psikosomatik

psikosomatik

Rabu, 23 November 2011

Kenapa Panik Saya Kambuh,Dok?


oleh : dr.Andri,SpKJ

Setahun berlalu, pasien saya ini kembali lagi karena keluhannya berulang. Pasien laki-laki usia 40 tahun, seorang manager menengah di sebuah perusahaan asing ternama. Usut punya usut, ternyata kekambuhan gangguan paniknya dipicu adanya suatu peristiwa menyaksikan mertuanya meninggal karena serangan jantung. Kondisi ini tentunya kembali memicu pasien mengalami serangan panik yang sekiranya dianggap oleh dirinya memang sama gejalanya dengan serangan jantung. 

Kenapa Bisa Kambuh ?
Kekambuhan pada orang yang mengalami gangguan panik memang cukup besar. Layaknya gangguan depresi yang angka kekambuhannya mencapai 50%, setidaknya gangguan panik juga bisa demikian. Banyak faktor yang dihubungkan dengan kekambuhan gangguan panik ini. Beberapa sebenarnya sangat berhubungan erat faktor biopsikososial yang mendasari berbagai macam gangguan jiwa.  Saya akan sedikit membahasnya dari beberapa segi tersebut. 

A. Biologi
Serangan panik dihubungkan karena aktifitas sistem saraf di otak yang meningkatkan sistem saraf otonom parasimpatis dan simpatis. Sistem ini menjadi kurang stabil kerjanya dipicu oleh stres yang berkepanjangan dan seringkali tidak disadari oleh pasien. Saya selalu mengatakan kepada pasien bahwa yang terjadi adalah sistem alarm di otak yang salah, di mana ketika serangan panik terjadi biasanya terjadi tiba-tiba dan tidak dipicu oleh sesuatu. Kondisi terpicunya ini disebabkan karena fungsi saraf salah mengartikan signal alarm di otak. Pada dasarnya kita membutuhkan "kecemasan" sebagai bagian dari mekanisme pertahanan tubuh terhadap perubahan atau bahaya yang mengancam, tetapi jika berlebihan maka akan menjadi tidak proporsional dan merusak sistme lainnya. 
Pada kondisi pasien yang panik, setelah diobati kondisi ini bisa kembali normal. Sayangnya sering menjadi rusak kembali ketika faktor biologis yang dibetulkan dengan obat saat pengobatan tidak dibarengi dengan upaya untuk manajemen stres. Jadi akhirnya bisa saja kondisi kesalahan sistem alarm ini berulang

B. Psikologis
Kepribadian dan latar belakang psikologis seseorang sangat berhubungan dengan mekanisme pertahanannya terhadap stres. Kepribadian tipe A yang dicirikan dengan sifat buru-buru, sulit menerima penolakan, konsisten, persisten, ingin selalu dituruti kemauannya, ingin selalu dalam kondisi yang dia harapkan adalah beberapa sifat yang erat kaitannya dengan munculnya stres dan rusaknya sistem pertahanan stres di otak. Jika perbaikan sistem di otak dengan obat tidak dibarengi dengan perbaikan daya adaptasi yang berkaitan dengan kepribadian ini, maka hasilnya gaya kepribadian seperti ini bisa memicu dan menimbulkan kerusakan sistem alarm otak kembali. 

C. Sosial Lingkungan
Faktor yang berhubungan dengan sosial lingkungan tidak bisa dilepaskan dari kekambuhan pasien serangan panik. Kondisi lingkungan yang penuh stres dan menekan dapat membuat pasien terus-terusan dalam keadaan tertekan dan stres. Hal ini yang bisa memicu ketidakseimbangan sistem saraf di otak yang akhirnya bisa memicu kembali alarm yang salah yang dipersepsikan oleh pasien sebagai serangan panik. 
Ketiga faktor di atas sangat penting diperhatikan ketika saya berhadapan dengan pasien gangguan panik. Bukan hanya pemberian obat tetapi juga manajemen stres dan langkah-langkah perbaikan atau modifikasi lingkungan sosial. Satu hal yang paling  penting terkadang persepsi stres pasien juga sangat memegang peranan. Kondisi stres psikis lebih sering berhubungan dengan persepsi, untuk itulah melatih diri dengan berpikir lebih positif adalah cara yang sangat disarankan untuk terus dilatih. 
Semoga bermanfaat.
Salam Sehat Jiwa 

Jumat, 18 November 2011

Gangguan Panik Obatnya Apa ?

