususkan diri di bidang Psikosomatik Medis dan Consultation-Liaison Psychiatry mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Saya diberikan banyak kesempatan untuk berpresentasi dan memaparkan apa yang saya pelajari di bidang ini kepada teman-teman sejawat semua. Kesempatan juga diberikan untuk berkecimpung di organisasi profesi oleh para senior-senior saya.

Hal ini tentunya mempunyai dampak sangat besar dalam perjalanan karier saya sehingga saya bisa memenuhi 5 kriteria yang disyaratkan di atas. Selain itu juga perkenalan dengan berbagai ahli psikiatri psikosomatik medis dunia khususnya yang berasal dari Amerika Serikat memberikan pandangan yang lebih luas lagi tentang bagaimana mengembangkan diri ke depan dan bagaimana pula mengembangkan keilmuan ini. Saya ingat sekali saat meminta rekomendasi dari berbagai Profesor terkemuka di bidang ini di Amerika Serikat,ternyata ada dua orang profesor terkemuka dari Robert Boland,MD dari Brown University dan Theodore A.Stern dari Massachusetts General Hospital berkenan memberikan rekomendasi sehingga menjadi lengkap aplikasi saya.

Saya akan pergi mengikuti upacara penyerahan medali dan sertifikat pengakuan ini di Tucson, Arizona pada 15 November 2013 dalam rangkaian 60th Annual Meeting of Academy of Psychosomatic Medicine. Semoga pencapaian ini menjadi sesuatu yang berguna untuk perkembangan psikiatri di Indonesia khususnya di bidang Psikosomatik Medis dan Consultation-Liaison Psychiatry.  Terima kasih saya ucapkan buat guru-guru dan senior-senior serta rekan sejawat saya dan tentunya tidak lupa untuk pasien-pasien saya yang telah mempercayakan kesehatannya pada saya. Salam Sehat Jiwa

Selasa, 03 September 2013

Informasi Pendaftaran

Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera buka praktek setiap hari dari Senin s.d Sabtu (keculi waktu cuti atau ada perubahan tiba-tiba yang akan diinfokan) dengan waktu praktek yang telah ditentukan seperti terpampang di header blog ini. 
Agar lebih memberikan pelayanan yang baik dan maksimal maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pasien dan calon pasien : 

Praktek Sore (Senin-Jumat : 17.00-20.00)
Pasien dibatasi maksimal 10 pasien saja setiap praktek.Pasien yang menelpon untuk mendaftar tidak otomatis dimasukkan menjadi pasien yang terdaftar hari itu, kedatangan tetap diharapkan untuk mendapatkan nomor antrian. Jika ternyata hari itu sudah terdaftar 10 pasien maka pendaftaran ditutup (tidak tergantung jam) dan walaupun sudah mendaftar lewat telepon, pasien akan diinformasikan untuk datang keesokan harinya (atau di waktu yang pasien bisa).
Tips : Datanglah lebih awal sebelum jam 18.00 agar mendapatkan nomor antrian awal

Praktek Pagi (Selasa, Kamis dan Sabtu 09.00-12.00)
Praktek pagi dibatasi jumlah pasiennya oleh waktu pendaftaran. Jika mendaftar sebelum jam 12 maka pasien akan dilayani. Pendaftaran ditutup setelah jam 12 siang. Pasien yang datang setelah jam 12 tidak akan dilayani pada jam praktek tersebut dan dialihkan ke sore harinya atau di mana hari yang menurut pasien bisa. 

Waktu Konsultasi Berkisar antara 20-35 menit/pasien  

Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih
dr.Andri,SpKJ
Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI 


