Minggu, 24 Mei 2020

PSBB Tidak Efektif, Siapkah Kita Menuju "New Normal"?


Penulis : dr.Andri,SpKJ, FACLP (Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa) Omni Hospital Alam Sutera
Twitter : @mbahndi 
Sebenarnya  kalau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) itu bisa sukses, maka seperti pada umumnya suatu TERAPI PERILAKU pada umumnya dalam ilmu psikologi maka akan tercipta suatu perilaku baru yg lebih baik daripada sebelumnya. Pada kasus pandemi COVID-19 ini  perilaku yang berkaitan dengan bagaimana hidup di masa pandemi ini. Sayangnya PSBB buat sebagian masyarakat kita sepertinya tidak berhasil! 
Lihat saja video-video dan berita yang tersebar terkait bagaimana masyarakat mengakali PSBB untuk mudik, berkerumun di keramaian, tidak takut desak-desakan di tempat umum dan mengabaikan menggunakan masker yg benar. Punishment atau Hukuman untuk pelanggar PSBB sepertinya tidak cukup manfaatnya. Ketidakpedulian mereka lebih dominan daripada kesadaran untuk menjaga diri sendiri dan orang lain. 
Dalam Ilmu Psikiatri sebenarnya ketika Terapi Perilaku dilakukan dengan baik oleh pasien maka akhirnya akan tercipta perilaku baru yang lebih adaptif dengan kondisi pasien. Hal ini akan membuat kualitas hidup pasien sendiri akan meningkat. Walaupun kadang pada saat selesai terapi perilakunya, kognitif atau daya pikirnya belum paham benar mengapa perilakunya harus berubah, tapi perilaku baru yang lebih adaptif terhadap kondisi pasien sudah terjadi. Hal ini sebenarnya sama dengan PSBB ini, anjuran dan segala macam larangan telah diterapkan, namun sebagian besar masyarakat tidak paham mengapa harus pakai masker, menjaga jarak dan #dirumahaja. Mereka mungkin berpikir apa sebenarnya untungnya buat mereka dengan melakukan semua itu, maka ketika dilonggarkan, semua aturan PSBB dilanggar! Artinya dlm hal ini PSBB bagi sebagian masyarakat telah gagal menjadi suatu proses TERAPI PERILAKU. 
Hal yang saya khawatirkan dan sepertinya akan terjadi adalah ketika terjadi relaksasi PSBB maka "New Normal" yg diharapkan oleh pemerintah tidak akan tercapai karena masyarakat belum berubah perilakunya, apalagi kognitifnya berkaitan dgn pandemi. Mereka bisa lupa untuk menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan lebih sering jika banyak memegang sesuatu. Mereka akan menganggap pandemi sudah berlalu dan kita kembali seperti semula. Padahal kalau melihat grafik penambahan kasus sendiri di Indonesia sepertinya belum mengalami stagnasi tetapi cenderung terus bertambah. Walaupun dari yang terinfeksi hanya 5% yang akan menjadi parah dan memerlukan perawatan intensif, namun jika yang terinfeksi jutaan manusia maka kita akan sangat kewalahan atau bahkan tidak sanggup merawat 5% orang-orang tersebut di rumah sakit-rumah sakit yang kita miliki karena kekurangan alat kesehatan dan ruangan yang baik. Hal ini juga akan membuat penderita penyakit lain juga kesulitan untuk bisa berobat ke rumah sakit karena khawatir tertular karena mereka sendiri rentan. 
Kalau ditanya mengapa bisa demikian? Mengapa PSBB tidak efektif mengubah perilaku masyarakat? Maka jawabannya bisa banyak. Dari tidak adanya solidaritas antara kita sebagai masyarakat, ketidakpedulian kita, rasa mau menang sendiri bisa jadi jawabannya. Atau juga mungkin pandemi ini belum sepenuhnya dimengerti masyarakat tentang bahaya dan kemungkinan menularkannya walaupun setiap hari pemerintah hadir di media TV. Kita tentunya bisa mempunyai banyak jawaban. Kalau yang dijadikan alasan bahwa banyak orang keluar karena alasan ekonomi mencari nafkah maka sebenarnya belum tentu bisa jadi alasan karena ternyata banyak kita temukan yang  tidak peduli berkumpul hanya sekedar untuk berkumpul seperti kejadian di Sarinah atau ketidakmampuan mengatur diri dengan menjaga jarak saat di bandara terminal 2 yang terekam dalam gambar.
Bagaimana pendapat teman-teman, apakah yang membuat PSBB ini tidak bisa menjadi ajang pembelajaran untuk menghadapi "new normal"? 
Salam Sehat Jiwa