Pertanyaan :


Halo dr Andri, salam kenal. saya mengalami serangan panik dan gejala panik sudah 3 kali. pertama tahun 2008 april, kedua tahun 2009 oktober dan ketiga oktober 2011 . Sudah beberapa dokter sudah saya kunjungi semua mengatakan saya ansietas dan serangan panik, dan mereka selalu memberikan obat alprazolam. Pada awalnya saya tidak mengindahkan kata mereka utk minum obat karena kebiasaan saya tdk suka minum obat. tapi gejala panik ini masih terasa di saya dan sangat mengganggu saya dalam aktifitas, maka dengan ini saya membaca tulisan dokter tentang obat golongan SRRI jauh lebih aman dari golongan benzodiazepam ? ingin saya tanyakan jenis obat SRRI yang mana ? paxil atau apa yang lebih aman ? dan yang paling kecil ukurannya berapa miligram ?. karena yg saya baca juga sejak thn 2009 FDA telah melarang menggunakan aprazolam utk
pasien ansietas karena adiksi . Lalu bagaimana cara penggunaan/terapi obat golongan SRRI, minum berapa kali sehari dan kapan berhenti , supaya saya terbebas dari penyakit ansietas ini utk selamanya. saya sangat berterima kasih dokter utk jawabannya.  (dari : AC)



Jawaban : 


Pasien dengan gangguan panik memang seringkali pada saat datang pertama kali ke dokter umum, dokter spesialis non-jiwa ataupun dokter jiwa diberikan anticemas seperti Alprazolam. Hal ini karena Alprazolam sangat efektif dalam mengatasi kondisi serangan panik dan kecemasan ikutan yang sering dialami pasien gangguan panik. Tidak heran obat ini seperti layaknya "kacang goreng" karena indikasinya jadi sangat melebar dari awalnya ditujukan untuk gangguan panik, sekarang ini diberikan juga untuk pasien yang dispepsia, sulit tidur, sering berdebar, bahkan untuk pasien dengan kasus-kasus medis yang erat kaitannya dengan kecemasan seperti sakit jantung koroner. Obat ini memang ampuh mengatasi cemas dan bekerja cepat. 
Sayangnya obat ini memiliki waktu paruh obat yang pendek, membuatnya hanya efektif dalam waktu 4-6 jam saja sehingga akan ada kecenderungan untuk memakai lagi terutama jika pada pasien gangguan panik. Selain itu kondisi pasien dengan menggunakan anticemas alprazolam juga sering kali menjadi sulit lepas dari obat ini karena memang memiliki potensi ketergantungan yang besar jika dipakai lebih dari dua minggu saja. Sulit lepas ini juga disebabkan karena efek putus zat obat ini sangat tidak nyaman, ada yang langsung tiba-tiba stop dan merasakan kecemasan yang lebih parah daripada sebelumnya.
Maka dari itu penggunaan obat ini harus hati-hati dan kalau bisa sesuai dengan indikasi saja. Belakangan karena potensi ketergantungan, toleransi (makin besar pake makin lama) dan reaksi putus zat, obat ini sudah tidak menjadi pilihan pertama lagi sebagai obat anticemas di Amerika Serikat, di sana lebih cenderung menggunakan Antidepresan gol SSRI seperti Sertraline, Fluoxetine, Paroxetine (Paxil). Penggunaan antidepresan untuk pasien gangguan panik juga biasanya dimulai dengan dosis kecil karena pasien gangguan panik sering lebih sensitif terhadap efek samping obat antidepresan yang biasanya berlangsung pada minggu pertama pemakaian. Obat biasanya digunakan selama 4-6 bulan untuk mencegah kekambuhan. Selain obat perlu ada terapi lain termasuk edukasi tentang kondisi kecemasan panik dan manajemen stres.
Semoga berguna jawaban ini


Salam Sehat Jiwa
Dr.Andri,SpKJ 
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis 
Klinik Psikosomatik RS OMNI ALAM SUTERA

Selasa, 15 November 2011

Ketika Serangan Panik Datang

Jakarta, Kalau Anda tiba-tiba merasakan jantung berdebar sangat cepat saat kondisi tenang dan tidak ada tekanan, apa yang kira-kira Anda pikirkan? Pasti kelainan jantung merupakan hal yang pertama kali terlintas di benak. Apalagi jika keluhannya ditambah dengan perasaan sesak napas, sulit mengambil napas, gemetaran dan seperti ingin pingsan? Pasti Anda akan semakin yakin ini suatu gangguan fisik bukan?

