psikosomatik

psikosomatik

Kamis, 20 Desember 2018

SELAMAT NATAL dan TAHUN BARU 2019




Klinik Psikosomatik Omni Hospital dan Dokter Andri 
Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru 
Semoga Tahun 2019 Memberikan Banyak Hal Positif 
Kepada Kita Semua 

Selasa, 18 Desember 2018

Langkah Awal Mengatasi Kekhawatiran, Kenali Sumbernya!



Saya mencoba meringkas beberapa poin awal dari buku "How Not To Worry"  yang dikarang oleh Paul McGee. Buku ini menampilkan kepada kita bagaimana agar kita tidak khawatir dalam menghadapi kehidupan kita ini. Pertanyaan awal saat kita mengalami kekhawatiran adalah "Dari mana kekhawatiran saya berasal?"

Setelah kita mencoba memahami kekhawatiran kita itu, maka selanjutnya kita bisa membagi kekhwatiran kita menjadi tidak kategori : situasional, antisipasi, atau stres yang tersisa.

Stres situasional berasal dari kekhawatiran yang berhubungan dengan apa yang terjadi di masa sekarang, terjadi di saat kita mengalaminya saat ini. Sumbernya bisa berasal dari kesehatan kita, pasangan hidup atau rekan sekerja. Biasanya stres jenis ini yang sering dibicarakan menjadi sumber kekhawatiran sehari-hari. Apalagi jika kondisi tidak banyak berubah dan kita pun kesulitan dalam mencoba membantu diri kita melewati stres ini. Hasilnya rasa kekhawatiran itu bisa bertahan lama dan mengganggu kehidupan kita sehari-hari.

Stres antisipasi adalah kekhawatiran yang dirasakan ketika kita memikirkan tentang masa depan kita. Hal-hal misalnya ujian yang akan kita hadapi, presentasi yang akan kita jelang, atau wawancara kerja yang akan dihadapi. Keadaan stres antisipasi ini adalah cara kita untuk bersiap-siap menghadapi tantangan. Sering kali kita memerlukan keadaan ini, namun jika berlebihan maka hasilnya tidak akan baik. Kita menjadi mudah cemas terhadap segala sesuatu yang belum terjadi. Kita khawatir akan masa depan tetapi lupa dengan masa kini.

Stres yang tersisa atau residual adalah stres yang berasal dari peristiwa di masa lampau yang dampak stresnya masih terbawa ke masa kini. Gangguan Stres Pasca Trauma adalah contoh paling nyata dari kondisi stres residual. Kondisi ini biasanya cukup berat karena walaupun pemicunya sudah berlalu, gejala stresnya bisa timbul dalam bentuk ingatan kembali (flashaback dan reexperience). Sering kali kondisi ini tidak sembuh sendiri tapi harus mendapatkan pertolongan dokter jiwa atau psikolog.

Apa Gunanya Mengkategorikan Kekhawatiran?

Mengkategorikan kekhawatiran kita berfungsi membuat kita lebih memahami sumber stres kita. Dalam kondisi yang stres kita bisa bertanya sendiri ke dalam diri kita "Mengapa saya merasakan hal ini?". Ketika kita mulai dengan melakukan proses pemikiran ini maka kita bisa mendapatkan tilikan atau insight terhadap hal-hal apa saja yang mempengaruhi kita menjadi khawatir dan berupaya untuk mengatasinya.

Mengkategorikan apa jenis kekhawatiran kita dan menyadari diri sendiri mengapa sampai merasakan itu adalah langkah pertama untuk mengatasi kecemasan. Kesadaran akan diri atau tilikan terhadap rasa khawatir di dalam kita mengambil setengah jalan dari bagaimana kita dapat mengatasi sumber kekhawatiran kita. Proses ini bertujuan merefleksikan yang menjadi dasar masalah individu yang mengalami kekhawatiran. Setelah kita memahami tentu langkah selanjutnya adalah mencoba mengatasi masalah tersebut. Semoga tulisan awal dari seri #terapikecemasan ini bisa bermanfaat. Salam Sehat Jiwa



