psikosomatik

psikosomatik

Kamis, 27 Desember 2012

CUTI PRAKTEK 2012 dan 2013

CUTI TAHUN 2012 :
CUTI PRAKTEK HANYA SENIN, 31 DESEMBER 2012

CUTI TAHUN 2013 :
23-24 JANUARI 2013
8-9 MARET 2013
13-16 APRIL 2013

Minggu, 23 Desember 2012

Catatan Akhir Tahun : Menjadi Orang Yang Lebih Baik

Oleh : dr.Andri,SpKJ
Psikiater Psikosomatik Medis (Psychosomatician)

Tahun 2013 hampir dijelang dan apa yang terjadi pada tahun 2012 akan menjadi masa lalu. Mau tidak mau apa yang telah terjadi di tahun 2012 harus kita terima sebagai bagian dari masa lalu. Masa lalu yang mudah-mudahan mempunyai makna dalam perjalanan kita sebagai manusia. Sebenarnya jika kita mau jujur, maka peristiwa baik yang menggembirakan atau menyedihkan adalah bagian dari hal yang membuat kita menjadi lebih baik. Membuat kita menjadi apa sekarang. Menjadikan kita berbeda satu dengan yang lain.
Bicara kaitannya dengan kasus-kasus psikosomatik yang saya tangani, perubahan adalah inti dari upaya memperbaiki kondisi ini. Pasien psikosomatik harus mengubah dirinya. Salah satunya dengan menyadari dirinya dan mau berobat kepada psikiater. Tidak mau atau enggan mengubah diri membuat pasien terus terjebak dalam gangguan sakit yang tidak kunjung sembuh. Motivasi untuk berubah itu harus ada.
Tidak heran saya banyak menemukan beberapa pasien yang datang dari berbagai daerah di Indonesia dan bukan hanya di sekitar Jabodetabek saja. Ada pasien yang datang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Palembang, Sulawesi sampai Kalimantan. Semua berharap kesembuhan dari sakitnya. Untuk mencapai itu setidaknya orang tersebut harus bergerak.
Saya berharap kenangan manis dan pahit di tahun 2012 akan menjadikan kita orang yang lebih baik ke depan. Semoga apa yang telah kita upayakan demi kebahagiaan kita bisa terwujud dengan baik.
Hidup ini harus berjuang dan tidak ada perjuangan yang sia-sia.

Selamat Hari Natal 2012
dan
Tahun Baru 2013


Kamis, 20 Desember 2012

Susahnya Lepas Dari Xanax (Kasus Sulit)

Oleh : Dr.Andri,SpKJ

Beberapa kasus ketergantungan Alprazolam (kebanyakan dari merk Xanax) sering kali datang kepada saya untuk meminta pertolongan agar sembuh dari ketergantungan ini. Kebanyakan pasien sudah tahunan memakai Alprazolam (Xanax) bahkan ada yang sudah 22 tahun memakai obat ini. Pemakaiannya pun bukan dosis kecil lagi tetapi sudah sampai dosis minimal 3-10 milligram perhari. Di bawah ini akan saya ungkapkan kasus-kasus sulit ini dan bagaimana cara penanganan di awal agar menjadi lebih paham buat pembaca sekalian.

Kasus 1. 
22 Tahun Lebih Menggunakan Xanax

Pasien laki-laki usia 52 tahun, pertama kali memakai Xanax sekitar 22 tahun yang lalu sejak pulang dari luar negeri untuk sekolah. Awalnya memakai obat-obatan golongan benzodiazepin dari psikiater di tempatnya sekolah dulu. Pasien kemudian sejak itu tidak bisa melepaskan ketergantungannya terhadap Xanax. Ketergantungannya ini juga sangat berhubungan dengan merek, artinya tanpa menggunakan Xanax pasien tidak bisa menggunakan Alprazolam merek lain. Saat ini dosis Xanax yang digunakan 6-8 miligram perhari.
Pasien sudah berkonsultasi selama 1 tahun, belum ada perubahan berarti. Pernah mencoba melakukan upaya Cold Turkey (berhenti sama sekali) namun mengalami efek putus obat yang berat seperti menggigil, lemas, kelelahan yang sangat, seperti tidak bertulang, keluar keringat dingin dan pikiran menjadi tidak bisa "digunakan". Jika tidak memakai xanax, pasien tidak bisa berpikir dan bekerja seperti biasa. Kalau memakai xanax, pasien "normal" kembali.
Salah satu faktor kesulitan dalam pengobatan pasien ini adalah, tidak ada obat yang cocok yang bisa menggantikan peran xanax untuk mengatasi kondisi fisik dan psikologis yang dialami pasien.

Kasus 2. 
10 Tahun menggunakan Xanax

Pasien laki-laki usia 48 tahun, pertama kali menggunakan xanax sekitar 10 tahun yang lalu. Dosis saat itu hanya 0.5mg digunakan untuk membuat pasien tidur lebih nyeyak,. Resep saat itu diberikan oleh dokter umum dan kemudian oleh pasien diteruskan makan xanax tersebut terus menerus sampai saat ini. Dosis saat ini berkisar antara 6-7 miligram perhari terbagi menjadi 3 kali pemakaian. Pasien awalnya dikonsultasikan kepada saya karena dokter interna dan dokter bedah yang ingin melakukan operasi kepada pasien meminta pasien untuk menghentikan penggunaan xanax yang saat itu sudah mencapai 3x2mg perhari. Penghentian tiba-tiba saat itu dilakukan oleh dokter dan menimbulkan gejala putus zat yang mengganggu pasien. Pasien kemudian dikonsulkan kepada saya.
Sama seperti kasus 2, salah satu faktor kesulitan dalam menangani pasien adalah pasien tidak pernah merasa cocok mendapatkan obat selain xanax untuk mengatasi kondisi kecemasan dasarnya. Sampai saat ini pasien masih berkonsultasi.

Kasus 3, 
Ibu Rumah Tangga menggunakan Xanax 1 tahun 

Pasien wanita usia 37 tahun dengan keluhan kecemasan yang membuatnya tidak nyaman. Saat itu pasien berkunjung ke psikiater dan diberikan obat xanax 0,25mg sebanyak 3x sehari. Pasien kemudian lepas kontrol dari psikiater dan membeli obat berdasarkan resep dokter umum selanjutnya. Pasien kemudian makan obat dengan dosis 3x0,5mg dan terkadang menambah dosis sendiri menjadi 3x0,75mg jika merasa tidak nyaman. Pemicu tidak nyaman adalah kondisi kelelahan mengurus anak dan dukungan keluarga yang kurang. Pasien sering kali merasa tidak nyaman dan pikiran satu-satunya adalah menambah dosis xanax. Pengobatan dengan obat antidepresan untuk mengurangi perasaan cemasnya tidak membuat pasien beralih dari xanax dan terus mengkonsumsi xanax sampai saat ini.

Pembahasan

Ketiga kasus penggunaan alprazolam di atas memang sangat sering terjadi di dalam praktek sehari-hari. Pasien seringkali tanpa sadar memakai obat anticemas golongan benzodiazepin seperti alprazolam (dengan merk terkenalnya xanax). Awalnya biasanya digunakan untuk membantu tidurnya atau perasaan cemas terkait gangguan fisik (jantung berdebar,perut kembung). Terkadang juga sering digunakan dalam racikan obat yang digunakan oleh berbagai macam dokter untuk mengatasi keluhan-keluhan psikosomatik.
Obat alprazolam (xanax) adalah salah satu jenis obat cemas golongan benzodiazepin yang paling efektif. Dengan efektifitas yang sangat poten dan waktu kerja yang pendek, tidak heran obat ini sering digunakan dan juga sering kali digunakan beberapa kali dalam sehari.
Sayangnya obat ini mempunyai efek untuk menghasilkan toleransi (dosis semakin meningkat) dan ketergantungan yang berat pada pasien jika digunakan tanpa pengawasa yang ketat dan bijak. Kebutuhan penggunaan akhirnya bisa menjadi suatu ketergantungan fisik dan psikis. Apalagi pada pasien yang menggunakan alkohol atau dengan riwayat penyalahgunaan zat narkotika. Pasien-pasien seperti ini bila menggunakan alprazolam akan cenderung terus naik dan sulit lepas.
Penanganan yang baik haruslah dimulai dengan pengenalan dasar gejala mengapa sampai pasien menggunakan alprazolam. Pasien perlu menggunakan obat alprazolam pastinya bukan karena tanpa alasan. Kondisi kecemasan dan insomnia adalah latar belakang tersering orang mulai menggunakan alprazolam. Pada pengobatan yang lebih baik adalah menggunakan obat pengganti alprazolam yang setara seperti clonazepam atau diazepam. Namun pada dosis tinggi (lebih dari 2miligram alprazolam perhari) pasien biasanya tidak bisa tiba-tiba menghentikan alprazolam tetapi harus melakukan penurunan dosis perlahan (tappering off). Penggunaan antidepresan seperti sertraline atau fluoxetine juga bisa membantu untuk mengatasi kecemasan dan mengurangi penggunaan obat alprazolam pada akhirnya.
Pasien perlu menyadari dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk berhenti dari alprazolam. Kalau tidak ada niatan untuk berhenti akan percuma. Satu yang paling penting segeralah berkonsultasi jika anda telah menggunakan alprazolam untuk waktu lama.

Salam Sehat Jiwa

Minggu, 16 Desember 2012

Selasa, 11 Desember 2012

Benarkah Psikosomatik itu Mudah Disembuhkan?

Oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater Psikosomatik Medis)
Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, Tangerang

Selama lebih dari 4 tahun menangani kasus-kasus gangguan psikosomatik, saya sering mencatat hal-hal yang menarik berhubungan dengan pasien yang mengalami gangguan ini. Pasien yang datang dengan keluhan fisik yang beraneka ragam ataupun pasien yang hanya mengalami satu atau dua macam keluhan saja. Namun seperti pada beberapa tulisan saya terdahulu, kebanyakan kasus psikosomatik melibatkan sistem saraf otonom sehingga gejalanya lebih banyak adalah gejala di jantung, paru dan lambung. Inilah sebagian besar gejala yang dialami pasien psikosomatik

Pahami Dulu Apa Itu Psikosomatik 
Kalau merujuk ke asal kata PSIKOSOMATIK, maka terdiri dari dua kata yaitu PSIKO yang artinya jiwa,mental atau psikis dan SOMATIK yang artinya badan, tubuh atau soma. Banyak orang yang bertanya kepada saya, sebenarnya arti PSIKOSOMATIK itu apa. Kita tidak perlu bingung masalah istilah, namun sebenarnya kata PSIKOSOMATIK itu bisa bermakna :
a. Adanya keluhan fisik (Soma) yang disebabkan oleh faktor psikologis (Psiko) : ini merupakan arti istilah Psikosomatik yang paling sering dipahami
b. Adanya keluhan psikologis (Psiko) dan fisik (Soma) bersama-sama pada seorang pasien : ini merupakan istilah psikosomatik yang juga banyak dipahami sebagai bagian yang membuat penanganan kasus psikosomatik itu melibatkan pendekatan biologis,psikologis dan sosial.
c. Adanya faktor-faktor psikologis yang berpengaruh pada kondisi somatik (tubuh) dan sebaliknya : ini biasanya pengertian dalam praktek ilmu kedokteran psikiatri konsultasi dan liaison. Psikiater bidang psikosomatik biasanya mempunyai urusan dengan pasien-pasien gangguan medis yang mengalami gejala-gejala psikologis dan pasien gangguan jiwa yang mengalami sakit medis.

Apakah Gejala Psikosomatik Itu Lebih Mudah Hilang?
Berdasarkan pengalaman klinis, memang saya mencatat banyak kasus psikosomatik yang pasiennya mengeluh fisik dan psikis (lihat atas bagian b.) kebanyakan setelah diobati dengan obat antidepresan dan psikoterapi suportif akan lebih hilang gejala fisiknya lebih dahulu dibandingkan keluhan psikisnya. Apalagi jika keluhan fisik tersebut terkait gejala depresi.
Walaupun pada banyak penelitian mengatakan gejala depresi itu akan berbarengan hilangnya dengan gejala fisiknya, dalam artian jika depresinya teratasi maka gejala fisiknya juga akan baik, ternyata pada kenyataannya tidak demikian. Gejala fisik yang diobati dengan tepat biasanya lebih dulu membaik daripada gejala psikologisnya. Walaupun hasil ini berbeda-beda untuk tiap pasien, namun dari catatan saya memang lebih dari 50% pasien merasakan dia lebih nyaman secara fisik dulu baru kemudian rasa cemas atau depresifnya berkurang.
Keluhan fisik yang berkurang gejalanya ini yang membuat perasaan was-was dan cemas pasien menjadi lebih baik akhirnya. Pengamatan pada pasien psikosomatik yang lebih mengeluh fisiknya memang sedikit berbeda dengan pasien gangguan jiwa yang lebih banyak mengalami keluhan psikis seperti skizofrenia misalnya. Jadi memang menarik untuk diamati bahwa ketika keluhan fisiknya berangsur menghilang, pasien akan merasa lebih percaya diri dalam mengatasi kondisi kehidupan sehari-harinya.

Cegah Psikosomatik Berulang
Pembahasan kasus-kasus psikosomatik selalu biasanya saya tutup dengan pesan kepada pasien atau orang yang mengalami psikosomatik bahwa pemeriksaan dengan seorang psikiater adalah yang disarankan bagian pasien untuk mengatasi keluhannya. Kondisi perbaikan fisik maupun psikis yang terkait dengan psikosomatik akan bisa diatasi oleh psikiater yang merupakan seorang dokter yang mengambil ilmu kedokteran jiwa sebagai spesialisasinya. Lain daripada kontrol ke psikiater ada hal-hal yang perlu diperhatikan pada penatalaksanaan kasus psikosomatik, hal itu antara lain :

a. Pengobatan tuntas
Pengobatan yang tuntas dan selesai dengan baik memberikan kemampuan pasien untuk mempertahankan dirinya dari kekambuhan akibat penyakit ini kembali. Struktur sistem otak yang sudah baik akan membantu mencegah penyakit ini datang lagi

b. Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental
Kekambuhan bukan hal yang mustahil dalam gangguan psikosomatik. Bahkan dari penelitian, gangguan psikosomatik yang didasari oleh depresi maka kemungkinan kambuhnya bisa mencapai lebih dari 50% walaupun sudah diobati dengan baik. Kesehatan fisik sangat mempengaruhi kondisi mental dan begitu pula sebaliknya. Pasien yang mengalami psikosomatik memang lebih sensitif terhadap respon fisiknya dan menjadi lebih tidak nyaman saat sakit datang. Kesehatan fisik yang baik dan didukung oleh kesehatan mental yang baik akan sangat berguna untuk mencegah psikosomatik datang kembali.

c. Tidur yang cukupdan berkualitas
Saya selalu menekankan pasien saya untuk tidur yang cukup dan berkualitas. Tidur akan membuat tubuh kita relaks dan beristirahat sedangkan jika kita merasa tidak cukup tidur maka badan akan terasa lemah. Jadi usahakan tidur di jam yang baik dan dengan jumlah waktu yang cukup.

Semoga informasi ini bisa berguna untuk kita semua. Psikosomatik Sembuh ? Pasti BISA

Salam Sehat Jiwa





Rabu, 05 Desember 2012

Peningkatan Kasus-Kasus Psikosomatik

Data di atas menunjukkan berbagai macam asumsi :
1. Kasus-kasus psikosomatik semakin banyak dikenali oleh masyarakat
2. Kesadaran masyarakat untuk berobat jika mengalami kondisi psikosomatik semakin tinggi dari tahun ke tahun

Sebagian pasien yang berobat sering merasa dirinya satu-satunya yang mengalami gangguan psikosomatik. Ternyata hal itu tidak benar, banyak orang yang mengalami gangguan psikosomatik.
Semoga informasi ini berguna untuk kita semua.

Salam Sehat Jiwa,
Dr.Andri,SpKJ
Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI ALAM SUTERA

Jumat, 30 November 2012

Keluhan Maag Sulit Sembuh, Jangan-Jangan Psikosomatik


Pasien yang datang ke Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera memang lebih banyak adalah pasien yang mengalami gejala-gejala psikosomatik daripada pasien yang hanya mengalami gejala psikologis semata. Pasien biasanya mengeluh gejala-gejala psikosomatik yang sangat umum dialami. Beberapa gejala tersebut yang paling sering adalah gejala sakit lambung atau maag. Di bawah ini akan coba saya bahas mengenai hal tersebu. Demi kejelasan dan mudahnya dipahami beberapa nama obat ditulis dengan merk dagangnya agar menjadi lebih dikenal pasien. 

Keluhan perut/maag/lambung adalah keluhan yang cukup sering dialami oleh pasien yang datang ke klinik psikosomatik RS OMNI. Pasien biasanya memang telah menjalani pengobatan berhubungan dengan sakit maag/lambungnya. Beberapa kasus malah sudah berkonsultasi dengan ahli/profesor di bidang gastroenterologi dan telah melakukan berbagai macam pemeriksaan berkaitan dengan sakit lambungnya. Sayangnya hasilnya normal atau bila pun ada biasanya merupakan peradangan sedikit yang sebenarnya tidak terlalu parah. 
Pasien biasanya juga telah memakan berbagai macam obat lambung. Golongan PPI seperti Pariet, Prosogan, Nexium adalah obat yang sering diresepkan. Ini belum ditambah dengan obat golongan sukralfat seperti Impepsa (dikenal sirup pink kental yang fungsinya sebenarnya melapisi lambung yang luka). Belum lagi obat-obat golongan seperti domperidone (Vometa atau Motilium) biasanya juga sudah diberikan. 
Pemeriksaan gastroskopi (biasanya pasien menjalani endoskopi, tapi ada juga yang ditambah dengan anuskopi) menghasilkan hasil yang normal. Biasanya walaupun ada, kebanyakan merupakan peradangan minimal bukan suatu ulkus (luka) yang serius. 
Kondisi ini yang membuat pasien tidak nyaman karena walaupun pengobatan bisa membantu, namun biasanya hanya selama makan obat saja, ketika sudah tidak makan obat lagi pasien biasanya mengalami keluhan kembali. 
Kasus lambung memang sangat sering dialami oleh pasien psikosomatik. Jaras (aksis) Lambung dan Otak (dikenal dengan istilah Brain Gut Axis) adalah sesuatu yang bisa menjelaskan apa yang terjadi pada pasien psikosomatik yang mengalami keluhan lambung. Stres dan depresi di otak (tidak sesempit terminologi stres/depresi pada umumnya) akan menyebabkan ketidakseimbangan juga pada sistem pencernaan. Hal ini diakibatkan peran sistem saraf parasimpatis dan hormon kortisol yang meningkat karena adanya stres dan ketidakseimbangan di otak bagian hipotalamus. Sehingga tidak heran jika diobati kondisi stres/depresinya maka keluhan lambungnya pun akan membaik. 
Saran saya memang jika mengalami gejala lambung dan sering mengalami pengobatan tapi tidak kunjung sembuh. Apalagi jika sudah melakukan beberapa pemeriksaan tapi hasilnya normal, maka ada baiknya jika menyempatkan diri berkonsultasi ke psikiater yang memahami keluhan psikosomatik. 

Salam Sehat Jiwa 

Dr.Andri,SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis
Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera
Anggota The Academy of Psychosomatic Medicine
Anggota The American Psychosomatic Society
Anggota The European Association of Psychosomatic Medicine

Kamis, 15 November 2012

Wow Are You Come From Indonesia? (laporan dari Atlanta)


oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater)

Judul di atas itu adalah kata-kata yang biasanya diungkapkan oleh para sejawat psikiater di pertemuan Academy of Psychosomatic Medicine yang saya ikuti. Ketika mengetahui dari mana saya berasal, biasanya mereka langsung pasang muka kagum dan mengatakan sangat berniat sekali saya mau datang ke pertemuan ini. Banyak yang tidak mengetahui bahwa saya telah menjadi anggota dari Academy of Psychosomatic Medicine sejak tahun 2006 dan mendapatkan banyak informasi lewat jurnal dan website yang mereka khususkan untuk anggotanya mendapatkan ilmu tentang Psychosomatic Medicine. Memang acara ini kebanyakan diikuti oleh psikiater dari berbagai negara bagian di Amerika Serikat yang berminat kepada Psychosomatic Medicine. Jumlahnya juga tidak banyak hanya 450 orang. Bayangkan persentase ini dibandingkan dengan total psikiater di Amerika Serikat yang berkisar di angka 45 ribu orang.

