psikosomatik

psikosomatik

Kamis, 25 April 2013

Bisakah Lepas Dari Alprazolam? Pasti Bisa !

Oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater)

Malam ini saya kembali memeriksa pasien yang berkonsultasi masalah kesulitan melepaskan Alprazolam yang dia konsumsi sampai lebih dari 8-10 miligram perhari setelah 3 bulan tidak bertemu. Pasien ini sudah pernah kontrol dua kali sebelumnya dan diberikan pedoman untuk melepaskan alprazolam yang dia makan sehari-hari tersebut dengan dosis yang sangat besar.
Selama 3 bulan ini ternyata karena alasan rumah yang cukup jauh (pasien tinggal di Bogor sedangkan saya praktek di Tangerang) pasien meminta bantuan temannya yang dokter umum untuk membantu mengawasi makan obat sesuai pedoman yang diberikan sekaligus membantu meresepkan obat-obat yang sesuai dengan pedoman tersebut. Pasien berhasil menurunkan dosis alprazolam dari 8 miligram ke dosis terakhir saat diperiksa tadi yaitu 1 miligram per hari.
Pasien mengatakan hal tersebut tentunya bukan tanpa masalah. Pasien merasakan sendiri rasanya tidak nyaman dan cemas karena berusaha menurunkan alprazolam yang awalnya dipakai sangat tinggi dan lambat laun harus diturunkan. Penggunaan antidepresan untuk mengurangi kecemasan tidak terlalu berhasil pada awal program tetapi kemudian berhasil setelah beberapa minggu. Pada artikel ini akan saya bahas sedikit tentang tahapan program tersebut secara umum. Secara khusus program tahapan penurunan alprazolam ini sangat individual tergantung pasien. Artikel ini bukan untuk sebagai pedoman yang dilakukan sendiri pasien tetapi sebagai motivasi bahwa dengan cara yang benar, masalah ketergantungan alprazolam bisa diatasi. Agar lebih mampu diharapkan pasien berkonsultasi dengan psikiater.

Mengapa Sampai Memakai Alprazolam?
Banyak alasan yang diungkapkan pasien ketika ditanya mengapa sampai memakai alprazolam. Gangguan tidur, kecemasan, gangguan psikosomatik adalah beberapa hal yang sering dikatakan sebagai awal permulaan pemakaian obat ini. Alprazolamnya pun diberikan pertama kali oleh dokter yang memang dikira pasien adalah orang yang paling memahami pengobatan. Walaupun banyak juga pasien yang coba-coba sendiri atas saran teman, apalagi sebelum tahun 2009 ketika alprazolam masih bebas dibeli di mana saja tanpa resep.
Sayangnya kadang kala penggunaan alprazolam ini ternyata melebihi apa yang disarankan. Banyak hal ini diawali karena ketidakpahaman pasien sendiri akan obat yang dimakan dan juga karena ada beberapa pasien yang memang sengaja menggunakannya dalam jumlah yang tidak disarankan dokter karena merasa menambah dosis obat alprazolam tidak akan bermasalah. Padahal alprazolam mempunyai potensi yang tinggi untuk bertambahnya dosis saat penggunaan (toleransi), ketergantungan (dependensi) dan kesulitan lepas karena efek putus zat-nya yang hebat (withdrawal).
Banyak pula dokter yang tidak terlalu memahami penggunaan obat ini. Pengetahuan yang minim memang dimaklumi karena sebenarnya indikasi alprazolam adalah untuk gangguan cemas panik dan pasien dengan kondisi seperti ini ada baiknya memang ditangani oleh psikiater alias dokter jiwa yang memahami benar aspek-aspek obat alprazolam ini. Pada kenyataan di praktek, banyak penggunaan alprazolam lebih pada ingin efek menenangkannya.

