psikosomatik

psikosomatik

Minggu, 29 Desember 2013

Menuju Klinik Psikosomatik Bertaraf Internasional

Menuju Klinik Psikosomatik Bertaraf Internasional

Tidak terasa tahun 2013 segera berakhir. Kami melihat tahun 2013 sebagai Tahun Perkembangan Psikosomatik karena banyaknya prestasi yang telah kami capai selama tahun 2013 ini. Beberapa pencapaian yang dihasilkan di tahun 2013 ini adalah sebagai berikut :
  1.           Angka rata-rata kunjungan pasien di Klinik Psikosomatik RS OMNI mencapai 200 pasien per bulan.
  2.           Pasien di Klinik Psikosomatik RS OMNI berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Hampir seluruh pulau di Indonesia terwakili termasuk pasien dari Negara lain seperti Malaysia, Australia, Singapura dan RRC.
  3.           Saya sebagai Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI mendapatkan pengakuan tertinggi di bidang psikosomatik medis dari The Academy of Psychosomatic Medicine yaitu Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine. Ini merupakan yang pertama untuk psikiater Indonesia dan ke-5 untuk psikiater di Asia.
  4.           Klinik Psikosomatik tetap konsisten menyelenggarakan pendidikan berkelanjutan untuk para dokter umum dan spesialis non-psikiatri lewat Seminar dan Pelatihan yang diselenggarakan tiap menjelang ulang tahun Klinik Psikosomatik RS OMNI.
  5.           Saya kembali menerbitkan buku ke-2 saya yang berjudul Psikosomatik.

Saya berharap ke depan dapat memberikan kontribusi lebih lagi kepada perkembangan psikosomatik di Indonesia dan membawa Klinik Psikosomatik RS OMNI sebagai Klinik Psikosomatik terkemuka di tingkat Internasional.  Terima kasih atas dukungan semua pihak terutama pasien yang telah mempercayakan kesehatannya kepada Klinik Psikosomatik RS OMNI. Salam Sehat Jiwa


Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera
Dr.Andri,SpKJ,FAPM












Selasa, 17 Desember 2013

Bersih-bersih yang ini Gangguan Jiwa !

Bersih-bersih yang ini Gangguan Jiwa!
oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater)

Dalam praktek sehari-hari saya sering menjumpai berbagai jenis masalah gangguan kejiwaan. Masalah-masalah kejiwaan sering kali memang tidak mampu dipahami oleh orang yang tidak mengalaminya. Itulah mengapa terkadang sulit bagi pasien untuk membagi masalahnya dengan orang lain karena perbedaan cara pandang yang berbeda. Sering kali orang yang tidak mengalami gangguan jiwa terlalu memandang enteng keluhan atau masalah pada pasien gangguan jiwa. Mereka akan dengan mudah mengatakan “Itu cuma pola pikir kamu aja yang salah!”, atau “Kamu harus berubah dong jangan menyerah!”, lain lagi “Ah itu cuma pikiranmu saja!”. Orang banyak tidak menyadari memang masalah kejiwaan adalah masalah yang gejala dan tandanya terdapat di pikiran perasaan dan perilaku orang tersebut. Jadi apa yang dikeluhkan mereka memang sangat wajar terjadi.

Salah satu contoh gangguan jiwa yang menarik yang dibahas adalah Gangguan Obsesif Kompulsif atau bahasa Inggrisnya disebut Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Gangguan yang termasuk dalam gangguan kecemasan ini cukup sering ditemukan dalam praktek sehari-hari. Beberapa kasus di bawah ini mungkin bisa jadi gambaran pasien yang mengalami OCD ini.

Kasus 1.
Pasien laki-laki usia 60 tahun dengan keluhan sering kali lama jika mandi. Pasien bisa menghabiskan waktu sampai dengan 1,5 jam di kamar mandi. Selain mandi biasanya waktu di kamar mandi dihabiskan untuk membersihkan kamar mandi termasuk dinding kamar mandinya. Pasien juga sering sekali sulit jika harus berhubungan dengan hitung menghitung. Pekerjaannya sebagai pemilik toko agak membuatnya sulit menghindari diri dari hitung-hitungan. Dalam pergaulan sosial juga pasien kesulitan karena khawatir jika bersentuhan atau bersalaman dengan orang. Setiap habis melakukan sesuatu atau memegang sesutau yang orang lain pegang maka pasien akan segera mencuci baik dengan air atau alkohol yang dia bawa ke mana-mana. Tidak heran kulitnya tampak kering dan kelihatan terkelupas karena seringnya pasien mencuci tangan. Hal ini mulai semakin dirasakan mengganggu ketika pasien berusia 50an.