Semalam saat acara pertemuan para psikiater yang baru pertama kali datang ke acara ini, saya bertemu dengan Prof Maria Thiamson-Kassab, pengarang buku Practical Guideline of Psychosomatic Medicine, buku yang edisi pertamanya saya punya dan merupakan buku pertama yang saya beli sehingga membuat saya tertarik untuk mendalami bidang psikosomatik medis ke depannya. Prof Thiamson-Kassab bertanya kepada saya bagaimana saya di Indonesia mendapatkan informasi tentang Psikosomatik Medis, sepertinya dia masih menganggap Indonesia negara yang agak terbelakang dalam mendapatkan ilmu pengetahuan berkaitan dengan kedokteran. Saya lalu mengatakan bahwa Academy of Psychosomatic Medicine telah begitu baik menyediakan berbagai macam informasi dan jurnal kepada anggotanya termasuk saya sebagai satu-satunya anggota dari Indonesia. Walaupun jauh, perkembangan keilmuan berkaitan dengan psikosomatik medis saya kerap dapatkan lewat website resmi di www.apm.org dan juga jurnal yang diberikan kepada kami anggota APM setiap dua bulan sekali.

Informasi yang adekuat yang didapatkan inilah yang membuat saya tidak terlalu “buta” ketika berdiskusi tentang perkembangan Psikosomatik Medis di pertemuan ini karena apa yang saya baca dan dapatkan adalah sama antara psikiater di Amerika dengan saya sendiri. Globalisasi dan kemajuan teknologi informasi sangat berperan dalam hal ini. Tanpa internet rasanya akan sulit mendapatkan informasi yang baik dan cepat seperti sekarang ini. Semoga saja ke depan informasi ini terus bisa diupdate terus sehingga saya yang termasuk jauh dari pusat asalnya ilmu kedokteran psikosomatik bisa mendapatkan langsung ilmunya dan terjaga kekiniannya. Salam Sehat Jiwa
13530183321913210765
Bersama Prof Maria Tiamson-Kassab pengarang buku Practical Guideline of Psychosomatic Medicine (dok pribadi 2012)

Senin, 05 November 2012

Berapakah Tarif Psikiater ?


Banyak pembaca blog saya menanyakan berapakah tarif seorang psikiater saat melakukan konsultasi kepada pasien. Kebanyakan mengira kalau tarif Psikiater di Indonesia dihitung perjam dan tarifnya mahal. Sampai saat ini memang standar tarif jasa medis dokter jiwa alias Psikiater belum diatur oleh organisasi perhimpunan psikiater Indonesia, ini mungkin disebabkan karena kebijakan tarif biasanya mengikuti Rumah Sakit tempat si psikiater bekerja. Itu pun masih bisa dibagi lagi menjadi tarif swasta dan tarif negeri (dilihat dari RS-nya). Tarif RS swasta pun bisa berbeda tergantung Rumah Sakit-nya. Saya pernah bekerja di suatu Rumah Sakit yang mengharuskan semua dokter yang bekerja di sana bertarif sama yaitu Rp.90 ribu. Saat itu saya pernah merasa kebijakan itu adalah tidak adil karena saya biasanya menghabiskan waktu minimal 30 menit saat konsultasi sedangkan dokter spesialis lain biasanya cukup 10-15 menit saja. Pikir-pikir harusnya jasa medis saya sekitar 2x lipat atau setidaknya 1,5 kali lipat dari tarif dokter lain. Tapi apa daya kebijakan RS tidak bisa diganggu gugat.
Tarif jasa psikiater di kebanyakan Rumah Sakit swasta di Indonesia saat ini kebanyakan berkisar antara Rp.100 ribu s.d Rp. 350 ribu tergantung dari “kelas” Rumah Sakit tempat psikiater bekerja. Tarif demikian pun biasanya tidak otomatis menjamin waktu konsultasi yang sama. Ada beberapa psikiater yang sangat ramai pasiennya sehingga paling lama beliau hanya sanggup berbicara dengan pasien paling lama 15 menit. Namun rata-rata kebanyakan psikiater melakukan konsultasi dengan pasien antara 30-60 menit. Beberapa konsultan atau psikiater dengan kekhususan bisa mempunyai tarif jasa konsultasi yang lebih mahal sekitar Rp.200 ribu s.d. Rp. 500 ribu tergantung RS tempatnya bekerja.
Tarif jasa medis konsultasi psikiater sebenarnya relatif murah karena ada beberapa hipnoterapist yang bukan berlatar belakang dokter pun memiliki tarif jasa antara 500 ribu sampai 1 juta rupiah per sesi (paling lama 1 jam). Bahkan pengobatan alternatif sekalipun bisa berjasa lebih dari 500 ribu sekali datang di luar obat-obat herbal yang biasanya disertakan.
Dibandingkan dengan tarif jasa psikiater di Amerika dan Australia bahkan negara tetangga seperti Singapura sekalipun, jasa psikiater di Indonesia cukup murah. Di Amerika jasa psikiater perjam berkisar antara 150 s.d. 250 USD begitu juga di Australia berkisar antara 150 s.d. 250 AUSD. Negara tetangga Singapura berkisar antara 100-200 Singapore Dollar perkonsultasi (biasanya tidak ada psikoterapi karena kendala bahasa).
Semoga informasi tentang tarif ini berguna buat pembaca. Salam Sehat Jiwa.

Kamis, 01 November 2012

CUTI PRAKTEK 12-21 Nov 2012


Kepada Yth 
Pasien Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera

Dengan hormat,

Karena akan mengikuti kursus Psikosomatik Medis di acara Academy of Psychosomatic Medicine di Atlanta, Amerika Serikat tanggal 13-20 November 2012 maka Klinik Psikosomatik akan cuti praktek dari tanggal 12 November s.d. 21 November 2012. Klinik Psikosomatik RS OMNI akan mulai praktek kembali pada tanggal 22 November 2012 jam 17.00-20.00 
Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Atas perhatian dan pengertiannya kami ucapkan terima kasih.

Catatan : Untuk Senin 12 Nov 2012, praktek sore diganti menjadi jam 9-12 siang.

Salam Sehat Jiwa,
Dr.Andri,SpKJ
Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI 

Selasa, 30 Oktober 2012

Sabtu, 13 Oktober 2012

Cemas,Depresi dan Psikosomatik Itu Bisa Terjadi Pada Anda !

Oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater di Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera)

Apakah anda pernah merasa cemas dan depresi dalam kehidupan sehari-hari? Jangan takut dan malu, gejala cemas dan depresi bisa terjadi kepada setiap orang termasuk saya sendiri. Gejala-gejala cemas dan depresi adalah gejala yang bisa terjadi pada siapa saja dan pada usia berapapun. Kondisi ini bisa diadaptasi dengan baik oleh tubuh dan otak kita namun sering juga mengalami kesulitan adaptasinya. Manusia yang berhasil beradaptasi dengan baik akan mampu menjalani kehidupannya sehari-hari dengan baik, namun yang tidak akan mengalami penurunan kualitas hidup.
Melihat kenyataan bahwa kasus ini banyak terjadi di pelayanan primer, maka pada hari ini 13 Oktober 2012 di RS OMNI Alam Sutera diadakan seminar sehari yang ditujukan kepada dokter pelayan primer agar bisa mendeteksi dan menatalaksana dengan baik. Pembicara pada acara ini adalah dr.Eka Viora,SpKJ dari Pusat Intelejensia Kemenkes RI, dr. Rosmalia Suparso,SpKJ ketua PDSKJI cabang Banten dan saya sendiri sebagai Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI. Selain seminar juga terdapat diskusi interaktif untuk mendiagnosis dan menatalaksana kasus-kasus psikosomatik di pelayanan primer.
Antusiasme peserta sangat baik, ada 120 peserta yang ikut hadir dalam acara ini dan kesemuanya sangat baik dalam merespon materi dan pelatihan yang diberikan. Saya berharap acara ini akan menjadi sesuatu yang berguna untuk teman-teman dokter umum ketika menghadapi kasus psikosomatik.
Salam Sehat Jiwa


Kamis, 11 Oktober 2012

Kata Dokter

Dr Andri,SpKJ akan menjadi nara sumber dalam acara ini membahas topik "Depresi di Sekitar Kita" dipandu dengan host Dr Lula Kamal dan Dr Boyke Dian Nugraha SpOG bersama bintang tamu Vena Melinda
Catat tanggalnya : 14 Oktober 2012 jam 20.30 di JAK TV

Kata Dokter

Minggu, 07 Oktober 2012

[Press Release] Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10 Okt 2012


Press Release
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10 Oktober 2012
“Depression : A Global Crisis”
dan
Seminar dan Workshop Psikosomatik 13 Oktober 2012
“Psychosomatic Medicine : Comprehensive Care for Your Mind and Body”

