Senin, 23 Maret 2020

Perubahan Jam Praktek Selama Masa Tanggap Darurat COVID-19

Senin s.d. Jumat 

PAGI : 09.30-12.00 

Senin, Selasa, Kamis 

SORE : 15.00-17.00 

Sabtu 

PAGI : 09.00-13.00 

NB. Untuk pasien lama dan stabil pengobatan tersedia layanan konsultasi online (telemedisin). Silahkan hubungi WA dr.Andri seperti tercantum di kartu nama atau hubungi OMNI HOSPITAL Alam Sutera (021) 29779999 ext. 8355

Senin, 02 Maret 2020

Kepanikan Akibat COVID-19 Dapat Menganggu Kesehatan Jiwa


-->
Image result for coronavirus update
CoronaVirus(sumbergambar:https://patch.com/img/cdn20/shutterstock/22848544/20200227/022623/styles/patch_image/public/shutterstock-1621031059___27140518174.jpg)

Kepanikan Akibat COVID-19 Dapat  Menganggu Kesehatan Jiwa
Oleh : dr.Andri,SpKJ (Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa)

Sejak diumumkan kepada publik dua kasus COVID-19 pada pasien Indonesia kemarin oleh Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan Terawan, keresahan di kalangan masyarakat mulai terasa. Group Whatsapp mulai dipenuhi oleh berita-berita terkait siapa yang terkena kasus Covid-19, ada potongan cerita bagaimana mereka sampai terkena dan juga penelusuran siapa saja mereka. Bahkan sampai akun media sosial dan rumahnya pun menjadi sasaran penelusuran netizen. Belum lagi ditambah dengan adanya berita terkait “rush” bahan makanan di beberapa tempat yang diperkuat oleh foto-foto walaupun akhirnya ada konfirmasi dari si putri dari orang tua yang ada di dalam foto membeli berkardus-kardus mie instan di sebuah supermarket. Keresahan ini mungkin akan dapat terjadi di hari-hari ke depan apalagi jika kasus makin banyak ditemukan di Indonesia. Lihat saja untuk masker saja sekarang mulai susah didapatkan dan harganya mahal berkali lipat dari biasa. Padahal menggunakan masker hanyalah salah satu cara mencegah penularan jika memang kita sedang sakit. Kontak erat dengan yang memiliki virus ini yang lebih dominan sebagai media penularan. Itulah mengapa kita harus rajin mencuci tangan dan mengurangi kontak dengan orang lain selama COVID-19 ini masih menjadi pandemi menular.

Kepanikan ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Dalam berbagai ulasan berita sejak mulai COVID-19 terdeteksi Desember 2019 di Wuhan, China dan kini menyerang lebih dari 27 negara, pandemi ini telah meningkatkan kekhawatiran yang meluas dan meningkatnya kecemasan banyak orang yang takut menjadi sasaran ancaman virus. Apalagi media menyoroti COVID-19 sebagai ancaman yang unik, yang ikut menambah kepanikan, stres, dan potensi hysteria masyarakat.

Pandemi bukan hanya fenomena medis; mereka mempengaruhi individu dan masyarakat di berbagai tingkatan, menyebabkan gangguan pada kesehatan jiwanya. Panik dan stres juga dikaitkan dengan wabah. Lihat saja ketika kekhawatiran tentang ancaman yang dirasakan mulai tumbuh, orang mulai mengumpulkan (dan bahkan menimbun) masker dan persediaan medis serta makanan . Ini sering diikuti oleh perilaku yang berhubungan dengan kecemasan dan gangguan tidur. Individu yang telah mengalami gangguan jiwa seperti gangguan cemas dan gangguan depresi mungkin sangat rentan terhadap efek dari kepanikan dan ancaman yang meluas terkait virus COVID-19 ini.

Masalah Kesehatan Jiwa dan Penyakit Fisik

Penyakit kronis (menahun), termasuk penyakit menular kronis seperti tuberkulosis (TBC) dan human immunodeficiency virus (HIV) dikaitkan dengan kemungkinan mengalami tingkat gangguan mental yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Penelitian  menunjukkan tingkat depresi biasanya meningkat setelah kondisi medis fisik berlangsung lama. Efek dari coronavirus pada kesehatan mental belum diteliti secara sistematis, namun diperkirakan bahwa COVID-19 akan memiliki efek pada kesehatan jiwa yang besar terutama berdasarkan reaksi publik saat ini. Psikiater dengan latar belakang dokternya ditempatkan untuk membantu pasien mereka yang telah mengalami gangguan jiwa terkait cemas dan depresi agar bisa tenang menghadapi kondisi ini serta komunitas yang lebih besar untuk memahami dampak potensial dari virus serta tidak menjadi panik karenanya dengan edukasi yang baik.