Satu kisah menarik dari kamar praktik saya adalah ketika seorang pasien laki-laki, sebut saja Michael namanya, usianya baru 35 tahun datang dengan keluhan seperti di atas. Saat kejadian itu ia sedang berada di jalan menuju kantornya di daerah Sudirman. Michael menjadi sangat ketakutan akan keadaan ini sampai ia meminggirkan mobilnya. Saat itu ia merasa takut mati sehingga membuatnya ke unit gawat darurat (UGD) sesaat jantungnya sudah mulai terasa berkurang debarannya 10 menit kemudian.

Di UGD, Michael diperiksa jantung dan laboratorium penunjang lainnya. Hasilnya semua dalam batas normal. Michael kemudian bingung apa yang baru saja dialaminya. Dokter menyarankan Michael untuk tidak khawatir karena tidak ditemukan kelainan apa-apa. "Mungkin Anda sedang kecapaian saja," kata si dokter menenangkan.

Kasus di atas cukup sering ditemukan sebagai salah satu kasus gangguan kesehatan jiwa yang bermanifestasi gejala fisik. Kalangan kesehatan jiwa menyebutnya sebagai serangan panik. Orang yang mengalami biasanya mengira ia terkena serangan jantung karena gejalanya sangat mirip dengan gangguan tersebut. Bedanya adalah dalam durasi waktu, serangan panik biasanya hanya berlangsung paling lama 15 menit saja dan setelah itu terjadi penurunan gejala yang dialami. 

Ada beberapa gejala serangan panik yang sering dialami oleh pasien. Gejalanya yang paling sering adalah sebagai berikut:

  1. Jantung berdebar dan peningkatan denyut jantung
  2. Berkeringat
  3. Badan terasa gemetar atau berguncang
  4. Perasaan napas yang pendek
  5. Perasaan seperti tercekik
  6. Sakit dada atau perasaan tidak nyaman
  7. Mual atau merasa tidak enak di perut
  8. Merasa pusing
  9. Tidak stabil
  10. Kepala terasa ringan atau mau pingsan
  11. Takut kehilangan kontrol atau menjadi gila
  12. Perasaan takut mati
  13. Kesemutan atau seperti baal dan rasa seperti terbakar atau kepanasan.

Gangguan panik didiagnosis bila dalam waktu sebulan terakhir telah terjadi lebih dari 3 (tiga) kali serangan panik. Serangan panik ini terjadi tiba-tiba dan di antara serangan panik tersebut pasien merasa khawatir jika dirinya mengalami keadaan itu lagi (kecemasan antisipasi). Serangan panik ini juga telah mengganggu fungsi pasien sehari-hari baik pribadi dan sosial. 

Agorafobia

Jika pasien mengalami serangan panik yang berulang, maka kebanyakan pasien menjadi takut untuk keluar rumah sendirian. Hal ini disebabkan pasien takut bila tiba-tiba saat ia sendiri di luar rumah, serangan panik itu datang lagi dan tidak ada yang menolongnya. Ketakutan tersebut dinamakan agorafobia. 

Agorafobia biasanya juga diikuti oleh penghindaran terhadap situasi yang dapat membuat timbulnya kecemasan pasien. Hal ini yang menyebabkan pasien dengan gangguan panik biasanya takut bila keluar rumah sendiri tanpa ditemani. 

Pasien juga menjadi malas keluar rumah atau bersosialisasi dengan teman serta kerabat di tempat-tempat terbuka. Apalagi bila ia harus ke tempat seperti itu sendirian. Hal ini tentunya menurunkan kualitas hidup pasien tersebut. 

Apa yang dapat dilakukan?

Kualitas hidup pasien gangguan panik tentunya mengalami penurunan akibat konsekuensi dari penyakitnya. Untuk itu tatalaksana yang tepat dan menyeluruh sangat dibutuhkan agar pasien dapat kembali hidup normal.

Jika memang dalam pemeriksaan fisik dan penunjang tidak terdapat hasil yang mendukung ke suatu diagnosis penyakit seperti jantung dan tiroid (gondok) maka diagnosis gangguan panik harus segera dipertimbangkan.