Saudara yang berbahagia, pernahkah kita membayangkan bangun dalam keadaan lemas dan tidak bertenaga, suasana perasaan yang sedih dan tidak berdaya, putus asa serta kehilangan harapan? Apakah kita akan sanggup menjalani hari itu dengan baik? Apalagi jika kita mengalami hal tersebut setiap hari. Itulah beberapa tanda utama gangguan jiwa yang dinamakan DEPRESI.
Gangguan depresi menurut WHO mengenai lebih dari 350 juta orang setiap tahunnya. Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, deteksi dini depresi dilakukan pada setiap layanan primer kepada setiap pasien yang datang mencari pertolongan medis. Deteksi dini dan terapi yang baik juga dilaksanakan sejak di pelayanan primer. Sayangnya di kebanyakan negara kondisinya tidak demikian, hanya sekitar 10% masyarakat yang mengalami depresi mendapatkan pengobatan yang benar.
            Tahun ini badan kesehatan dunia WHO mengambil tema “Depression : A Global Crisis” sebagai tema utama dalam Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10 Oktober. Pilihan akan tema ini tentunya didasarkan pada kondisi yang telah disebutkan di atas. Betapa banyak orang di dunia ini yang mengalami depresi dan banyak di antara mereka tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Bahkan WHO pada tahun 2020 memprediksikan bahwa depresi akan menjadi penyakit yang membebani masyarakat global di nomor dua setelah penyakit jantung dan pembuluh darah.
            Depresi sendiri adalah gangguan suasana perasaan yang banyak terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Tua muda, kaya miskin, dari berbagai macam tingkatan sosial dan latar belakang pendidikan mempunyai risiko yang sama untuk mengalami depresi. Risiko ini semakin besar pada pasien yang mengalami gangguan medis terutama gangguan medis kronis seperti kanker, kencing manis, stroke dan gangguan reumatik. Gejala yang sering dialami pasien yang mengalami depresi adalah suasana perasaan yang menurun atau depresif, tidak bergairah melakukan sesuatu, kelelahan fisik dan rasa putus asa. Pasien juga sering mengalami gangguan konsentrasi, kesulitan tidur, nafsu makan yang berubah dan juga bisa mengalami keinginan bunuh diri.
            Beban sosial dan ekonomi yang dirasakan oleh pasien depresi dan keluarganya memang tidak banyak diteliti di Indonesia. Saya sebagai praktisi dalam praktek sehari-hari melihat langsung apa yang dirasakan pasien depresi dan keluarganya. Betapa beban ekonomi kadang terasa berat dirasakan pasien yang mengalami depresi. Ini akibat tidak produktifnya pasien karena gejala-gejala depresi yang berat.
            Pengobatan yang sesuai dan tepat harus dilakukan segera. Tentunya ini diawali dengan suatu diagnosis yang baik. Penapisan pasien yang mengalami depresi pada masyarakat umum atau yang mendatangi pusat kesehatan masyarakat harus digalakkan. Apalagi di rumah sakit umum dimana kasus-kasus medis berat yang rentan mengalami depresi juga sangat sering terjadi.
            Untuk itulah sebagai salah satu upaya dalam promosi kesehatan jiwa, pada tanggal 13 Oktober 2012 Klinik Psikosomatik RS OMNI akan menyelenggarakan suatu seminar dan pelatihan yang ditujukan untuk dokter pelayanan kesehatan di tingkat primer. Adapun tema yang diambil adalah “Psychosomatic Medicine ; A Comprehensive Care for Your Mind and Body”. Beberapa topik yang akan dibahas adalah Depresi di Pelayanan Primer, Masalah HIV-AIDS dan Hubungannya dengan Kesehatan Jiwa serta Gangguan Psikosomatik di Pelayanan Primer. Pada akhir acara akan diadakan pelatihan pembahasan kasus-kasus psikosomatik dalam diskusi interaktif sebagai bagian penyakit gangguan jiwa yang cukup sering terjadi di masyarakat.
            Besar harapan kami acara seminar ini yang sekaligus merupakan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dan Ulang Tahun Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera dapat memberikan manfaat yang besar bagi dokter di pelayanan primer agar mampu mengenali dan menatalaksana kasus-kasus terkait dengan gangguan jiwa terutama depresi dan psikosomatik. Selamat hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Salam Sehat Jiwa.



Hormat Kami,

Dr.Andri,SpKJ
Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI












Jumat, 28 September 2012

Senin, 24 September 2012

Seminar dan Workshop Psikosomatik

Seminar dan Workshop Psikosomatik 2012 


Jumat, 21 September 2012

Tujuan Pengobatan Gangguan Cemas : "Self Control"

Oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater)

Banyak pasien sering bertanya kepada saya apakah obat adalah satu-satunya cara dalam pengobatan gangguan cemas yang dialaminya. Saya dengan tegas mengatakan tidak. Pengobatan dengan obat adalah salah satu cara untuk memfasilitasi perbaikan sistem di dalam otak dan membuat kondisi lebih nyaman untuk melakukan perbaikan di dalam pola pikir dan perilaku.
Kita mengetahui bahwa otak lah yang memproduksi pikiran, perasaan dan perilaku. Pada pasien gangguan kejiwaan apapun jenisnya, fungsi otak mengalami ketidakseimbangan dalam kerjanya dan mempengaruhi pada produksi otak tersebut yaitu pikiran, perasaan dan perilaku. Seperti pernah saya jelaskan dalam artikel sebelumnya bahwa kerusakan sistem di otak yang terjadi pada pasien gangguan kejiwaan terjadi jauh sebelum gejala muncul pada pasien itu. Itulah mengapa pada tahapan awal pasien yang mengalami gangguan kejiwaan memerlukan pengobatan dengan obat. Tujuannya adalah memperbaiki sistem yang telah rusak tersebut.
Setelah otak diperbaiki maka paling penting adalah memfasilitasi perbaikan selanjutnya lewat terapi kognitif. Sebagai contoh pasien gangguan cemas, mereka sering kali merasa bingung apa yang terjadi pada dirinya. Kalau dibilang mengalami stres, banyak dari mereka yang tidak merasa adanya stres dalam kehidupan mereka. Hal ini disebabkan mungkin karena stres sudah beradaptasi dengan kondisi kehidupan mereka sehari-hari sehingga secara sadar sudah dianggap bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun demikian kondisi ketidakseimbangan di dalam otak tetap berlangsung sebelum diperbaiki.

Tujuan Akhir "Self Control"
Pasien yang telah selesai menjalani pengobatan kepada saya sering bertanya apa yang harus dilakukan agar tidak kambuh dari sakitnya. Saya selalu menyarankan menjaga kesehatan fisik karena itu sangat erat kaitannya dengan kondisi kejiwaan. Kelelahan dan sakit fisik yang berat ataupun ringan bisa membuat ketidakseimbangan sistem di otak dan akhirnya memicu kekambuhan. Lain daripada itu tidur yang baik dan berkualitas harus dicapai. Pasien sering diingatkan untuk bisa tidur dengan baik dan di jam yang baik. Artinya minimal bisa tidur 5 jam sehari dan sebelum jam 12 malam.
Pasien gangguan cemas juga diterangkan asal usul mengapa dirinya bisa mengalami gejala-gejala fisik yang sering disebut psikosomatik. Hal inilah yang membuat pasien gangguan cemas memerlukan informasi yang jelas tentang asal usul gejalanya dan bagaimana mengatasinya. Sering kali ketidaktahuan akan informasi ini yang membuat pasien menjadi bingung dan kesulitan menerima dirinya. Lebih jauh mereka menjadi lebih sering akhirnya terjebak dalam "shopping doctor" yaitu berkunjung ke banyak dokter untuk menanyakan apa yang dialaminya. Beruntung kalau bertemu dengan dokter yang memahaminya kalau tidak maka lingkaran setan pencarian akan tidak bisa berhenti.
Sebenarnya informasi yang diberikan kepada pasien tentang gejalanya dan bagaiman mekanismenya ini berguna untuk pasien agar mampu mengatasi dirinya sendiri jikalau gangguan cemas itu kembali hadir. Kepercayaan diri yang baik didukung dengan kondisi pengetahuan yang baik tentang sakit yang dialami mampu pada banyak kasus membuat pasien lebih nyaman menghadapi. Cemas boleh datang, tetapi pertahanan diri pasien sudah semakin baik secara fisik dan psikologis. Inilah yang mencegah kekambuhan datang. Dengan demikian pengobatan dari gangguan cemas memang tujuan akhirnya adalah memberikan rasa kontrol terhadap diri sendiri yang sebelumnya tidak dimiliki oleh pasien gangguan cemas.
Semoga informasi ini berguna. Salam Sehat Jiwa.

Minggu, 16 September 2012

Seminar dan Workshop PSIKOSOMATIK

‎"SEMINAR SEHARI DAN WORKSHOP TATA LAKSANA KASUS PSIKOSOMATIK DI PELAYANAN PRIMER"
“Psychosomatic Medicine : Comprehensive Care for Your Mind and Body”

Seminar ini merupakan seminar sehari yang ditujukan untuk dokter umum dan spesialis yang tertarik pada bidang Psikosomatik Medis (Ber SKP IDI)

SABTU,13 OKTOBER 2012 

JAM : 08.00-13 WIB 
AUDITORIUM RS OMNI ALAM SUTERA

Topik 1. Depresi di Pelayanan Kesehatan Primer : Dr.Eka Viora,SpKJ (Kepala Pusat Intelegensia Kesehatan Setjen KemKes RI)

Topik 2. Masalah HIV-AIDS dan Hubungannya dengan Kesehatan Jiwa :Dr.Rosmalia Suparso,SpKJ (Ketua PDSKJI cab Banten)

Topik 3. Gangguan Psikosomatik di Pelayanan Primer : Dr.Andri,SpKJ (Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI)

Workshop : Presentasi Kasus Psikosomatik (Diagnosis dan Tatalaksana di Pelayanan Primer). Peserta diikutsertakan dalam diskusi interaktif membahas kasus-kasus psikosomatik yang biasa terjadi di praktek umum . Pembahas : Dr.Andri,SpKJ 

Treating Depression with Balanced and Potent Dual Reuptake Inhibitor (Eli Lilly presentasi oleh Dr.Andri,SpKJ)

Pendaftaran : Rp. 100.000.
Pendaftaran : (021) 53129208 atau nelda.mkt@omni-hospitals.com 
Ogie (021) 33441619

Pembayaran bisa melalui transfer ke :
Rek BCA KCU Kisamauan A/C.108-194-8386 a.n.ANDRI 
Konfirmasi pembayaran dikirimkan via email ke : mbahndi@yahoo.com atau ke HP 085814833436 (sms only) dan Ogie (021) 33441619 

Konfirmasi pendaftaran dan pembayaran paling lambat 2 hari menjelang acara berlangsung (tempat terbatas untuk 150 orang)

Selasa, 04 September 2012

CUTI PRAKTEK

CUTI PRAKTEK 

11-15 SEPTEMBER 2012 

Kembali Praktek : 17 September 2012 

Salam,
Dr.Andri,SpKJ
Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera 

Senin, 27 Agustus 2012

Sulit Tidur dan Ketergantungan Obat Tidur


Sulit tidur adalah kondisi yang banyak dialami oleh pasien yang berkunjung ke saya di dalam praktek sehari-hari. Kesulitan tidur ini biasanya tidak dialami dalam waktu yang singkat tetapi sudah berlangsung lama. Pasien juga sudah menggunakan obat anti insomnia yang kemudian menjadi tidak nyaman karena sering kali menjadi tergantung dan sulit lepas. Rata-rata pasien yang datang ke saya adalah pasien dengan kesulitan tidur yang kronis.