Senin, 18 Mei 2020

Sabtu, 18 April 2020

Hal-Hal Yang Bisa Kita Lakukan Untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Masa Pandemi COVID-19



Oleh : dr.Andri,SpKJ,FACLP* (Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa/Psikiater)

Kita sudah hampir sebulan lebih bergulat dengan pandemi COVID-19. Sejak diumumkan kasus pertama di awal Maret 2020, sampai saat ini pembicaraan terkait COVID-19 mewarnai kehidupan sehari-hari kita. Sepertinya tidak akan dalam satu hari pun kita tidak mendengar tentang COVID-19. Semua orang membicarakannya. Semua aspek kehidupan pun terpengaruh akibat pandemic ini. Anak-anak sekolah di rumah, banyak karyawan bekerja di rumah, mal tutup, peribadatan di rumah, bahkan rumah sakit pun lebih lengang daripada biasanya. Orang menjadi sangat khawatir bahkan beberapa cenderung mengalami kecemasan yang luar biasa karena pandemi ini sampai harus berobat ke dokter spesialis kedokteran jiwa.

Kita sebagai manusia harus menyadari bahwa perubahan ini juga akan mempengaruhi kesehatan jiwa kita. Perubahan hidup yang tiba-tiba ini dapat membuat orang yang mengalaminya kesulitan beradaptasi dan terganggu kesehatan jiwanya. Sebagian orang mungkin bisa melewatinya dengan baik setelah beberapa saat, namun tentunya kita semua perlu untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat kita lebih baik lagi kesehatan jiwanya.

Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

1.     Pertimbangkan cara terhubung dengan orang lain: Panggilan video call dengan teman dan keluarga dapat membantu mengalahkan perasaan terisolasi.

2.     Bantu dan dukung orang lain: Pikirkan bagaimana kita bisa membantu orang-orang di sekitar kita. Hal ini bisa membuat perbedaan besar bagi mereka yang kita bantu dan dapat membuat kita merasa lebih baik juga. Pemberian Alat Perlindungan Diri (APD) ke tenaga kesehatan salah satunya.

3.     Bicarakan tentang kekhawatiran kita : Ingatlah bahwa ini adalah waktu yang sulit bagi semua orang dan berbagi perasaan kita dan hal-hal yang kita lakukan untuk mengatasinya dapat membantu banyak orang juga.

4.     Jaga kesejahteraan fisik kita : tetap makan makanan yang sehat, seimbang, minum air yang cukup, berolahraga di dalam jika memungkinkan dan di luar sekali sehari (tetap jaga jarak setidaknya 2 meter dari orang lain sebagaimana diuraikan dalam pedoman jarak social)

5.     Jaga pola tidur kita: cobalah untuk mempertahankan pola tidur yang teratur dan menjaga kesehatan tidur/“sleep hygiene” yang baik ; seperti menghindari layar smartphone sebelum tidur, mengurangi kafein dan menciptakan lingkungan yang tenang.

6.     Cobalah untuk mengelola perasaan yang sulit: cobalah untuk fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan, termasuk dari mana kita mendapatkan informasi dan tindakan untuk membuat diri kita merasa lebih siap.

7.     Kelola asupan media dan informasi kita: Berita 24 jam dan pembaruan di media sosial yang konstan dapat membuat kita lebih khawatir. Mungkin akan sangat membantu untuk hanya memeriksa berita pada waktu yang ditentukan dalam waktu yang singkat (tidak lebih dari sejam) atau membatasi diri kita untuk tidak memeriksa berita tersebut secara online.

8.     Dapatkan fakta dari sumber terpercaya : kumpulkan informasi terpercaya yang akan membantu kita menentukan secara akurat risiko kita sendiri atau orang lain tertular virus corona (COVID-19) sehingga kita dapat mengambil tindakan pencegahan yang wajar.

