psikosomatik

psikosomatik

Jumat, 30 Desember 2011

Sakit Jantung ini Ternyata GANGGUAN PANIK


KOMPAS.com - Toni eksekutif muda usia 35 tahun itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar sangat cepat. Saat itu, ia sedang berada di jalan menuju kantornya di daerah Sudirman. Ia juga merasakan sesak napas dan perasaan seperti tercekik.
Toni menjadi sangat ketakutan akan keadaan ini, sampai ia meminggirkan mobilnya. Saat itu, ia merasa takut mati sehingga membuatnya ke unit gawat darurat (UGD) sesaat jantungnya sudah mulai terasa berkurang debarannya 10 menit kemudian.
Di UGD, Toni diperiksa jantung dan laboratorium penunjang lainnya. Hasilnya semua dalam batas normal. Toni kemudian bingung apa yang baru saja dialaminya. dokter menyarankan Toni untuk tidak khawatir karena tidak ditemukan kelainan apa-apa. “Mungkin anda sedang kecapekan saja”, kata si dokter menenangkan
Kasus di atas cukup sering ditemukan sebagai salah satu kasus gangguan kesehatan jiwa yang bermanifestasi gejala fisik. Kalangan kesehatan jiwa menyebutnya sebagai serangan panik. Orang yang mengalaminya biasanya mengira bahwa ia terkena serangan jantung karena gejalanya sangat mirip dengan gangguan tersebut. Bedanya adalah dalam durasi waktu, serangan panik biasanya hanya berlangsung paling lama 15 menit saja dan setelah itu terjadi penurunan gejala yang dialami.
Ada beberapa gejala serangan panik yang sering dialami oleh pasien. Gejalanya yang paling sering adalah sebagai berikut ; Jantung berdebar dan peningkatan denyut jantung, berkeringat, badan terasa gemetar atau berguncang, perasaan napas yang pendek, perasaan seperti tercekik, sakit dada atau perasaan tidak nyaman, mual atau merasa tidak enak di perut, merasa pusing, tidak stabil, kepala terasa ringan atau mau pingsan, takut kehilangan kontrol atau menjadi gila, perasaan takut mati, kesemutan atau seperti baal dan rasa seperti terbakar atau kepanasan.
Gangguan panik didiagnosis bila dalam waktu sebulan terakhir telah terjadi lebih dari 3 (tiga) kali serangan panik. Serangan panik ini terjadi tiba-tiba, dan di antara serangan panik tersebut pasien merasa khawatir jika dirinya mengalami keadaan itu lagi (kecemasan antisipasi). Serangan panik ini juga telah mengganggu fungsi pasien sehari-hari baik pribadi dan sosial.
Agorafobia
Jika pasien mengalami serangan panik yang berulang, maka kebanyakan pasien menjadi takut untuk keluar rumah sendirian. Hal ini disebabkan pasien takut bila tiba-tiba saat ia sendiri di luar rumah, serangan panik itu datang lagi dan tidak ada yang menolongnya. Ketakutan tersebut dinamakan agorafobia.
Agorafobia biasanya juga diikuti oleh penghindaran terhadap situasi yang dapat membuat timbulnya kecemasan pasien. Hal ini yang menyebabkan pasien dengan gangguan panik biasanya takut bila keluar rumah sendiri tanpa ditemani. Pasien juga menjadi malas keluar rumah atau bersosialisasi dengan teman serta kerabat di tempat-tempat terbuka. Apalagi bila ia harus ke tempat seperti itu sendirian. Hal ini tentunya menurunkan kualitas hidup pasien tersebut.
Apa yang dapat dilakukan?
Kualitas hidup pasien gangguan panik tentunya mengalami penurunan akibat konsekuensi dari penyakitnya. Untuk itu, tatalaksana yang tepat dan menyeluruh sangat dibutuhkan agar pasien dapat kembali hidup normal.
Jika memang dalam pemeriksaan fisik dan penunjang tidak terdapat hasil yang mendukung ke suatu diagnosis penyakit seperti jantung dan tiroid (gondok) maka diagnosis gangguan panik harus segera dipertimbangkan.
Pemeriksaan fisik dan penunjang yang lengkap penting karena gejala serangan panik seringkali mirip dengan gejala-gejala penyakit yang sering kita temukan dalam praktek seperti penyakit jantung dan gangguan tiroid (gondok). Rujukan ke seroang ahli kesehatan jiwa atau psikiater juga dapat dilakukan demi tegaknya diagnosis dan penatalaksanaan yang segera dan menyeluruh.
Seperti tatalaksana kebanyakan gangguan kesehatan jiwa, pengobatan gangguan panik juga meliputi pengobatan dengan obat dan psikoterapi. Penggunaan obat untuk gangguan panik telah mendapatkan rekomendasi dari badan obat dan makanan Amerika (FDA) dan juga dari badan pengawasan obat dan makanan (POM) Indonesia.
Pasien tidak perlu khawatir akan efek ketergantungan terhadap obat yang sering ditakutkan oleh masyarakat bila memakan obat-obat dari ahli kesehatan jiwa. Kerjasama antara dokter dan pasien serta informasi yang akurat dan lengkap akan efek obat serta hal-hal yang menyangkut penggunaannya haruslah diketahui sejak awal berobat.
Pasien tentunya mempunyai hak untuk bertanya kepada dokter tentang obat yang dimakannya serta efek samping yang mungkin timbul. Tentunya kewajiban dokter untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar obat yang digunakan. Keteraturan kontrol berobat dan kepatuhan akan dosis obat juga akan menghindarkan pasien dari hal-hal yang tidak diinginkan dari penggunaan obat yang tidak tepat.
Psikoterapi dengan menggunakan teknik terapi kognitif juga sangat diperlukan. Pasien gangguan panik biasanya mempunyai keyakinan yang salah akan penyakitnya. Pasien biasanya sering salah mengintepretasikan sensasi di tubuhnya sebagai tanda awal serangan panik. Informasi tentang serangan panik termasuk penjelasan bahwa ketika serangan panik berlangsung, serangan tersebut terbatas waktunya dan tidak mengancam jiwa.
Latihan relaksasi, pernapasan termasuk meditasi juga mempunyai peran yang sangat baik pada pasien gangguan panik. Hal ini membantu pasien untuk dapat mengontrol pernapasannya dan sedapat mungkin relaks sehingga gejala yang timbul dapat ditangani dengan baik secara mandiri oleh pasien pada saat serangan panik datang.
Semoga penjelasan di atas dapat membantu anda untuk mengenali gejala dan tanda gangguan panik serta cara mengatasinya. Jangan malu untuk berkonsultasi dengan dokter ahli kesehatan jiwa jika mengalami gangguan panik. Salam sehat jiwa!
Dr. Andri SpKj, Psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison.  Penanggung Jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang.
Sumber : KOMPAS.com 

