Jumat, 29 November 2019

Pesan Buku "Segala Sesuatu Tentang Gangguan Cemas"


Buku dapat dipesan lewat WA 081519588654 (admin buku)
Harga Buku saku : Rp.19.000,- ( di luar ongkos kirim )
Tuliskan : Nama, Alamat Lengkap, No.HP (jumlah pesanan jika memesan lebih dari 1)
Buku yang dipesan akan dikirimkan segera (mohon bersabar karena waktu kirim hanya seminggu dua kali maksimal )

Terima kasih 
dr.Andri,SpKJ,FACLP

Manfaat MASTURBASI Bagi Kesehatan Jiwa

Selasa, 19 November 2019

Cuti Akhir Tahun

30 Desember 2019  s.d. 3 Januari 2020

Sabtu, 19 Oktober 2019

Cara Praktis Berpikir POSITIF

Saya bersama istri saat berfoto bersama ini mempersepsikan sesuatu yang positif, suatu impian untuk bisa bulan madu kembali sambil melihat salju yang sesungguhnya di Mount Titlist, Swiss suatu waktu nanti (walaupun salju bisa ditemukan juga di beberapa negara termasuk Indonesia. Tetapi keinginan saya memang membawa istri berbulan madu kembali keliling Eropa dan melihat salju di Mount Titlist). Kami memandang pemandangan di TransSnow Bekasi itu seolah-olah kami sedang berada di Mount Titlist. Kita mungkin mengistilahkannya dengan kata "membayangkan". 
Seperti biasa kalau kita berpikir positif di otak kita, maka akan ada lawan pikiran negatifnya. "Apakah bisa tercapai impian itu?", "Kapan waktunya yang tepat karena anak-anak masih kecil", "Apakah anak-anak bisa ditinggal dengan asisten saja di rumah, atau bisa minta bantuan orang tua?" dan berbagai pikiran negatif yang bisa muncul yang bisa melawan pikiran positif ingin mengajak istri kembali bulan madu. 
Fokus pada Hal Positif
Seperti kata buku yang saya baca "Resilient" walaupun dalam sehari kita mendapatkan 9 (sembilan) peristiwa positif dan satu peristiwa negatif, maka otak kita cenderung akan memikirkan hal negatif dulu sebagai suatu mekanisme pertahanan yang selama ini kita bangun: selalu berjaga-jaga untuk hal yang negatif.
Ini adalah hal yang lumrah ternyata karena memang otak kita bekerja dengan mekanisme seperti itu. Bahkan tanpa sengaja kita memang terus memberikan asupan ke arah yang lebih negatif daripada ke positif dalam banyak hal yang kita lakukan, terkadang sebenarnya hal itu untuk berjaga-jaga saja. 
Ternyata kondisi ini sudah "dibangun" oleh otak kita yang sudah berevolusi sejak dulu kala, sejak jaman nenek moyang kita yang manusia purba yang masih mengembara dan berburu untuk mendapatkan makanan.
Saat mereka harus selalu bersiap sedia terhadap segala mara bahaya di depan yang bisa sekali-kali muncul. Mereka bisa saja tidak makan sehari tapi kalau kehilangan kewaspadaan sekali saja mereka bisa tidak hidup dan tidak akan makan lagi selamanya. 
Membangun Kebiasaan Positif
Lalu bagaimana mengarahkan pikiran kita ke arah yang positif? Salah satunya adalah dengan melakukan hal-hal atau perbuatan yang positif baik oleh pikiran dan perilaku kita. Kita bisa membangun pikiran yang positif terus menerus secara sadar.
Saat bangun di pagi hari, kita berpikir dan berkata di dalam hati, "Semoga semua makhluk di alam semesta ini memperoleh kebahagian" ini adalah salah satu cara melakukan hal yang positif dengan PIKIRAN. Setelah itu kita bisa melakukan hal positif yang sangat banyak contohnya sehingga saya tidak perlu contohkan. 
Tentunya membangun kebiasaan ini juga perlu waktu. Hingga banyak orang mengatakan bahwa berpikir positif itu tidak semudah membalikan telapak tangan walaupun mungkin juga susah membalikan telapak tangan kalau terjadi kelemahan bagian tubuh akibat stroke.
Jadi ada baiknya memang kita selalu menyadari bahwa pikiran positif ini dibangun dengan proses bukan dengan segera. Semoga tulisan ringan ini bermanfaat.
Salam sehat jiwa.