Kasus 2.
Perempuan usia 27 tahun dengan keluhan tidak mampu menahan diri untuk membersihkan seluruh ruangan apartemen di rumahnya setiap malam sampai dengan dini hari. Pasien hanya berdua tinggal dengan suaminya di apartemen. Pekerjaan bersih-bersih biasanya dilakukan setelah suami pasien pulang dan mandi. Itu disebabkan karena dia tidak ingin setelah dia bersih-bersih masih ada orang yang masuk ke apartemennya. Bersih-bersih ini selalu dilakukan sebagai ritual menjelang tidur dan ditutup dengan mandi serta membersihkan kamar mandi. Pasien melakukannya sampai menjelang pagi dan selama kegiatan tersebut suami pasien tidak boleh tidur dan harus menemani pasien.

Ritual Yang Melelahkan
Pasien yang menderita OCD memang sering kali melakukan ritual terkait bersih-bersih, menghitung dan mengecek barang berkali-kali. Pasien kesulitan menahan impulsnya untuk mengecek atau membersihkan sesuatu berkali-kali walaupun kenyataannya apa yang dilakukannya sudah dilakukan berulang-ulang. Pasien jika tidak melakukan hal tersebut akan merasa gelisah dan kecemasan yang sangat. Saran orang lain tidak akan dihiraukan dan malahan pasien marah-marah jika apa yang dilakukannya dilarang.

Gangguan kecemasan OCD termasuk salah satu gangguan kecemasan yang sulit sembuhnya. Terapi obat pada pasien ini pun pada kasus yang berat membutuhkan obat yang lebih besar dosisinya daripada pada kasus gangguan cemas biasa. Penggunaan obat Clomipramine dan Sertraline sebagai obat untuk kasus OCD sampai saat ini masih disarankan. Namun terlebih yang penting adalah terapi perilaku yaitu pasien harus belajar menahan impuls-impuls untuk melakukan ritual tersebut berkali-kali. Jika pasien biasanya melakukan tiga kali maka pasien belajar untuk merasa “puas” untuk melakukannya dua kali dan akhirnya satu kali.

Pikiran-pikiran berulang untuk melakukan ritual berulang memang tidak mampu dirasionalisasikan oleh pasien OCD. Pasien merasa kesulitan untuk mencegahnya datang dan jika datang juga pasien kesulitan untuk bisa menahannya. Akhirnya sering kali pasien harus menyerah dengan pikiran untuk melakukan ritualnya tersebut.
Peran keluarga sangat diharapkan sebagai orang yang bisa mendampingi pasien agar mampu lebih baik dalam pelatihan perilaku agar dia mampu untuk bisa mengurangi tindakan berulang (kompulsif) akibat pikiran-pikirannya yang berulang itu. Pengobatan ke psikiater juga diperlukan agar pasien mampu menjalani kehidupannya lebih baik. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Rabu, 11 Desember 2013

Saya Akui Saya Sakit Jiwa!

Saya Akui Saya Sakit Jiwa!
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater)

Dalam praktek sehari-hari sering kali pasien yang datang berkonsultasi pada akhir wawancara mengatakan “Jadi saya sakit jiwa bukan dok?”. Pertanyaan yang sebenarnya mempunyai makna retorik karena memang tentunya ketika memutuskan datang ke psikiater, pasien sedikit banyak telah memahami ada masalah dalam kejiwaannya. Namun mungkin lebih banyak pertanyaan ini diutarakan karena pasien kebanyakan memahami yang dimaksud sakit jiwa itu adalah gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. Lebih gamblang lagi pasien banyak yang menanyakan langsung “Apakah saya gila?”.