Pemeriksaan fisik dan penunjang yang lengkap penting karena gejala serangan panik seringkali mirip dengan gejala-gejala penyakit yang sering kita temukan dalam praktik seperti penyakit jantung dan gangguan tiroid (gondok). Rujukan ke seorang ahli kesehatan jiwa atau psikiater juga dapat dilakukan demi tegaknya diagnosis dan penatalaksanaan yang segera dan menyeluruh.

Seperti tatalaksana kebanyakan gangguan kesehatan jiwa, pengobatan gangguan panik juga meliputi pengobatan dengan obat dan psikoterapi. Penggunaan obat untuk gangguan panik telah mendapatkan rekomendasi dari badan obat dan makanan Amerika (FDA) dan juga dari badan pengawasan obat dan makanan (POM) Indonesia. 

Pasien tidak perlu khawatir akan efek ketergantungan terhadap obat yang sering ditakutkan oleh masyarakat bila memakan obat-obat dari ahli kesehatan jiwa. Kerjasama antara dokter dan pasien serta informasi yang akurat dan lengkap akan efek obat serta hal-hal yang menyangkut penggunaannya haruslah diketahui sejak awal berobat. 

Pasien tentunya mempunyai hak untuk bertanya kepada dokter tentang obat yang dimakannya serta efek samping yang mungkin timbul. Tentunya kewajiban dokter untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar obat yang digunakan. Keteraturan kontrol berobat dan kepatuhan akan dosis obat juga akan menghindarkan pasien dari hal-hal yang tidak diinginkan dari penggunaan obat yang tidak tepat. 

Psikoterapi dengan menggunakan teknik terapi kognitif juga sangat diperlukan. Pasien gangguan panik biasanya mempunyai keyakinan yang salah akan penyakitnya. Pasien biasanya sering salah mengintepretasikan sensasi di tubuhnya sebagai tanda awal serangan panik. Informasi tentang serangan panik termasuk penjelasan bahwa ketika serangan panik berlangsung, serangan tersebut terbatas watunya dan tidak mengancam jiwa. 

Latihan relaksasi, pernapasan termasuk meditasi juga mempunyai peran yang sangat baik pada pasien gangguan panik. Hal ini membantu pasien untuk dapat mengontrol pernapasannya dan sedapat mungkin relaks sehingga gejala yang timbul dapat ditangani dengan baik secara mandiri oleh pasien pada saat serangan panik datang.

Semoga penjelasan di atas dapat membantu Anda untuk mengenali gejala dan tanda gangguan panik serta cara mengatasinya. Jangan malu untuk berkonsultasi dengan dokter ahli kesehatan jiwa jika mengalami gangguan panik. Salam sehat jiwa.

Penulis





dr. Andri, SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis
Anggota The American Psychosomatic Society
Anggota The Academy of Psychosomatic Medicine
mbahndi@yahoo.com


sumber : detikhealth.com

Sabtu, 12 November 2011

Lecture Notes : Psychosomatic Medicine in Primary Care



















Saat saya menuliskan berita ini, saya sedang menunggu pesawat yang akan mengantar saya kembali ke Cengkareng, Tangerang. Pagi tadi jam 6.20 saya bertolak ke kampus FK UGM Jogjakarta untuk memberikan Lecture Notes : Psychosomatic Medicine in Primary Care. Selain diminta untuk memberikan kuliah, saya juga diminta menjadi panelis bersama Prof Mark Graber dari Department of Family Medicine University of Iowa untuk membahas kasus-kasus yang terangkum dalam buku Kedokteran Keluarga karangan beliau yang banyak membahas kasus-kasus gangguan jiwa di pelayanan primer.