Wanita,67 tahun, sudah dua tahun belakangan ini menggunakan Esilgan 2mg (Estazolam) untuk membantunya tidur. Pasien mengatakan sebelumnya sudah menggunakan Xanax 0.5mg-1mg untuk membantunya tidur tetapi kemudian diganti oleh dokter keluarganya dengan Esilgan. Kondisi kecemasan akut dan kronis disangkal oleh pasien,pasien mengatakan kondisi sulit tidurnya memang suka terjadi di saat muda dan sering hilang timbul. Pada usia di atas 60 tahunan ini pasien merasa keluhan sulit tidur semakin bertambah sering datang. Pasien mengatakan dia datang berkonsultasi karena efek obat esilgan-nya tidak efektif lagi. Pasien membutuhkan dosis yang lebih besar agar cepat tidur. Pada pemeriksaan status mental didapatkan kondisi kesehatan jiwa yang sesuai dengan usia pasien, tidak ada penurunan fungsi kognitif, gejala depresi dan cemas saat ini tidak tampak nyata. Pengobatan akhirnya diberikan kepada pasien untuk memperbaiki pola tidurnya tersebut dengan bantuan obat antidepresan yang bekerja di reseptor serotonin dan melatonin (M1 dan M2) serta diberikan anti insomnia non-benzodiazepin. Dua minggu kemudian pasien kontrol dan mengatakan bisa melepaskan dari Esilgannya. Pasien sering merasa nyaman dengan obat yang dimakan saat ini, rencana akan melepaskan obat dalam jangka waktu 1-3 bulan tergantung kondisi pasien.

Kesulitan tidur adalah gangguan jiwa yang paling sering dialami oleh manusia. Hampir semua dari kita pernah mengalami insomnia minimal sekali dalam kehidupannya. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap insomnia dan pada prakteknya di praktek psikiatri sehari-hari, kebanyakan hal tersebut disebabkan oleh gangguan kejiwaan. Beberapa hal yang sering berhubungan dengan insomnia adalah :

A. Penyakit Fisik
Beberapa penyakit fisik seperti diabetes melitus (penyakit gula), penyakit pembesaran prostat, penyakit infeksi paru-paru yang menyebabkan gangguan pernapasan, penyakit non-infeksi paru-paru yang menyebabkan gangguan pernapasan seperti asma bronkiale, nyeri pada kondisi medis umum (akibat luka operasi, luka trauma karena kecelakaan, kanker, penyakit peradangan menahun yang menyebabkan nyeri),pasca stroke, gangguan jalan napas berhubungan dengan kelainan anatomi atau infeksi di Telinga Hidung Tenggorokan.

B. Penyakit Jiwa
Hampir semua kondisi gangguan kejiwaan bisa mengalami kesulitan tidur. Gangguan cemas, depresi, skizofrenia, gangguan waham, gangguan somatoform, gangguan penyalahgunaan zat narkotika dan gangguan lainnya bisa menyebabkan kondisi kesulitan tidur. Pada praktek sehari-hari di klinik psikiatri, pasien dengan kesulitan tidur paling banyak adalah dari kalangan pasien dengan gangguan jiwa ini.

C.  Kebiasaan
Tidur adalah sesuatu yang mengikuti pola perilaku manusia. Maka tidur bisa dikondisikan. Pasien perlu mempunyai kebiasaan tidur yang baik terutama dalam pengaturan waktu tidur. Usahakan tidur jika sudah mengantuk dan tidur tidak lebih dari tengah malam.

D.  Usia
Usia semakin lanjut biasanya akan berhubungan dengan semakin meningkatnya angka kejadian insomnia.

PENATALAKSANAAN
Tidur seharusnya dicapai dalam keadaan normal. Pasien dengan gangguan tidur perlu mendapatkan pengobatan dengan tujuan memperbaiki fungsi tidur normalnya. Jadi tujuan pengobatan bukan untuk membantu pasien tidur dengan memberikan obat-obatan untuk tidur, tetapi obat bertujuan untuk memperbaiki fungsi tidurnya agar tidur tanpa obat atau tidur normal tercapai.
Pada awal-awal terapi, pasien terkadang harus menggunakan obat apalagi jika insomnianya bukan merupakan masalah primer melainkan sekunder akibat kondisi gangguan jiwa lainnya. Untuk itu dasarnya harus diperbaiki dulu sehingga kondisi insomnianya tidak berulang. Kalau hanya menggunakan obat untuk membantu tidur tanpa menggunakan obat untuk mengobati dasar penyakitnya maka akan percuma.
Selain itu pengobatan non-farmakologis (bukan dengan obat) diperlukan. Biasanya hal ini berhubungan dengan kebiasaan tidur dan makanan serta kegiatan yang berhubungan dengan tidur. Modifikasi gaya hidup sering diperlukan agar membantu proses tidur yang baik.
Semoga bahasan singkat ini bisa membantu. Salam Sehat Jiwa

Senin, 06 Agustus 2012

Cemas si mantan pengguna sabu


Oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater)

“Sudah 6 bulan saya merasakan sakit ini dok. Mulanya saat saya sakit typus,jadi gak bisa tidur karena demam tinggi. Lalu setelah typus baik kok tiba-tiba waktu itu saya berdebar-debar kencang sekali, seperti mau pingsan. Saya kemudian cek jantung dengan EKG. Dokter bilang gak papa jantung saya. Saya penasaran lalu medical check up jantung, pake treadmil dan echocardio juga. Ternyata hasilnya oke aja tuh. Sejak saat itu saya mulai belanja dokter deh, sebulan bisa dua tiga kali ke dokter jantung cek EKG karena berdebar-debarnya kok makin kerasa gak enak. Saya juga jadi cemas dok takut kalau-kalau saat rapat ama klien atau di jalan, serangan itu kambuh”

Kisah seperti di atas diceritakan oleh pasien saya berusia 35 tahun, seorang laki-laki yang cukup sukses dengan usahanya. Dia datang setelah membaca beberapa artikel saya di website kompasiana dan blog pribadi saya. Dia mengatakan rasanya apa yang saya tulis di beberapa artikel tentang gangguan cemas panik sangat mirip gejalanya dengan dia. Saat wawancara ketika saya menanyakan apakah pernah menggunaka obat sejenis sabu-sabu atau ekstasi. Pasien menjawab pernah sekitar 5 tahun yang lalu selama setahun.

“Kelemahan” otak
Apa yang dialami pasien yang saya ceritakan di atas sekiranya mirip dengan beberapa pasien saya lainnya yang gejalanya juga merupakan gejala kecemasan. Pasien seperti ini biasanya mengalami keluhan yang khas seperti kecemasan yang ditandai dengan keluhan-keluhan fisik seperti jantung berdebar, sesak napas dan perasaan melayang. Kondisi ini biasanya terjadi pada pasien dengan gangguan cemas panik.

Latar belakang penggunaan zat golongan amfetamin atau metamfetamin seperti sabu-sabu dan ekstasi membuat kondisinya menjadi lebih kompleks. Walaupun biasanya pasien saat ini sudah tidak memakai lagi, dari pengalaman klinis selama berkecimpung menangani pasien-pasien gangguan kecemasan panik, riwayat penggunaan ekstasi dan sabu-sabu biasanya membuat pasien lebih rentan mengalami gangguan cemas bahkan depresi.

Hal ini bisa disebabkan karena pemakaian ekstasi dan sabu-sabu apalagi dalam waktu panjang bisa membuat perubahan di sistem serotonin dan dopamin. Sistem ini pula yang sebenarnya sangat erat kaitannya dengan terjadinya gangguan kecemasan. Pada saat orang menggunakan stimulan seperti sabu-sabu dan ekstasi, maka terjadi lonjakan serotonin dan dopamin beberapa kali lipat dari biasanya. Hal ini yang membuat pengguna stimulan merasakan rasa nyaman dan gembira luar biasa. Pada beberapa pasien ada efek samping yang nyata terkait dengan munculnya kecurigaan yang besar karena penggunaan obat ini yang disebabkan karena lonjakan dopamin. Gejala mirip gejala psikotik seperti ide-ide paranoid juga bisa muncul.

Sayangnya penggunaan stimulan seperti ini dalam jangka waktu lama akan merusak keseimbangan sistem otak. Daya tahan mekanisme otak terhadap stres akan berkurang. Sistem serotonin dan dopamin yang melonjak akibat penggunaan stimulan, pada kondisi normalnya kembali tidak lagi sama dengan ketika sebelum menggunakan stimulan. Belum lagi jika banyak kondisi lingkungan yang penuh stres yang memicu ketidakseimbangan itu. Hal ini bisa terjadi beberapa lama setelah pemakaian sabu atau ekstasi itu. Artinya walaupun sudah lama tidak menggunakan kedua zat ini tetapi efek kecemasan akibat penggunaan stimulan ini bisa terasa beberapa tahun setelahnya.

Kecemasan yang diderita saat ini diakibatkan karena ketidakseimbangan sistem di serotonin dan dopamin. Hal ini akan makin mudah terjadi jika kondisi sistem itu sedang dalam kondisi rentan. Riwayat penggunaan stimulan membuat pasien lebih rentan terhadap kondisi kecemasan itu. Semuanya terkait dengan sistem di otak. Maka jika anda pernah memakai stimulan dalam kehidupan anda, jangan heran jika suatu saat penyakit kecemasan ini bisa mendekati anda.

Salam Sehat Jiwa

Rabu, 25 Juli 2012

Otak Yang Rusak Awali Gangguan Jiwa


Oleh : dr.Andri,SpKJ

Saat menuliskan artikel ini saya masih berada di Manila dan baru saja menyelesaikan pelatihan selama 3 hari tentang obat-obatan yang dipakai di dalam praktek psikiatri sehari-hari. Sejak Senin pagi setiap hari dari jam 9 pagi sampai dengan jam 5 sore pelatihan dilakukan berisi kuliah, presentasi kasus, diskusi, tanya jawab antara peserta dengan para pembicara yang terdiri dari Prof Brian E Leonard (Irlandia), Prof Joseph Zohar (Israel) dan Prof Siu Wa Tang (Hongkong) yang merupakan direktur dari Institute of Brain Medicine, suatu organisasi non-profit yang menyelenggarakan pelatihan tentang obat-obatan psikiatri bagi para praktisi di negara-negara Timur Jauh.
Beberapa hal yang baru didapatkan dari pelatihan ini, sekaligus juga bisa bertemu langsung dengan para ahli menanyakan beberapa kesalahpahaman yang mungkin telah terjadi selama ini namun merupakan suatu kebiasaan di klinik yang lebih bersifat praktis. Intinya pelatihan ini memang ingin membawa penelitian-penelitian berbasis bukti (Evidence Based Medicine/EBM) ke para parktisi dengan cara yang lebih memakai pendekatan klinis. Tidak heran dalam pelatihan ini selain berisi diskusi dan kuliah tentang dasar-dasar obat, diskusi tentang apa yang dialami sehari-hari di praktek sehari-hari lebih ditekankan. Berbagai pendekatan dilakukan untuk menjawab berbagai pertanyaan klinis yang ada. Kritik terhadap apa yang telah dilakukan secara umum juga dilakukan. Semua berguna agar peserta pelatihan mendapatkan manfaat dan mampu menjadi praktisi klinis yang lebih baik. Tujuan akhirnya adalah memberikan pengobatan yang tepat dan bertanggung jawab terhadap pasien.