Stigma yang melekat pada gangguan jiwa memang tidak enteng. Pasien rata-rata dalam banyak diskusi dan sesi konsultasi mengatakan bahwa ke psikiater merupakan suatu hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Pasien kebanyakan menolak ide untuk ke psikiater karena merasa tidak cocok berkonsultasi masalah yang dihadapinya ke seorang dokter yang kebanyakan dikenal orang mengobati orang dengan masalah gangguan jiwa berat. Apalagi jika pasien mengalami masalah gangguan fisik sebagai manifestasi masalah psikis (psikosomatik), pasien bisa bertanya-tanya dalam hati, apa keperluannya dirinya berkonsultasi masalah fisik ke dokter jiwa.

Menerima diri apa adanya
Penerimaan akan kondisi diri sendiri merupakan suatu langkah yang sangat penting dalam proses terapi dengan psikiater. Pasien sering kali merasa ragu dan malu bahkan mungkin takut menerima bahwa dirinya saat ini membutuhkan bantuan seorang dokter jiwa. Banyak kesempatan pasien mengatakan bahwa mereka tidak habis pikir mengapa mereka yang dulunya sehat walafiat, bekerja dengan semangat dan penuh percaya diri, sekarang menjadi manusia yang penuh ketakutan, kecemasan dan rendah diri. Mereka tidak bisa menerima kehilangan dirinya yang dulu sehingga sering kita temukan pasien gangguan kecemasan juga mengalami gejala-gejala depresi.

Baiknya dalam proses terapi pasien mampu dan mempunyai kesadaran untuk menerima dirinya saat ini membutuhkan bantuan. Pasien juga perlu menerima bahwa apa yang terjadi pada dirinya adalah suatu hal yang memang bisa terjadi pada semua orang. Sering pasien merasa dirinyalah yang paling menderita dengan keluhannya sekarang. Pasien sering lupa bahwa gangguan jiwa itu banyak diderita oleh banyak orang di dunia ini, tua muda, laki-laki dan perempuan dari berbagai golongan dan status sosial yang beragam.

Kesulitan menerima diri dengan kondisi gangguan jiwa yang dialami sebenarnya akan menyulitkan pasien untuk sembuh. Contohnya seorang yang mengalami gangguan dan gejala-gejala fisik tapi tidak ditemukan dasar bermakna secara organik akan kondisinya itu. Ketika dia belum bisa menerima dirinya itu maka pasien akan terus berupaya melakukan pencarian pengobatan medis fisik yang bertujuan untuk mencari tahu dasarnya. Saat disarankan untuk ke psikiater, pasien akan menolak dengan tegas dan malah bisa tersinggung. Tidak heran dalam praktek sehari-hari, tidak banyak juga dokter yang mau menyarankan pasiennya untuk ke psikiater. Pemahaman tentang peran psikiater yang masih sempit ini yang membuat pasien menjadi tersinggung jika disarankan ke psikiater.

Padahal proses penerimaan yang baik tentang kondisi dirinya tersebut akan mampu membantu dalam proses terapi. Pasien akan bisa menerima dirinya dan kondisinya, mau berupaya dengan semangat untuk mengatasi masalahnya itu dan bisa memotivasi dirinya lebih baik. Jadi sebenarnya inti dalam pengobatan psikiatri sebenarnya adalah diawali dengan kemapuan untuk menerima diri apa adanya. Kalau memang sakit jiwa, mengapa harus malu mengakuinya? Salam Sehat Jiwa.

Maukah kita mengakui bahwa kita sakit jiwa seperti kita mengakui kita suka Durian? 


                                                                                                                                                                                      

Minggu, 01 Desember 2013

Dispepsia Fungsional : Gangguan Lambung Yang Sulit Sembuhnya

Dispepsia Fungsional : Gangguan Lambung Yang Sulit Sembuhnya
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine)

Sebagai seorang psikiater yang lebih banyak menangani kasus-kasus psikosomatik, dalam keseharian praktek saya lebih sering bertemu dengan kasus-kasus keluhan fisik yang sering tidak didasari oleh adanya masalah organ yang mendasarinya. Keluhan fisik ini kebanyakan disebabkan karena aktifitas sistem saraf otonom yang berlebihan. Beberapa gejala seperti jantung tiba-tiba berdebar kencang, sesak napas, keluhan lambung yang tidak nyaman adalah hal-hal yang sering dikaitkan dengan aktifitas sistem saraf otonom yang berlebihan. Belakangan saya juga banyak didatangi pasien dengan kasus-kasus gangguan lambung yang tidak kunjung sembuh dalam perawatan dokter penyakit dalam. Beberapa contoh kasus di bawah ini mungkin bisa membantu memahami.