Jumat, 18 Oktober 2019

Beda Cemas, Depresi dan Psikosomatik

Insomnia, Gangguan Tidur Terbanyak Yang Ditemukan


-->
Image result for shutterstock insomnia
Ilustrasi Insomnia (sumber shutterstock.com)
Bicara tentang gangguan tidur, rata-rata orang akan merujuk kepada kesulitan memulai tidur yang sering disebut Insomnia. Padahal gangguan tidur bukan hanya Insomnia tetapi masih banyak yang lainnya. Namun di dalam praktek sehari-hari memang paling banyak datang pasien dengan keluhan kesulitan tidur atau Insomnia.

Gejala dan Tanda Insomnia
Insomnia sering kali ditemukan pada pasien usia dewasa muda sampai usia lanjut. Anak kecil dan remaja cukup jarang mengalami kondisi ini walaupun tidak tertutup kemungkinan pada beberapa remaja dengan gangguan emosional ada juga yang melaporkan kondisi seperti kesulitan tidur.
Gejala yang sering dikeluhkan pasien adalah kesulitan memulai tidur. Keluhan lain yang biasa digambarkan adalah kesulitan dalam mempertahankan tidur sehingga pasien sering terbangun di antara tidur dan kesulitan memulai tidur kembali. Ada juga pasien yang mengeluhkan bangun terlalu awal walaupun baru bisa terlelap setelah dini hari.
Pasien yang mengalami kondisi insomnia ini seringkali mengeluh lemas dan mengantuk di pagi hari. Konsentrasi kerja menjadi menurun dan pasien mengeluh cepat capek. Hal ini bisa menyebabkan turunnya produktifitas individu tersebut

Dasar Insomnia
Walaupun keluhan individu adalah kesulitan tidur, namun biasanya kondisi insomnia merupakan kondisi sekunder dari suatu gangguan kesehatan jiwa. Kondisi kecemasan berlebihan atau gangguan depresi sering merupakan kondisi primer yang menyebabkan pasien mengeluh adanya keluhan insomnia. Untuk itulah dasar gangguan kesehatan jiwanya harus diobati dengan baik sehingga gejala insomnia sebagai salah satu gejalanya juga dapat menjadi baik

Pengobatan
Pengobatan insomnia pada tahap awal berpedoman pada peningkatan upaya sleep hygiene (kesehatan tidur). Hal yang bisa dilakukan misalnya dengan tidak minum minuman yang meningkatkan konsentrasi atau membantu terjaga seperti minuman ringan berperisa cola, teh, kopi atau minuman energi sesaat sebelum tidur. Gunakan pakaian yang nyaman dan ruangan cukup sejuk karena ruangan yang sejuk membantu keluarnya melatonin, zat di dalam tubuh yang fungsinya membantu tidur. Jangan pula berolahraga berat di malam hari karena faktor kelelahan otot juga dapat membuat kondisi individu menjadi sulit tidur.

Pemberian obat-obatan bisa dilakukan jika cara tersebut di atas tidak membantu. Mulailah dari penggunaan obat non-benzodiazepin seperti obat antiinsomnia yang alami atau yang merupakan sintetik melatonin (merek dagang Rozerem). Ada juga pasien yang bisa menggunakan obat antiinsomnia non-benzodiazepin seperti zolpidem (merk dagang Zolmia/Stilnox). Obat ini tidak seperti golongan benzodizepin, tidak menimbulkan risiko ketergantungan, toleransi dosis ataupun efek putus zat. Namun tentunya biasa digunakan dalam jangka pendek kecuali oleh psikiater. 

Penggunaan benzodiazepin seringkali diberikan kepada pasien oleh dokter umum atau spesialis bila pengobatan di atas tidak membantu banyak. Golongan obat yang sering diberikan adalah estazolam (Esilgan), alprazolam (Xanax, Zypraz,Alganax) dan Diazepam (Valium). Sayangnya terkadang pasien terus menerus menggunakan obat ini untuk membantu tidurnya tanpa melakukan proses terapi untuk keluhan dasarnya, yaitu kecemasan atau depresi. Sehingga seringkali ditemukan pasien memakan obat ini sampai bertahun-tahun. Apalagi seringkali mereka tidak kontrol atau membeli sendiri obat tersebut di pasar gelap yang menjual obat seperti ini.

Penggunaan obat tidur yang biasanya merupakan golongan benzodiazepine haruslah hati-hati dan atas pengawasan ahli seperti seorang psikiater. Jika tidak perlu tidak perlu sampai menggunakan obat golongan tersebut. Jangan lupa pula untuk mengobati dasar dari gangguan ini. Biasanya jika gangguan dasarnya diobati maka insomnianya juga akan membaik sehingga tidak lagi memerlukan obat.