Otak Adalah Sumber Segalanya
Penekanan pertama dari Prof Tang adalah tentang otak dan sistem yang terlibat dalam timbulnya gangguan jiwa. Semua gangguan jiwa dibahas dari segi sistem otak dari mekanisme anatomisnya sampai molekularnya. Pembahasan yang mendalam membuat beberapa peserta termasuk saya berusaha mencerna perlahan-lahan apa yang telah diberikan oleh Prof Tang.  Sebagai praktisi kebanyakan dari kami walaupun berasal dai institusi pendidikan biasanya tidak terbiasa mendalami gangguan jiwa sampai ke tingkat molekular di dalam otak. Beruntung Prof Tang sebagai fasilitator memberikan kunci-kunci agar kiat semua para peserta mampu untuk mendalami hal ini lebih dalam lagi. Beberapa dari kami di minta untuk menjawab pertanyaan dan mempresentasikan beberapa pertanyaan itu. Sistem evaluasi setiap hari yang dilakukan membuat kita tidak bisa “santai” mengikuti pelatihan ini.
Prof Leonard lebih menekankan bahwa apa yang selama ini terjadi di klinis adalah suatu kondisi yang sebenarnya sudah dimulai sejak terjadinya perubahan sistem di otak orang yang mengalami gangguan jiwa namun belum menunjukkan gejala. Artinya ketika datang ke dokter dengan gejala-gejala gangguan jiwa yang terdiri dari gejala pikiran, perasaan dan perilaku, sudah bisa dipastikan telah terjadi kerusakan sistem otak yang jauh sebelum pasien itu mengalami gejala-gejala saat ini. Pembahasan tentang berapa lama obat diberikan, dosis yang tepat yang seringkali selama ini diberikan dengan dosis yang kurang juga menjadi bahasan menarik.
Prof Zohar menekankan pentingnya diagnosis terutama pada kondisi-kondisi sulit seperti pasien dengan gangguan obsesif kompulsif dengan adanya gejala gangguan jiwa berat yang nyata seperti halusinasi atau delusi. Prof Zohar dan Prof Tang juga menekankan pentingnya diagnosis yang tepat dan kehati-hatian dalam menangani kasus-kasus orang tua terutama sekali dalam pemakaian beberap obat yang sebenarnya telah diberitahukan oleh badan obat dan makanan Amerika (FDA) mempunyai bahaya jika dipakai pada populasi khusus seperti pasien lanjut usia yang mengalami penyakit pikun (demensia).
Saya merasa beruntung bisa mengikuti seminar ini. Walaupun merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia, saya tidak merasa kesepian karena panitia dan teman-teman psikiater dari Hongkong dan Filipina sangat hangat. Keaktifan para peserta juga dipuji oleh para pembicara dengan mengatakan bahwa kelompok kursus kali ini adalah yang terbaik dari yang pernah mereka ajar. Kursus ini merupakan suatu paket pertama dari suatu sistem belajar yang berkelanjutan. Ke depan akan ada kursus-kursus seperti ini yang diselenggarakan oleh Institute of Brain Medicine bekerja sama dengan masing-masing organisasi lokal. Siapa tahu nanti bisa diselenggarakan di Indonesia. Semoga saja. Salam Sehat Jiwa
13432206391143497878
Pemberian Sertifikat oleh Prof Tang pada akhir kursus tentang obat oleh Institute of Brain Medicine di Manila (dok pribadi 2012)

Rabu, 18 Juli 2012

Selamat Berpuasa

Semoga Amal Ibadah di Bulan Puasa ini diterima oleh Tuhan YME 

Salam Sehat Jiwa 
dr.Andri,SpKJ
Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI

Certificate Course in Neuro-psychopharmacology 2011



Kursus ini akan saya hadiri dalam masa cuti saya 23-25 Juli 2012 nanti.

Bagaimana Melawan "Psikosomatik"?


Oleh : Dr.Andri,SpKJ (Psikiater Keminatan Psikosomatik Medis)

Pasien dengan gangguan psikosomatik dan segala gejala fisik yang dialami mereka sering menanyakan kepada saya bagaimana melawan psikosomatik ini. Pasien merasa keluhan-keluhan fisik yang tidak jelas sumbernya ini sulit dilawan dengan apapun juga. Pikiran positif yang disarankan oleh banyak orang sering kali sulit diterapkan oleh pasien dan ini terkadang malah semakin membuat pasien merasa tertekan dan malah memperberat keluhannya.
Memang tidak mudah berpikir positif jika mengalami gangguan psikosomatik. Pasien sering kali mengeluhkan orang-orang di sekitarnya bahkan keluarga yang sepertinya tidak mampu mengerti apa yang dialami pasien. Jangankan orang awam, bahkan dokter sendiri pun banyak yang tidak memahami dan “menggampangkan” bahwa psikosomatik itu sebenarnya cukup dilawan dengan pikiran positif saja. Lalu mengapa sulit buat pasien berpikir positif atau santai seperti yang disarankan?

Otak Pabrik Utama
Otak adalah pabrik dari segala macam bentuk perasaan, pikiran dan perilaku manusia. Apa yang kita rasakan, kita lakukan dan kita pikirkan adalah hasil dari produksi otak. Keseimbangan dalam sistem otak ini perlu dijaga agar semuanya tetap dalam kondisi seimbang. Lalu bagaimana jadinya jika otak ini mengalami ketidakseimbangan? Maka bisa dipastikan produksinya pun kurang baik. Tidak heran jika gangguan jiwa yang merupakan hasil dari ketidakseimbangan otak akan membuat pikiran, perilaku dan perasaan orang menjadi tidak nyaman, mengarah tidak normal bahkan berbeda dari pada umumnya.
Kondisi ini yang membuat respon otak yang baik tidak tercapai. Bagaimana caranya membuat suatu “pikiran positif” jika otak yang memproduksi pikiran itu sedang dalam kondisi tidak baik? Tidak heran banyak pasien yang mengatakan ketika dia sedang mengalami kecemasan dan depresi, dia mengalami kesulitan untuk berdialog dengan Tuhan lewat doa dan sembahyang. Ada perasaan tidak nyaman yang dialami oleh pasien sehingga membuat dirinya tidak bisa “masuk” dalam kekhusukan dan doa.

Obati Otaknya
Maka jalan yang ditempuh untuk memperbaiki ketidakseimbangan yang menyebabkan gangguan psikosomatik adalah memperbaiki sistem otak yang terlibat. Berbagai cara bisa dilakukan baik dari segi pemakaian obat psikofarmaka dan psikoterapi.
Pemakaian obat diperlukan untuk memperbaiki sistem otak yang sudah mengalami kendala dalam pekerjaannya. Fungsi dari obat adalah untuk memperbaiki dan menyeimbangkan sistem di otak tersebut. Setelah otak mulai seimbang maka terapi kognitif yang biasanya dilakukan pada proses psikoterapi dapat lebih mendapatkan tempat dalam alam pikiran dan perasaan pasien.
Banyak pasien yang bersikeras untuk tidak makan obat. Ada juga beberapa dokter yang tidak menyarankan penggunaan obat. Ketergantungan adalah salah satu yang ditakuti. Sebenarnya obat digunakan kepada pasien adalah untuk membuat tercapainya keseimbangan itu. Proses pemberian obat memfasilitasi perbaikan sehingga ketika sudah baik yang ditandai dengan gejala subyektif pasien yang merasakannya, maka obat bisa dikurangi bahkan dihentikan.
Terapi jenis lain yang sering disarankan adalah meditasi (mindfulness therapy). Hal ini biasanya dilakukan dengan memperhatikan dan berkonsentrasi pada jalan masuk keluar nafas. Terapi kombinasi antara obat dan psikoterapi termasuk meditasi adalah suatu cara yang mampu “melawan” psikosomatik.
Semoga bermanfaat, Salam Sehat Jiwa
13406871021548265276
Pada Acara Ulang Tahun Klinik Psikosomatik yang ke-3 (doc pribadi 2011)

Sabtu, 14 Juli 2012

Memilih Antidepresan Untuk Pasien

Oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater Bidang Psikosomatik Medis)

Saya beberapa kali dalam praktek harus mengganti obat antidepresan yang digunakan karena pasien kurang responsif terhadap pengobatan yang diberikan. Hal ini biasanya dilakukan ketika batasan responsif terhadap terapi yang diberikan sudah dilewati, biasanya adalah dua bulan atau 8 minggu.
Pergantian antidepresan biasanya dilakuan pada pasien yang tidak mengalami perbaikan yang signifikan atau terlihat dalam pemeriksaan klinis tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Sebenarnya hal ini merupakan hal yang biasa di dalam praktek sehari-hari. Kurang atau tidaknya responsif pasien terhadap suatu antidepresan tertentu bukan berarti menjadi terteutup harapan sembuh pasien dengan menggunakan antidepresan.

Memilih Antidepresan
Setelah diagnosis ditegakkan biasanya saya mulai memilih obat yang paling dianggap cocok untuk pasien yang saya hadapi. Pilihan antidepresan sangat beragam dari kelas dan jenis masing-masing kelas. Di dalam praktek sehari-hari beberapa kelas antidepresan yang sering digunakan adalah seperti di bawah ini
1. Antidepresan Golongan Trisiklik 
Contohnya adalah Amitripiline, Imipramine, Clomipramine
2. Antidepresan Golongan SSRI
Contohnya : Fluoxetine (Prozac), Sertraline (Zoloft), Paroxetine (Paxil), Fluvoxamine (Luvox), Escitalopram (Cipralex)
3. Antidepresan Golongan SNRI 
Contohnya : Duloxetine (Cymbalta), Venlafaxine (Efexor)
4. Antidepresan Golongan Agomelatine
Contohnya : Agomelatine (Valdoxan)

Pemilihan obat antidepresan berdasarkan diagnosis pasien dan pedoman tata laksana untuk gangguan tertentu yang sudah disepakati oleh para ahli di tingkat internasional atau nasional. Selain itu pemilihan obat juga lebih bersifat individual dalam artian setiap pasien mempunyai karakteristik yang berbeda yang membedakan juga pengobatannya.
Obat yang dipilih biasanya adalah obat yang mempunyai tolerabilitas atau kemampuan obat itu diterima oleh individu yang paling tinggi. Hal ini biasanya karena disebabkan penggunaan obat antidepresan yang cukup lama harus mendapatkan obat yang biasanya juga mempunyai tolerabilitas terhadap pasien yang lebih baik.
Selain itu sebenarnya yang paling penting adalah bahwa obat itu efektif terhadap pasien dan mampu menghilangkan gejalanya.