Ketika Perempuan Alami Psikosomatik

Ketika Perempuan Alami Psikosomatik
Oleh : Dr.Andri,SpKJ (Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, Serpong)
Jika melihat pada statistik tentang kemungkinan gangguan jiwa terutama depresi pada perempuan maka sebenarnya kondisi gangguan depresi lebih akan sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Angka kejadiannya bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan pada laki-laki. Berbagai macam faktor bisa menjadi sebab tingginya angka depresi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Faktor hormonal juga turut berpengaruh.
Sebagai salah satu diagnosis dasar dari keluhan psikosomatik, depresi dan begitu juga gangguan cemas sering kali pada perempuan terjadi namun tidak disadari. Ketika seorang mengalami gejala psikosomatik sebagai “ungkapan” depresinya, seperti kebanyakan pasien psikosomatik lainny, mereka akan lebih memilih untuk berobat ke dokter umum atau spesialis non-psikiater daripada ke psikiater. Hal ini tentunya sangat perlu menjadi perhatian karena sering kali pula perempuan tidak memilih berobat dibandingkan laki-laki.
Di pengalaman klinis menangani kasus-kasus psikosomatik baik pada laki-laki maupun perempuan, saya ingin sedikit berbagi beberapa hal yang mungkin berhubungan dan menjadi khas perempuan yang mengalami psikosomatik. Tentunya hal ini bukan bersifat mutlak untuk semua perempuan, tetapi lebih banyak memang terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.

A. Menstruasi
Perempuan usia subur pasti mengalami hal ini. Menstruasi yang terjadi setiap bulan (walaupun pada kenyataannya terjadi bervariasi) merupakan pertanda bahwa dia adalah seorang perempuan subur yang bisa hamil. Walaupun sudah menjadi rutinitasnya namun sering kali menstruasi sangat berhubungan erat dengan gangguan pada suasana perasaan mental emosional. Tidak heran pada kriteria diagnosis gangguan jiwa dari Amerika Serikat yang baru terbit Mei 2013 lalu, gangguan suasana perasaan akibat menstruasi (PreMenstrual Disforik Disorder/PMDD) dimasukkan ke dalam group depresi.
Berhubungan dengan keluhan psikosomatik, pasien perempuan yang mengalami gejala psikosomatik karena kondisi gangguan cemas atau depresinya biasanya mempunyai masalah terkait dengan menstruasinya. Sebelum menstruasi biasanya kondisi kejiwaan pasien lebih tidak nyaman. Pada saat pengobatan terjadi juga sering kali saat menjelang menstruasi pasien kembali mengalami sedikit gejala yang tidak nyaman. Inilah yang membedakan pasien psikosomatik laki-laki dan perempuan, perempuan perlu beradaptasi dengan kondisi menstruasinya yang walaupun normal sering kali menimbulkan masalah pada perasaan pasien perempuan. Hal inilah yang kadang membuat gejala psikosomatiknya sering kali tampak up and down pada perempuan dikarenakan gejala menstruasi sendiri banyak ditandai dengan gejala fisik.

b.      B. Dukungan Pasangan
Tidak mudah menjadi pasien psikosomatik karena sulitnya menjelaskan tentang apa yang terjadi pada pasien psikosomatik dan bagaimana gejalanya. Pasien sering kali sulit menjelaskan hal yang terjadi padanya karena dari pemeriksaan klinis medis dan laboratorium penunjang semuanya normal. Dokter pun tidak semuanya bisa memahami masalah terkait dengan kondisi psikosomatik kecuali yang benar-benar memahaminya seperti psikiater.
Kesulitan menjelaskan kondisi sakit inilah yang kadang membuat pasien psikosomatik menghadapi kondisinya sendiri tanpa dukungan orang yang cukup memahami dirinya. Pasien perempuan biasanya lebih sulit lagi karena pasangan terdekatnya atau suami sering kali tidak bisa menerima konsep psikosomatik sebagai sakit yang dialami pasangannya. Sering kali dengan mudah suami meminta istrinya untuk lebih berpikir positif atau berpikir yang relaks tanpa bisa berempati lebih dulu tentang apa yang dialami istrinya.
Pada prakteknya memang saya melihat dalam kehidupan praktek sehari-hari, pasien perempuan lebih sulit mendapatkan dukungan suami daripada pasien laki-laki mendapatkan dukungan istri.

c.       C.Peran Multipel
Perempuan sering memerankan peran ganda atau bahkan multipel dalam keluarga. Sering kali mereka menjadi perempuan yang juga mencari nafkah untuk keluarga selain sebagai istri dan ibu. Kondisi ini tentunya menimbulkan tekanan kehidupan sendiri. Banyak ibu yang kemudian juga menjadi rentan terhadap stress karena hal tersebut datang setiap hari dengan berbagai macam bentuknya. Ini bukan berarti laki-laki juga tidak stress terhadap masalah kehidupan dan tugas yang diemban, namun kerentanan perempuan lebih besar daripada laki-laki dari konteks ini.