Pesan saya terakhir adalah jangan makan obat tidur sembarangan, konsulkan dengan ahlinya jika mendapatkan obat tidur dari dokter umum atau spesialis non-psikiatri dalam jangka waktu yang cukup lama (lebih dari 1 bulan) dan usahakan untuk mengobati gangguan dasarnya bukan hanya gejalanya saja

Selasa, 15 Oktober 2019

Pemahaman Gangguan Jiwa Yang Kurang, Hambat Terapinya

Ilustrasi Depresi (dok.pribadi)
Pemahaman masalah gangguan psikiatri yg masih kurang membuat masalah dalam terapinya. Anggapan bahwa gangguan psikiatri semuanya pasti bisa sembuh dengan meningkatkan ibadah adalah salah satu hambatan orang yg mengalami gejala gangguan jiwa untuk menemui psikiater/psikolog. Hal ini ditambah lagi dengan masih khawatirnya kebanyakan orang dengan terapi psikiater yang dianggap membuat ketergantungan dan sulit dilepaskan. Ada pula yang menganggap bahwa pengobatan ke psikiater atau psikolog mahal dan lama sembuhnya sehingga memerlukan dana yang besar. Hal ini tentunya tidak sepenuhnya benar apalagi saat ini tersedia pelayanan psikiatri yang ditanggung BPJS di berbagai rumah sakit di Indonesia. 

Peran Dukungan Keluarga Sering kali keluarga dekat tidak memahami saat ada satu anggota keluarganya mengalami gejala gangguan jiwa. Mereka yang mengalami gejala gangguan jiwa sering kali tidak didukung saat mengutarakan pendapatnya untuk menemui psikolog atau psikiater. Keluarga malah kebingungan dan menanyakan mengapa menemui psikiater "Memangnya kamu sudah gila?" itu hal yang kerap ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Itulah mengapa saat ada kampanye dari WHO terkait Hari Kesehatan beberapa tahun yang lalu dengan tema Depression : Let’s Talk, saya pernah membahas, selain pasien depresinya diminta untuk mau bicara terkait keadaannya, orang yg mendengarkannya juga harus memahami apa itu depresi. Jika tidak memahami, maka kebanyakan orang akan memberikan “premature advice”, saran yg terlalu dini dan menggampangkan situasi pasien. Pasien biasanya akan lebih banyak diminta untuk tidak berlebihan dalam menghadapi perasaannya dan banyak bersabar. Banyak juga yang menyarankannya untuk memperkuat iman karena dianggap masalah kejiwaan adalah masalah kurangnya iman.

Banyak Faktor Penyebab Gangguan Jiwa
Penyebab gangguan jiwa memang tidak hanya satu faktor. Tidak seperti gangguan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri, gangguan jiwa tidak disebabkan oleh virus atau bakteri tertentu. Penyebabnya bisa datang dari faktor biologi (faktor genetik), faktor psikologi dan sosial lingkungan. Sehingga pendekatan terapinya pun harus mencakup ketiga faktor tersebut. Satu yang perlu diingat setiap orang adalah setiap orang dengan pengalaman dan faktor bawaan genetiknya akan mempunyai perbedaan dalam memandang suatu permasalahan, termasuk bagaimana cara mereka mengatasi stres dlm kehidupan sehari-hari. Tidak heran walaupun sama-sama mengalami gangguan jiwa, setiap orang bisa mengalami perbedaan dalam gambaran klinis dan pendekatan terapinya nanti. Semoga artikel singkat ini bisa membantu. Salam Sehat Jiwa. Listening Without Judging is One Of The Best Way to Give Our Support to Depressed Patients (ANDRI)

Minggu, 13 Oktober 2019

Film JOKER Tidak Berpihak Pada Pasien Gangguan Jiwa!

Image result for joker pictures
JOKER (Sumber gambar : joker-trailer.jpg https://variety.com/2019/film/reviews/joker-review-joaquin-phoenix-todd-phillips-1203317033/)

Entah karena saya terpengaruh dengan teman-teman yang mengatakan film JOKER ini "thriller psychology" atau gara-gara iklan BPJS yang menggunakan ikon JOKER dan malah kena somasi, saya jadi penasaran dan akhirnya menonton film ini. Setelah menonton saya kecewa, lagi-lagi Hollywood menempatkan pasien gangguan jiwa berpotensi jadi penjahat!.
Ada adegan saat Arthur berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa tempat ibunya dulu dirawat, dia tanya ke petugas "Apakah semua pasien ini melakukan kejahatan?". Seolah-olah ingin menegaskan kembali bahwa orang dengan gangguan jiwa berat biasa melakukan kejahatan.
Delusi atau waham yang dialami oleh Arthur itu lebih dominan memang mengarah ke psikotik. Tapi apakah dia itu mengalami skizofrenia? Tidak tahu juga, gambaran klinisnya tidak jelas. Hanya dramatisasinya yang jelas, namanya jg FILM.
Anggap saja deh si Arthur itu Skizofrenia, dan kita jadi takut kalau orang skizofrenia bisa jadi jahat begitu. Benarkah demikian kenyataannya?
Media sering mengemukakan informasi kalau pasien skizofrenia itu berkaitan dengan perilaku kekerasan, kenyataannya malah sebaliknya. Pasien skizofrenia lebih rentan menjadi korban kekerasan bahkan sampai 14 kali lipat.
Mari kita lihat penelitian :