Rabu, 28 Desember 2011

Catatan Akhir Tahun Psikosomatik


Oleh : Dr.Andri,SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis

Seperti yang telah dicanangkan pada akhir tahun 2010, tahun 2011 akan menjadi tahun pendidikan Psikosomatik bagi saya. Di tahun 2011 saya berencana untuk semakin mengembangkan kesadaran masyarakat dan profesi di bidang kedokteran tentang apa itu Psikosomatik dan hubungannya dengan bidang ilmu kedokteran jiwa.
1325137396279429152
Saat menjadi pembicara di FK UGM di hadapan para calon spesialis (dokpribadi)
Bermula dari proposal yang saya ajukan ke American Psychosomatic Society di Amerika Serikat, maka pada tahun 2011 akhirnya FK UKRIDA menjadi Fakultas Kedokteran pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang mendapatkan bantuan dana dan bimbingan untuk pelaksanaan Psychosomatic Medicine Interest group di FK UKRIDA.
Selanjutnya pada bulan Mei 2011 saya diberikan kesempatan untuk menjadi Konsultan Kesehatan Jiwa di Kompas.com. Kepercayaan ini tentunya tidak saya sia-siakan untuk terus menyebarkan kesadaran kepada masyarakat bahwa gangguan jiwa adalah sesuatu yang lumrah dan bisa mengenai siapa saja dari berbagai golongan, tua muda serta miskin maupun kaya.
Pendidikan berkelanjutan bagi dokter umum dan peserta didik spesialis kedokteran jiwa adalah salah satu hal yang sangat penting. Hal ini yang mendorong saya melakukan kunjungan kuliah tamu atas undangan atau inisiatif  sendiri ke Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Tahun 2011, selain Departemen Psikiatri FK UGM, ada juga Departemen Kedokteran Keluarga yang mengundang saya untuk bicara tentang psikosomatik bagi dokter keluarga.
1325137542506500878
Menjadi pembicara di seminar Psikosomatik di Ambon, Desember 2011 (dokpribadi)
13251374681998626541
Menjadi pembicara di Pertemuan Ilmiah Dua Tahunan Psikiater Indonesia, Bandung Juli 2011 (dokpanitia)
Di tahun 2011 juga saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara di depan kongres Pertemuan Ilmiah Dua Tahunan Psikiater se-Indonesia pada bulan Juli 2011. Pada kesempatan ini saya berbicara tentang Gangguan Psikiatrik pada Trauma Kepala. Selain kongres nasional, banyak juga kongres dan pertemuan lokal yang diikuti berkaitan dengan topik kesehatan jiwa.
Selain aktif menyebarkan ilmu kedokteran jiwa khususnya di bidang psikosomatik kepada para profesional seperti mahasiswa kedokteran dan dokter umum/spesialis, saya juga banyak diberikan kesempatan menjadi narasumber di berbagai media baik cetak maupun televisi. Hal ini tentunya membuat akses penyebaran informasi psikiatri dan kesehatan jiwa juga semakin luas.
Semoga di tahun-tahun yang akan datang, apa yang telah dilakukan di tahun 2011 dapat terus dilanjutkan ke tahun-tahun yang akan datang.
Salam Sehat Jiwa 

Jumat, 23 Desember 2011

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru

KLINIK PSIKOSOMATIK RS OMNI ALAM SUTERA 
mengucapkan :

SELAMAT HARI NATAL 2011 
dan
TAHUN BARU 2012

Semoga Berkah dan Kasih Tuhan Selalu Beserta Kita 
Semakin Sukses di Tahun Yang Akan Datang