Kasus 1.
Laki-laki usia 48 tahun dengan keluhan nyeri lambung yang sudah terjadi sejak 2 tahun yang lalu. Perasaan tidak enak di lambung tidak berkurang dengan asupan makanan. Pasien mengatakan rasa sebah/kembung yang dirasakan walaupun makan sedikit saja. Pemeriksaan gastroskopi (endoskopi dan kolonoskopi) sudah dilakukan dan hasilnya dianggap normal, tidak ada ulkus/luka di lambung. Pemeriksaan H.Pylori juga telah dilakukan dan hasilnya negatif. Pasien berobat ke internist khusus lambung (Gastoenterologis/SpPD-KGEH) dan diberikan terapi obat PPI (Proton Pump Inhibitor seperti gol Omeperazole dan kawan-kawannya yang dikenal dengan merk Nexium,Pariet,Prosogan dll) dan prokinetik (Domperidone dikenal dengan merk Motilium,Vometa,Vomitas). Hampir setahun memakai obat tersebut perubahan hanya terjadi jika makan obat saja. Jika obat dilepaskan rasa kembung dan tidak nyaman kembali terjadi. Pasien akhirnya memutuskan sendiri berobat ke psikiater dan diagnosis saat dilakukan pemeriksaan fisik dan mental lebih mengarah ke DIspepsia Fungsional dengan latar belakang kepribadian tipe anankastik/obsesif kompulsif. Pasien direncanakan pengobatan dengan antidepresan golongan SSRI dan sulpiride pada awal terapi. Perbaikan gejala dicapai pada hari bulan kedua dan masuk bulan ke tiga pengobatan SSRI hanya setengah dosis dan sulpiride sudah dilepaskan. Pasien merasa lebih baik. Pasien makan saat ini tidak terlalu takut lagi karena merasa sudah sangat nyaman perutnya walaupun makan makanan yang dulu biasa pasien hindari (cabe, cuka dan lada). Pasien mengatakan sempat lupa makan obat SSRI-nya selama dua minggu tapi kemudian gejalanya tidak kambuh. Itulah perbedaan yang dikatakan pasien, ketika dulu makan obat golongan PPI, jika tidak dimakan gejala kambuh sedangkan pengobatan dengan antidepresan ketika dihentikan pun tidak berulang. Saat ini pasien sedang dalam tahapan pelepasan obat dan disarankan untuk tetap makan obat dengan dosis setengah sampai akhir bulan Desember 2013.

Kasus 2.
Pasien perempuan 35 tahun dengan keluhan rasa tidak nyaman di lambung dan sering merasa perih seperti ingin makan. Karena keluhan ini pasien beberapa kali makan dalam sehari (bisa 5-7 kali) agar perutnya tetap terisi menurut pasien. Hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri yang timbul karena jika perutnya “kosong” pasien merasa perih. Pasien awalnya hanya mengobati dirinya sendiri dengan obat maag dari warung atau coba-coba makan obat golongan H-2 Antagonis seperti Ranitidine yang dibelinya di apotek. Tapi keluhan tidak berkurang. Karena khawatir maka pasien berobat ke dokter penyakit dalam dan kemudian diberikan obat-obat golongan PPI dan juga untuk antikembungnya. Belum banyak perubahan setelah 3 bulan pengobatan dan akhirnya disarankan untuk melakukan endoskopi. Hasil endoskopi tidak menunjukkan adanya ulkus/luka dan kelainan yang dianggap bisa menyebabkan kondisinya saat ini. Pasien mulai merasakan keluhan cemas dan mulai kadang sulit tidur. Pasien akhirnya memutuskan berobat ke saya karena merasa mulai menjadi sering ada keluhan cemas yang berlebihan karena sakit perut yang tak kunjung sembuh. Pemeriksaan fisik dan status mental mengatakan bahwa pasien ini mengalami Dispepsia Fungsional dengan kondisi kejiwaan Gangguan Penyesuaian. Terapi yang diberikan dengan menggunakan antidepresan SNRI dan terapi simptomatik untuk gejala lambungnya. Setelah dua bulan melakukan terapi dengan antidepresan pasien mengalami perbaikan. Saat ini pasien bisa makan 3 kali sehari seperti biasa tanpa rasa perih di lambung. Keluhan lambung sudah sangat minimal.