Demikian beberapa hal yang saya bisa berikan kepada pembaca tentang apa yang membedakan perempuan dari laki-laki ketika mengalami gangguan psikosomatik. Semoga berguna. Salam Sehat Jiwa. 

Sabtu, 31 Agustus 2013

CUTI PRAKTEK

Di bawah ini adalah beberapa jadwal cuti Klinik Psikosomatik dikarenakan saya harus memberikan presentasi dan menghadiri seminar 

Sabtu, 14 September 2013
Sabtu, 12 Oktober 2013
Sabtu, 26 Oktober 2013
Kamis-Sabtu 31 Oktober s.d 2 November 2013 
12 November s.d. 19 November 2013 

Kamis, 22 Agustus 2013

BUKU TERBARU

Terbit OKTOBER 2013 


Sabtu, 17 Agustus 2013

Penyakit Ini Timbul Karena Banyak Membaca, Kok Bisa?

Penyakit Ini Timbul Karena Banyak Membaca, Kok Bisa?
oleh : dr.Andri,SpKJ 
Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, Tangerang 

Tidak usah bingung membaca judul tulisan ini, memang benar adanya kalau ada penyakit yang bisa timbul karena banyak membaca. Apa penyakit itu nanti akan saya jelaskan dalam paragraf selanjutnya. 
Saya sudah lama mulai menulis. Sejak mahasiswa saya senang menulis dan membuat bulletin. Hal ini sebenarnya karena saya ingin memberikan informasi tentang apa yang saya baca. Ketika menjalani pendidikan spesialis saya pun makin senang menulis apalagi yang terkait dengan gangguan kejiwaan. Hal ini disebabkan karena saya melihat artikel tentang gangguan kejiwaan masih sangat minim dan terjadi stigma di masyarakat kalau gangguan kejiwaan itu hanya mengurusi pasien dengan gangguan jiwa berat yang oeh awam disebut orang gila. Bahkan sampai sekarang pun pasien saya masih bertanya apakah dirinya mengalami Gangguan Jiwa sebab menurut dia gangguan jiwa itu yang seperti orang gila itu. 
Setelah memutuskan mendalami bidang psikosomatik medis di tahun 2007, tulisan saya lebih banyak berhubungan dengan gejala dan tanda gangguan psikosomatik yang kebanyakan gejala fisik. Tentunya menulis artikel psikosomatik mempunyai tantangan karena yang kita bahas kebanyakan adalah gejala fisik yang dalam ilmu kedokteran bisa mengarah ke ratusan diagnosis. Bagaimana bisa langsung berpikir itu psikosomatik, apa benar pemeriksaan yang dilakukan telah menghindarkan dari diagnosis lain? Itulah mungkin yang paling sering berkecamuk di pikiran para pembaca artikel saya yang kebetulan adalah orang-orang yang mengalami gangguan psikosomatik. 
Untuk itu maka pemahaman psikiater yang bergerak di bidang ini tentang gejala dan tanda keluhan fisik serta perjalanan penyakit (patofisiologi) haruslah benar-benar mantap. Pasien gangguan psikosomatik yang kebanyakan ragu-ragu terus menerus akan kondisi fisiknya yang sebenarnya baik-baik aja membutuhkan jawaban yang pasti dan tepat akan kebenaran "penyakit"nya. Dokter yang ragu-ragu dalam menjelaskan masalah terkait psikosomatik ini akan membuat pasien bertambah ragu dan malah mempercayai tulisan-tulisan di internet tentang berbagai macam penyakit terkait gejala yang dia rasakan. Di sinilah judul artikel saya di atas menjadi bermakna. Ternyata memang banyak pasien psikosomatik yang sebenarnya timbul penyakitnya karena terlalu banyak membaca artikel tentang penyakit di Internet!. Mengapa bisa demikian?