In public perception, schizophrenia is often associated with violence. This view is reinforced each time there are media reports of violent acts by purported mentally ill persons.
Persons with schizophrenia are undoubtedly at increased risk of becoming victims of violence in the community setting, with risks up to 14 times the rate of being victimized compared with being arrested as a perpetrator (Schizophr Bull. 2011 Sep; 37(5): 877–878.)

Jadi sebenarnya kalau belakangan ini kita jadi "hype" karena film ini dan akhirnya banyak komentar yang berkeliaran di media sosial terkait film ini. Saya cuma ingin mengatakan setelah menonton film ini kalau "Film JOKER Tidak Berpihak Pasien Gangguan Jiwa!"

Salam Sehat Jiwa (Twitter : @mbahndi)

Cuti Praktek

24 - 27 OKTOBER 2019

Sabtu, 05 Oktober 2019

Pentingnya Mempelajari Gangguan Cemas (Laporan dari Wurzburg, Jerman)

Presentasi Poster "Gejala Fisik Pada Depresi" di WASAD 2019 (dok.pribadi)

Saat saya menuliskan tulisan ini, saya masih berada di Wurzburg, Jerman dalam rangka mengikuti International Congress of World Association of Stress Related and Anxiety Disorder (WASAD) yang kedua. Suatu kongres khusus yang baru saja dilakukan dua kali karena kepentingannya dalam mengedepankan penelitian terkait gangguan cemas. 
The World Association for Stress-Related and Anxiety Disorders (WASAD) bertujuan untuk mempromosikan penelitian dasar dan untuk mendorong perawatan yang efektif dan aman serta strategi pencegahan untuk gangguan jiwa yang terkait dengan stres dan kecemasan yang berlebihan. Gangguan tersebut termasuk depresi, gangguan panik, gangguan kecemasan sosial, fobia spesifik atau gangguan kecemasan perpisahan, gangguan stress pasca trauma, ADHD, gangguan tidur dan lain-lain. 
Gangguan mental di atas adalah gangguan yang paling umum ditemukan di pasien-pasien gangguan kejiwaan dan gangguan tersebut pasti terkait dengan peningkatan tingkat stres dan terkait dengan biaya perawatan kesehatan yang sangat besar dan beban penyakit yang tinggi. Menurut survei berbasis populasi besar, sekitar sepertiga dari populasi dipengaruhi oleh gangguan kecemasan selama hidup mereka. 
Kurangnya pengakuan yang baik terhadap adanya masalah gangguan ini dan tidak optimalnya perawatan gangguan ini telah sering dialami. Tidak diobatinya gangguan cemas akan belanjut menjadi masalah yang berkepanjangan dan akan membuat masalah yang lebih jauh lagi berkaitan dengan gangguan jiwa lain seperti gangguan depresi dan penyalahgunaan zat terlarang. Penyalahgunaan zat biasanya terkait dengan cara pasien ingin mengobati dirinya sendiri karena terkendala stigma jika meminta pertolongan profesional di bidang kesehatan jiwa atau karena ketidaktahuan tentang kondisi ini sendiri. 
Sementara penelitian tentang mekanisme patofisiologi serta diagnosis dan pengobatan membuat kemajuan besar selama beberapa tahun terakhir, namun pada kenyataannya dalam praktik klinis masih kurang diaplikasikan. 
Pada kongres ini panitia WASAD menampilkan 23 sesi ilmiah yang berisi cara-cara untuk mengatasi masalah-masalah tersebut sesuai penelitian terakhir dan menyediakan forum untuk dokter peneliti, dokter praktik, psikoterapis, ilmuwan muda, mahasiswa serta profesional perawatan untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam bidang penelitian dasar dan klinis dan untuk mentransfer informasi ini ke dalam aplikasi klinis yang berhasil untuk kepentingan pasien kita bersama. 
Saya sendiri merasakan kongres ini memang secara khusus dan menyeluruh menyinggung aspek ilmiah dan praktis dalam masalah Gangguan Kecemasan dan sangat senang bisa menghadiri kongres ini dan ikut serta dalam presentasi poster. Hal-hal yang saya dapatkan dan bisa saya bagi ke masyarakat terangkum dalam video-video YouTube channel saya "Andri Psikosomatik" seperti di link ini Salah Satu Topik Yang Dibahas di WASAD 2019 yang saya buat selama di Wurzburg. Silahkan menonton jika menginginkan informasi terkait apa yang saya dapat di kongres WASAD 2019 ini yang bisa dibagi ke teman-teman pembaca. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa








Sabtu, 07 September 2019

Kenali Stres, Cegah Depresi

Saat menulis artikel ini saya sedang berada di Copenghagen, Denmark dalam rangka mengikuti kongres European College of Neuropsychopharmacologicum (ECNP) #ECNP2019. Kongres ini berfokus pada pengobatan dengan menggunakan psikofarmaka atau dengan obat psikotropik yang biasanya digunakan oleh dokter jiwa/psikiater dan dokter saraf/neurologis. Berbagai perkembangan terbaru pengobatan khususnya bagaimana obat semakin menarget individu secara spesifik dipaparkan oleh para peneliti di bidang psikofarmakologi dari berbagai negara Eropa. Pesertanya sendiri sampai sekitar 3000 psikiater, neurologis, farmakalogis dan peneliti berbagai bidang biologi otak. 
Namun dalam artikel ini saya akan sedikit berbagi terkait hal dasar yang masih dibicarakan sampai saat ini yaitu bagaimana STRESS bisa mempengaruhi OTAK dan membuat kita dapat mengalami DEPRESI. 
Daya Adaptasi Otak
Tidak semua orang yang mengalami stres dalam kehidupannya akan mengalami gangguan jiwa depresi. Kita tahu bahwa tidak semua orang yang mengeluh stres mengalami gejala-gejala depresi atau akan mengalami depresi. Bisa saja kondisi stres yang dia alami bahkan membuat dia semakin mampu melakukan tugas kehidupan sehari-hari bahkan mencapai sesuatu yang dia harapkan. 
Para psikiater dan psikolog pasti memahami teori General Adaptation Syndrome yang dikemukan oleh Hans Seyle dan dipublikasikan tahun 1950. Stres yang kita persepsikan sebagai sesuatu yang negatif akan melalu fase 1 yaitu fase reaksi alarm. Saat Fase 1 ini atau yang disebut fase alarm, biasanya indvidu yang mengalami stres akan mengumpulkan berbagai sumber yang dia miliki untuk melawan stres atau lebih tepatnya beradaptasi dengan stres tersebut. Kita semua pasti pernah mengalaminya ketika kita berupaya keras untuk mengatasi masalah yang ada di hadapan kita. Fase selanjutnya adalah Fase "Resistance" di mana kita mulai bisa beradaptasi dengan stres kita tersebut. Pada fase ini biasanya tubuh sendiri bisa mengatasi segala macam masalah yang sudah kita alami. Namun demikian sering kali kita tidak mampu atau karena kondisi stres yang kita alami tersebut terlalu lama maka kita masuk ke fase 3 yaitu"Exhaustion". Pada fase ini sumber daya kita mengatasi stres akhirnya berkurang dan kita tidak mampu lagi bertahan terhadap stres yang kita alami tersebut. Pada fase ini lah orang bisa mengalami keluhan stres yang berkepanjangan dan juga bisa mengarah ke gangguan jiwa seperti gangguan cemas atau depresi. 
Kenali Gejala Stres 
Salah satu yang diungkapkan pembicara kemarin adalah bagaimana kita bisa mengenali stres kita baik yang bergejala fisik, psikologis dan perilaku. Mari kita lihat satu per satu
1. Gejala Fisik
- Jantung berdebar
- Sakit kepala
- Berkeringat
- Nyeri lambung
- Perasaan fisik tidak nyaman, atau mungkin dianggap "Tidak enak badan"
- Nyeri Otot
- Nafsu makan menurun
- Gampang sakit karena imunitas tubuh menurun

2. Gejala Psikologis 
- Rasa tegang 
- Kelelahan
- Gangguan Tidur
- Gangguan memori
- Susah konsentrasi
- Tidak sabaran
- Gelisah
- Perasaan Depresi
- Perasaan Cemas

3. Gejala Perilaku
- Terlalu kritis dan mudah tersinggung
- Susah menentukan pilihan
- Kehilangan daya nalar
- Bicara terlalu cepat
- Sering menyela orang lain
- Peningkatan penggunaan stimulan ( termasuk kopi, minuman energi, bahkan narkotika seperti sabu)
- Sering bolos sekolah atau kerja
- Tidak ada komitmen

