psikosomatik

psikosomatik

Senin, 25 April 2016

Pencegahan Depresi Pada Lanjut Usia

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik Omni Hospitals Alam Sutera) 

Saya baru saja menghadiri dan menjadi pembicara di 4th Asian Central Nervous System Summit meeting di Bangkok, Thailand. Pada kesempatan kali ini saya tidak hanya datang sebagai peserta sebagaimana ACNS pertama di Chengdu, Republik Rakyat Tiongkok tahun 2013 lalu tetapi juga berkesempatan untuk menjadi pembicara untuk topik bagaimana mencegah depresi pada usia lanjut. Selain itu juga saya menjadi moderator pada acara ini berkaitan dengan tema Mental Health Issues in Asia. 

Topik saya adalah sekian kecil topik yang membahas tentang bagaimana mencegah gangguan jiwa khususnya pada usia lanjut. Beberapa pembicara lain lebih fokus pada diagnosis dan terapi terbaru di bidang gangguan jiwa khususnya depresi dan gangguan cemas. Pembicara dari Asia sendiri hanya terdiri dari 3 orang yaitu Prof Kongsakon dari Thailand, Prof Kim Jae Min dari Korea Selatan dan saya sendiri. Dominasi pembicara Asia di acara seminar di Asia sendiri memang masih kurang sampai saat ini. Pembicara lain berasal dari USA, Italy, United Kingdom dan Belanda.  

Ledakan Populasi Lanjut Usia di Asia 
Presentasi saya dibuka dengan menunjukkan adanya suatu kondisi yang perlu menjadi perhatian yaitu tingginya angka populasi lanjut usia di Asia dan Global. Khususnya untuk Asia saja, tahun 2000 populasi lanjut usia yang 206.822 akan meningkat dua kali lipat di tahun 2025 menjadi 456.303 dan tiga kali lipat di tahun 2050 menjadi 857.040. Untuk Asia Tenggara sendiri populasinya di tahun 2000 berjumlah 24.355 dan menjadi dua kali lipat di tahun 2025 menjadi 57.836. Sedangkan di tahun 2050 diprediksikan akan bertambah empat kali lipat menjadi 128.958. Data ini diambil dari laporan United Nations di tahun 2001.  Sangat menariknya adalah pertambahan populasi lanjut usia ini hanya terjadi di benua Asia sedangkan di benua lain seperti Eropa, Amerika dan Afrika termasuk stabil sejak 1980. (Sumber : World Population Aging 2015 : Highlights.United Nation)  

Ledakan usia populasi lanjut usia ini menimbulkan masalah terkait lanjut usia termasuk gangguan jiwa pada populasi ini yang akan mengalami peningkatan juga. Populasi gangguan jiwa pada lanjut usia menurut laporan WHO sebesar 15% dan yang terbanyak adalah depresi dan demensia.     

Perbedaan Depresi Pada Lanjut Usia 
Depresi adalah gangguan kejiwaan yang sangat sering dialami oleh manusia. Gejala yang berkaitan dengan suasana perasaan ini sangat mengganggu kualitas hidup dan meningkatkan risiko kematian akibat bunuh diri. Pasien yang mengalami gangguan depresi memiliki ciri dan gejala yang mengenai perasaan, pikiran dan perilaku. Gejala umum seperti rasa sedih yang berlebihan, penurunan mood, putus asa dan tiada harapan serta tidak ingin beraktifitas seperti biasa karena rasa lelah dan tidak ada keinginan bergerak yang sangat berat.  

Pada lanjut usia gejala depresi lebih sering dikeluhkan sebagai gejala berkaitan dengan fisik seperti banyaknya keluhan fisik seperti nyeri, rasa lelah, sulit tidur dan gangguan konsentrasi. Sering gejala ini terkaburkan dengan gejala demensia sehingga tidak jarang pasien depresi pada lansia juga mengalami apa yang disebut pseudodementia atau demensia palsu karena walaupun tidak mengalami demensia tapi mengalami penurunan memori yang cukup signifikan akibat depresinya.  