Ragu-Ragu
Jika mau jujur, maka pasien yang mengalami keluhan psikosomatik memang adalah orang-orang yang selalu ragu akan kondisi fisiknya. Selain ragu dengan kondisi fisiknya, pasien dengan berbagai macam keluhan psikosomatik memang sering kali mempunyai daya adaptasi terhadap nyeri yang lebih rendah daripada normal. Dalam praktek sehari-hari sering saya mengatakan kepada pasien bahwa orang dengan keluhan psikosomatik memiliki sensitifitas terhadap rasa nyeri karena ambang rasa nyerinya rendah. Hal ini memag secara biologis di otak telah diteliti disebabkan karena ketidakseimbangan serotonin dan nor-epineprin yang merupakan neurotransmitter penting di otak. Sensitifitas nyeri yang rendah ini yang menyebabkan pasien psikosomatik mudah mengalami keluhan fisik (nyeri) yang bisa berlangsung lama. 

Mudah Dipersuasi
Selain sering ragu akan kondisi fisiknya, pasien psikosomatik kebanyakan mudah dipersuasi secara negatif apaagi jika berkaitan dengan penyakit. Jika pasien mengalami gejala psikosomatik yang berupa keluhan fisik, maka pasien biasanya akan memikirkan hal-hal tentang gangguan medis yang mengerikan dulu. Berlebihan dalam menanggapi sensasi tubuh yang dirasakan oleh tubuh pasien. Sering kali gejala ringan yang bagi orang normal tidak dirasakan atau segera berlalu, buat pasien sering kali menjadi terus menerus dan terasa berat. Persepsi diri yang selalu merasa sakit ini juga yang sering membuat persuasi terutama yang negatif dan berkaitan dengan penyakit sangat masuk ke dalam otak pasien. Tidak heran semakin banyak membaca tentang penyakit, semakin banyak pula "penyakit" yang diderita pasien. 

Itulah mengapa dalam pengobatan penting menyeimbangkan sistem otak sekaligus melakukan persuasi positif kepada pasien tentang keluhannya. Psikiater yang bergerak di bidang ini juga harus mumpuni dalam keilmuan medisnya sehingga tidak menjadi ragu-ragu dalam menegakkan diagnosis. Jika mampu menulis maka ada baiknya memang psikiater menulis untuk masalah-masalah yang terkait dengan keluhan psikosomatik dengan latar belakang ilmiah yang terbaru. Hal ini agar bisa menjadi sumber informasi bagi pasien-pasien yang sering timbul penyakitnya karena membaca artikel tentang penyakit. Itulah salah satu alasan saya mengapa akhirnya banyak menulis termasuk di blog ini. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa 

Kamis, 15 Agustus 2013

Gangguan Panik : Penyakit Kambuhan Yang "Nyebelin"

Gangguan Panik : Penyakit Kambuhan Yang "Nyebelin"
oleh : Dr.Andri,SpKJ 
Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera

Pasien dalam konsultasi di klinik sering kali bertanya kepada saya apakah penyakit gangguan paniknya bisa sembuh. Saya tentunya menjawab bahwa penyakit ini bisa sembuh. Namun saya juga kemudian meneruskan bahwa walaupun bisa sembuh tapi kemungkinan pasien untuk mengalami gejala panik kembali tetap ada atau dalam bahasa kedokterannya disebut relaps (kambuh). 
Saya pernah membahas dalam blog ini juga bahwa ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan kekambuhan penyakit gangguan panik ini. Kelelahan fisik, gangguan tidur (begadang atau tidur tidak tepat waktu), diet yang terlalu ketat, penyakit medis fisik yang berat ataupun tekanan stres yang baru yang sulit diadaptasi adalah hal-hal yang sering dianggap sebagai pemicu terjadinya gangguan panik kembali. 

