psikosomatik

psikosomatik

Jumat, 30 Desember 2011

Sakit Jantung ini Ternyata GANGGUAN PANIK


KOMPAS.com - Toni eksekutif muda usia 35 tahun itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar sangat cepat. Saat itu, ia sedang berada di jalan menuju kantornya di daerah Sudirman. Ia juga merasakan sesak napas dan perasaan seperti tercekik.
Toni menjadi sangat ketakutan akan keadaan ini, sampai ia meminggirkan mobilnya. Saat itu, ia merasa takut mati sehingga membuatnya ke unit gawat darurat (UGD) sesaat jantungnya sudah mulai terasa berkurang debarannya 10 menit kemudian.
Di UGD, Toni diperiksa jantung dan laboratorium penunjang lainnya. Hasilnya semua dalam batas normal. Toni kemudian bingung apa yang baru saja dialaminya. dokter menyarankan Toni untuk tidak khawatir karena tidak ditemukan kelainan apa-apa. “Mungkin anda sedang kecapekan saja”, kata si dokter menenangkan
Kasus di atas cukup sering ditemukan sebagai salah satu kasus gangguan kesehatan jiwa yang bermanifestasi gejala fisik. Kalangan kesehatan jiwa menyebutnya sebagai serangan panik. Orang yang mengalaminya biasanya mengira bahwa ia terkena serangan jantung karena gejalanya sangat mirip dengan gangguan tersebut. Bedanya adalah dalam durasi waktu, serangan panik biasanya hanya berlangsung paling lama 15 menit saja dan setelah itu terjadi penurunan gejala yang dialami.
Ada beberapa gejala serangan panik yang sering dialami oleh pasien. Gejalanya yang paling sering adalah sebagai berikut ; Jantung berdebar dan peningkatan denyut jantung, berkeringat, badan terasa gemetar atau berguncang, perasaan napas yang pendek, perasaan seperti tercekik, sakit dada atau perasaan tidak nyaman, mual atau merasa tidak enak di perut, merasa pusing, tidak stabil, kepala terasa ringan atau mau pingsan, takut kehilangan kontrol atau menjadi gila, perasaan takut mati, kesemutan atau seperti baal dan rasa seperti terbakar atau kepanasan.
Gangguan panik didiagnosis bila dalam waktu sebulan terakhir telah terjadi lebih dari 3 (tiga) kali serangan panik. Serangan panik ini terjadi tiba-tiba, dan di antara serangan panik tersebut pasien merasa khawatir jika dirinya mengalami keadaan itu lagi (kecemasan antisipasi). Serangan panik ini juga telah mengganggu fungsi pasien sehari-hari baik pribadi dan sosial.
Agorafobia
Jika pasien mengalami serangan panik yang berulang, maka kebanyakan pasien menjadi takut untuk keluar rumah sendirian. Hal ini disebabkan pasien takut bila tiba-tiba saat ia sendiri di luar rumah, serangan panik itu datang lagi dan tidak ada yang menolongnya. Ketakutan tersebut dinamakan agorafobia.
Agorafobia biasanya juga diikuti oleh penghindaran terhadap situasi yang dapat membuat timbulnya kecemasan pasien. Hal ini yang menyebabkan pasien dengan gangguan panik biasanya takut bila keluar rumah sendiri tanpa ditemani. Pasien juga menjadi malas keluar rumah atau bersosialisasi dengan teman serta kerabat di tempat-tempat terbuka. Apalagi bila ia harus ke tempat seperti itu sendirian. Hal ini tentunya menurunkan kualitas hidup pasien tersebut.
Apa yang dapat dilakukan?
Kualitas hidup pasien gangguan panik tentunya mengalami penurunan akibat konsekuensi dari penyakitnya. Untuk itu, tatalaksana yang tepat dan menyeluruh sangat dibutuhkan agar pasien dapat kembali hidup normal.
Jika memang dalam pemeriksaan fisik dan penunjang tidak terdapat hasil yang mendukung ke suatu diagnosis penyakit seperti jantung dan tiroid (gondok) maka diagnosis gangguan panik harus segera dipertimbangkan.
Pemeriksaan fisik dan penunjang yang lengkap penting karena gejala serangan panik seringkali mirip dengan gejala-gejala penyakit yang sering kita temukan dalam praktek seperti penyakit jantung dan gangguan tiroid (gondok). Rujukan ke seroang ahli kesehatan jiwa atau psikiater juga dapat dilakukan demi tegaknya diagnosis dan penatalaksanaan yang segera dan menyeluruh.
Seperti tatalaksana kebanyakan gangguan kesehatan jiwa, pengobatan gangguan panik juga meliputi pengobatan dengan obat dan psikoterapi. Penggunaan obat untuk gangguan panik telah mendapatkan rekomendasi dari badan obat dan makanan Amerika (FDA) dan juga dari badan pengawasan obat dan makanan (POM) Indonesia.
Pasien tidak perlu khawatir akan efek ketergantungan terhadap obat yang sering ditakutkan oleh masyarakat bila memakan obat-obat dari ahli kesehatan jiwa. Kerjasama antara dokter dan pasien serta informasi yang akurat dan lengkap akan efek obat serta hal-hal yang menyangkut penggunaannya haruslah diketahui sejak awal berobat.
Pasien tentunya mempunyai hak untuk bertanya kepada dokter tentang obat yang dimakannya serta efek samping yang mungkin timbul. Tentunya kewajiban dokter untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar obat yang digunakan. Keteraturan kontrol berobat dan kepatuhan akan dosis obat juga akan menghindarkan pasien dari hal-hal yang tidak diinginkan dari penggunaan obat yang tidak tepat.
Psikoterapi dengan menggunakan teknik terapi kognitif juga sangat diperlukan. Pasien gangguan panik biasanya mempunyai keyakinan yang salah akan penyakitnya. Pasien biasanya sering salah mengintepretasikan sensasi di tubuhnya sebagai tanda awal serangan panik. Informasi tentang serangan panik termasuk penjelasan bahwa ketika serangan panik berlangsung, serangan tersebut terbatas waktunya dan tidak mengancam jiwa.
Latihan relaksasi, pernapasan termasuk meditasi juga mempunyai peran yang sangat baik pada pasien gangguan panik. Hal ini membantu pasien untuk dapat mengontrol pernapasannya dan sedapat mungkin relaks sehingga gejala yang timbul dapat ditangani dengan baik secara mandiri oleh pasien pada saat serangan panik datang.
Semoga penjelasan di atas dapat membantu anda untuk mengenali gejala dan tanda gangguan panik serta cara mengatasinya. Jangan malu untuk berkonsultasi dengan dokter ahli kesehatan jiwa jika mengalami gangguan panik. Salam sehat jiwa!
Dr. Andri SpKj, Psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison.  Penanggung Jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang.
Sumber : KOMPAS.com 