Jika saudara mulai mengalami gejala-gejala tersebut dan sudah berlangsung lebih dari 2 minggu berturut-turut maka ada baiknya segera menghubungi dokter jiwa atau psikolog terdekat. Saudara mungkin belum tentu mengalami gangguan depresi yang mana gejala utamanya hilang minat, putus asa dan mood yang sedih terus menerus, namun ada baiknya saudara bisa memeriksakan diri ke profesional jika dirasakan mengganggu pekerjaan dan kehidupan pribadi. Semoga laporan ini bermanfaat. Sampai bertemu di laporan saya berikutnya. Salam Sehat Jiwa dari Copenhagen, Denmark

Minggu, 18 Agustus 2019

Minggu, 28 Juli 2019

Berupaya Menjadi Ahli Gangguan Cemas

Berupaya Menjadi "Ahli Gangguan Cemas" 

Saat saya memulai karier sebagai dokter jiwa alias psikiater 11 tahun yang lalu (tahun 2008) saya tidak berniat memfokuskan diri pada suatu bidang khusus saja. Saat itu walaupun sudah mempunyai keminatan di bidang Psikosomatik saya masih menerima berbagai jenis macam pasien termasuk pasien anak-anak di praktek saya. Namun setelah pulang dari Amerika Serikat tahun 2010, saya memutuskan untuk konsentrasi di penanganan kasus masalah psikosomatik. Saya pun mulai membatasi pasien yang saya tangani, khususnya termasuk tidak menerima pasien anak dan remaja di bawah usia 16 tahun.
Saat 2015 saya memutuskan memperdalam psikosomatik di bidang Gastrointestinal atau masalah lambung, saya juga lebih banyak akhirnya berhubungan dengan masalah gangguan cemas dan depresi saja sebagai latar belakang kebanyakan masalah gangguan psikosomatik lambung (termasuk GERD, Dispepsia Fungsional dan IBS). Tahun 2015 saya juga mulai lebih aktif mengikuti update di bidang psikiatri khususnya masalah Gangguan Cemas dan Depresi. Tahun 2015 itu pula saya bergabung ke Anxiety and Depression Association of America (ADAA). Sejak saat itulah fokus penelitian dan presentasi saya berkaitan dengan gangguan cemas dan depresi terutama kaitannya dengan gejala psikosomatik.
Tahun 2019 bulan Oktober nanti saya beruntung bisa berkesempatan untuk menambah pengetahuan dan juga mempelajari kembali penemuan terbaru terkait Gangguan Cemas di acara kongres dua tahunan World Association for Stress Related and Anxiety Disorder. Banyak hal yang akan dapat saya pelajari agar ke depannya pemahaman mengenai Gangguan Cemas dapat bergunan dalam penanganan pasien sehari-hari. Semoga bisa menjadi lebih ahli di bidang Gangguan Cemas in. Salam Sehat Jiwa

Minggu, 23 Juni 2019

Jadwal Cuti Praktek (Terbaru per 24 Juni 2019)



Jadwal cuti : 
02-03 AGUST
06-11 SEPT
02-07 OKT
24-26 OKT

Jumat, 14 Juni 2019

Empat Gejala Fisik Terkait Depresi

Saya sudah melakukan praktek psikiatri selama lebih dari 10 tahun. Sejak dua tahun berpraktek tepatnya tahun 2010 saya memutuskan untuk mendalami psikosomatik. Psikosomatik adalah suatu kondisi psikologis yang dikaitkan dengan kondisi fisik. Pasien yang mengalami psikosomatik biasanya mengeluh lebih dominan gejala fisiknya padahal kondisi tersebut dikaitkan dengan keluhan psikologis atau masalah kejiwaan. 
Beberapa penelitian pernah mencatat bahwa pasien di kalangan komunitas Asia lebih sering mengeluh gejala fisik sebagai tanda kondisi depresi. Walaupun hal ini juga banyak dibantah oleh penelitian lain yang mengatakan bahwa sebenarnya memang hampir semua populasi secara seimbang menyatakan keluhan gejala fisik terkait dengan depresi daripada gejala psikologis seperti sedih atau perasaan putus asa. Hal ini karena gejala fisik bisa lebih diterima masyarakat daripada kondisi psikologis. Contoh jika kita mengeluh kepada atasan kita karena tidak bisa masuk bekerja, maka atasan kita akan lebih percaya jika kita mengatakan sakit perut daripada merasa putus asa atau cemas berlebihan hari itu. Kondisi ini yang membuat masalah depresi sendiri terselubung dan tidak dideteksi segera di pelayanan primer bahkan di pelayanan sekunder spesialistik. Hal ini karena laporan gejala fisik terkait dengan depresi juga tidak dianggap sebagai gejala gangguan jiwa tetapi kebanyakan dokter mungkin akan lebih fokus melakukan terapi untuk gangguan fisiknya. 
Di bawah ini ada lima kondisi gangguan fisik yang dikaitkan dengan gangguan depresi. Kondisi ini mungkin bisa terjadi pada orang tersebut tanpa orang tersebut mengeluhkan gejala psikologis tetapi bukan berarti dia tidak akan mengalami gangguan depresi. 
1. Migrain
Lisa K. Mannix, MD, seorang ahli saraf yang berspesialisasi dalam pengobatan sakit kepala mengatakan 40 persen orang dengan migrain mengalami depresi . Migrain juga dianggap berkaitan dengan kecemasan. Sebuah studi tahun 2009  menunjukkan bahwa 11 persen mahasiswa di sebuah universitas yang menderita migrain juga mengalami satu atau lebih jenis gangguan mood, mulai dari depresi berat hingga gangguan panik.