Banyak hal terkait kecemasan akibat virus COVID-19 ini. Orang bisa mengalami rasa khawatir tentang kemungkinan terinfeksi, khawatir tentang orang yang dicintai mengalami sakit, dan khawatir ketika gejala terkait ada seperti mulai merasakan batuk dan pilek serta demam padahal mungkin itu flu biasa. Tidak adanya pengobatan pasti untuk coronavirus dengan mudah memperburuk kecemasan.

Kita juga bisa berempati lebih besar kepada pasien yang mengalami gangguan cemas obsesif kompulsif. Mereka yang memang pada dasarnya mengalami ketakutan akan kontaminasi terkait dengan gangguan jiwanya, maka dengan adanya promosi terkait cuci tangan yang lebih sering untuk mengurangi kemungkinan terkena virus COVID-19 akan bisa menambah kecemasan terkait perilaku kompulsifnya sendiri.

Wabah COVID-19 saat ini memacu rasa takut di tingkat masyarakat. Pada tingkat individu, itu dapat secara berbeda memperburuk kecemasan serta menyebabkan masalah mental yang tidak spesifik (misalnya, masalah suasana hati, masalah tidur, perilaku seperti fobia, dan gejala seperti panik cemas). Maka dari itu marilah kita bersama-sama mengurangi kekhawatiran yang tidak berdasar terkait virus COVID-19 ini dan tidak menyebarkan berita yang tidak jelas dan benar sumbernya yang bisa semakin menambah ketakutan dan memicu kepanikan masyarakat. Berikan kepercayaan kepada otoritas seperti pemerintah dan kementerian kesehatan untuk bekerja sesuai standar yang berlaku untuk mengurangi dampak dari infeksi virus COVID-19 ini. Pesan saya bacalah sumber berita yang terpercaya terkait COVID-19 ini dan janganlah menyebarkan berita tanpa dukungan data yang valid. Semoga kita semua diberikan kesehatan. Tetap jaga imunitas tubuh kita dengan tidur yang cukup, gizi yang seimbang, olahraga teratur dan kurangi stress. Salam Sehat Jiwa.

Sumber tulisan :

Psychiatrists Beware! The Impact of COVID-19 and Pandemics on Mental Health by Nidal Moukaddam, MD, PhD, Asim Shah, MD

Minggu, 01 Maret 2020

14 Tahun Perjalanan Belajar Psikosomatik (2006-2020)


Saya mulai tertarik ke bidang psikosomatik di saat saya masih belajar untuk menjadi dokter spesialis kedokteran jiwa di FKUI tahun 2006. Saat itu saya mulai tertarik untuk mempelajari psikosomatik medis sebagai bagian dari pemahaman aspek biopsikososial ilmu kedokteran pada umumnya dan ilmu kedokteran jiwa pada khususnya. Saya mencari beberapa sumber dan memilih organisasi apa yang sekiranya perlu saya bernaung di dalamnya. Akhirnya pilihan saya adalah Academy of Psychosomatic Medicine dan American Psychosomatic Society. Pada Maret 2006 akhirnya saya bergabung di American Psychosomatic Society disusul Academy of Psychosomatic Medicine dua bulan setelahnya. 
Saat 2010 saya mendapatkan bantuan dari American Psychosomatic Society untuk datang ke USA dan belajar dasar-dasar psikosomatik Medis. Saat itu saya sudah dua tahun sebagai psikiater dan sepulang dari sana saya akhirnya memutuskan untuk konsen di bidang psikosomatik medis ini. Saya mulai menulis dan melakukan edukasi baik di masyarakat dan kalangan medis terkait psikosomatik. Setiap tahun sampai 2014 saya mengikuti kursus lanjutan namun kali ini saya lakukan di Academy of Psychosomatic Medicine (APM). Pilihan ini karena APM lebih menekankan aspek klinis psikosomatik dalam pendekatan pelatihannya dibandingkan dengan American Psychosomatic Society (APS) yang banyak menekankan dasar-dasar psikosomatik. Keikutsertaan saya di kedua organisasi inilah yang melengkapi saya dalam mendalami psikosomatik. 
Tahun 2013 atas sponsor dua profesor di Academy of Psychosomatic Medicine yaitu Prof Theodore Stern dari Massachusetts General Hospital (MGH) dan Prof Robert Boland dari Brigham Hospital, pengajuan saya sebagai fellow diterima oleh APM. Saya merupakan fellow pertama dari Indonesia dan ke-6 dari Asia di tahun 2013 itu. Sampai saat ini saya masih menjadi satu-satunya fellow wakil dari Indonesia di Academy of Psychosomatic Medicine yang berubah nama menjadi Academy of Consultation-Liaison Psychiatry (ACLP) pada tahun 2017. 
Selain aktif belajar psikosomatik di organisasi psikosomatik diAmerika, saya juga berupaya mencari ilmu di organisasi psikosomatik Eropa, Internasional dan Asia seperti European Academy of Psychosomatic Medicine, International College of Psychosomatic Medicine dan Asean College of Psychosomatic Medicine (ACPM). Tahun 2011 saya pergi ke Seoul untuk menghadiri acara ICPM pertama saya sambil membawakan poster. Tahun 2015 di Glasgow dan tahun 2017 di Beijing saya mendapatkan kesempatan presentasi di sesi utama kongres dunia ICPM. Sedangkan untuk ACPM saya pernah presentasi di Fukuoka, Jepang, Seoul, Korea Selatan dan Jakarta, Indonesia. Pada tahun 2019 saya akhirnya berkesempatan untuk menghadiri acara EAPM pertama saya di Rotterdam, Belanda dan mempresentasikan poster ilmiah. Tahun 2020 ini juga rencananya saya akan ke Vienna, Austria untuk mengikuti kembali acara EAPM. Biasanya saat saya berada di acara seperti ini saya juga mempresentasikan hasil kerja saya di Indonesia. 
Sejak tahun 2018 saya juga aktif untuk memberikan pengetahuan dan pelatihan psikosomatik untuk para dokter spesialis terutama dokter spesialis kedokteran jiwa dan penyakit dalam di beberapa workshop yang saya menjadi pembicaranya. Tahun 2018 saya melakukannya di acara Psychoneuroimmunology Meeting di Solo dan tahun 2019 di acara pertemuan Ilmiah Tahunan Psikiatri di Serpong, Banten. Tahun 2020 ini saya akan kembali melaksanakan workshop di acara Psychoneuroimmunology Meeting di Solo tiga minggu lagi. 
Tahun ini juga saya berkesempatan untuk pergi ke Berlin untuk mengikuti Worskhop Psychosomatic Research and Practice in Cardiology and at the Workplace pada September nanti. Kasus jantung terkait dengan psikosomatik dan psikosomatik di tempat kerja pastinya banyak ditemukan dalam praktek dan tentunya topik pelatihan ini akan sangat berguna untuk saya sebagai praktisi dan pelatih psikosomatik di Indonesia. 
Saya berharap niatan untuk terus memperbarui pengetahuan di bidang psikosomatik ini akan terus berlangsung dan juga berharap dapat memberikan sesuatu kepada masyarakat Indonesia hasil-hasil belajar saya selama ini. Salam Sehat Jiwa 