9.     Pikirkan tentang rutinitas harian baru kita : Pikirkan tentang bagaimana kita dapat beradaptasi dan menciptakan rutinitas baru yang positif. Kita bisa mencoba untuk terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat (seperti membersihkan, memasak atau berolahraga) atau kegiatan yang bermakna (seperti membaca atau menelepon teman). Kita mungkin merasa terbantu juga untuk menulis rencana untuk hari atau akhir minggu kita.

10.  Lakukan hal-hal yang kita sukai: Jika kita tidak dapat melakukan hal-hal yang biasanya kita nikmati karena kita tinggal di rumah, cobalah untuk memikirkan bagaimana kita dapat menyesuaikannya, atau mencoba sesuatu yang baru. Ada banyak tutorial dan kursus online gratis.

11.  Tetapkan tujuan: Menetapkan tujuan dan mencapainya memberikan rasa kontrol dan tujuan. Pikirkan hal-hal yang Anda inginkan atau perlu lakukan yang masih bisa kita lakukan di rumah.

12.  Tetap aktifkan pikiran kita : Baca, tulis, mainkan game, lakukan teka-teki silang, sudoku, membuat puzzle atau menggambar dan melukis. Temukan sesuatu yang sesuai untuk dengan minat kita.

13.  Luangkan waktu untuk rileks dan fokus pada masa kini: Teknik relaksasi dapat membantu beberapa orang menghadapi perasaan cemas. Kita juga bisa melakukan meditasi atau latihan pernapasan. Video-video mengenai hal ini bisa didapatkan di berbagai media. Terapkan yang paling cocok untuk kita

14.  Jika memungkinkan sekali sehari keluar rumah melihat lingkungan bisa dilakukan : Menghabiskan waktu di ruang hijau dapat memberi manfaat bagi kesejahteraan mental dan fisik kita. Jika kita tidak bisa keluar, kita  dapat mencoba untuk mendapatkan efek positif ini dengan menghabiskan waktu dengan jendela terbuka, atau mengatur ruang untuk duduk dan melihat pemandangan (jika mungkin) dan mendapatkan sinar matahari alami.


Kita menyadari bahwa hal ini mungkin akan masih lama kita harus lalui. Jaga kesehatan jiwa dan raga kita dengan baik di masa pandemi ini akan membuat kita lebih baik lagi ke depannya. Salam Sehat Jiwa

*Dokter Jiwa di Omni Hospital Alam Sutera
Twitter : @mbahndi 
YouTube Channel : Andri Psikosomatik

Jumat, 10 April 2020

Beban Berat Pasien Gangguan Jiwa di Masa Pandemi COVID-19


Beban Berat Pasien Gangguan Jiwa di Masa Pandemi COVID-19
Oleh : dr.Andri,SpKJ (Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Praktek di OMNI Hospital Alam Sutera)

Sampai saat tulisan ini dibuat saya masih berpraktek seperti biasa di rumah sakit. Jam praktek sore memang saya tiadakan dan jumlah pasien pun dibatasi sesuai himbauan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) agar psikiater juga berperan aktif dalam memutuskan rantai penularan COVID-19 dan mengurangi orang datang ke rumah sakit jika tidak terlalu penting atau masih bisa ditunda.
Beberapa pasien yang saya temui satu bulan belakangan ini adalah pasien yang kambuh sakitnya setelah bertahun-tahun sembuh. Saya memang sudah sejak 10 tahun yang lalu fokus pada penanganan kasus gangguan cemas dan masalah psikosomatik, kedua kasus ini mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir dan di masa pandemi ini keberulangan gangguan ini pada pasien yang sudah sembuh meningkat.  Pandemi COVID-19 ini telah menimbulkan ketakutan dan kecemasan yang akhirnya membuat kondisi pasien kembali seperti dulu terutama sekali adalah pasien gangguan cemas. Mereka mengatakan bahwa gejala-gejala cemas mulai muncul seiring pemberitaan yang masif terkait COVID-19 ini.

Bagaimana Dengan Pasien Gangguan Jiwa Berat?