Aspek Psikososial Gangguan Lambung
Gangguan lambung sebagai suatu keluhan utama atau sebagai keluhan tambahan yang berhubungan dengan gangguan kejiwaan banyak ditemukan pada pasien-pasien yang berkunjung ke Klinik Psikosomatik RS OMNI. Lambung memang organ otonom yang sangat dipengaruhi oleh kondisi sistem saraf otak manusia dan terutama fungsi kejiwaannya. Lambung bahkan dianggap memiliki “otak” sendiri sehingga poros lambung dan otak (Brain-Gut Axis) sering dikatakan mempunyai makna dalam diagnosis dan tata laksana pasien dengan keluhan lambung. Serotonin yang dikatakan zat yang mempengaruhi perasaan sekalipun lebih banyak ditemukan di lambung daripada di otak manusia. Inilah yang menjadi dasar bahwa tata laksana gangguan lambung memang tidak lepas dari faktor kejiwaan orang itu sendiri.

Secara klinis dalam berbagai penelitian juga dikatakan bahwa keluhan lambung seperti rasa nyeri, rasa kembung, perasaan penuh setelah makan walau sedikit, mual, diare sampai sulit buang air merupakan keluhan lambung yang banyak dihubungkan dengan gangguan dyspepsia fungsional. Lebih dari 30-40% keluhan lambung berhubungan dengan dyspepsia fungsional yang berarti pasien tersebut tidak mengalami masalah organik di lambungnya mereka. Saat trend kuman Helicobacter Pylory ditemukan, orang ramai-ramai mulai beralih pengobatannya kepada antibiotic untuk kasus-kasus lambung namun ternyata banyak hasil yang tidak memuaskan dan juga ternyata tidak semua kasus lambung disebabkan oleh bakteri ini.

Kasus dyspepsia fungsional sekalipun memang mempunyai dua tipe yaitu tipe yang seperti ulcer atau yang dismotilitas. Keduanya mempunyai perbedaan dalam keluhan di mana yang tipe ulcer biasanya lebih sering mengeluh nyeri sedangkan dismotilitas lebih sering mengeluh kembung.  

Sering menjadi perhatian saya adalah ketika banyak dokter yang jika sudah merasa obat PPI dan beberapa obat lain tidak mampu mengatasi keluhan lambung, mereka menambahkan obat golongan benzodiazepine yang membuat relaks lambung dan pada beberapa kasus sangat membantu. Benzodiazepine yang paling dikenal di kalangan dokter kita tahu adalah golongan alprazolam yang mempunyai potensi mengalami ketergantungan dan peningkatan dosis (toleransi). Sayangnya pengobatan dengan obat golongan ini tidak bisa lama (tidak boleh lebih dari 4 minggu) dan masalahnya yang terkait adalah jika sudah tidak memakai obat ini, keluhan lambungnya biasanya akan lebih terasa tidak nyaman/makin menjadi.

Pengobatan untuk pasien dengan kasus dyspepsia fungsional memang menarik. Penerimaan pasien terhadap penyakitnya diutamakan daripada terapi lainnya. Dokter harus mengajak pasien untuk mampu menerima kondisinya dulu dengan baik agar terapi selanjutnya bisa berlangsung baik. Pengobatan simptomatik untuk lambung boleh terus dilakukan namun pada beberapa kasus dikatakan bahwa pengobatan dengan menggunakan antidepresan golongan SSRI atau SNRI dan TCA membantu dalam proses perbaikan gejala dan pencegahan gejala tersebut berulang. Selain itu keseimbangan sistem saraf otonom juga perlu diperhatikan. Pasien dengan gangguan kecemasan yang mengalami gangguan dyspepsia fungsional biasanya lebih sering sulit sembuh daripada yang tidak. Ini membuktikan bahwa adanya masalah gangguan jiwa memperberat kondisi gangguan medis fisik dan begitupun sebaliknya.
Semoga tulisan ini bisa sedikit memberikan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan Dispepsia Fungsional. Salam Sehat Jiwa