Bagaimana menghilangkan penggunaan Alprazolam
Alasan memakai alprazolam pada banyak kasus adalah untuk menenangkan. Kondisi psikosomatik seperti gangguan maag atau kecemasan sehingga membuat tidak bisa tidur juga banyak diresepkan obat ini. Sebenarnya jika dipakainya hanya dalam waktu singkat atau hanya sesekali saja pasien bisa menggunakan obat alprazolam ini dengan pengawasan dokter yang memahami. Seperti saya pernah katakan dalam banyak artikel saya tentang obat, obat-obat itu seperti pisau, bisa berguna sekali juga bisa membahayakan jika tidak paham menggunakannya.
Pada pasien yang sudah telanjur memakai obat ini dalam dosis besar maka ada baiknya pasien menyadari harus berhenti. Motivasi juga harus disadari oleh pasien. Pasien juga harus memahami bahwa proses penurunan dosis ini akan tidak nyaman karena alprazolam akan diturunkan dan digantikan perannya secara perlahan oleh antidepresan. Tentunya motivasi untuk bisa mempertahankan pengobatan pada program yang sudah dirancang khusus untuk pasien.
Waktu penurunan dosis alprazolam dirancang setiap minggu atau dua minggu tergantung kondisi pasien. Intinya proses itu harus terus dilakukan dengan pengawasan dokter yang memahami. Naik turun kondisi adalah hal yang biasa dan hal tersebut jangan membuat motivasi pasien jatuh.

Dengan disiplin yang baik, motivasi yang kuat, pengawasan dokter dan program yang baik akan membuat masalah lepas dari alprazolam bisa dilakukan dengan baik dan sukses oleh pasien. Semoga artikel ini bisa membantu. Salam Sehat Jiwa.







Rabu, 24 April 2013

Mampukah Lepas dari Pengobatan Psikiater ?


oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater)

Saya sebenarnya sudah lama ingin berkunjung ke psikiater, tetapi kata keluarga saya jangan nanti bisa bikin ketergantungan kalau makan obat psikiater”

“Saya punya teman yang sudah 10 tahun makan obat-obat psikiater, kayaknya psikiaternya sengaja bikin pasien ketergantungan ama obat ya Dok?”

“Dok makan obat ini kok saya jadi tidak bisa lepas ya,  kalau dilepas gejala saya kambuh. Jangan-jangan obat ini buat saya ketergantungan?”

Kalimat-kalimat percakapan di atas sering kali saya dapatkan dari pasien yang berkonsultasi kepada saya di klinik. Adanya ketakutan akan ketergantungan obat dan perasaan tidak nyaman berhubungan dengan obat-obatan adalah salah satu kekhawatiran yang sering diungkapkan pasien. Banyak pasien juga mengatakan cerita-cerita pasien psikiater yang tidak bisa lepas dari obat yang diberikan.
Mungkin pembaca sekalian di sini juga bertanya hal yang sama. Apakah obat-obat psikiater memang susah dilepaskan dari pasien? Atau apakah memang ada niat dari psikiater membuat pasiennya ketergantungan dengan obat yang diberikan? Tulisan selanjutnya di bawah ini akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Butuh Waktu Lama
Saya percaya bahwa pada dasarnya setiap dokter akan berlaku sesuai dengan Sumpah Dokternya yang akan menolong setiap hidup insani tanpa perbedaan dan tidak akan mengambil keuntungan daripadanya. Adanya beberapa “kecurigaan” pasien terhadap dokternya terhadap pemberian obat memang lebih sering didasarkan adanya rasa tidak percaya (trust) antara dokter dan pasien serta minimnya informasi yang diberikan dokter tentang pengobatan yang diberikan buat pasiennya.
Untuk kasus gangguan jiwa, pengobatan seperti yang pernah saya tulis dalam tulisan-tulisan terdahulu memang ada yang membutuhkan waktu yang lama bahkan seumur hidup. Contoh paling nyata adalah kasus-kasus gangguan jiwa berat seperti skizofrenia yang berulang kali kambuh dan dirawat bolak balik rumah sakit jiwa. Kasus seperti ini tentunya lebih baik jika mendapatkan pengobatan lama bahkan seumur hidup. Pasien akan mendapatkan banyak manfaat dari pengobatan yang rutin dan teratur daripada yang hanya sesekali yang akan sangat mudah memicu terjadinya kekambuhan gejala. Kualitas hidup pasien akan meningkat.
Contoh lain adalah Depresi Berat (Major Depression) berulang yang menimbulkan penurunan kualitas hidup yang nyata. Pada kasus Depresi yang episode pertama memang banyak kepustakaan mengatakan bahwa pengobatan bisa dilakukan cukup 6 bulan sejak lepasnya gejala. Hal ini untuk memberikan perbaikan dan mencegah keberulangan. Walaupun pada kenyataanny keberulangan Depresi Berat walaupun sudah diobati cukup besar yaitu 50%. Pengobatan seumur hidup biasanya disarankan untuk pasien ini.