Masalah yang terkait depresi pada lanjut usia sayangnya tidak dikenali baik di pelayanan kesehatan primer dan sekunder karena masih banyaknya pendapat kalau depresi atau gangguan suasana perasaan pada lanjut usia adalah sesuatu yang wajar karena proses penuaannya. Penelitian yang dimuat di Jurnal Canadian Psychiatry, Vol49, Suppl 1, March 2004 mengatakan bahwa pasien gangguan depresi pada lansia hanya bisa dideteksi oleh dokter di pelayanan primer tidak lebih dari 51%. Padahal prevalensi gangguan depresi lansia di pelayanan primer bisa mencapai 4.4% pada wanita dan 2.7% pada laki-laki. 

Selain itu faktor klasik stigma gangguan jiwa juga masih turut menghantui orang untuk mencari pertolongan untuk masalah gangguan jiwa.  Masalah depresi pada lanjut usia juga semakin dipersulit karena faktor terkait masalah medis yang dialami individu dan juga fisiologis yang sudah semakin berkurang fungsinya. Belum lagi penggunaan obat yang banyak pada beberapa lansia dengan penyakit yang beragam. Tidak heran jika angka kesembuhan depresi pada lansia hanya berkisar 30% saja.  

Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati 

Populasi Lanjut Usia memang akan terus meningkat terutama di Asia. Jika kita tidak mencegah masalah gangguan jiwa pada lanjut usia khususnya depresi maka akan sangat menimbulkan masalah di kemudian hari. Produktifitas yang rendah dari lanjut usia ditambah dengan masalah gangguan jiwa akan membuat kompleks penanganan dan kondisi keseharian tempat tinggal lanjut usia tersebut.  Beberapa faktor risiko bisa dikenali baik dan dimodifikasi baik. 

Saat kemarin saya presentasi, masalah faktor risiko ini menjadi lebih dapat perhatian daripada sekedar penanganan kasus-kasus depresi lansia yang sebenarnya tidak mempunyai angka kesembuhan yang terlalu baik. Faktor seperti makanan sehat, olahraga, sosialisasi, berhenti merokok dari sekarang dan tidak minum alkohol adalah hal-hal yang sebenarnya mudah dilakukan segera sejak muda. Makanan sehat sendiri dalam seminar ini banyak dibahas terutama terkait dengan minyak ikan omega 3 yang mempunyai faktor proteksi terhadap terjadinya depresi dan gangguan perasaan lain pada individu. 

Sosialisasi yang baik di antara individu bukan dari sekedar jumlah kelompok yang dimiliki tetapi juga kualitas hubungan sosialisasi itu menjadi faktor utama sebagai pencegah stress atau stress buffering . Pola hidup sehat selama ini kadang tidak menjadi perhatian utama karena dianggap hanya dilakukan jika perlu saja. Bahkan ada beberapa yang berpendapat bahwa pola hidup sehat membuat orang seperti tidak menikmati hidup.  Pada akhir presentasi saya mengingatkan kembali bahwa dengan prevalensi angka kejadian depresi lansia yang tinggi dan tingkat kesembuhan yang rendah, maka ada baiknya upaya pencegahan depresi sejak dini adalah salah atu yang harus lebih ditekankan. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Salam Sehat Jiwa.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/psikosomatik_andri/pencegahan-depresi-pada-lanjut-usia_571ec87af57e61ea0423e7a7

Saat tampil mempresentasikan presentasi (dok.pribadi)

Bersama para pembicara lain dalam jamuan makan malam (dok.pribadi)