Salam Sehat Jiwa,
dr.Andri,SpKJ
Penanggung Jawab Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera 

Senin, 05 Desember 2011

Seminar Psikosomatik di Kota Ambon Manise


Saat presentasi dengan topik "Gangguan Psikosomatik : Dasar dan Tatalaksana di Pelayanan Primer" (dok.pribadi)


Seminar Psikosomatik di Kota Ambon Manise
Oleh : Dr.Andri,SpKJ

Setelah sebelumnya direncanakan tanggal 1 Oktober 2011 namun akhirnya tertunda karena terjadi konflik insiden di Ambon, maka akhirnya hari ini (3 Des 2011) bertempat di Hotel Aston Natsepa, Ambon diselenggarakan Seminar Psikosomatik dengan tema “Pengenalan dan Penatalaksanaan Gangguan Psikosomatik”. Acara ini diprakarsai oleh RSKD Ambon dibawah pimpinan Dr.David Santoso,SpKJ,MARS dan bekerja sama dengan IDI Wilayah Maluku dan PDSKJI Cab Makassar. Acara ini diketuai oleh dr.Carolus Juliana Lenora Louise.
Acara yang berlangsung dari pagi hari sampai sore ini menampilkan berbagai tema dan pembicara dari beragam latar belakang spesialisasi. Acara dibuka oleh pembacaan sambutan walikota Kotamadya Ambon Bpk. Richard Louhenapessy,SH. Setelah pembukaan acara kemudian selanjutnya acara dimulai dengan sesi pertama yang menampilkan dua pembicara. Sesi ini dimoderatori oleh Dr.David Santoso,SpKJ,MARS yang memberikan kesempatan kepada Prof.dr.Jayalangkara,PhD,SpKJ(K) yang berbicara tentang Psikosomatik ditinjau dari Psikiatri Biologi. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pembicara kedua dr.Wempy Thiorits,SpKJ(K) yang mengungkapan pengalaman dalam penatalaksanaan pasien dengan gangguan psikosomatik.
Pembicara selanjutnya adalah tentang “Reaksi Psikologis Pada Pasien Anak” yang dibawakan oleh dr.Vivayanty H,SpA,MARS dan dilanjutkan presentasi dari dr.Adelin S,SpKJ(K) yang mengemukakan presentasi tentang Psikosomatik pada Anak dan Remaja.
Setelah makan siang acara selanjutnya dilanjutkan dengan presentasi dari dr.Maxi Mangundap,SpPD,LetKol yang berbicara tentang Reaksi Psikologis pada Gastritis. Nyeri kepala tipe tegang selanjutnya diberikan oleh dr.Samuel Wagiu,SpS dan Psikoseksual dibahas oleh dr. J.Tomarius,SpKJ. Presentasi ditutup oleh presentasi saya sendiri tentang Pengenalan dan Penatalaksanaan Psikosomatik Terkini berdasarkan Academy of Psychosomatic Medicine.
Acara ini berlangsung sukses dengan melibatkan lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah di sekitar Ambon, Sulawesi dan Jawa. Acara ini juga mendapatkan dukungan dari Perusahaan MersiFarma yang turut membantu kelancara acara. Pada sambutannya ketua panitia dr.Carolus mengatakan bahwa acara ini adalah acara terbesar pertama yang dilakukan di Ambon dalam artian juga mengundang berbagai macam pembicara dari berbagai daerah dan latar belakang. Hal ini juga sebagai suatu cara untuk menunjukkan bahwa Ambon aman dan apa yang terjadi beberapa waktu lalu adalah letupan kecil hasil buah karya provokator bukan hasil dari konflik pada masyarakat Ambon sendiri.
Semoga seminar psikosomatik ini mampu menjadikan suatu tonggak pertama pelayanan kesehatan jiwa yang lebih menyentuh aspek biopsikosial.

