psikosomatik

psikosomatik

Kamis, 19 Januari 2017

Stres Boleh Sama, Respon Tiap Orang Beda!

Kita mungkin pernah berpikir mengapa stres yang sama bisa memberikan respon yang berbeda untuk setiap orang. Jika seorang pasien mengatakan bahwa Bos-nya adalah sumber stres dia, saya kadang bertanya berapa banyak si Bos punya anak buah, berapa banyak di antara anak buah si Bos yang juga mengalami stres seperti pasien? Biasanya pasien akan merenung dan menjawab tidak semua memiliki respon seperti dirinya.
Stres bisa merupakan suatu respon yang membuat kita lebih baik. Ketika dihadapkan dengan suatu masalah, stres akan membuat kita lebih berpikir dan berusaha keluar dari masalah tersebut. Itulah yang dinamakan mekanisme adaptasi diri terhadap stres. Saat pemicu stres hilang, diharapkan respon adaptasi stres kita juga menghilang. Respon adaptasi adalah suatu cara untuk menjaga keseimbangan diri kita.
Lalu bagaimana bisa stres yang sama menimbulkan respon yang beda di tiap orang? Banyak faktor yang mempengaruhi. Selain faktor genetik bawaan, kepribadian dan proses belajar, lingkungan pendukung juga membedakan respon stres seseorang.
Ada orang yang memang terlahir memiliki kemampuan daya tahan stres yang baik, terlihat sejak kecil bagaimana individu tersebut merespon kondisi stres sehari-hari. Pola asuh orang tua membuat perbedaan ciri kepribadian yang biasanya mencapai matang di usia 18 tahun. Walaupun dipengaruhi faktor bawaan juga, pola asuh orang tua sangat mempengaruhi cara si anak untuk belajar beradaptasi dengan lingkungan dan stres di sekelilingnya. Faktor lain adalah lingkungan pendukung. Jika sekiranya lingkungan cukup mendukung maka biasanya respon stres seseorang juga akan lebih mudah daripada tidak ada faktor pendukung sama sekali.
Di sinilah perbedaan akan menghasilkan perbedaan dalam cara adaptasi individu juga terhadap stres. Semoga ulasan sedikit ini bermanfaat. Intinya jangan pernah lelah untuk belajar beradaptasi terhadap lingkungan di sekitar kita dan kemungkinan pemicu stress yang mengelilinginya. Salam Sehat Jiwa (Twitter : @mbahndi)

Selasa, 10 Januari 2017

Kita Semua Bisa Alami Masalah Kejiwaan

Kita Semua Bisa Alami Masalah Kejiwaan
Oleh : Dokter Andri Psikiater
Kebanyakan orang ketika mendengar kata gangguan jiwa pikirannya langsung ke suatu kata "GILA". Beberapa pasien pernah mengatakan ketika dirinya disarankan untuk menemui psikiater, yang ada dalam pikirannya adalah "Memangnya saya GILA?".
Banyak orang tidak menyadari bahwa sebenarnya semua dari kita mempunyai kerentanan untuk mengalami masalah kejiwaan. Jika saya sebutkan definisi kesehatan jiwa menurut WHO saja mungkin saat anda membaca status ini, tidak semuanya sedang dalam keadaan Sehat Jiwanya. Coba kita Tengok,
1. Apakah anda saat ini merasa SEHAT dan BAHAGIA?
2. Apakah anda saat ini merasa mampu menghadapi TANTANGAN HIDUP?
3. Apakah anda saat ini mampu berpikir positif tentang diri anda dan orang lain?
Jika anda bisa mengatakan YA untuk semua pertanyaan di atas maka anda dalam keadaan SEHAT JIWA.
Tetapi apakah hal tersebut selalu akan anda alami? Belum tentu karena kondisi SEHAT JIWA adalah kondisi yang dinamis, Ada saat-saat tertentu orang itu bisa mengalami masalah dalam kejiwaannya dan saat itu dia sedang dalam Kondisi TIDAK SEHAT JIWA. Saya pun pernah berada dalam posisi itu, saya yakin kebanyakan dari anda juga demikian.
Apakah semua orang yang mengalami masalah kejiwaan disebut mengalami gangguan jiwa ? Tentu tidak. Untuk didiagnonis gangguan jiwa orang harus memenuhi kriteria diagnosis tertentu dan tidak semua orang memenuhi kriteria itu walaupun mungkin mengalami gejala gangguan kejiwaan. Misalnya ada orang yang merasakan gejala-gejala depresi tapi hanya dua hari, maka diagnosis gangguan depresi tidak bisa disematkan pada orag tersebut.
Ini artinya kita semua sebenarnya mempunyai kerentanan untuk mengalami masalah kejiwaan karena tidak mungkin kita sebagai manusia tidak mempunyai masalah. Jadi jika mengalami masalah kesehatan jiwa, itu adalah sesuatu yang wajar kan?
Semoga kita semua SEHAT JIWA. Salam Sehat Jiwa

Selasa, 03 Januari 2017

Stigma

Stigma
Oleh : Dokter Andri Psikiater
Semalam ada pasien dengan masalah dispepsia fungsional yang datang atas konsulan dokter Ari Fahrial Syam SpPD, KGEH seorang konsultan di bidang gastrointestinal yang memang sering bekerja sama dalam penanganan pasien untuk masalah psikosomatik lambung. Pasien bercerita bahwa kedatangannya agak tertunda walaupun sudah dikonsulkan oleh dokter Ari sejak awal November. Salah satu penyebabnya adalah pasien sempat ke dokter lain dan dikatakan tidak perlu ke psikiater karena nanti bisa bikin ketergantungan obatnya.
Kondisi seperti sudah sering saya hadapi dalam praktek sehari-hari. Stigma terhadap terapi psikiater dengan penggunaan obatnya memang bukan hanya ada di kalangan masyarakat awam tetapi juga di kalangan praktisi kesehatan. Ada kesan bahwa pengobatan psikiater dengan obat-obat psikofarmakanya itu tidak perlu dalam terapi paikiatri. Obat-obatan itu semua bikin ketergantungan dan tidak memperbaiki dalam terapi. Padahal secara ilmiah sudah terbukti khasiat obat tersebut.
Hal ini mungkin juga disebabkan karena kebanyakan dari kita masih berpikir bahwa obat psikiater pasti obat penenang yang membuat otak menjadi lamban alias "bego". Padahal banyak obat jenis lainnya seperti antidepresan, antipsikotik, mood stabilizer, dan obat anticemas.
Masalah ketergantungan sendiri kadang sulit dilepaskan dari pengobatan psikiater karena banyak yang belum memahami bahwa sebenarnya ada beberapa pasien gangguan jiwa yang memerlukan pengobatan seumur hidup seperti pada pasien Skizofrenia, gangguan Bipolar dan juga Gangguan depresi yang sering kambuh dan membahayakan diri pasien. Hal ini sebenarnya tidak beda dengan pasien jantung, darah tinggi, kencing manis atau diabetes dan beberapa gangguan medis lainnya yang membutuhkan pengobatan seumur hidup.
Itulah yang membuat saya sampai saat ini masih menulis dan kadang membuat video YouTube tentang masalah kejiwaan. Stigma yang melekat kuat di psikiatri adalah hal yang memang masih ada dan harus tetap diperjuangkan agar makin banyak orang yang memahaminya termasuk dokter.
Semoga kita bersama bisa mengurangi stigma pada pengobatan psikiatri. Salam sehat jiwa