Mengenal Panik Lebih Baik
Saya mengatakan kepada pasien dalam praktek sehari-hari bahwa tidak perlu khawatir dan merasa putus asa karena gangguan panik bisa kambuh. Saya mengatakan karena walaupun kambuh biasanya kondisi kambuhnya tersebut gejalanya tidak separah ketika pertama kali mengalami serangan yang tidak diobati. 
Hal ini disebabkan karena pasien sudah mampu memahami gejala dan tanda dari gangguan panik tersebut. Pasien biasanya sudah beradaptasi dengan kondisi tersebut. Hal ini juga ditambah dengan perbaikan sistem saraf otak karena pengobatan yang sudah dilakukan sehingga daya tahan sistem otak terhadap stres menjadi lebih baik. 
Gejala-gejala ulangan panik memang bisa kambuh dalam rentang waktu bulanan sampai tahunan sejak dinyatakan "sembuh" dari gangguan panik. Namun demikian hal tersebut tidak selalu terjadi pada setiap pasien. Ada juga yang benar-benar sembuh dan tidak berulang lagi.

Tidak Sembuh Sempurna
Selama menangani kasus-kasus gangguan cemas terutama gangguan panik dengan berbagai jenis gejala psikosomatik yang sering kali beragam itu saya tidak selalu mengalami keberhasilan terapi. Ada beberapa pasien yang tetap mengalami gejala sisa walaupun pengobatan sudah mencapai waktu yang optimal. Ada juga pasien yang mengalami perbaikan yang sangat lambat sehingga membuat pasiennya kadang sedikit putus asa. 
Sebenarnya hal ini sangat wajar dalam pengobatan namuan sering kali memang sulit diterima oleh pasien karena harapan untuk sembuhnya yang tinggi. Daya adaptasi sistem otak, kepribadian dasar orang tersebut menjadi faktor yang sering dikaitkan dengan masalah kesulitan mencapai kesembuhan sempurna. Pasien seperti ini biasanya selain juga diberikan obat, pasien juga perlu mengalihkan pemikiran terhadap kondisi tubuhnya agar tidak selalu fokus pada keluhan psikosomatiknya. Cara ini lebih baik juga bila disadari oleh pasien sendiri. Terkadang karena kesulitan menerima dirinya mengalami gejala psikosomatik, pasien tetap merasa keluhannya yang sedikit pun dirasakan terlalu besar. Betul memang pada pasien gangguan panik, gejala psikosomatik sekecil apapun sering dirasakan berlebihan. 

Intinya dalam pengobatan gangguan panik memang harus diseimbangkan sistem otaknya baik dengan cara pengobatan dengan obat ataupun dengan cara-cara lain seperti psikoterapi olahraga, meditasi/yoga/zikir dan menjalani kehidupan sehat. Pasien dengan gangguan panik memang bisa sembuh tapi keberulangan memang masih bisa dialami juga tetapi jangan putus asa menghadapi penyakit ini. Salam Sehat Jiwa



Sabtu, 20 Juli 2013

CUTI AGUSTUS 2013

7-12 Agustus 2013 
17 Agustus 2013 

Senin, 15 Juli 2013

Depresi Bahaya Jika Tidak Diobati : Laporan Dari Central Nervous System Summit 2013 di Chengdu, China

Depresi Bahaya Jika Tidak Diobati ! 
"Laporan Dari Central Nervous System Summit 2013 di Chengdu, China"
oleh : dr.Andri,SpKJ (Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera)

Saya sangat beruntung terpilih sebagai wakil dari Indonesia dalam acara Central Nervous System Summit 2013 di Chengdu yang diselenggarakan dari tanggal 13-14 Juli 2013. Acara yang dihadiri oleh sekitar 158 peserta dari beberapa negara Asia seperti Indonesia, Hongkong, Myanmar, Thailand, Malaysia, Taiwan, Vietnam dan tuan rumah China berlangsung interaktif dan mengedapankan keaktifan peserta dalam berdiskusi. Para pembicara di summit ini juga adalah orang-orang yang sudah terkenal dan pengalaman di bidangnya. Salah satunya adalah Prof David Sheehan dari University of South Florida, College of Medicine, USA yang merupakan orang yang banyak menghasilkan banyak penelitian dan alat ukur klinis di dalam ilmu psikiatri.
Plenary Lecture hari pertama diisi oleh Prof David Sheehan yang berbicara dengan judul " The Importance of restoring function in major depressive disorder".  Pada pendahuluan kuliahnya Prof Sheehan mengingatkan kembali sebagai seorang dokter, psikiater juga layaknya dokter lain mempunyai keterbatasan dalam melakukan terapi pada pasien. Psikiater tidak mampu untuk mengatasi semua gejala yan terdapat pada pasien. Lebih lanjut beliau mengatakan dari perspektif kebijakan kesehatan, dokter berkewajiban mengobati gejala ketika gejala tersebut sudah melewati ambang batas yang bisa membuat adanya masalah dalam kehidupan pasien.