2. Nyeri Sendi
Menurut sebuah penelitian, orang dengan fibromialgia 3 kali lebih mungkin untuk mengalami depresi berat daripada orang tanpa fibromialgia. Fibromialgia memang merupakan penyakit kronis di mana orang tersebut mengalami nyeri di berbagai titik di tubuhnya yang berlangsung menahun, mengganggu tidur dan menimbulkan penderitaan. Kasus fibromialgia memang lebih banyak dialami perempuan paruh baya di atas usia 40an. Penemuan menarik terkait dengan fibromialgia dan hubungan dengan depresi dikatakan bahwa kekakuan, peradangan, dan kerusakan tulang rawan sendi sebenarnya adalah gejala depresi yang juga sekaligus bisa menyebabkan penurunan mood.

3. Masalah Pencernaan

Adanya hubungan antara pencernaan dengan kondisi psikologis sudah diketahui sejak lama dan menjadi bahan penelitian banyak peneliti. Hubungan yang disebut aksis Otak dan Sistem Pencernaan (Brain-Gut Axis) ini menyebabkan banyak orang mengalami gangguan dispepsia fungsional, suatu kondisi gangguan pencernaan dimana tidak ditemukan adanya kelainan organik penyertanya. Pasien dengan gangguan dispepsia fungsional bisa mengeluh perih, kembung dan sulit buang air besar tetapi hasil gastroskopinya menunjukan normal bahkan pemeriksaan H.Pylori-nya juga.

Sistem saraf pencernaan kita sangat kompleks (diperkirakan memiliki 500 juta neuron)  sehingga ilmuwan saraf sering menyebut sistem pencernaan lambung dan usus sebagai otak kedua. Faktanya sel-sel saraf di usus kita memproduksi 80 hingga 90 persen dari serotonin tubuh kita. Itu lebih dari yang dihasilkan otak kita. Serotonin adalah zat neurotransmitter di otak yang bertanggung jawab terhadap keseimbangan suasana perasaan manusia. Penelitian terbaru juga mengatakan bahwa beberapa gejala depresi dan kecemasan dapat dihilangkan dengan merawat usus dan memakan probiotik. Penelitian ini pernah disampaikan saat saya mengikuti acara World Congress of Psychiatry di Berlin tahun 2017.
Ahli saraf terkenal Dr. David Perlmutter menunjukkan dalam buku Grain Brain bahwa orang yang menderita gangguan mood juga cenderung peka terhadap gluten dan sebaliknya. Depresi ditemukan pada sebanyak 52 persen individu yang sensitif terhadap gluten.