Rabu, 28 Desember 2011

Catatan Akhir Tahun Psikosomatik


Oleh : Dr.Andri,SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis

Seperti yang telah dicanangkan pada akhir tahun 2010, tahun 2011 akan menjadi tahun pendidikan Psikosomatik bagi saya. Di tahun 2011 saya berencana untuk semakin mengembangkan kesadaran masyarakat dan profesi di bidang kedokteran tentang apa itu Psikosomatik dan hubungannya dengan bidang ilmu kedokteran jiwa.
1325137396279429152
Saat menjadi pembicara di FK UGM di hadapan para calon spesialis (dokpribadi)
Bermula dari proposal yang saya ajukan ke American Psychosomatic Society di Amerika Serikat, maka pada tahun 2011 akhirnya FK UKRIDA menjadi Fakultas Kedokteran pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang mendapatkan bantuan dana dan bimbingan untuk pelaksanaan Psychosomatic Medicine Interest group di FK UKRIDA.
Selanjutnya pada bulan Mei 2011 saya diberikan kesempatan untuk menjadi Konsultan Kesehatan Jiwa di Kompas.com. Kepercayaan ini tentunya tidak saya sia-siakan untuk terus menyebarkan kesadaran kepada masyarakat bahwa gangguan jiwa adalah sesuatu yang lumrah dan bisa mengenai siapa saja dari berbagai golongan, tua muda serta miskin maupun kaya.
Pendidikan berkelanjutan bagi dokter umum dan peserta didik spesialis kedokteran jiwa adalah salah satu hal yang sangat penting. Hal ini yang mendorong saya melakukan kunjungan kuliah tamu atas undangan atau inisiatif  sendiri ke Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Tahun 2011, selain Departemen Psikiatri FK UGM, ada juga Departemen Kedokteran Keluarga yang mengundang saya untuk bicara tentang psikosomatik bagi dokter keluarga.
1325137542506500878
Menjadi pembicara di seminar Psikosomatik di Ambon, Desember 2011 (dokpribadi)
13251374681998626541
Menjadi pembicara di Pertemuan Ilmiah Dua Tahunan Psikiater Indonesia, Bandung Juli 2011 (dokpanitia)
Di tahun 2011 juga saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara di depan kongres Pertemuan Ilmiah Dua Tahunan Psikiater se-Indonesia pada bulan Juli 2011. Pada kesempatan ini saya berbicara tentang Gangguan Psikiatrik pada Trauma Kepala. Selain kongres nasional, banyak juga kongres dan pertemuan lokal yang diikuti berkaitan dengan topik kesehatan jiwa.
Selain aktif menyebarkan ilmu kedokteran jiwa khususnya di bidang psikosomatik kepada para profesional seperti mahasiswa kedokteran dan dokter umum/spesialis, saya juga banyak diberikan kesempatan menjadi narasumber di berbagai media baik cetak maupun televisi. Hal ini tentunya membuat akses penyebaran informasi psikiatri dan kesehatan jiwa juga semakin luas.
Semoga di tahun-tahun yang akan datang, apa yang telah dilakukan di tahun 2011 dapat terus dilanjutkan ke tahun-tahun yang akan datang.
Salam Sehat Jiwa 