Jangan terburu-buru
Ada beberapa pasien yang sering berusaha melepaskan obatnya sendiri tanpa saran dari psikiaternya. Alasannya lagi-lagi adalah ketakutan akan ketergantungan. Seperti saya sudah jelaskan di artikel-artikel sebelumnya, obat psikiater yang diberikan biasanya membutuhkan waktu beberapa minggu untuk bekerja baik memperbaiki sistem saraf yang tidak seimbang. Jika kondisi ini terjadi maka diharapkan adanya upaya mempertahankan dosis yang sudah disarankan sampai beberapa bulan. Melepaskan obat tiba-tiba tanpa petunjuk dokter yang memberikan sering kali menimbulkan kekambuhan yang sama-sama tidak diharapkan.
Jikalau sudah memang harusnya berhenti atau berkurang dosisnya biasanya psikiater akan menyarankan.

Bisa Lepas
Jika pasien bertanya kepada saya apakah dirinya bisa lepas obat, maka untuk pasien dengan gangguan cemas atau depresi saya katakan bisa lepas. Walaupun kadang bisa kambuh lagi tetapi kebanyakan bisa lepas pengobatan dengan gejala yang dialami sebelumnya berubah secara signifikan atau menghilang sama sekali.
Untuk beberapa kasus memang sering kali makan obat agak panjang bisa setahun sampai dua tahun. Hal ini disebabkan karena adanya sistem persarafan di tiap pasien berbeda-beda sehingga upaya untuk kesembuhannya pun berbeda. Ada yang ketidakseimbangannya masih dalam taraf ringan maka perbaikan cepat didapatkan dan pasien juga tidak lama-lama makan obat.
Semoga penjelasan sedikit ini bisa memberikan informasi tentang mengapa kadang obat psikiater diberikan lama.
Salam Sehat Jiwa

Selasa, 23 April 2013

Jangan Stop Obat Sembarangan

Oleh : Dr.Andri,SpKJ

Pasien yang berobat untuk keluhan psikosomatik biasanya dapat mencapai bebas gejala (remisi) pada 2 bulan setelah pengobatan dimulai. Namun demikian tidak disarankan untuk melepaskan obat yang digunakan setelah kondisi remisi ini tercapai. Hal ini disebabkan karena kestabilan belum tercapai sehingga mudah menyebabkan kambuh. Beberapa kasus yang saya tangani ini bisa dijadikan contoh bahwa pengobatan  harus selesai sampai psikiaternya memutuskan untuk berhenti berobat.

Kasus 1.
Laki-laki usia 30 tahun datang dengan keluhan psikosomatik sering kali erasa badannya kesemutan dan terasa tegang di seluruh otot. Perasaan cemas sering kali datang juga menyertai. Pada pasien ini tidak ditemukan gejala serangan panik, pasien hanya merasakan jika kecemasannya datang perasaan tidak enak dan tegang di otot-ototnya terasa sekali. Pasien disarankan menggunakan pengobatan Cymbalta (Duloxetine) yang dimulai dengan dosis awal. Obat diberikan selama 2 minggu dengan harapan bahwa pasien bisa datang kontrol kembali dalam waktu yang ditetapkan. Pasie baru kembali 3 bulan kemudian karena keluhannya berkurang. Pasien mengatakan pada saat memakan obat yang diberikan, pasien merasa sudah nyaman pada minggu pertama pengobatan dan akhirnya setelah obat habis pasien tidak mau kontrol lagi karena merasa sudah sembuh. Pasien datang kembali dengan keluhan yang sama tiga bulan kemudian.