Pandemi COVID-19 merupakan krisis yang berat bagi pasien dengan penyakit mental berat seperti skizofrenia dan sistem perawatan kesehatan yang melayani mereka seperti dikatakan Dr Benjamin Druss dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Rollins Universitas Emory di Atlanta, Georgia.
Dalam pendapat yang dipublikasikan secara online pada 3 April 2020 di JAMA Psychiatry, Dr Druss mengatakan bahwa "bencana pandemi global ini secara tidak proporsional mempengaruhi populasi masyarakat miskin dan rentan serta pasien dengan penyakit mental berat. Mereka mungkin termasuk yang paling terpukul. Lebih jauh Dr. Druss mengatakan pasien dengan gangguan jiwa berat memiliki "berbagai kerentanan" yang menempatkan mereka pada risiko yang lebih tinggi untuk terinfeksi COVID-19.
Beberapa hal Ini termasuk tingginya angka merokok, menderita penyakit kardiovaskular dan paru-paru, kemiskinan, dan tunawisma. Bahkan merujuk pada apa yang terjadi di Amerika Serikat, perkiraan menunjukkan 25% dari populasi tunawisma di Amerika Serikat memiliki penyakit mental yang berat. "Anda harus mengawasi populasi rentan ini ; mereka yang cacat dan mengalami disabilitas fisik, orang-orang dengan penyakit mental yang serius, orang yang miskin, dan orang yang memiliki jaringan sosial terbatas," lanjut Dr Druss. Indonesia sendiri dari data terakhir di Riskesdas 2018 ada sekitar 450 ribu orang mengalami gangguan jiwa berat.

Saatnya Mendayagunakan Telepsikiatri

Penting bagi pasien dengan gangguan jiwa berat untuk mendapatkan informasi terkini dan akurat tentang mengurangi risiko dan mengetahui kapan harus mencari perawatan medis untuk COVID-19. Bahan edukasi komunikasi yang dikembangkan untuk populasi umum perlu dirancang untuk mengatasi “melek” kesehatan terbatas dan tantangan dalam menerapkan rekomendasi jarak fisik.
Pasien dengan gangguan jiwa berat juga membutuhkan dukungan dalam mempertahankan kebiasaan sehat, termasuk diet dan aktifitas fisik, serta manajemen diri kondisi mental dan kesehatan fisik kronis seperti masalah kardiovaskuler. Dr Druss menekankan bahkan dalam menghadapi kendala saat ini pada pemberian perawatan kesehatan mental, memastikan akses ke layanan sangat penting. Jangan sampai konsultasi rutin menjadi terhambat karena adanya pandemi ini. Telepsikiatri adalah salah satu cara efektif untuk mengatasi masalah ini kata Dr Druss lebih lanjut.
Dokter jiwa tentunya sering menjadi dokter pertama yang dikunjungi untuk orang dengan gangguan jiwa berat, sehingga para dokter ini perlu pelatihan untuk mengenali tanda dan gejala COVID-19 dan mempelajari strategi dasar untuk mengurangi penyebaran penyakit, tidak hanya untuk pasien mereka tetapi juga untuk diri mereka sendiri. Memastikan keselamatan dan kesejahteraan penyedia perawatan kesehatan mental adalah "prioritas yang jelas" Dr Druss mengatakan "Setiap penyedia layanan kesehatan diberikan tanggung jawab memeriksa banyak pasien, jadi menjaga kesehatan fisik dan mental mereka akan sangat penting." Lebih lanjut Dr Druss mengatakan.

Untuk meringankan ketegangan COVID-19 pada pusat kesehatan mental masyarakat seperti panti-panti jiwa dan rumah sakit jiwa yang berisiko tinggi untuk wabah dan memiliki kapasitas terbatas untuk mengobati penyakit medis, tempat seperti ini memerlukan rencana darurat untuk mendeteksi dan mengatasi wabah jika terjadi.
"Perencanaan dan pelaksanaan yang hati-hati pada berbagai tingkat akan sangat penting untuk meminimalkan hasil yang merugikan dari pandemi ini untuk populasi yang rentan ini," kata Dr Druss.