Rabu, 23 November 2011

Kenapa Panik Saya Kambuh,Dok?


oleh : dr.Andri,SpKJ

Setahun berlalu, pasien saya ini kembali lagi karena keluhannya berulang. Pasien laki-laki usia 40 tahun, seorang manager menengah di sebuah perusahaan asing ternama. Usut punya usut, ternyata kekambuhan gangguan paniknya dipicu adanya suatu peristiwa menyaksikan mertuanya meninggal karena serangan jantung. Kondisi ini tentunya kembali memicu pasien mengalami serangan panik yang sekiranya dianggap oleh dirinya memang sama gejalanya dengan serangan jantung. 

Kenapa Bisa Kambuh ?
Kekambuhan pada orang yang mengalami gangguan panik memang cukup besar. Layaknya gangguan depresi yang angka kekambuhannya mencapai 50%, setidaknya gangguan panik juga bisa demikian. Banyak faktor yang dihubungkan dengan kekambuhan gangguan panik ini. Beberapa sebenarnya sangat berhubungan erat faktor biopsikososial yang mendasari berbagai macam gangguan jiwa.  Saya akan sedikit membahasnya dari beberapa segi tersebut. 

A. Biologi
Serangan panik dihubungkan karena aktifitas sistem saraf di otak yang meningkatkan sistem saraf otonom parasimpatis dan simpatis. Sistem ini menjadi kurang stabil kerjanya dipicu oleh stres yang berkepanjangan dan seringkali tidak disadari oleh pasien. Saya selalu mengatakan kepada pasien bahwa yang terjadi adalah sistem alarm di otak yang salah, di mana ketika serangan panik terjadi biasanya terjadi tiba-tiba dan tidak dipicu oleh sesuatu. Kondisi terpicunya ini disebabkan karena fungsi saraf salah mengartikan signal alarm di otak. Pada dasarnya kita membutuhkan "kecemasan" sebagai bagian dari mekanisme pertahanan tubuh terhadap perubahan atau bahaya yang mengancam, tetapi jika berlebihan maka akan menjadi tidak proporsional dan merusak sistme lainnya. 
Pada kondisi pasien yang panik, setelah diobati kondisi ini bisa kembali normal. Sayangnya sering menjadi rusak kembali ketika faktor biologis yang dibetulkan dengan obat saat pengobatan tidak dibarengi dengan upaya untuk manajemen stres. Jadi akhirnya bisa saja kondisi kesalahan sistem alarm ini berulang

B. Psikologis
Kepribadian dan latar belakang psikologis seseorang sangat berhubungan dengan mekanisme pertahanannya terhadap stres. Kepribadian tipe A yang dicirikan dengan sifat buru-buru, sulit menerima penolakan, konsisten, persisten, ingin selalu dituruti kemauannya, ingin selalu dalam kondisi yang dia harapkan adalah beberapa sifat yang erat kaitannya dengan munculnya stres dan rusaknya sistem pertahanan stres di otak. Jika perbaikan sistem di otak dengan obat tidak dibarengi dengan perbaikan daya adaptasi yang berkaitan dengan kepribadian ini, maka hasilnya gaya kepribadian seperti ini bisa memicu dan menimbulkan kerusakan sistem alarm otak kembali. 