Sabtu, 15 Februari 2020

Jumat, 17 Januari 2020

Minggu, 05 Januari 2020

Salah Kaprah Pengobatan Gangguan Jiwa : Amfetamin BUKAN Obat BIPOLAR !!!



Adderall salah satu obat yang mengandung amphetamines digunakan di USA dan disetujui oleh FDA di sana sebagai obat untuk ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) jadi BUKAN obat untuk Gangguan Bipolar ya saudara-saudara!

Obat ini cukup sering digunakan di Amerika Serikat sebagai obat untuk Attention Deficit Disorder juga, bukan cuma untuk anak-anak tapi juga orang dewasa. Obat ini Tidak Tersedia di Indonesia. Di Indonesia pasien ADHD/ADD menggunakan Ritalin/Concerta/Prohiper yg mengandung Methylphenidate.

Saat praktek saya banyak menemui pasien-pasien yg mencoba mengobati gejala gangguan jiwanya sendiri dengan menyalahgunakan Alkohol dan zat terlarang di Indonesia seperti Amfetamine yg terkandung dalam sabu, ada jg yg menggunakan obat dokter seperti benzodiazepine tp tanpa konsul ke dokter, beli sndiri.

Pasien saya juga ada yg pernah menggunakan Ganja untuk mendapatkan ketenangan. Gejala gangguan jiwa memang banyak dialami tapi tidak serta merta membuat orang mau datang berobat ke dokter jiwa. Stigma dan rasa malu membuat hambatan pengobatan, akhirnya ada yg berani coba2 jd dokter.

Alkohol sebagai salah satu cara untuk mengatasi cemas, membantu tidur, membuat relaks sudah sejak lama dikenal. Lihat saja film-film Indonesia jadul yang ada adegan orang mabok untuk melupakan masalah. Namun penyalahgunaan alkohol yang berat bisa menimbulkan banyak masalah kesehatan dan kejiwaan.

Sabu, Ekstasi, Kokain adlh gol stimulan. Sabu dan Ekstasi mengandung amfetamin yg mempunyai dampak stimulasi susunan saraf pusat, ada rasa euforia, sangat bersemangat, membuat kemampuan seks bertambah, memacu kerja yg sering jadi alasan banyak orang menggunakannya.

Jangan menggunakan narkotika, alkohol, zat stimulan dan narkotika lainnya untuk mengatasi gejala gangguan jiwa. Berobatlah ke dokter jiwa jika mengalami gejala gangguan jiwa yg sampai mengganggu kualitas hidup. Semakin cepat tata laksana semakin baik harapan sembuhnya.

Sumber : Twitter @mbahndi
YouTube : Andri Psikosomatik https://youtu.be/wGLj-veQFY4