Kita Harus Bergerak Cepat

Pengalaman praktek belakangan ini di masa wabah COVID-19 ditambah dengan kutipan pemberitaan di atas mengatakan bahwa masa pandemi ini membuat masalah yang besar bagi banyak pasien gangguan jiwa. Keberulangan gejala dan kesulitan adaptasi karena latar belakang masalah kejiwaan yang dimiliki membuat pasien gangguan jiwa lebih rentan mendapatkan efek dari pandemic ini baik secara mental maupun secara fisik.
Penyedia layanana kesehatan jiwa juga diminta untuk bisa tanggap terhadap kondisi ini. Beruntungnya di Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) cepat tanggap dalam menjamin penyediaan layanan kedokteran jiwa dengan tetap menjalankan pembatasan fisik dan mengurangi pasien datang ke rumah sakit dengan layanan telepsikiatri semasa tanggap darurat ini kecuali pada kondisi gawat darurat psikiatri seperti percobaan bunuh diri, melukai orang lain dan gejala psikotik (halusinasi dan delusi) yang berat. Sesuai dengan Surat Keputusan nomor : 034/Sek/PDSKJI/III/2020 Jakarta tertanggal 22 Maret 2020 yang salah satunya menghimbau penggunaan layanan telepsikiatri/telemedisin jika memungkinkan di instansi tempat dokter jiwa bekerja.
Semoga wabah COVID-19 ini segera berlalu. Tetap Jaga Jarak Aman, Cuci Tangan Dengan Sabun dan Air Mengalir, Pakai Masker Jika Berada di Luar Rumah dan Jangan Lupa Jaga Kesehatan Jiwa dengan berpikir rasional dan tidak terlalu khawatir berlebihan dalam menanggapi pandemi ini. Salam Sehat Jiwa.

Sumber artikel :

COVID-19: Psychiatric Patients May Be Among the Hardest Hit ditulis oleh Pauline Anderson dan diterbitkan secara online pada April 09, 2020 di https://www.medscape.com/viewarticle/928416#vp_1


(LIVE) BINCANG SUAMI ISTRI "TIPS AGAR TIDAK BOSAN #DIRUMAHAJA"

Senin, 23 Maret 2020

Perubahan Jam Praktek Selama Masa Tanggap Darurat COVID-19

Senin s.d. Jumat 

PAGI : 09.30-12.00 

Senin, Selasa, Kamis 

SORE : 15.00-17.00 

Sabtu 

PAGI : 09.00-13.00 

NB. Untuk pasien lama dan stabil pengobatan tersedia layanan konsultasi online (telemedisin). Silahkan hubungi WA dr.Andri seperti tercantum di kartu nama atau hubungi OMNI HOSPITAL Alam Sutera (021) 29779999 ext. 8355

Senin, 02 Maret 2020

Kepanikan Akibat COVID-19 Dapat Menganggu Kesehatan Jiwa


-->
Image result for coronavirus update
CoronaVirus(sumbergambar:https://patch.com/img/cdn20/shutterstock/22848544/20200227/022623/styles/patch_image/public/shutterstock-1621031059___27140518174.jpg)

Kepanikan Akibat COVID-19 Dapat  Menganggu Kesehatan Jiwa
Oleh : dr.Andri,SpKJ (Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa)

Sejak diumumkan kepada publik dua kasus COVID-19 pada pasien Indonesia kemarin oleh Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan Terawan, keresahan di kalangan masyarakat mulai terasa. Group Whatsapp mulai dipenuhi oleh berita-berita terkait siapa yang terkena kasus Covid-19, ada potongan cerita bagaimana mereka sampai terkena dan juga penelusuran siapa saja mereka. Bahkan sampai akun media sosial dan rumahnya pun menjadi sasaran penelusuran netizen. Belum lagi ditambah dengan adanya berita terkait “rush” bahan makanan di beberapa tempat yang diperkuat oleh foto-foto walaupun akhirnya ada konfirmasi dari si putri dari orang tua yang ada di dalam foto membeli berkardus-kardus mie instan di sebuah supermarket. Keresahan ini mungkin akan dapat terjadi di hari-hari ke depan apalagi jika kasus makin banyak ditemukan di Indonesia. Lihat saja untuk masker saja sekarang mulai susah didapatkan dan harganya mahal berkali lipat dari biasa. Padahal menggunakan masker hanyalah salah satu cara mencegah penularan jika memang kita sedang sakit. Kontak erat dengan yang memiliki virus ini yang lebih dominan sebagai media penularan. Itulah mengapa kita harus rajin mencuci tangan dan mengurangi kontak dengan orang lain selama COVID-19 ini masih menjadi pandemi menular.