C. Sosial Lingkungan
Faktor yang berhubungan dengan sosial lingkungan tidak bisa dilepaskan dari kekambuhan pasien serangan panik. Kondisi lingkungan yang penuh stres dan menekan dapat membuat pasien terus-terusan dalam keadaan tertekan dan stres. Hal ini yang bisa memicu ketidakseimbangan sistem saraf di otak yang akhirnya bisa memicu kembali alarm yang salah yang dipersepsikan oleh pasien sebagai serangan panik. 
Ketiga faktor di atas sangat penting diperhatikan ketika saya berhadapan dengan pasien gangguan panik. Bukan hanya pemberian obat tetapi juga manajemen stres dan langkah-langkah perbaikan atau modifikasi lingkungan sosial. Satu hal yang paling  penting terkadang persepsi stres pasien juga sangat memegang peranan. Kondisi stres psikis lebih sering berhubungan dengan persepsi, untuk itulah melatih diri dengan berpikir lebih positif adalah cara yang sangat disarankan untuk terus dilatih. 
Semoga bermanfaat.
Salam Sehat Jiwa 

Jumat, 18 November 2011

Gangguan Panik Obatnya Apa ?

Pertanyaan :


Halo dr Andri, salam kenal. saya mengalami serangan panik dan gejala panik sudah 3 kali. pertama tahun 2008 april, kedua tahun 2009 oktober dan ketiga oktober 2011 . Sudah beberapa dokter sudah saya kunjungi semua mengatakan saya ansietas dan serangan panik, dan mereka selalu memberikan obat alprazolam. Pada awalnya saya tidak mengindahkan kata mereka utk minum obat karena kebiasaan saya tdk suka minum obat. tapi gejala panik ini masih terasa di saya dan sangat mengganggu saya dalam aktifitas, maka dengan ini saya membaca tulisan dokter tentang obat golongan SRRI jauh lebih aman dari golongan benzodiazepam ? ingin saya tanyakan jenis obat SRRI yang mana ? paxil atau apa yang lebih aman ? dan yang paling kecil ukurannya berapa miligram ?. karena yg saya baca juga sejak thn 2009 FDA telah melarang menggunakan aprazolam utk
pasien ansietas karena adiksi . Lalu bagaimana cara penggunaan/terapi obat golongan SRRI, minum berapa kali sehari dan kapan berhenti , supaya saya terbebas dari penyakit ansietas ini utk selamanya. saya sangat berterima kasih dokter utk jawabannya.  (dari : AC)



Jawaban : 


