psikosomatik

psikosomatik

Senin, 27 Juli 2015

Pesan Buku Saku Terbaru Seri Psikosomatik



Dimensi : 10cmx14cm (80 halaman+xv)
Penerbit : Meddik Publishing 
ISBN : 978-602-96349-5-2 
Harga : Rp.25.000 (belum termasuk ongkos kirim). 
Pemesanan lewat email : andrisuryadi@gmail.com atau LINE ID : omnipsikosomatik

OUT OF STOCK (per 4 Agustus 2015) 
Akan ada kembali setelah 25 Agustus 2015 

Selasa, 21 Juli 2015

Jadwal Cuti Terbaru


Pada tanggal 29-31 Juli 2015 saya akan menjadi pembicara di Konas Psikiatri Biologi di Makasar sedangkan untuk tanggal 17-24 Agustus 2015 saya akan ke Glasgow untuk menjadi pembicara di World Congress of Psychosomatic Medicine di Glasgow, Skotlandia. Karena kepentingan tersebut maka pada tanggal tersebut di atas saya akan cuti praktek. Semoga bisa menjadi perhatian untuk pasien yang akan berkonsultasi. Terima kasih atas perhatiannya

Salam Sehat Jiwa,
dr.Andri,SpKJ,FAPM



Kamis, 09 Juli 2015

Mewakili Psikiater Indonesia di Tingkat Internasional

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM

Tanggal 18 Agustus 2015 saya akan bertolak ke Glasgow untuk memenuhi undangan menjadi pembicara di World Congress of Psychosomatic Medicine di sana. Kesempatan menjadi pembicara ini ditawarkan oleh panitia kongres pada bulan Januari 2015. Sepulang dari Amerika Serikat mengikuti Academy of Psychosomatic Medicine pada bulan November 2014 tawaran menjadi pembicara pertama datang dari World Psychiatric Association (WPA) Regional Meeting di Osaka, Jepang. Selanjutnya tawaran menjadi pembicara di tingkat internasional datang dari International College of Psychosomatic Medicine (ICPM).
Saya sangat menyambut dengan semangat dan rasa gembira tawaran menjadi pembicara Internasional ini. Salah satu impian saya sejak pertama berkarier sebagai dosen dan psikiater klinis adalah suatu saat menjadi pembicara tingkat Internasional. Sejak tahun 2009 saya sudah mulai aktif mengirimkan abstrak untuk kegiatan-kegiatan kongres psikiatri tingkat internasional dan mulai bisa menampilkan poster atau bicara di oral presentation (free paper session) di kongres internasional tersebut. Namun kesempatan untuk berbicara di sesi simposium utama belum datang juga. Tahun 2015 ini pertama kali saya diundang menjadi pembicara simposium bahkan di Osaka yang baru lalu saya berbicara di dua simposium berbeda.
Harapan saya sebenarnya adalah kegiatan ini dapat menginspirasi dokter-dokter Indonesia dan khususnya mahasiswa saya agar bisa lebih berbuat nantinya untuk kemajuan kedokteran Indonesia. Khususnya untuk rekan dokter, tentunya merupakan suatu keniscayaan buat kita dokter Indonesia ikut berkiprah di tingkat Internasional. Mohon doa dari para pembaca sekalian. Semoga saya bisa membawa nama Indonesia ke tingkat yang lebih baik di bidang kedokteran khususnya ilmu kedokteran jiwa. Salam Sehat Jiwa






Kamis, 02 Juli 2015

Hambatan Sembuh dari Gangguan Cemas

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera)

Sudah hampir 7 tahun lamanya saya mengkhususkan diri dalam menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan keluhan-keluhan psikosomatik. Keluhan fisik yang didasari oleh masalah psikologis ini biasanya sering dialami oleh pasien-pasien yang mengalami gangguan kecemasan. Pada beberapa pasien sering kali masalah terkait dengan gangguan kecemasan bisa disembuhkan dengan segera, tapi untuk pasien yang lainnya sering kali perlu waktu bertahun-tahun untuk tetap menggunakan obat agar menjaga masalah kecemasannya tidak sampai mengganggu kehidupannya sehari-hari. 
Ada beberapa hal yang dalam praktek saya lihat merupakan beberapa kondisi yang terkait dengan kesulitannya sembuh atau lamanya pengobatan pasien-pasien gangguan kecemasan. Hal tersebut akan saya ungkapkan dalam tulisan di bawah ini. Perlu diingat bahwa hal ini disimpulkan dari pengalaman klinis sehari-hari yang didukung oleh teori kedokteran jiwa. Penelitian sahih pada kasus-kasus tersebut belum dilakukan sehingga kesimpulan yang dibuat saya hanya berdasarkan pasien-pasien yang saya tangani selama ini di Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera. 