Minggu, 09 Desember 2018

Kenali Baby Blues Syndrome, Cegah Depresi Pasca Melahirkan

Sabtu, 8 Desember 2018 kemarin bertempat di Omni Hospital Alam Sutera, dengan dukungan Orami Parenting Club saya memberikan seminar berjudul "Mengenali dan Terapi Baby Blues Syndrome". Harapan saya dalam seminar ini terwujud karena selain para ibu dan calon ibu yang hadir, ada juga para suami sebagai pendamping ikut hadir mendengarkan. Hal ini menjadi penting karena masalah terkait dengan Baby Blues cukup sering dikaitkan dengan peran suami selama kehamilan dan pasca persalinan. 
Apakah sebenarnya Baby Blues Syndrome itu? Baby Blues Syndromeadalah sekumpulan gejala terkait dengan suasana perasaan yang depresif yang terjadi pada hari pertama sampai hari ke empat belas pasca persalinan yang terjadi pada ibu. Beberapa gejala Baby Blues Syndrome adalah seperti tercantum di bawah ini : 
  • Mudah menangis
  • Tidak tertarik kepada kegiatan 
  • Mudah lupa
  • Cemas dan Gelisah 
  • Mudah marah
  • Mudah lelah 
  • Sensitif
  • Pikiran kosong
  • Hilang harapan 
  • Tidak merasa bahagia 
  • Manarik diri
  • Tidak percaya diri 
Walaupun hal ini bisa terjadi pada semua perempuan yang baru saja melahirkan namun ada beberapa faktor risiko terjadinya Baby Blues Syndrome, seperti tersebut di bawah ini :
  • Dukungan sosial yang kurang
  • Kejadian buruk yang sering dan berulang (kematian orang tua dan pasangan)
  • Riwayat PMS (premenstrual syndrome), gangguan mood saat menjelang mens (Premenstrual Dysphoric Disorder) dan riwayat infertilitas 
  • Riwayat kekerasan saat anak-anak
  • Gangguan tiroid
  • Infeksi jamur yang kronis (berkepanjangan)
  • Morning sickness atau ngidam yang berat
  • Hubungan yang kurang harmonis dengan orang tua  
  • Riwayat depresi pasca melahirkan sebelumnya 
  • Air Susu Ibu (ASI) yang tidak keluar setelah melahirkan
  • Peningkatan berat badan yang berlebihan saat kehamilan dan BB kurang menurun setelah melahirkan
  • Adanya penyulit saat proses kelahiran
  • Kehamilan yang tidak diinginkan 
  • Kehamilan di usia tua (di batas 35 tahun)
  • Masalah pernikahan sebelum hamil
Jika ada pertanyaan apakah penyebab dari masalah terkait Baby Blues Syndrome ini, pertanyaan ini biasanya dapat dijawab dengan dua pendekatan yaitu pendekatan Psikososial dan Pendekatan Biologis seperti tercantum di bawah ini : 
  • Faktor Psikososial
    • Konflik berkepanjangan dalam perkawinan
    • Suasana perasaan suami istri yang tidak stabil 
    • Melahirkan di usia tua untuk perempuan melahirkan (di atas 35 tahun)
  • Faktor Biologis 
    • Penurunan estrogen dan progesteron 
    • Hormon dan zat kimiawi otak yang berperan : cortisol, thyroxin, serotonin, norepinephrin and dopamine
Baby blues syndrome perlu dikenali karena membuat kualitas kehidupan ibu dan anak menjadi buruk. Ibu menjadi kesulitan atau tidak mampu mengurus anak. Kondisi Baby Blues Syndrome juga bisa berlanjut ke depresi pasca melahirkan jika dua minggu tidak membaik. Pada kondisi yang berat sering kali ditemukan adanya pikiran bunuh diri sampai upaya melakukan upaya bunuh diri dan membunuh anaknya 
Bagaimana Mencegah dan Terapinya?
Seprti yang diungkapkan di depan, peran keluarga apalagi suami adalah sangat penting. Sarankan ibu untuk banyak beristirahat dan tidak melakukan aktifitas yang membuat stres. Sering kali yang dialami ibu pasca melahirkan adalah kesulitan tidur karena harus menjaga dan menyusui anak secara rutin. Untuk itu disarankan ibu untuk tidur jika si anak tidur. Minta bantuan suami atau pengasuh untuk menjaga bayi jika memang merasa kelelahan. Di Indonesia peran keluarga besar cukup bisa membantu banyak. Saya sering menemukan dalam praktek sehari-hari di mana ibu yang mengalami Baby Blues Syndrome yang lalu berlanjut ke depresi pasca melahirkan mendapatkan bantuan dari keluarga suami seperti ipar dan mertua untuk mengurus anaknya. Sering pula ketika punya bayi, ibu menjadi kehilangan banyak waktu untuk bersantai. Untuk itu disarankan untuk tetap punya waktu untuk relaksasi dan berinteraksi dengan teman-teman. Satu hal yang perlu diingat yaitu jika perlu konsultasikan ke psikiater untuk mendapatkan konseling dan atau pengobatan, apalagi jika dalam waktu dua minggu sejak pasca melahirkan kondisi ibu tidak membaik. 
Semoga apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini bisa membantu ibu-ibu yang sedang hamil dan akan segera melahirkan agar bisa mengenali segera jika mengalami masalah terkait baby blues syndrome. Di bawah adalah video yang saya buat setahun yang lalu untuk edukasi terkait Baby Blues Syndrome dan Depresi Pasca Melahirkan. Semoga berguna. Salam Sehat Jiwa