Kepanikan ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Dalam berbagai ulasan berita sejak mulai COVID-19 terdeteksi Desember 2019 di Wuhan, China dan kini menyerang lebih dari 27 negara, pandemi ini telah meningkatkan kekhawatiran yang meluas dan meningkatnya kecemasan banyak orang yang takut menjadi sasaran ancaman virus. Apalagi media menyoroti COVID-19 sebagai ancaman yang unik, yang ikut menambah kepanikan, stres, dan potensi hysteria masyarakat.

Pandemi bukan hanya fenomena medis; mereka mempengaruhi individu dan masyarakat di berbagai tingkatan, menyebabkan gangguan pada kesehatan jiwanya. Panik dan stres juga dikaitkan dengan wabah. Lihat saja ketika kekhawatiran tentang ancaman yang dirasakan mulai tumbuh, orang mulai mengumpulkan (dan bahkan menimbun) masker dan persediaan medis serta makanan . Ini sering diikuti oleh perilaku yang berhubungan dengan kecemasan dan gangguan tidur. Individu yang telah mengalami gangguan jiwa seperti gangguan cemas dan gangguan depresi mungkin sangat rentan terhadap efek dari kepanikan dan ancaman yang meluas terkait virus COVID-19 ini.

Masalah Kesehatan Jiwa dan Penyakit Fisik

Penyakit kronis (menahun), termasuk penyakit menular kronis seperti tuberkulosis (TBC) dan human immunodeficiency virus (HIV) dikaitkan dengan kemungkinan mengalami tingkat gangguan mental yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Penelitian  menunjukkan tingkat depresi biasanya meningkat setelah kondisi medis fisik berlangsung lama. Efek dari coronavirus pada kesehatan mental belum diteliti secara sistematis, namun diperkirakan bahwa COVID-19 akan memiliki efek pada kesehatan jiwa yang besar terutama berdasarkan reaksi publik saat ini. Psikiater dengan latar belakang dokternya ditempatkan untuk membantu pasien mereka yang telah mengalami gangguan jiwa terkait cemas dan depresi agar bisa tenang menghadapi kondisi ini serta komunitas yang lebih besar untuk memahami dampak potensial dari virus serta tidak menjadi panik karenanya dengan edukasi yang baik.


Banyak hal terkait kecemasan akibat virus COVID-19 ini. Orang bisa mengalami rasa khawatir tentang kemungkinan terinfeksi, khawatir tentang orang yang dicintai mengalami sakit, dan khawatir ketika gejala terkait ada seperti mulai merasakan batuk dan pilek serta demam padahal mungkin itu flu biasa. Tidak adanya pengobatan pasti untuk coronavirus dengan mudah memperburuk kecemasan.

Kita juga bisa berempati lebih besar kepada pasien yang mengalami gangguan cemas obsesif kompulsif. Mereka yang memang pada dasarnya mengalami ketakutan akan kontaminasi terkait dengan gangguan jiwanya, maka dengan adanya promosi terkait cuci tangan yang lebih sering untuk mengurangi kemungkinan terkena virus COVID-19 akan bisa menambah kecemasan terkait perilaku kompulsifnya sendiri.

Wabah COVID-19 saat ini memacu rasa takut di tingkat masyarakat. Pada tingkat individu, itu dapat secara berbeda memperburuk kecemasan serta menyebabkan masalah mental yang tidak spesifik (misalnya, masalah suasana hati, masalah tidur, perilaku seperti fobia, dan gejala seperti panik cemas). Maka dari itu marilah kita bersama-sama mengurangi kekhawatiran yang tidak berdasar terkait virus COVID-19 ini dan tidak menyebarkan berita yang tidak jelas dan benar sumbernya yang bisa semakin menambah ketakutan dan memicu kepanikan masyarakat. Berikan kepercayaan kepada otoritas seperti pemerintah dan kementerian kesehatan untuk bekerja sesuai standar yang berlaku untuk mengurangi dampak dari infeksi virus COVID-19 ini. Pesan saya bacalah sumber berita yang terpercaya terkait COVID-19 ini dan janganlah menyebarkan berita tanpa dukungan data yang valid. Semoga kita semua diberikan kesehatan. Tetap jaga imunitas tubuh kita dengan tidur yang cukup, gizi yang seimbang, olahraga teratur dan kurangi stress. Salam Sehat Jiwa.