Pengobatan Tidak Berespon Baik
Ketika memutuskan untuk memulai pengobatan, pasien biasanya akan dilihat respon pengobatannya di awal-awal minggu pertama. Minggu pertama adalah masa "pengenalan" obat tersebut di otak dan tubuh pasien. Beberapa pasien mengalami efek samping karena pengenalan ini. Efek samping yang timbul biasanya akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa hari tanpa memerlukan penanganan khusus. Beberapa efek samping yang sering timbul misalnya keluhan lambung (maag),lebih cemas daripada biasanya, sulit tidur, mengantuk, kepala tegang dan mulut kering. Salah satu cara menguranginya adalah dengan memulai dosis lebih kecil di awal minggu pertama.
Jika sudah dilewati maka akan masuk ke minggu berikutnya di mana obat sudah mulai mencapai tahapan stabilisasi di otak tetapi belum berespon maksimal. Pada minggu kedua ada beberapa pasien yang sudah mulai merasakan perubahan dalam gangguan atau keluhan yang dialami tetapi ada juga pasien yang mengalami kondisi yang sama dengan sebelumnya. Hal ini masih dianggap sebagi suatu proses yang belum memerlukan penanganan khusus.
Memasuki minggu ketiga dan keempat obat antidepresan sudah mulai mencapai keseimbangan di dalam otak pasien. Pada minggu ketiga dan keempat ini biasanya keluhan sudah jauh lebih berkurang jika pasien cocok dengan obat-obatan yang diberikan. Namun demikian ada sebagian pasien yang merasa belum banyak perubahan berarti. Pada kondisi ini biasanya saya tetap meneruskan pengobatan dan memilih untuk tetap mempertahankan dosis terakhir.
Minggu kelima dan keenam adalah saat keseimbangan sudah mulai stabil dan biasanya pasien sudah hampir merasakan kesembuhan (remisi) yang baik. Jika respon pengobatan baik, pasien hampir merasa lupa akan gangguan yang dialaminya. Namun demikian ada juga pasien yang masih kadang mengalami gejala-gejala keluhannya tapi sangat minimal atau kalau pun ada misalnya perasaan kecemasan, masih bisa ditangani dengan baik oleh pasien. Pada minggu ini jika ada pasien yang tidak responsif terhadap pengobatan maka biasanya kita memperhitungkan apakah akan mengganti obat atau akan meningkatkan dosis. Pilihan itu tentunya akan diperhitungkan dengan kondisi klinis, keluhan yang masih dialami dan preferensi pasien. Pada beberapa obat peningkatan dosis ada yang membuat efek sampingnya lebih banyak. Hal-hal seperti ini perlu dipertimbangkan sebelum melakukan keputusan berdasarkan hasil pengobatan sampai minggu keenam ini.

Memilih Obat Pengganti
Memilih obat pengganti tentunya perlu memperhatikan berbagai macam hal termasuk juga harga obat. Pasien biasanya yang pertama kali memakai antidepresan golongan SSRI bisa dicoba untuk ditingkatkan dosisnya terlebih dahulu lalu kemudian jika tidak ada respon atau pasien tidak tahan dengan efek samping akibat dosis yang besar maka obat bisa diganti ke golongan lain misalnya SNRI.

Pengobatan dengan antidepresan biasanya memakan waktu cukup lama antara 4-12 bulan tergantung kondisi pasien. Penggunaan obat antidepresan dalam jangka waktu tertentu ini untuk mencegah kekambuhan pasien. Inilah yang perlu dipahami oleh pasien. Pertanyaan pasien terkait apakah obat ini akan menimbulkan ketergantungan atau kesulitan dilepaskan adalah hal yang paling sering ditanyakan. Obat antidepresan memang tidak menimbulkan ketergantungan sehingga ada kata selesai memakai obat ini pada beberapa kasus yang sehari-hari didapatkan. EFeknya ke ginjal dan hati sebagai hal yang sering ditakutkan pasien juga sangat minimal untuk pasien yang kondisi ginjal dan hatinya baik. Bagi yang meminum alkohol atau mengalami gangguan fungsi hati (misalnya pada penderita Hepatitis) sebelum menggunakan obat antidepresan golongan tertentu perlu melakukan pemeriksaan yang lebih intensif.

Semoga informasi ini berguna

Salam Sehat Jiwa


Minggu, 01 Juli 2012

Obat Antidepresan dan Seluk Beluknya


Oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater Keminatan Psikosomatik Medis)

Praktek sehari-hari saya kebanyakan menangani kasus-kasus gangguan kecemasan dan gangguan depresi. Pasien dari dua jenis gangguan jiwa ini sangat sering mengeluh gejala-gejala fisik yang tidak didasari adanya bukti obyektik (Gejala Psikosomatik). Hal ini membuat ketika melakukan terapi maka saya akan mengedepankan menterapi diagnosis dasarnya seperti yang telah saya bahas pada tulisan-tulisan saya terdahulu tentang gangguan psikosomatik.
Pengobatan untuk gangguan cemas dan gangguan depresi tentunya perlu meliputi ketiga aspek yang mempengaruhi kejiwaan seseorang. Pendekatan biologis, psikologis dan sosial (termasuk spiritual) adalah hal yang tidak bisa dilepaskan pada pengobatan pasien-pasien tersebut. Apa yang akan saya bahas kali ini lebih kepada pengobatan dengan obat-obatan terutama antidepresan.

Efektifitas Obat
Ketika diagnosis sudah ditegakkan, maka sebagai dokter tentunya saya akan mengatur strategi pengobatan. Strategi pengobatan ini tentunya didasarkan pada rujukan pedoman pengobatan yang telah disetujui bersama oleh para ahli. Organisasi psikiatri baik di Indonesia maupun di luar negeri telah membuat pedoman-pedoman pengobatan untuk kasus-kasus psikiatri yang dihadapi sehari-hari.
Kali pertama yang terpikir oleh saya untuk meresepkan obat tertentu kepada pasien terutama untuk kasus gangguan cemas dan depresi adalah efektifitas obat tersebut. Obat Antidepresan golongan Serotonin Selective Reuptake Inhibitor (SSRI) dan Serotonin Norephineprine Reuptake Inhibitor (SNRI) adalah pilihan-pilihan obat yang digunakan untuk kasus depresi. Kedua golongan obat ini dipakai saat ini karena dinilai efektif untuk mengobati gangguan depresi.
Pasien dengan gangguan cemas juga mendapatkan manfaat dari pengobatan dengan golongan antidepresan. Selain efektif juga mempunyai profil obat yang lebih relatif aman dibandingkan dengan pengobatan menggunakan obat anticemas golongan benzodiazepine (obat penenang). Seperti kita tahu obat anticemas seperti Alprazolam, Lorazepam, Bromazepam, walaupun efektif mengatasi kecemasan sering kali menimbulkan permasalahan lain yaitu toleransi (dosis yang semakin meningkat) dan ketergantungan.

Tolerabilitas Obat
Selain efektif mengobati, pemilihan obat juga perlu melihat tolerabilitasnya atau kemampuan pasien dalam beradaptasi dengan obat itu. Kadang memang ada obat yang efektif tapi pasien tidak tahan dengan efek samping yang sering muncul akibat obat yang dia minum.
Antidepresan golongan SSRI atau SNRI seperti yang disebutkan di atas cukup mempunyai tolerabilitas yang baik. Pasien biasanya cukup nyaman dengan obat yang diberikan. Sering kali memang muncul efek samping obat pada awal penggunaan, biasanya berlangsung pada minggu pertama. Namun demikian efek samping ini hanya bersifat sementara dan sering kali bisa dilewati tanpa perlu menambahkan obat lain. Efek samping yang sering muncul pada obat yang bekerja di serotonin adalah gangguan perut atau maag, perasaan mengantuk, kadang bisa mengalami insomnia, sering merasa kepala berat atau pusing dan perasaan cemas. Untuk itu biasanya pada pasien diberikan dosis setengah dulu untuk pasien mampu lebih beradaptasi dengan obat ini.

Keamanan Obat
Kita memahami bahwa pasien dengan penggunaan antidepresan biasanya berlangsung lama. Pada berbagai literatur terbaru disarankan agar pasien tetap melanjutkan pengobatan walaupun sudah membaik sampai minimal 6 bulan sejak perbaikan gejala. Hal ini adalah agar keberulangan gejala tidak terjadi.
Untuk itu pemilihan obat selain tolerabilitas dan efektifitas, maka keamanan obat jika dipakai dalam jangka waktu panjang atau jika dipakai bersamaan dengan obat lain perlu diperhatikan. Pasien yang memakai obat antidepresan golongan SSRI atau SNRI masih bisa menggunakan obat lain misalnya obat flu, obat demam atau obat batuk yang sering takut digunakan. Kebanyakan peringatan di obat flu bahwa obat flu tidak boleh digunakan bersama antidepresan adalah obat antidepresan dari golongan Monoamine Inhibitor (MAOIs).