Depresi Yang Membebani
Dalam kuliahnya Prof Sheehan mengingatkan kembali bahwa saat ini Gangguan Depresi Berat atau Major Depressive Disorder (MDD) adalah nomor tiga penyakit yang memberikan kontribusi terhadap beban penyakit global menurut WHO. Tahun 2020 nanti, diprediksikan akan menjadi nomor dua dan di tahun 2030 diprediksikan akan menjadi nomor satu!.
Kemampuan kembali ke fungsi normal pasien atau peningkatan fungsi normal pasien secara umum diapresiasi pasien sebagai salah satu yang penting. Lima faktor yang berhubungan dengan kondisi yang penting dalam hal kesembuhan depresi, dua di antaranya adalah berhubungan dengan kemampuan kembali dan peningkatakan fungsi normal pasien daripada sekedar hilangnya gejala.
Prof Sheehan dalam kuliahnya mengingatkan kembali bahwa ada perbedaan pandangan dari tiga tokoh sentral dalam kondisi kesakitan, yaitu Dokter, Pasien dan Peneliti. Dokter akan lebih mementingkan dalam praktek klinisnya untuk menanyakan apakah gejalanya hilang ("Are the symptoms gone?"), Peneliti sendiri akan bertanya apakah yang dimaksud dengan kesembuhan atau perbaikan itu? Berapakah skornya? Apakah alat yang dipakai untuk mengukur itu?. Sedangkan Pasien akan lebih berpikir, apakah saat ini saya menjadi lebih baik, lebih OK dan gejala yang makin lama makin membaik.
Sehingga dalam hal ini memang psikiater dalam prakteknya akan lebih harus memperhatikan tentang masalah bagaimana fungsi dari pasien tersebut dan bukan sekedar fokus pada hilangnya gejala pasien.Hal ini disebabkan karena banyak penelitian yang mengemukakan hal baha perbaikan gejala belum tentu selalu berhubungan dengan peningkatan kemampuan dalam kehidupan sehari-hari pasien.

Pengobatan Yang Tepat 
Prof Sheehan kembali menegaskan dalam kuliahnya bagaimana tahapan pengobatan yang diharapkan. Bagaimana kondisi Response (50% perbaikan), Remission (70% perbaikan) dan Recovery (100% perbaikan) akan mempengaruhi juga lamanya pengobatan yang dialami pasien. Hal ini berkaitan juga dengan angka kekambuhan dan bagaimana kemungkinan kekambuhan ini akan berhubungan dengan pengobatan dan lamanya makan obat.
Dikatakan jika pasien depresi episode pertama, maka angka kekambuhannya sebesar 50% walaupun diobati secara baik dan tepat. Sedangkan jika 2 episode meningkat angka kekambuhannya menjadi 75% dan jika lebih dari 2 episode menjadi lebih dari 90% angka kekambuhannya. Untuk itu Prof Sheehan menegaskan bahwa berhenti pengobatan pada kasus-kasus depresi yang episodenya sudah lebih dari dua kali adalah suatu dongeng yang tak berdasar. Sayangnya dalam praktek kita lebih sering menemukan kasus-kasus depresi yang sudah berulang kali kambuh dan sudah berulang kali pula mengalami pengobatan. Untuk kasus seperti ini Prof Sheehan menyarankan agar pengobatan depresi dilakukan sepanjang hidup pasien.

Demikianlah laporan hari pertama dari CNS Summit ini yang membicarakan lebih kepada bagaimana mencapai suatu fungsi normal kembali untuk pasien depresi. Apa yang dituliskan di artikel ini adalah rangkuman yang dianggap penting untuk disampaikan kepada pembaca sekalian. Semoga bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Bersama dengan Prof David Sheehan,"One of the best Guru in Psychiatry"