Sumber tulisan :

Psychiatrists Beware! The Impact of COVID-19 and Pandemics on Mental Health by Nidal Moukaddam, MD, PhD, Asim Shah, MD

Minggu, 01 Maret 2020

14 Tahun Perjalanan Belajar Psikosomatik (2006-2020)


Saya mulai tertarik ke bidang psikosomatik di saat saya masih belajar untuk menjadi dokter spesialis kedokteran jiwa di FKUI tahun 2006. Saat itu saya mulai tertarik untuk mempelajari psikosomatik medis sebagai bagian dari pemahaman aspek biopsikososial ilmu kedokteran pada umumnya dan ilmu kedokteran jiwa pada khususnya. Saya mencari beberapa sumber dan memilih organisasi apa yang sekiranya perlu saya bernaung di dalamnya. Akhirnya pilihan saya adalah Academy of Psychosomatic Medicine dan American Psychosomatic Society. Pada Maret 2006 akhirnya saya bergabung di American Psychosomatic Society disusul Academy of Psychosomatic Medicine dua bulan setelahnya. 
Saat 2010 saya mendapatkan bantuan dari American Psychosomatic Society untuk datang ke USA dan belajar dasar-dasar psikosomatik Medis. Saat itu saya sudah dua tahun sebagai psikiater dan sepulang dari sana saya akhirnya memutuskan untuk konsen di bidang psikosomatik medis ini. Saya mulai menulis dan melakukan edukasi baik di masyarakat dan kalangan medis terkait psikosomatik. Setiap tahun sampai 2014 saya mengikuti kursus lanjutan namun kali ini saya lakukan di Academy of Psychosomatic Medicine (APM). Pilihan ini karena APM lebih menekankan aspek klinis psikosomatik dalam pendekatan pelatihannya dibandingkan dengan American Psychosomatic Society (APS) yang banyak menekankan dasar-dasar psikosomatik. Keikutsertaan saya di kedua organisasi inilah yang melengkapi saya dalam mendalami psikosomatik. 
Tahun 2013 atas sponsor dua profesor di Academy of Psychosomatic Medicine yaitu Prof Theodore Stern dari Massachusetts General Hospital (MGH) dan Prof Robert Boland dari Brigham Hospital, pengajuan saya sebagai fellow diterima oleh APM. Saya merupakan fellow pertama dari Indonesia dan ke-6 dari Asia di tahun 2013 itu. Sampai saat ini saya masih menjadi satu-satunya fellow wakil dari Indonesia di Academy of Psychosomatic Medicine yang berubah nama menjadi Academy of Consultation-Liaison Psychiatry (ACLP) pada tahun 2017. 
Selain aktif belajar psikosomatik di organisasi psikosomatik diAmerika, saya juga berupaya mencari ilmu di organisasi psikosomatik Eropa, Internasional dan Asia seperti European Academy of Psychosomatic Medicine, International College of Psychosomatic Medicine dan Asean College of Psychosomatic Medicine (ACPM). Tahun 2011 saya pergi ke Seoul untuk menghadiri acara ICPM pertama saya sambil membawakan poster. Tahun 2015 di Glasgow dan tahun 2017 di Beijing saya mendapatkan kesempatan presentasi di sesi utama kongres dunia ICPM. Sedangkan untuk ACPM saya pernah presentasi di Fukuoka, Jepang, Seoul, Korea Selatan dan Jakarta, Indonesia. Pada tahun 2019 saya akhirnya berkesempatan untuk menghadiri acara EAPM pertama saya di Rotterdam, Belanda dan mempresentasikan poster ilmiah. Tahun 2020 ini juga rencananya saya akan ke Vienna, Austria untuk mengikuti kembali acara EAPM. Biasanya saat saya berada di acara seperti ini saya juga mempresentasikan hasil kerja saya di Indonesia. 
Sejak tahun 2018 saya juga aktif untuk memberikan pengetahuan dan pelatihan psikosomatik untuk para dokter spesialis terutama dokter spesialis kedokteran jiwa dan penyakit dalam di beberapa workshop yang saya menjadi pembicaranya. Tahun 2018 saya melakukannya di acara Psychoneuroimmunology Meeting di Solo dan tahun 2019 di acara pertemuan Ilmiah Tahunan Psikiatri di Serpong, Banten. Tahun 2020 ini saya akan kembali melaksanakan workshop di acara Psychoneuroimmunology Meeting di Solo tiga minggu lagi. 
Tahun ini juga saya berkesempatan untuk pergi ke Berlin untuk mengikuti Worskhop Psychosomatic Research and Practice in Cardiology and at the Workplace pada September nanti. Kasus jantung terkait dengan psikosomatik dan psikosomatik di tempat kerja pastinya banyak ditemukan dalam praktek dan tentunya topik pelatihan ini akan sangat berguna untuk saya sebagai praktisi dan pelatih psikosomatik di Indonesia. 
Saya berharap niatan untuk terus memperbarui pengetahuan di bidang psikosomatik ini akan terus berlangsung dan juga berharap dapat memberikan sesuatu kepada masyarakat Indonesia hasil-hasil belajar saya selama ini. Salam Sehat Jiwa 