Pasien dengan gangguan panik memang seringkali pada saat datang pertama kali ke dokter umum, dokter spesialis non-jiwa ataupun dokter jiwa diberikan anticemas seperti Alprazolam. Hal ini karena Alprazolam sangat efektif dalam mengatasi kondisi serangan panik dan kecemasan ikutan yang sering dialami pasien gangguan panik. Tidak heran obat ini seperti layaknya "kacang goreng" karena indikasinya jadi sangat melebar dari awalnya ditujukan untuk gangguan panik, sekarang ini diberikan juga untuk pasien yang dispepsia, sulit tidur, sering berdebar, bahkan untuk pasien dengan kasus-kasus medis yang erat kaitannya dengan kecemasan seperti sakit jantung koroner. Obat ini memang ampuh mengatasi cemas dan bekerja cepat. 
Sayangnya obat ini memiliki waktu paruh obat yang pendek, membuatnya hanya efektif dalam waktu 4-6 jam saja sehingga akan ada kecenderungan untuk memakai lagi terutama jika pada pasien gangguan panik. Selain itu kondisi pasien dengan menggunakan anticemas alprazolam juga sering kali menjadi sulit lepas dari obat ini karena memang memiliki potensi ketergantungan yang besar jika dipakai lebih dari dua minggu saja. Sulit lepas ini juga disebabkan karena efek putus zat obat ini sangat tidak nyaman, ada yang langsung tiba-tiba stop dan merasakan kecemasan yang lebih parah daripada sebelumnya.
Maka dari itu penggunaan obat ini harus hati-hati dan kalau bisa sesuai dengan indikasi saja. Belakangan karena potensi ketergantungan, toleransi (makin besar pake makin lama) dan reaksi putus zat, obat ini sudah tidak menjadi pilihan pertama lagi sebagai obat anticemas di Amerika Serikat, di sana lebih cenderung menggunakan Antidepresan gol SSRI seperti Sertraline, Fluoxetine, Paroxetine (Paxil). Penggunaan antidepresan untuk pasien gangguan panik juga biasanya dimulai dengan dosis kecil karena pasien gangguan panik sering lebih sensitif terhadap efek samping obat antidepresan yang biasanya berlangsung pada minggu pertama pemakaian. Obat biasanya digunakan selama 4-6 bulan untuk mencegah kekambuhan. Selain obat perlu ada terapi lain termasuk edukasi tentang kondisi kecemasan panik dan manajemen stres.
Semoga berguna jawaban ini


Salam Sehat Jiwa
Dr.Andri,SpKJ 
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis 
Klinik Psikosomatik RS OMNI ALAM SUTERA

Selasa, 15 November 2011

Ketika Serangan Panik Datang

Jakarta, Kalau Anda tiba-tiba merasakan jantung berdebar sangat cepat saat kondisi tenang dan tidak ada tekanan, apa yang kira-kira Anda pikirkan? Pasti kelainan jantung merupakan hal yang pertama kali terlintas di benak. Apalagi jika keluhannya ditambah dengan perasaan sesak napas, sulit mengambil napas, gemetaran dan seperti ingin pingsan? Pasti Anda akan semakin yakin ini suatu gangguan fisik bukan?

Satu kisah menarik dari kamar praktik saya adalah ketika seorang pasien laki-laki, sebut saja Michael namanya, usianya baru 35 tahun datang dengan keluhan seperti di atas. Saat kejadian itu ia sedang berada di jalan menuju kantornya di daerah Sudirman. Michael menjadi sangat ketakutan akan keadaan ini sampai ia meminggirkan mobilnya. Saat itu ia merasa takut mati sehingga membuatnya ke unit gawat darurat (UGD) sesaat jantungnya sudah mulai terasa berkurang debarannya 10 menit kemudian.

Di UGD, Michael diperiksa jantung dan laboratorium penunjang lainnya. Hasilnya semua dalam batas normal. Michael kemudian bingung apa yang baru saja dialaminya. Dokter menyarankan Michael untuk tidak khawatir karena tidak ditemukan kelainan apa-apa. "Mungkin Anda sedang kecapaian saja," kata si dokter menenangkan.

Kasus di atas cukup sering ditemukan sebagai salah satu kasus gangguan kesehatan jiwa yang bermanifestasi gejala fisik. Kalangan kesehatan jiwa menyebutnya sebagai serangan panik. Orang yang mengalami biasanya mengira ia terkena serangan jantung karena gejalanya sangat mirip dengan gangguan tersebut. Bedanya adalah dalam durasi waktu, serangan panik biasanya hanya berlangsung paling lama 15 menit saja dan setelah itu terjadi penurunan gejala yang dialami. 

Ada beberapa gejala serangan panik yang sering dialami oleh pasien. Gejalanya yang paling sering adalah sebagai berikut:

  1. Jantung berdebar dan peningkatan denyut jantung
  2. Berkeringat
  3. Badan terasa gemetar atau berguncang
  4. Perasaan napas yang pendek
  5. Perasaan seperti tercekik
  6. Sakit dada atau perasaan tidak nyaman
  7. Mual atau merasa tidak enak di perut
  8. Merasa pusing
  9. Tidak stabil
  10. Kepala terasa ringan atau mau pingsan
  11. Takut kehilangan kontrol atau menjadi gila
  12. Perasaan takut mati
  13. Kesemutan atau seperti baal dan rasa seperti terbakar atau kepanasan.

