psikosomatik

psikosomatik

Senin, 30 Mei 2016

Pembicara dalam Expert Meeting di Bandar Lampung

Sabtu, 28 Mei 2016 yang lalu saya diundang untuk menjadi pembicara dalam Expert Meeting di Bandar Lampung. Saya diundang untuk berbicara di depan para psikiater tentang bagaimana menangani kasus gangguan depresi yang resisten terhadap pengobatan. Foto di bawah ini adalah gambar saat saya melakukan presentasi di sana dan para peserta yang hadir dari berbagai daerah.



Kamis, 26 Mei 2016

Perubahan dan Penambahan Jadwal Praktek Klinik Psikosomatik OMNI Hospitals Alam Sutera

Yth Bapak/Ibu Sekalian

Dengan Hormat,
Demi meningkatkan pelayanan selama bulan Ramadhan 1437H, maka selama bulan Juni 2016 akan ada praktek tambahan di Minggu Pagi yaitu pada tanggal 5, 12, 19 dan 26 Juni 2016 pada jam 09.00-11.00 (menerima paling banyak 10 pasien saja). Praktek Sore akan dimulai lebih awal yaitu jam 16.00-20.00 (Pasien dibatasi 15) 
Kondisi ini hanya berlaku di Bulan Juni 2016

Libur Idul Fitri akan dimulai tanggal 28 Juni 2016 s.d. 8 Juli 2016. 
Klinik Psikosomatik akan buka kembali SABTU, 9 Juli 2016. 
Terima kasih banyak atas perhatiannya

Salam Sehat Jiwa
dr.Andri,SpKJ,FAPM 
Kepala Klinik Psikosomatik Omni Hospital Alam Sutera

Minggu, 15 Mei 2016

Pengumuman Jadwal Tambaha Praktek dan Libur Idul Fitri

Yth Bapak/Ibu Sekalian

Dengan Hormat,
Demi meningkatkan pelayanan selama bulan Ramadhan 1437H, maka selama bulan Juni 2016 akan ada praktek tambahan di Minggu Pagi yaitu pada tanggal 5, 12, 19 dan 26 Juni 2016 pada jam 09.0-11.00 (menerima paling banyak 10 pasien saja)
Libur Idul Fitri akan dimulai tanggal 28 Juni 2016 s.d. 8 Juli 2016. 
Klinik Psikosomatik akan buka kembali SABTU, 9 Juli 2016. 
Terima kasih banyak atas perhatiannya

Salam Sehat Jiwa
dr.Andri,SpKJ,FAPM 
Kepala Klinik Psikosomatik Omni Hospital Alam Sutera

Selasa, 10 Mei 2016

Depresi dan Fungsi Kognitif

oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera)

Saat menulis artikel ini saya masih berada di Hongkong mengikuti acara pelatihan Depresi dan Fungsi Kognitif. Acara ini diselenggarakan oleh Lundbeck Institute dan dihadiri oleh 15 peserta dari Hongkong, Malaysia, Indonesia dan Filipina. Acara yang dikemas dalam diskusi interaktif dan workshop ini memang diperuntukkan untuk menambah pengetahuan psikiater dan dokter yang menangani kasus psikiatri (ada dokter umum dan dokter anak yang ikut dari Hongkong)  tentang Depresi khususnya hubungannya dengan fungsi kognitif.

Depresi Sulit Dikenali?
Gejala fisik pada pasien depresi membuat depresi sulit dikenali terutama oleh dokter pelayanan primer non psikiatri. Pasien yang mengalami gejala fisik biasanya tentu akan mendatangi dokter non psikiater. Sedangkan secara statistik kasus depresi yang murni tanpa adanya masalah lain hanyalah 12% dari semua kasus depresi. Ini artinya lebih dari 78% kasus depresi mengalami masalah terkait lainnya termasuk gangguan fisik.
Gangguan cemas juga salah satu yang sering berkaitan dengan depresi. Hampir lebih dari 50% kasus depresi mengalami gangguan kecemasan.
Sayangnya depresi membuat masalah yang besar bagi penderitanya walaupun pada saat gejala masih ringan sekalipun atau ketika gejalanya baru hanya satu dua saja. Gejala yang berkaitan dengan fungsi kognitif membuat depresi sendiri sering dihubungkan dengan lebih segeranya seseorang mengalami demensia (kepikunan) akibat depresi.

Gejala Kognitif Sebagai Gejala Sisa Depresi
Selama ini kita mengetahui bahwa depresi dengan pengobatan selama ini baik secara terapi obat maupun dengan psikoterapi angka keberhasilan sembuhnya tidak terlalu memuaskan. Berbagai penelitian mengatakan bahwa kemungkinan kambuh depresi pada pasien yang mengalaminya berkisar 50% walaupun dengan pengobatan yang optimal.
Selain kekambuhan, pengobatan depresi juga sering terkendala dengan adanya gejala sisa yang sering dialami oleh pasien depresi. Gejala sisa yang sering dialami pasien depresi antara lain gangguan tidur, kekelahan berkepanjangan, hilangnya minat melakukan sesuatu, masalah konsentrasi dan perasaan bersalah.
Secara khusus gejala sisa berkaitan dengan masalah fungsi kognitif yang dialami pasien depresi berkaitan dengan fungsi eksekutif, memusatkan perhatian, daya ingat dan fungsi visuospasial (berkaitan dengan ruang).
Gejala kognitif ini juga berkaitan dengan masalah pikiran negatif dan pembicaraan negatif yang sering dialami pasien depresi. Pasien depresi sering merasa bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya atau merupakan bagian dari dirinya adalah sesuatu yang buruk dan akan membuat semuanya jadi bermasalah. Pikiran negatif ini sangat kuat ada di dalam diri pasien sehingga membuat masalah terkait dengan kesembuhan juga sulit dicapai secara optimal.
Terapi seperti terapi kognitif dan perilaku serta terapi interpersonal memegang peranan penting saat ini dalam membentuk "framing" yang baik dan positif berkaitan dengan pikiran dan perilaku pasien depresi. Hal ini akan membantu pasien untuk bisa keluar dari pola pikiran negatif yang sering kali berlangsung otomatis. Walaupun kondisi ini biasanya juga sangat berhubungan dengan latar belakang pasien dan hubungan pasien dengan lingkungannya, terapi kognitif banyak dibuktikan secara ilmiah memperbaiki gejala depresi.

Arahan Terapi Depresi Ke Depan
Ada hal yang terus dikembangkan dalam penelitian berkaitan dengan penemuan obat untuk mengatasi depresi. Selain pengobatan tentunya juga psikoterapi terus dikembangkan sebagai upaya untuk memperbaiki gangguan depresi yang dialami pasien.
Penemuan obat saat ini tentunya bukan hanya berkaitan dengan bagaimana menghilangkan gejala mood atau suasana perasaan tetapi juga memperbaiki fungsi pasien sehari-hari. Target terapi untuk memperbaiki kualitas hidup ini juga memerlukan terapi yang tepat dan sesuai dengan mekanisme depresi itu sendiri.
Tidak dilupakan adalah mengembalikan fungsi kognitif pasien depresi yang sering mengalami masalah terkait dengan depresinya. Salah satu yang paling diharapkan berubah oleh pasien adalah bagaimana dia bisa merasakan hidupnya kembali. Tujuan inilah yang ingin dicapai dalam terapi dan bukan hanya berkaitan dengan hilangnya gejala saja. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Bersama dr.Dharmawan A.Purnama,SpKJ yang juga merupakan peserta dari Indonesia (dok.pribadi)

Saat sesi diskusi dalam kelompok membahas kasus (dok.pribadi)