Kasus 2.
Wanita usia 36 tahun dengan keluhan kecemasan terhadap segala aspek kehidupan yang ada. Pasien sering kali was-was jikalau ada apa-apa dalam kehidupan pasien. Kekhawatiran pasien tersebut sebenarnya tidak pernah terbukti, pasien hanya merasa was-was saja jika hal tersebut terjadi. Gejala-gejala psikosomatik yang jelas adalah sering keluar keringat dingin dan merasa tidak nyaman saat bernapas.
Obat diberikan kepada pasien dan untuk kasus ini dipilih Sertraline (Zoloft) yang biasanya diberikan dengan dosis awal dulu setengah dosis optimalnya. Pasien merasa nyaman pada minggu ke 3 dan meneruskan obat sampai minggu ke 6. Kontrol ke 2 kali pasien memutuskan untuk tidak datang dan berhenti mengkonsumsi obat. Satu bulan kemudian pasien datang kembali dan keluhannya kembali datang. Pasien mengatakan malas makan obat lama-lama dan memutuskan untuk stop saat merasa dirinya sudah enak.

Pembahasan
Kedua kasus di atas merupakan hal yang sering dihadapi dalam kasus sehari-hari dalam kehidupan praktek saya sebagai psikiater yang banyak terlibat pada kasus-kasus psikosomatik. Pasien yang merasa dirinya sudah baik biasanya menginginkan obatnya dihentikan. Penjelasan tentang efek obat dan waktu yang diperlukan untuk menggenapi pengobatan sebenarnya sudah dilakukan di konsultasi pertama namun karena beberapa hal pasien merasa tidak ingin melanjutkan pengobatannya. Beberapa faktor yang sering membuat pasien tidak mau meneruskan pengobatan adalah :
a. Ketakutan akan efek obat yang akan membuat ketergantungan walaupun sudah dijelaskan tidak demikian
b. Pembiayaan yang dianggap mahal jika harus berobat jangka panjang

Pasien yang mengalami perbaikan gejala harusnya tetap melakukan pengobatan secara teratur karena obat yang diberikan memang harus dimakan dalam jumlah dan waktu tertentu. Sebenarnya pasien sudah diberitahukan bahwa pada masa awal obat akan lebih banyak daripada masa akhir. Kondisi ini sering lebih harus ditekankan agar perasaan pasien menjadi lebih nyaman.
Motivasi untuk sembuh dan pengetahuan tentang penyakit yang diderita akan membuat pengobatan akan berlangsung baik. Semoga tulisan ini membantu.

Salam Sehat Jiwa

Selasa, 09 April 2013

Keseimbangan : Tujuan Akhir Pengobatan Gangguan Panik

Saya ingin sedikit berbagi cerita dengan pembaca blog ini. Setiap hari di praktek saya menangani kasus-kasus gangguan panik dan gangguan cemas lainnya. Jumlah pasien yang saya tangani sehari-hari berkisar antara 5-10 kasus dan hampir 90 persennya gangguan cemas. Kasus gangguan cemas memang mendominasi pasien-pasien saya dan bila melihat dari statistik pasiennya, kebanyakan pasien datang dengan gangguan cemas panik dan gangguan cemas menyeluruh.
Pasien sering bertanya kepada saya bisakah mereka sembuh. Dalam tulisan ini akan saya tuliskan sedikit informasi berkaitan dengan kesembuhan dan apa yang harus dicapai dalam pengobatan ini.