Gangguan panik didiagnosis bila dalam waktu sebulan terakhir telah terjadi lebih dari 3 (tiga) kali serangan panik. Serangan panik ini terjadi tiba-tiba dan di antara serangan panik tersebut pasien merasa khawatir jika dirinya mengalami keadaan itu lagi (kecemasan antisipasi). Serangan panik ini juga telah mengganggu fungsi pasien sehari-hari baik pribadi dan sosial. 

Agorafobia

Jika pasien mengalami serangan panik yang berulang, maka kebanyakan pasien menjadi takut untuk keluar rumah sendirian. Hal ini disebabkan pasien takut bila tiba-tiba saat ia sendiri di luar rumah, serangan panik itu datang lagi dan tidak ada yang menolongnya. Ketakutan tersebut dinamakan agorafobia. 

Agorafobia biasanya juga diikuti oleh penghindaran terhadap situasi yang dapat membuat timbulnya kecemasan pasien. Hal ini yang menyebabkan pasien dengan gangguan panik biasanya takut bila keluar rumah sendiri tanpa ditemani. 

Pasien juga menjadi malas keluar rumah atau bersosialisasi dengan teman serta kerabat di tempat-tempat terbuka. Apalagi bila ia harus ke tempat seperti itu sendirian. Hal ini tentunya menurunkan kualitas hidup pasien tersebut. 

Apa yang dapat dilakukan?

Kualitas hidup pasien gangguan panik tentunya mengalami penurunan akibat konsekuensi dari penyakitnya. Untuk itu tatalaksana yang tepat dan menyeluruh sangat dibutuhkan agar pasien dapat kembali hidup normal.

Jika memang dalam pemeriksaan fisik dan penunjang tidak terdapat hasil yang mendukung ke suatu diagnosis penyakit seperti jantung dan tiroid (gondok) maka diagnosis gangguan panik harus segera dipertimbangkan.

Pemeriksaan fisik dan penunjang yang lengkap penting karena gejala serangan panik seringkali mirip dengan gejala-gejala penyakit yang sering kita temukan dalam praktik seperti penyakit jantung dan gangguan tiroid (gondok). Rujukan ke seorang ahli kesehatan jiwa atau psikiater juga dapat dilakukan demi tegaknya diagnosis dan penatalaksanaan yang segera dan menyeluruh.

Seperti tatalaksana kebanyakan gangguan kesehatan jiwa, pengobatan gangguan panik juga meliputi pengobatan dengan obat dan psikoterapi. Penggunaan obat untuk gangguan panik telah mendapatkan rekomendasi dari badan obat dan makanan Amerika (FDA) dan juga dari badan pengawasan obat dan makanan (POM) Indonesia. 

Pasien tidak perlu khawatir akan efek ketergantungan terhadap obat yang sering ditakutkan oleh masyarakat bila memakan obat-obat dari ahli kesehatan jiwa. Kerjasama antara dokter dan pasien serta informasi yang akurat dan lengkap akan efek obat serta hal-hal yang menyangkut penggunaannya haruslah diketahui sejak awal berobat. 

Pasien tentunya mempunyai hak untuk bertanya kepada dokter tentang obat yang dimakannya serta efek samping yang mungkin timbul. Tentunya kewajiban dokter untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar obat yang digunakan. Keteraturan kontrol berobat dan kepatuhan akan dosis obat juga akan menghindarkan pasien dari hal-hal yang tidak diinginkan dari penggunaan obat yang tidak tepat. 

Psikoterapi dengan menggunakan teknik terapi kognitif juga sangat diperlukan. Pasien gangguan panik biasanya mempunyai keyakinan yang salah akan penyakitnya. Pasien biasanya sering salah mengintepretasikan sensasi di tubuhnya sebagai tanda awal serangan panik. Informasi tentang serangan panik termasuk penjelasan bahwa ketika serangan panik berlangsung, serangan tersebut terbatas watunya dan tidak mengancam jiwa. 

Latihan relaksasi, pernapasan termasuk meditasi juga mempunyai peran yang sangat baik pada pasien gangguan panik. Hal ini membantu pasien untuk dapat mengontrol pernapasannya dan sedapat mungkin relaks sehingga gejala yang timbul dapat ditangani dengan baik secara mandiri oleh pasien pada saat serangan panik datang.