Farmakoekonomi
Jangan lupakan salah satu yang perlu diperhatikan juga tentang farmakoekonomi. Yaitu bagaimana pemilihan obat yang baik dan efektif juga perlu dibarengi dengan suatu upaya untuk memberikan obat yang secara ekonomis bisa terjangkau. Sering kali ini menjadi dilema karena pengobatan dengan obat-obat golongan terbaru seperti SSRI dan SNRI memang memerlukan biaya yang cukup besar. Walaupun demikian jika memandang dari segi cost and benefit mungkin penggunaan obat-obat antidepresan golongan SSRI dan SNRI masih bisa dianggap sebagai mampu memberikan perhitungan ekonomis yang masuk akal. Hal ini disebabkan karena perbaikan gejala depresi dan cemas yang baik dan didukung dengan kemampuan kerja secara ekonomis pasien-pasien yang mengalami depresi dan cemas, keuntungan secara ekonomis memakai obat ini bisa terpenuhi.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Jumat, 08 Juni 2012

Irritable Bowel Syndrome dan Gangguan Kecemasan

Oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater Bidang Psikosomatik Medis)
 
“Seorang laki-laki usia 40 tahun mengeluh sering merasakan tidak nyaman di daerah perutnya. Kalau sedang tidak nyaman pasien sering merasa mulas dan ingin buang air besar. Hal itu semakin diperparah biasanya jika pasien sedang dalam kondisi cemas atau tegang. Pengobatan ke dokter penyakit dalam sudah dilakukan, pemberian obat-obat maag sudah diberikan, tetapi hasilnya belum baik. Ini yang membuat akhirnya pasien datang menemui saya di tempat praktek”
Irritable Bowel Syndrome atau yang sering disingkat IBS adalah suatu kondisi gangguan perut yang ditandai dengan rasa tidak nyaman di daerah perut, yang disertai dengan gejala-gejala episodik perasaan sulit buang air besar (konstipasi) dan atau diare.IBS sering kali disebut sebagai suatu kumpulan keluhan dan bukan penyakit maag tertentu. Kembung, banyak gas dan perasaan tidak nyaman adalah keluhan yang paling sering dialami pasien selain diare dan sulit buang air besar.
Label “IBS” sering digunakan ketika pemeriksaan laboratorium atau penunjang lain seperti USG atau Endoskopi tidak merujuk pada diagnosis spesifik untuk menjelaskan gejala yang ada. Irritable Bowel Syndrome biasanya kronis, dan membuat masalah dalam kehidupan pasien yang nyata
IBS Terkait dengan Kecemasan dan Depresi
Stres dan kecemasan telah terbukti mengganggu fungsi pencernaan. Diperkirakan bahwa hingga 60% orang yang mencari perawatan medis untuk IBS juga melaporkan kecemasan dan / atau gangguan mood. Beberapa penelitian mengatakan pasien Gangguan Panik sebagai salah satu tipe Gangguan Kecemasan yang paling sering dialami mempunyai kerentanan mengalami IBS antara 25-40%. Beberapa peneliti percaya bahwa orang dengan IBS yang sensitif terhadap bahan kimia stres tertentu, sehingga respon berlebihan dari usus besar.
Beberapa hal yang memperburuk gangguan panik juga dapat memperburuk gejala IBS. Misalnya, stres, alkohol dan kafein cenderung memicu serangan panik dan telah juga dikaitkan dengan gejala IBS meningkat. Untuk itu perlu penanganan kasus IBS bersama dengan psikiater yang memahami kondisi hubungan antara stres dan gangguan perut yang dialami.
Tips untuk Mengelola Gejala IBS
1. Memilih Makananan Yang Benar
Sering kali, gejala IBS diperburuk oleh makanan atau minuman tertentu. Ini sering disebut “memicu”, dan mereka berbeda untuk setiap orang. Pemicu umum yang telah terbukti dapat meningkatkan gejala IBS, meliputi : minuman dan makanan yang mengandung kafein, Alkohol, sayuran mentah, kulit di buah, Makanan tinggi lemak, minuman bersoda, produk susu.
Mungkin tidak semua orang mengalami gejala-gejala IBS dengan pemicu makanan yang sama. untuk itu anda perlu mengatur menu harian anda dan melihat apakah ada makanan tertentu yang lebih mudah memicu terjadinya IBS anda.
2. Mengelola Stres
Stres yang berlebihan telah dikaitkan dengan gejala IBS meningkat dan peningkatan gejala gangguan panik. Relaksasi dan meditasi mindfulness telah banyak dilakukan untuk mengurangi stres yang berlebihan. Pasien dengan keluhan IBS juga perlu untuk mengatasi dan beradaptasi dengan stres yang dialami oleh dirinya. Reaksi stres yang berlebihan perlu diingat akan memudahkan terjadinya IBS pada diri pasien.
3. Berkunjung ke Psikiater
Sering kali pengobatan IBS oleh dokter menggunakan obat penenang dalam salah satu obatnya. Biasanya yang diberikan adalah golongan benzodiazepine. Perlu selalu diingat akan adanya potensi ketergantungan dan toleransi (dosis obat meningkat karena efeknya sudah tidak didapatkan lagi dengan dosis awal) dalam pemakaian obat jenis penenang benzodiazepine. Penggunaan obat yang rasional sangat diperlukan apalagi IBS adalah penyakit yang kronis dan berulang. Pasien yang mengalami IBS bisa melakukan konsultasi kepada psikiater berhubungan dengan hal-hal yang memicu stresnya dan juga bagaimana mengobati gangguan panik atau gangguan kecemasan lainnya yang sering berbarengan terjadinya pada pasien dengan gangguan IBS. Terapi yang tepat pada pasien secara psikiatri akan memperbaiki kondisi medis umum terkait IBS-nya.
Intinya adalah sebagai salah satu keluhan psikosomatik, maka IBS adalah salah satu kumpulan gejala sakit yang sangat erat hubungannya dengan aspek psikologis orang yang mengalaminya. Terapi pengobatan yang interdisiplin dan meliputi semua aspek akan sangat baik bagi penyelesaian kasus IBS dalam praktek sehari-hari.
Salam sehat jiwa
1339168880102712620
Artikel di Majalah Info Serpong tahun 2011 (dok pribadi)

Kamis, 31 Mei 2012

CUTI PRAKTEK

Untuk info lebih lanjut hubungi : 
(021) 53128555 atau (021) 53128222

Terima kasih,
dr.Andri,SpKJ
Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera

Minggu, 06 Mei 2012

Psikoterapi Untuk Pasien Medis Umum (Laporan Konas Psikoterapi 2012)


oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater)

Hari ini baru saja saya memaparkan makalah saya berjudul “Brief Psychotherapy in Medically Ill Patient” atau Psikoterapi Singkat pada Pasien Kondisi Medis di penyelenggaraan Konas Psikoterapi di Hotel Novotel Mangga Dua, Jakarta. Sebagai psikiater yang mendalami bidang Consultation-Liaison Psychiatry dan Psikosomatik Medis, topik psikoterapi pun saya pilih yang berhubungan dengan kondisi medis umum.
Psikoterapi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kemampuan psikiater dalam merawat pasien-pasiennya. Beberapa kasus psikiatri yang ditemukan di klinik malahan lebih mengedepankan psikoterapi daripada psikofarmaka. Psikiater yang bekerja di rumah sakit umum sebagai bagian dari tenaga konsultan ataupun sebagai anggota tim dari suatu tim medis khusus juga akan sering melakukan psikoterapi pada pasiennya. Hanya saja biasanya psikoterapi yang dilakukan oleh psikiater pada pasien dengan kondisi medis umum agak berbeda dengan apa yang dilakukan pada pasien psikiatri yang tanpa mengalami kondisi medis umum. (Wise and Rundell,2005)

Pasien dengan kondisi medis umum sering kali mengalami gangguan mental emosional karena menderita sakitnya. Mereka juga sering kali menggunakan mekanisme adaptasi yang kurang dewasa walaupun pada banyak kondisi keadaan sakit berat pun dapat diterima dengan baik oleh pasien. Laporan dari Academy of Psychosomatic Medicine yang dipaparkan pada presentasi berjudul Value Added by CL/PM Services to Prevention & Treatment of Mental Disorders in the General Hospital mengatakan bahwa faktor psikososial bertanggung jawab terhadap 18-20% hari perawatan pasien di rawat inap (Saravay et al, 2010). Walaupun demikian pasien biasanya tidak menyadari adanya kondisi mental emosional yang dialaminya. Hal ini yang membuat proses konsultasi dan psikoterapi oleh psikiater biasanya terjadi karena permintaan dokter yang merawat pasien dan bukan dari pasiennya sendiri.

PSIKOTERAPI MEDIS
Psikoterapi yang dilakukan oleh pasien dengan kondisi medis umum di rumah sakit umum pada banyak kepustakaan dikenal dengan istilah psikoterapi medis atau medical psychoterapy (Wise and Rundell, 2005). Dr Lipsitt tahun 2002 mengatakan bahwa Psikoterapi Medis ditujukan untuk pasien medis umum dan dilakukan oleh dokter yang terlatih di bidang psikiatri. Psikoterapi medis harus dilakukan oleh psikiater karena selain perlu melakukan psikoterapi, psikiater juga perlu memahami kondisi medis umum yang dialami pasien. Latar belakang dokter membuat psikiater lebih mampu memahami kondisi medis umum daripada praktisi psikoterapi lainnya (Lipsitt, 2002).

Hal yang mendorong dokter untuk mengkonsultasikan kepada psikiater untuk dilakukan psikoterapi biasanya berhubungan dengan kondisi mental emosional pasien yang mempersulit penyembuhan dan perawatan pasien. Kondisi mental emosional yang dimaksud biasanya berhubungan dengan ciri kepribadian tertentu yang dimiliki pasien. Selain itu pasien dikonsulkan kepada psikiater untuk dilakukan psikoterapi jika terdapat masalah hubungan komunikasi antara pasien dan staf rumah sakit yang sekiranya dianggap dapat menghambat terapi pasien.
Beberapa pasien tidak menyadari adanya masalah emosional yang dialaminya dan bagaimana kondisi itu berpengaruh terhadap proses pengobatan pasien. Inilah yang membuat pasien kurang termotivasi untuk menjalani psikoterapi yang diberikan atas saran dokter yang merawat karena bukan atas keinginan pasien sendiri. Namun demikian banyak pasien yang menyenangi proses psikoterapi ini. Pasien sering menganggap bahwa konsultasi dengan psikiater dalam cakupan psikoterapi adalah suatu bonus dalam perawatan medisnya.
Banyaknya hal yang mempengaruhi proses psikoterapi pada pasien dengan kondisi umum di perawatan inap membuat psikiater biasanya melakukan psikoterapi secara singkat. Singkat dalam hal ini diartikan dari waktu pertemuan dan jumlah sesi psikoterapi yang diberikan. Walaupun demikian banyak manfaat yang bisa diambil dari proses psikoterapi singkat ini. Itulah mengapa dalam praktek, psikiater perlu memahami dengan baik teknik psikoterapi singkat sehingga pertemuan tunggal pun akan berguna bagi pasien.
Sampai bertemu di Konas Psikoterapi selanjutnya.
Salam Sehat Jiwa