Sabtu, 09 April 2016

Praktek Minggu Pagi Selama Bulan Juni 2016

Yth Bapak/Ibu Sekalian

Dengan Hormat,
Demi meningkatkan pelayanan selama bulan Ramadhan 1437H, maka selama bulan Juni 2016 akan ada praktek tambahan di Minggu Pagi yaitu pada tanggal 5, 12, 19 dan 26 Juni 2016 pada jam 8.30-11.00 (menerima paling banyak 12 pasien saja)
Libur Idul Fitri akan dimulai tanggal 28 Juni 2016 s.d. 8 Juli 2016. 
Klinik Psikosomatik akan buka kembali SABTU, 9 Juli 2016. 
Terima kasih banyak atas perhatiannya

Salam Sehat Jiwa
dr.Andri,SpKJ,FAPM 
Kepala Klinik Psikosomatik Omni Hospital Alam Sutera

Senin, 04 April 2016

Efek Penggunaan Alprazolam Yang Tidak Sesuai Indikasi

Efek Penggunaan Alprazolam Yang Tidak Sesuai Indikasi

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik Omni Hospitals Alam Sutera)

Sejak salah seorang pasien menuliskan tentang pengalamannya melepaskan diri dari alprazolam (tulisannya bisa dibaca di http://psikosomatik-omni.blogspot.co.id/2011/08/akhirnya-lepas-dari-ketergantungan.html) banyak pasien yang mendatangi saya untuk berkonsultasi dengan masalah yang sama. Menariknya kasus ini rata-rata mirip latar belakangnya yaitu pasien diberikan obat tersebut tanpa tahu karena dokter yang meresepkannya mengatakan obat tersebut adalah obat racikan obat lambung.

Pada beberapa kali kesempatan bertemu dengan dokter umum atau spesialis dan memberikan seminar tentang penggunaan obat golongan benzodiazepine (alprazolam termasuk obat golongan ini) saya selalu menekankan perlunya untuk mengatasi masalah pasien dengan obat yang sesuai indikasinya. 

Penggunaan obat golongan penenang jenis benzodiazepine ini memang menjadi perhatian saya sejak mulai berkecimpung di dunia psikiatri. Badan kesehatan dunia WHO pada laporannya mengatakan 80% peresepan benzodiazepine dilakukan oleh dokter umum di pelayanan primer. Sejak ditemukan di tahun 1957 dalam bentuk sediaan Chlordiazepoxide sebagai sediaan benzodiazepine pertama yang ditemukan oleh Leo Sternbach (1908-2005) maka penemuan selanjutnya semakin banyak berkaitan dengan obat golongan ini dan penggunaannya semakin marak di praktek klinis.

Benzodiazepine sebagai obat lambung?

Penggunaan benzodiazepine sebagai salah satu pelengkap obat lambung sebenarnya sudah lama dikenal. Librax suatu merk dagang obat yang diindikasikan untuk tambahan terapi tukak (ulkus) peptikum dan irritable bowel syndrome (IBS)mengandung Chlordiazepoxide 5mg dan Clidinium Br 2,5mg. Dalam keseharian praktek sehari-hari banyak dokter juga yang mencampur beberapa obat golongan benzodiazepine dengan obat lambung lainnya agar mendapatkan efek yang baik untuk lambung pasien.

Hal ini dikarenakan pada banyak kasus masalah lambung di pelayanan praktek sehari-hari lebih berkaitan dengan dispepsia fungsional di mana keterlibatan aksis otak dan lambung (brain gut axis) sangat kentara. Secara praktik klinis banyak dokter yang menyimpulkan bahwa masalah yang terkait dengan lambung yang dialami pasien adalah masalah terkait stres.
Obat golongan benzodiazepine yang mempunyai efek menenangkan sistem saraf pusat lewat jalur GABA (Gama-amino-butiric-acid) secara umum mempunyai efek menenangkan sistem saraf otonom juga yang berkaitan dengan sistem pencernaan. Selain itu secara embriologi asal lambung dan otak berasal dari satu batang otak (core) yang berkembang terpisah selanjutnya. Tidak heran hubungan antara lambung dan susunan saraf pusat.