Jumat, 23 Desember 2011

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru

KLINIK PSIKOSOMATIK RS OMNI ALAM SUTERA 
mengucapkan :

SELAMAT HARI NATAL 2011 
dan
TAHUN BARU 2012

Semoga Berkah dan Kasih Tuhan Selalu Beserta Kita 
Semakin Sukses di Tahun Yang Akan Datang

Salam Sehat Jiwa,
dr.Andri,SpKJ
Penanggung Jawab Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera 

Senin, 05 Desember 2011

Seminar Psikosomatik di Kota Ambon Manise


Saat presentasi dengan topik "Gangguan Psikosomatik : Dasar dan Tatalaksana di Pelayanan Primer" (dok.pribadi)


Seminar Psikosomatik di Kota Ambon Manise
Oleh : Dr.Andri,SpKJ

Setelah sebelumnya direncanakan tanggal 1 Oktober 2011 namun akhirnya tertunda karena terjadi konflik insiden di Ambon, maka akhirnya hari ini (3 Des 2011) bertempat di Hotel Aston Natsepa, Ambon diselenggarakan Seminar Psikosomatik dengan tema “Pengenalan dan Penatalaksanaan Gangguan Psikosomatik”. Acara ini diprakarsai oleh RSKD Ambon dibawah pimpinan Dr.David Santoso,SpKJ,MARS dan bekerja sama dengan IDI Wilayah Maluku dan PDSKJI Cab Makassar. Acara ini diketuai oleh dr.Carolus Juliana Lenora Louise.
Acara yang berlangsung dari pagi hari sampai sore ini menampilkan berbagai tema dan pembicara dari beragam latar belakang spesialisasi. Acara dibuka oleh pembacaan sambutan walikota Kotamadya Ambon Bpk. Richard Louhenapessy,SH. Setelah pembukaan acara kemudian selanjutnya acara dimulai dengan sesi pertama yang menampilkan dua pembicara. Sesi ini dimoderatori oleh Dr.David Santoso,SpKJ,MARS yang memberikan kesempatan kepada Prof.dr.Jayalangkara,PhD,SpKJ(K) yang berbicara tentang Psikosomatik ditinjau dari Psikiatri Biologi. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pembicara kedua dr.Wempy Thiorits,SpKJ(K) yang mengungkapan pengalaman dalam penatalaksanaan pasien dengan gangguan psikosomatik.
Pembicara selanjutnya adalah tentang “Reaksi Psikologis Pada Pasien Anak” yang dibawakan oleh dr.Vivayanty H,SpA,MARS dan dilanjutkan presentasi dari dr.Adelin S,SpKJ(K) yang mengemukakan presentasi tentang Psikosomatik pada Anak dan Remaja.
Setelah makan siang acara selanjutnya dilanjutkan dengan presentasi dari dr.Maxi Mangundap,SpPD,LetKol yang berbicara tentang Reaksi Psikologis pada Gastritis. Nyeri kepala tipe tegang selanjutnya diberikan oleh dr.Samuel Wagiu,SpS dan Psikoseksual dibahas oleh dr. J.Tomarius,SpKJ. Presentasi ditutup oleh presentasi saya sendiri tentang Pengenalan dan Penatalaksanaan Psikosomatik Terkini berdasarkan Academy of Psychosomatic Medicine.
Acara ini berlangsung sukses dengan melibatkan lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah di sekitar Ambon, Sulawesi dan Jawa. Acara ini juga mendapatkan dukungan dari Perusahaan MersiFarma yang turut membantu kelancara acara. Pada sambutannya ketua panitia dr.Carolus mengatakan bahwa acara ini adalah acara terbesar pertama yang dilakukan di Ambon dalam artian juga mengundang berbagai macam pembicara dari berbagai daerah dan latar belakang. Hal ini juga sebagai suatu cara untuk menunjukkan bahwa Ambon aman dan apa yang terjadi beberapa waktu lalu adalah letupan kecil hasil buah karya provokator bukan hasil dari konflik pada masyarakat Ambon sendiri.
Semoga seminar psikosomatik ini mampu menjadikan suatu tonggak pertama pelayanan kesehatan jiwa yang lebih menyentuh aspek biopsikosial.