Sabtu, 15 Februari 2020

Jumat, 17 Januari 2020

Minggu, 05 Januari 2020

Salah Kaprah Pengobatan Gangguan Jiwa : Amfetamin BUKAN Obat BIPOLAR !!!



Adderall salah satu obat yang mengandung amphetamines digunakan di USA dan disetujui oleh FDA di sana sebagai obat untuk ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) jadi BUKAN obat untuk Gangguan Bipolar ya saudara-saudara!

Obat ini cukup sering digunakan di Amerika Serikat sebagai obat untuk Attention Deficit Disorder juga, bukan cuma untuk anak-anak tapi juga orang dewasa. Obat ini Tidak Tersedia di Indonesia. Di Indonesia pasien ADHD/ADD menggunakan Ritalin/Concerta/Prohiper yg mengandung Methylphenidate.

Saat praktek saya banyak menemui pasien-pasien yg mencoba mengobati gejala gangguan jiwanya sendiri dengan menyalahgunakan Alkohol dan zat terlarang di Indonesia seperti Amfetamine yg terkandung dalam sabu, ada jg yg menggunakan obat dokter seperti benzodiazepine tp tanpa konsul ke dokter, beli sndiri.

Pasien saya juga ada yg pernah menggunakan Ganja untuk mendapatkan ketenangan. Gejala gangguan jiwa memang banyak dialami tapi tidak serta merta membuat orang mau datang berobat ke dokter jiwa. Stigma dan rasa malu membuat hambatan pengobatan, akhirnya ada yg berani coba2 jd dokter.

Alkohol sebagai salah satu cara untuk mengatasi cemas, membantu tidur, membuat relaks sudah sejak lama dikenal. Lihat saja film-film Indonesia jadul yang ada adegan orang mabok untuk melupakan masalah. Namun penyalahgunaan alkohol yang berat bisa menimbulkan banyak masalah kesehatan dan kejiwaan.

Sabu, Ekstasi, Kokain adlh gol stimulan. Sabu dan Ekstasi mengandung amfetamin yg mempunyai dampak stimulasi susunan saraf pusat, ada rasa euforia, sangat bersemangat, membuat kemampuan seks bertambah, memacu kerja yg sering jadi alasan banyak orang menggunakannya.

Jangan menggunakan narkotika, alkohol, zat stimulan dan narkotika lainnya untuk mengatasi gejala gangguan jiwa. Berobatlah ke dokter jiwa jika mengalami gejala gangguan jiwa yg sampai mengganggu kualitas hidup. Semakin cepat tata laksana semakin baik harapan sembuhnya.

Sumber : Twitter @mbahndi
YouTube : Andri Psikosomatik https://youtu.be/wGLj-veQFY4