A. Tahap Awal Pengobatan
Pada tahap awal pengobatan pasien diharapkan dapat mencapai suatu remisi atau berkurangnya gejala atau bahkan menghilangnya gejala sama sekali. Hal ini menjadi tujuan awal pengobatan. Namun sebelum mencapai remisi pasien biasanya harus melewati tahap-tahap yang perlu dipahami. Dua minggu pertama pemakaian obat antidepresan biasanya adalah tahap yang krusial dan penting. Pasien akan mengalami perubahan di awal terapi ini baik berkurangnya gejala atau malah mengalami efek samping.
Berbicara tentang efek samping obat antidepresan biasanya yang dialami pasien adalah keluhan tegang kepala, mengantuk, rasa mual, keringat dingin atau perasaan tidak nyaman. Pasti pembaca bertanya, kok makan obat untuk menghilangkan cemas malah dapat gejala-gejalanya lebih lagi. Perlu diketahui bahwa efek samping ini sebenarnya berkaitan dengan efek obat yang meningkatkan serotonin dan atau noradrenalin di otak pasien. Meningkatnya secara signifikan serotonin di otak ini memerlukan penyesuaian. Satu dua minggu adalah masa-masa awal yang biasanya sangat bersifat individual. Biasanya ada juga pasien yang tidak mengalami. Teruskan pengobatan walaupun rasanya tidak nyaman, jangan berhenti di tengah-tengah.

B. Tahap Lanjutan Pengobatan
Masa dua minggu yang telah terlewati biasanya akan memberikan suatu informasi tentang pasien dan gejalanya kepada saya. Jika pasien mengalami perubahan dalam masa-masa dua minggu ini ke arah yang baik, saya bisa sedikit berasumsi bahwa pengobatan yang diberikan sudah tepat. Mengapa saya tidak bisa yakin bahwa itu sudah tepat, karena adanya suatu respon pengobatan bukan berarti pasti akan menjadi remisi dalam pengobatan itu. Untuk itu kita memerlukan waktu sampai 8 minggu untuk menilai obat yang kita berikan adalah yang tepat untuk pasien. Waktu 8 minggu biasanya menjadi penting untuk menentukan apakah kita akan terus dengan obat yang diresepkan di awal atau menggantinya dengan obat antidepresan lain. Psikiater biasanya sejak awal mengetahui bahwa setiap pasien mempunyai tingkat kecocokan yang berbeda untuk obat yang diresepkan sehingga memerlukan suatu pengawasan untuk melihat adanya efek dan tanda yang pasien rasakan.

C. Tahap Rumatan (Pemeliharaan) Pengobatan
Pasien yang telah melewati masa 8 minggu penggunaan obat antidepresan biasanya akan mulai stabil. Gejala-gejala biasanya sudah menghilang atau jauh berkurang. Tujuan terapi seperti yang telah disebutkan di atas adalah remisi atau hilangnya gejala sama sekali akan dilanjutkan pada tahapan selanjutnya yaitu berusaha untuk membuat gejala-gejala pasien hilang dan tidak kambuh kembali setelah lepas pengobatan.
Untuk ini maka pengobatan antidepresan haruslah lengkap. Beberapa rujukan yang berhubungan dengan pengobatan antidepresan menyarankan pengobatan diteruskan sejak hilangnya gejala sampai minimal 6 bulan ke depan. Hal ini untuk mencegah keberulangan.
Pasiennya biasanya menakutkan adanya suatu efek "ketergantungan" dari obat yang dipakai. Perlu ditekankan bahwa ketergantungan obat antidepresan tidak tercatat dalam literatur yang banyak menjadi rujukan psikiater. Obat antidepresan golongan serotonin, serotonin-noradrenalin ataupun yang golongan lama seperti trisiklik hampir tidak pernah dilaporkan menimbulkan ketergantungan layaknya golongan anticemas (penenang) seperti benzodiazepine. Untuk itu kekhawatiran pasien sebenarnya tidak beralasan.

Pengobatan yang tepat dan adekuat adalah jalan menuju kesembuhan dan kualitas hidup yang lebih baik untuk pasien gangguan panik. Semoga tulisan ini bermanfaat

Salam Sehat Jiwa