4. Nyeri Dada
Menurut National Institute of Mental Health, 3 dari 20 orang Amerika dengan penyakit jantung mengalami depresi dibandingkan dengan rata-rata 1 dari 20 orang tanpa penyakit jantung. Pasien dengan penyakit jantung yang mengalami depresi cenderung memiliki lebih banyak gejala jantung daripada mereka yang tidak mengalami depresi. Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Circulation menemukan bahwa orang-orang dengan gagal jantung yang mengalami depresi sedang atau berat memiliki risiko empat kali lipat untuk mengalami kematian dini dan dua kali lipat risiko dirawat di rumah sakit dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami depresi. Bahkan disebutkan orang dengan gejala depresi ringan memiliki hampir 60 persen peningkatan risiko kematian.
Studi terbaru menunjukkan bahwa seperti orang dengan penyakit jantung koroner yang memiliki risiko tinggi untuk mengalami depresi, mereka yang mengalami depresi juga berisiko mengalami penyakit jantung koroner. Depresi dan kecemasan mempengaruhi ritme jantung, meningkatkan tekanan darah, meningkatkan kadar insulin dan kolesterol, dan meningkatkan kadar hormon stres. Nyeri dada dan detak jantung yang cepat juga sering dikeluhkan oleh pasien dengan gejala kecemasan panik dan pasien depresi. Hal ini yang sering membuat pasien gangguan cemas panik sering kali datang ke IGD karena keluhan nyeri dadanya yang dikhawatirkan serangan jantung. 
Kita tentunya perlu memahami kondisi seperti ini lebih baik agar tidak kehilangan kesempatan untuk melakukan terapi dini dan segera untuk kasus depresi yang mengedepankan gejala fisik sebagai keluhan utamanya. Bagi para praktisi kesehatan juga sangat perlu untuk memahami hal ini karena bisa saja pasien yang ditanganinya yang mengeluh gejala fisik yang berulang dan berganti-ganti tanpa perubahan berarti jika diobati sebenarnya mengalami gejala depresi.

Kamis, 13 Juni 2019

Perubahan Jadwal Praktek Untuk Rabu dan Jumat (Per 17 Juli 2019)

Per 17 Juli 2019 

Praktek Rabu dan Jumat berubah menjadi 
16.00-19.00 

Sabtu, 20 April 2019

"Diagnosis Gangguan Jiwa Tidak Bisa Tanpa Pemeriksaan Langsung"

oleh : Dokter Andri Psikiater

Selama menjelang #pilpres2019 dan #pilleg2019 yang dilangsungkan serentak tahun ini saya banyak mendapat pertanyaan baik dari kawan, sejawat dokter maupun wartawan terkait kemungkinan caleg gagal akan alami gangguan jiwa. Saya sendiri memandang fenomena tersebut sebagai sesuatu hal yang biasa. Jika memang benar ada caleg gagal yang mengalami gejala gangguan jiwa maka itu adalah hal yang wajar, suatu reaksi mekanisme pertahanan psikologis dari seorang manusia yang mengalami kegagalan. Gejalanya bisa gejala cemas seperti gelisah, merasa putus asa dan tidak ada harapan, sedih, marah-marah bahkan bisa sampai mengalami halusinasi dan delusi (biasa disebut sebagai kondisi psikotik). Gejala-gejala ini jika hanya berlangsung sementara tidak bisa disebut sebagai Gangguan Jiwa yang akan menetap. Ini adalah suatu reaksi stres akut atau suatu gangguan penyesuaian. Biasanya pasien yang mengalami gejala-gejala seperti ini bisa membaik dalam hitungan kurang dari dua minggu. Tentunya hal ini juga berkaitan dengan latar belakang psikologis dan bawaan genetik orang tersebut. Bisa saja kondisi ini mengarah ke kondisi Gangguan Jiwa lebih lanjut jika tidak membaik dalam waktu dua minggu dan akhirnya membuat kualitas hidup orang tersebut menurun.

Hal yang ingin saya sampaikan secara jelas adalah bahwa psikiater sebagai dokter yang menangani masalah kejiwaan tidak bisa mendiagnosis pasien hanya dari berita di media atau tampilan video di media sosial. Pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosis gangguan jiwa harus dilakukan secara langsung, bukan berdasarkan rekaan atau asumsi dari psikiater tersebut. Konsekuensi dari diagnosis gangguan jiwa terhadap pasien itu tidak mudah. Mereka bisa mengalami stigma karena gangguan jiwa, sesuatu yang sering kali terjadi di Indonesia. Orang yang mengalami Gangguan Jiwa di Indonesia bisa disangka kurang imannya dan kurang bersyukur, padahal gangguan jiwa bisa terjadi pada siapa saja dan hal itu adalah wajar. 

Untuk itu saya menghimbau untuk teman-teman semua jangan mengira-ngira orang mengalami gangguan jiwa hanya karena melihat perilaku dan perkataannya di televisi atau media sosial. Ingatlah yang bisa mendiagnosis gangguan jiwa adalah dokter jiwa atau psikolog klinis karena hal ini akan berhubungan langsung dengan terapi itu sendiri. Jangan menambah stigma gangguan jiwa dengan hal-hal yang sifatnya melecehkan atau merendahkan orang dengan masalah kejiwaan atau dengan gejala gangguan jiwa. Semoga kita bisa memahaminya. Salam Sehat Jiwa (Dokter Andri Psikiater, twitter @mbahndi )