psikosomatik

psikosomatik

Senin, 29 Desember 2014

Pengobatan Menyeluruh Gangguan Tidur

Pasien dengan keluhan Insomnia atau sulit tidur mungkin merupakan pasien gangguan kejiwaan yang paling banyak ditangani oleh sejawat dokter baik umum maupun spesialis. Gangguan tidur ini memang paling banyak dikeluhkan dan sayangnya sering kali tidak ditangani dengan baik dan menyeluruh. Kasus-kasus insomnia sendiri sering kali lebih banyak diobati sendiri baik dengan obat-obatan bebas di apotek ataupun yang mencoba-coba sendiri dengan menggunakan obat psikotropika yang dibeli secara online/bebas di apotek “nakal”.

Jangan Obati Gejalanya Saja
Saya pernah mendapati banyak kasus insomnia yang fokus pengobatannya hanya pada gejala yang dirasakan pasien yaitu kesulitan tidur. Pasien bisa berbulan-bulan makan obat tidur yang merupakan golongan benzodiazepine. Sayangnya lagi banyak pula pasien yang diberikan oleh dokternya hanya obat anticemas yang mempunyai efek mengantuk seperti alprazolam (dikenal dengan merk Xanax, Alganax, Zypraz dll). Memang pasien menjadi bisa tidur dengan nyaman, tapi apakah sempat terpikir mengapa kasus insomnia diberikan obat anticemas malah bermanfaat? Ini artinya ada masalah kecemasan yang menjadi dasar gejala insomnianya.
Beberapa pasien yang berani mencoba-coba sendiri lebih buruk lagi kondisinya. Sering kali saya menemukan bahwa pasien mengalami “ketergantungan” obat tidur disebabkan karena kesalahan sendiri. Awalnya berobat ke dokter tetapi kemudian membeli obat secara bebas sendiri. Sayangnya obat-obat seperti ini memang bisa dengan mudah ditemukan secara online di Indonesia.
Ada juga pasien yang biasanya tidak mau menuruti anjuran dokter yang merawatnya, biasanya pasien seperti ini sebenarnya sudah ke psikiater tetapi ketika psikiater memberikan obat anti-insomnia dan obat antidepresan biasanya pasien hanya mau makan obat anti-insomnianya saja. Apakah hal ini terjadi hanya di Indonesia? Ternyata tidak! Pembicaraan dengan teman sejawat dokter dari Taiwan beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa trend penggunaan obat anticemas untuk gangguan cemas atau tidur lebih tinggi di orang Asia Timur daripada antidepresan. Hal ini disebabkan karena efek antidepresan yang lebih lama dan tidak langsung terasa, berbeda dengan obat anticemas yang langsung terasa efeknya.

Obati Dasar Gejalanya
Beberapa tulisan saya terdahulu terkait insomnia selalu menekankan ada baiknya kita memfokuskan pada dasar gejala gangguan tidur pasien. Tidak bisa tidur memang sering kali hanya merupakan salah satu tanda dari gangguan jiwa. Gejala lain jika kita mau lebih dalam mengeksplorasi tentunya akan lebih banyak daripada sekedar tidak bisa tidur. Pasien juga perlu diberikan pemahaman bahwa pengobatan gangguan tidur akan membutuhkan waktu.
Pasien sering kali berharap ada obat yang bisa menyembuhkan langsung gejala gangguan tidur seperti insomnia. Pasien berharap bahwa ada sejenis “antibiotik” untuk melawan “kuman insomnia”. Sayangnya hal tersebut tidak ada dalam praktek sehari-hari. Masalah tidur yang sepertinya sederhana sebenarnya sangat kompleks. Perilaku dan kebiasaan seseorang juga sangat mempengaruhi masalah tidur pasien. Sering kali pasien tidak sabar untuk melakukan terapi untuk gangguan tidurnya dan akhirnya menyerah hanya dengan menggunakan obat tidurnya saja.
Saya di atas menyebutkan pentingnya pengobatan gejala dasar. Kasus gangguan tidur banyak disebabkan karena depresi dan cemas. Pengobatan gangguan insomnia yang didasari oleh masalah depresi cemas harus juga berkaitan dengan pengobatan gangguan depresi dan cemasnya. Pengobatan yang fokus pada gejala insomnianya saja tidak akan berhasil memperbaik secara baik gangguan tidurnya.
Pasien sering kali merasa ketergantungan jika berobat untuk insomnia. Padahal tanpa sadar banyak kasus pasien yang saya tangani sebernarnya memang sudah “tergantung” dengan obat tidur karena  memakainya bertahun-tahun tanpa sadar itu sebenarnya hanya mengobati gejala saja tanpa menyentuh dasar diagnosis yang menyebakan kesulitan tidur. Pola pikir seperti ini yang perlu juga diperbaiki saat melakukan terapi insomnia di klinik sehari-hari.
Semoga penjelasan singkat ini bisa membantu pembaca memahami lebih jauh tentang pengobatan Insomnia. Salam Sehat Jiwa

Senin, 15 Desember 2014

Survey Tentang Kegunaan Media Sosial dan Website Dalam Penyebaran Informasi Psikosomatik

https://www.surveymonkey.com/s/KKRFSM2

Klinik Psikosomatik Membuka Layanan Untuk Pasien JKN-BPJS

Per Januari 2015 tepatnya Rabu, 7 Januari 2015 Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera akan membuka pelayanan untuk pasien-pasien JKN-BPJS setiap hari Rabu mulai jam 14.00-16.00. 
Pasien yang akan dilayani adalah pasien-pasien JKN yang telah membawa rujukan untuk berobat ke Spesialis Kedokteran Jiwa/Psikiater dari PKM1/Puskesmas. 
Pasien diharapkan untuk datang dan mendaftar di pendaftaran yang dibuka antara pukul 07.00-09.00. Akan ada pembatasan pasien sebanyak 15 pasien per kali praktek.
Informasi lebih lanjut silahkan hubungi RS OMNI Alam Sutera di telp (021) 53125555 mulai 2 Januari 2015.
Terima kasih atas perhatiannya

Salam Sehat Jiwa,
dr.Andri,SpKJ,FAPM  

Senin, 08 Desember 2014

Informasi Perubahan Jadwal/Cuti Praktek

Rabu, 31 Des 2014 Praktek dipindahkan ke pagi jam 8.30-11.00, Pasien dibatasi hanya 10 saja. Praktek Sore Ditiadakan

Khusus Jumat, 9 Januari 2015 Praktek Libur
Buka Seperti biasa Sabtu, 10 Januari 2015