1. Pasien dengan riwayat penggunaan narkotika stimulan
Saya sering menemukan dalam praktek bahwa kebanyakan pasien yang sulit sembuh dari Gangguan Kecemasan (baik Gangguan Panik atau Gangguan cemas menyeluruh serta tipe lainnya) adalah pasien-pasien yang pernah menggunakan narkotika jenis stimulan dalam waktu yang lama dan dosisnya berlebihan. Saya punya beberapa kasus pasien gangguan kecemasan yang sulit sekali mereda gejala kecemasannya jika tanpa obat-obatan antidepresan yang harus dimakannya dalam waktu yang lama. Pasien seperti ini biasanya memiliki riwayat penggunaan stimulan seperti sabu atau ekstasi. 
Kondisi ini sebenarnya terkait dengan masalah sistem neurotransmiter monoamine di otak pasien pengguna stimulan. Kita memahami bahwa tujuan pemberian stimulan salah satunya untuk meningkatkan euforia dan semangat. Hal ini berkaitan dengan peningkatan neurotransmitter serotonin, norepineprine dan dopamin di otak. Pemberian sabu atau ekstasi akan meningkatkan berkali lipat zat-zat tersebut. Ketika akhirnya pasien menjadi terbiasa dengan kondisi tingginya zat tersebut dalam otaknya lalu kemudian berhenti, maka kondisinya sering kali tidak kembali normal. Ataupun jika kembali ke kondisi normal, otak pasien yang terbiasa mengalami kelebihan akan "menyangka" bahwa kondisi itu adalah kekurangan. Anggap saja jika diberikan stimulan zat tersebut meningkat sampai 100x lipat, tapi jika tidak menggunakan maka level 1x lipat dianggap sebagai sesuatu yang kurang. Padahal selama ini adalah normal.
Sayangnya hal ini sangat berkaitan dengan timbulnya gejala-gejala gangguan kejiwaan. Penurunan serotonin adalah hal yang dianggap sebagai kondisi yang bertanggung jawab terhadap gangguan depresi dan cemas. Begitu juga ketidakseimbangan norepineprin dan dopamin. Dopamin sangat berhubungan dengan daya pikir dan juga gejala-gejala psikotik. Jika berlebihan sering akan mengalami waham (delusi) dan halusinasi terutama jika berlebihan di daerah otak yang dinamakan jaras atau jalur mesolimbik.
Kondisi ini yang sering jadi hambatan dalam kesembuhan pasien. Orang yang sudah terbiasa menggunakan stimulan dalam waktu lama sering kali mengalami masalah kecemasan di kemudian hari walaupun sudah tidak aktif lagi menggunakan zat stimulan tersebut.

2. Penyalahgunaan obat penenang khususnya benzodiazepine
Saya sering menemukan masalah ketergantungan atau penyalahgunaan benzodiazepine di dalam praktek. Beberapa yang sering disalahgunakan misalnya adalah alprazolam, nitrazepam dan nimetazepam (atau dikenal dengan sebutan Happy 5/Erimin 5). Sebenarnya jika obat-obat tersebut digunakan dengan baik, dosisnya pas dan diawasi oleh dokter maka obat tersebut sangat berguna. Nitrazepam (yang dikenal dengan merk dagang Dumolid) diindikasikan untuk pasien gangguan insomnia yang berat yang biasanya disebabkan oleh depresi. Alprazolam digunakan untuk mengatasi dengan baik serangan panik yang datang pada fase-fase awal pengobatan gangguan panik. Sayangnya sering kali penggunaannya menjadi berlebihan karena si pengguna ingin mendapatkan efek yang lebih dari obat-obat ini.
Selain itu biasanya kita temukan pasien-pasien yang cenderung menyalahgunakan obat-obat penenang ini adalah para pengguna zat narkotika lain atau mantan pengguna zat narkotika. Obat penenang diberlakukan oleh pasien ini sebagai zat pengganti untuk menutupi rasa putus zat atau rasa tidak nyaman terkait tidak digunakannya lagi zat narkotika. Ada pula kecenderungan pasien dengan riwayat penyalahgunaan zat ini sering kali sulit memenuhi petunjuk dokter dan mau seenaknya sendiri saja. Penanganan pasien gangguan cemas saat ini biasanya menggunakan antidepresan SSRI atau SNRI, sedangkan benzodiazepine hanya diberikan di awal saja jika perlu. Sayangnya pasien-pasien yang mempunyai riwayat penggunaan benzodiazepine yang lama biasanya malas menggunakan obat antidepresan karena rasanya tidak seenak obat penenang. Inilah masalahnya, pasien ingin tetap cari enaknya bukan ingin kesembuhan. Ada beberapa pasien juga yang selalu mengeluh rasa tidak nyaman setelah lepas dari obat penenang dan mempunyai kecenderungan untuk memakainya lagi.

3. Stresor belum teratasi baik
Pemicu Gangguan Kecemasan sering dikaitkan dengan adanya stresor. Pengalaman praktik mengatakan stresor di rumah tangga dan yang berhubungan dengan pekerjaan adalah stresor yang paling sering dikeluhkan pasien. Sering kali pasien yang mengalami masalah rumah tangga mengalami masalah gangguan kecemasan yang sulit sembuh. Begitu juga jika stresor di pekerjaan tidak kunjung reda. Masalah-masalah ini sering menjadi hambatan untuk mencapai kesembuhan dalam penanganan kasus gangguan kecemasan. 
Biasanya hal ini terkait dengan daya adaptasi yang masih sulit dari kondisi yang berkaitan dengan stresor yang dialami pasien. Kondisi ini tentunya perlu mendapatkan perhatian. Obat dibantu dengan teknik psikoterapi atau konseling yang terarah sedikit banyak bisa membantu daya adaptasi pasien menjadi lebih baik. Setidaknya dia mampu mencoba mekanisme adaptasi yang mungkin dianggap paling cocok untuk mengatasi masalahnya. 
Demikian hal-hal yang paling sering dianggap menghambat kesembuhan masalah gangguan kecemasan. Semoga apa yang dituliskan bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Rabu, 01 Juli 2015

Update Cuti Praktek


Catatan Penting :
1. Kamis 16 Juli 2015, Hanya ada praktek pagi jam 9.30-12.00, Praktek Sore ditiadakan  
2. Rabu 29 Juli 2015, Praktek sore ditiadakan dan diganti ke pagi hari jam 9-12 ( dibatasi 10 pasien)