Alprazolam salah satu obat golongan benzodiazepine yang paing dikenal di kalangan dokter dan pasien. Banyak dokter juga menggunakan obat ini untuk mengatasi masalah kecemasan, gangguan tidur dan juga gangguan psikosomatik termasuk gangguan lambung terkait masalah psikosomatik. Sayangnya kurangnya pengetahuan banyak dokter tentang efek obat ini di dalam sistem saraft pusat dan bagaimana menggunakannya secara tepat sering menyebabkan masalah di kemudian hari. Salah satunya adalah kesulitan lepas dari obat ini dan reaksi putus zat yang sangat tidak nyaman.

Salah satu masalah yang ditimbulkan penggunaan alprazolam dikarenakan penggunaan yang rutin (lebih dari 4 minggu), tanpa jeda (tidak intermitten) dan dosis besar walaupun terbagi dalam beberapa kali penggunaan sehari. Pengalaman klinis saya menangani masalah kesuitan lepas dari alprazolam pada pasien-pasien yang sebenarnya tidak mengetahui bahwa dirinya diberikan alprazolam oleh dokternya mengatakan bahwa pemakaian lebih dari 4 minggu secara rutin obat ini bisa menimbulkan efek tidak nyaman ketika dilepaskan salah satunya tidak bisa tidur. Jadi ada beberapa pasien yang ketika mulai menggunakan obat racikan alprazolam ini sebenarnya tidak mengalami sulit tidur tetapi karena menggunakan alprazolam dan akhirnya dilepas karena merasa sakit lambungnya sudah baik malah tidak bisa tidur.

Selain gangguan tidur, penggunaan lama alprazolam dapat menyebabkan masalah jika dilepas tiba-tiba seperti ganguan kecemasan dan rasa tidak nyaman terkait dengan gejala fisik. Hal inilah yang akhirnya menjadi masalah yang sulit ditangani. Penggunaan alprazolam yang tidak sesuai indikasi utamanya dan dalam waktu lama akan menyebabkan masalah. Sebagai informasi indikasi utama alprazolam adalah untuk mengatasi gejala gangguan kecemasan panik karena sifatnya yang sedatif (menenangkan) dan efeknya cepat.

Hindari penggunaan lama dan rutin
Alprazolam adalah obat yang sangat diperlukan di dalam praktek sehari-hari. Efektifitasnya yang baik dalam menangani serangan panik pada pasien gangguan kecemasan sampai saat ini belum ada yang bisa menandingi. Namun demikian penggunaannya untuk indikasi lain perlu diwaspadai termasuk untuk membantu masalah insomnia atau kesulitan tidur.

Salah satu yang perlu dipikirkan adalah bahwa pasien harus mengetahui bahwa obat yang digunakannya mempunyai potensi menimbulkan masalah jika digunakan dalam waktu lama dan rutin. Dokter yang meresepkannya juga perlu memahami dengan baik penggunaan obat ini. Pemberian informasi kepada pasien tentang obat ini sangat perlu agar pasien dan dokter juga bisa bekerja sama untuk jalan terbaik dalam pengobatan.


Hindari penggunaan lama dan rutin untuk mengatasi masalah pasien. Penggunaan lama dan rutin harus atas pengawasan dokter ahli jiwa atau psikiater yang memahami masalah ini. Jika tidak masalah di depan akan bisa didapatkan apalagi jika pasien mempunyai riwayat masalah narkotika dan alkohol. Semoga informasi ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa 


Minggu, 03 April 2016

Jadwal Cuti Praktek (Update per 21 April 2016)

  1. 21-24 April 2016 (Menjadi Pembicara di CNS Summit di Bangkok)
  2. 19-22 Mei 2016 (Menjadi Pembicara di Konas Psikosomatik Padang)
  3. 25 Juni 2016 (acara keluarga) 
  4. LIBUR IDUL FITRI 30 Juni s.d. 10 Juli 2016