Psikosomatik Untuk Dokter Keluarga
Saya diminta untuk memberikan kuliah tentang bagaimana mengenali gangguan psikosomatik di pelayanan primer. Hal ini disebabkan karena lebih dari 20 persen kasus gangguan psikosomatik yang ada datang ke pelayanan primer terlebih dahulu. Permasalahan menjadi timbul karena kebanyakan pasien-pasien dengan gangguan psikosomatik lebih sering mengeluh gangguan fisik daripada kondisi psikologisnya.
Hal ini yang menyebabkan kasus-kasus psikosomatik yang memang merupakan keluhan fisik dengan dasar psikologis agak sulit didiagnosis di pelayanan primer karena lebih sering daripada tidak dokter pelayanan primer termasuk dokter keluarga lebih banyak fokus pada kondisi fisiknya saja.
Satu hal yang paling terkait dengan kesulitan diagnosis gangguan psikosomatik dan gangguan jiwa terkait adalah sulitnya menentukan diagnosis. Kesulitan ini sangat wajar dialami karena kebanyakan dokter mengira bahwa kondisi kejiwaan adalah sesuatu yang sulit didiagnosis dan memerlukan pemeriksaan yang lama. Padahal dalam beberapa kasus tertentu terutama psikosomatik, gangguan cemas panik dan depresi, penegakan diagnosis bisa dilakukan dengan menggunakan cara-cara penggunaan skala penilaian yang sederhana, atau dengan melihat riwayat datangnya pasien ke pelayanan kesehatan. Pasien dengan banyak keluhan fisik yang seringkali berganti-ganti serta menunjukkan gejala fisik yang tidak didasari oleh hasil pemeriksaan obyektif yang nyata merupakan “kandidat” pasien psikosomatik.

Perkuat Keilmuan Dokter Keluarga
Departemen Dokter Keluarga (Dept of Family Medicine) FK UGM menyadari hal ini. Doktyer keluarga sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan juga sebenarnya mempunyai tanggung jawab dalam menangani kasu-kasus gangguan kejiwaan terkait keluhan psikosomatik. Maka dari itulah dalam rangkain kuliah tamu berupa Lecture Notes dari University of Iowa, diselipkan topik Gangguan Psikosomatik yang oleh beberapa sejawat dokter yang menjadi peserta dikatakan sebagai salah satu gangguan terkait kejiwaan yang paling banyak ditemui mereka.
Penegakkan diagnosis yang tepat dan tata laksana terapi yang sesuai akan sangat membantu pasien dalam mengatasi gangguan psikosomatiknya. Bekal ini yang coba diberikan pada saat “Lecture Notes’ tadi pagi tentang kondisi psikosomatik. Diagnosis dasar yang mendasari keluhan psikosomatik seperti depresi dan gangguan kecemasan juga dibahas agar mengingatkan kembali para dokter tentang adanya kondisi kejiwaan ini yang sangat erat kaitannya dengan psikosomatik. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa orang asia seperti juga Indonesia lebih “suka” mengeluhkan keluhan fisik daripada keluhan psikisnya.
Semoga apa yang telah dilakukan tadi pagi dapat memberikan asupan berharga bagi kepentingan perkembangan dokter keluarga di Indonesia
Salam Sehat Jiwa

Selasa, 08 November 2011

Jadwal Cuti

Dear all,

Karena akan melaksanakan tugas melakukan presentasi dan pelatihan untuk para dokter umum dan spesialis tentang Psikosomatik Medis, maka pada tanggal-tanggal di bawah ini saya akan cuti praktek (semua di hari Sabtu)

Sabtu, 12 November 2011 : Cuti karena akan memberikan kuliah tamu di FK UGM untuk dokter-dokter keluarga dengan topik penanganan kasus Psikosomatik di pelayanan primer
Sabtu, 03 Desember 2011 : Cuti karena akan memberikan seminar di Ambon, Maluku untuk dokter umum dan spesialis dengan topik PSikosomatik Medis, Apa dan bagaimana penatalaksanaan.
Sabtu, 17 Desember 2011 : Cuti praktek karena akan memberikan seminar kepada awam tentang faktor yang berpengaruh terhadap kecerdasan anak

Doakan acara tersebut sukses dan saya diberikan kesehatan untuk menjalankan semuanya dengan baik. 

Senin, 07 November 2011

Masalah Remaja : On Air di TV ONE


Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk datang ke Epicentrum Walk di bilangan Kuningan untuk membahas tentang kasus anak kabur dari rumah yang ramai dibicarakan belakangan ini. Adalah Dea (22) yang dikabarkan oleh orang tuanya kabur dari rumah.
Apa yang dibicarakan pada kesempatan pagi tadi lebih kepada apa saja yang menjadi penyebab adanya kenalakan remaja dan masalah-masalah remaja peralihan dari remaja ke dewasa muda.
Semoga acara tadi pagi ini bisa menambah wawasan kita bersama.