Semoga penjelasan di atas dapat membantu Anda untuk mengenali gejala dan tanda gangguan panik serta cara mengatasinya. Jangan malu untuk berkonsultasi dengan dokter ahli kesehatan jiwa jika mengalami gangguan panik. Salam sehat jiwa.

Penulis





dr. Andri, SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis
Anggota The American Psychosomatic Society
Anggota The Academy of Psychosomatic Medicine
mbahndi@yahoo.com


sumber : detikhealth.com

Sabtu, 12 November 2011

Lecture Notes : Psychosomatic Medicine in Primary Care



















Saat saya menuliskan berita ini, saya sedang menunggu pesawat yang akan mengantar saya kembali ke Cengkareng, Tangerang. Pagi tadi jam 6.20 saya bertolak ke kampus FK UGM Jogjakarta untuk memberikan Lecture Notes : Psychosomatic Medicine in Primary Care. Selain diminta untuk memberikan kuliah, saya juga diminta menjadi panelis bersama Prof Mark Graber dari Department of Family Medicine University of Iowa untuk membahas kasus-kasus yang terangkum dalam buku Kedokteran Keluarga karangan beliau yang banyak membahas kasus-kasus gangguan jiwa di pelayanan primer.

Psikosomatik Untuk Dokter Keluarga
Saya diminta untuk memberikan kuliah tentang bagaimana mengenali gangguan psikosomatik di pelayanan primer. Hal ini disebabkan karena lebih dari 20 persen kasus gangguan psikosomatik yang ada datang ke pelayanan primer terlebih dahulu. Permasalahan menjadi timbul karena kebanyakan pasien-pasien dengan gangguan psikosomatik lebih sering mengeluh gangguan fisik daripada kondisi psikologisnya.
Hal ini yang menyebabkan kasus-kasus psikosomatik yang memang merupakan keluhan fisik dengan dasar psikologis agak sulit didiagnosis di pelayanan primer karena lebih sering daripada tidak dokter pelayanan primer termasuk dokter keluarga lebih banyak fokus pada kondisi fisiknya saja.
Satu hal yang paling terkait dengan kesulitan diagnosis gangguan psikosomatik dan gangguan jiwa terkait adalah sulitnya menentukan diagnosis. Kesulitan ini sangat wajar dialami karena kebanyakan dokter mengira bahwa kondisi kejiwaan adalah sesuatu yang sulit didiagnosis dan memerlukan pemeriksaan yang lama. Padahal dalam beberapa kasus tertentu terutama psikosomatik, gangguan cemas panik dan depresi, penegakan diagnosis bisa dilakukan dengan menggunakan cara-cara penggunaan skala penilaian yang sederhana, atau dengan melihat riwayat datangnya pasien ke pelayanan kesehatan. Pasien dengan banyak keluhan fisik yang seringkali berganti-ganti serta menunjukkan gejala fisik yang tidak didasari oleh hasil pemeriksaan obyektif yang nyata merupakan “kandidat” pasien psikosomatik.

Perkuat Keilmuan Dokter Keluarga
Departemen Dokter Keluarga (Dept of Family Medicine) FK UGM menyadari hal ini. Doktyer keluarga sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan juga sebenarnya mempunyai tanggung jawab dalam menangani kasu-kasus gangguan kejiwaan terkait keluhan psikosomatik. Maka dari itulah dalam rangkain kuliah tamu berupa Lecture Notes dari University of Iowa, diselipkan topik Gangguan Psikosomatik yang oleh beberapa sejawat dokter yang menjadi peserta dikatakan sebagai salah satu gangguan terkait kejiwaan yang paling banyak ditemui mereka.
Penegakkan diagnosis yang tepat dan tata laksana terapi yang sesuai akan sangat membantu pasien dalam mengatasi gangguan psikosomatiknya. Bekal ini yang coba diberikan pada saat “Lecture Notes’ tadi pagi tentang kondisi psikosomatik. Diagnosis dasar yang mendasari keluhan psikosomatik seperti depresi dan gangguan kecemasan juga dibahas agar mengingatkan kembali para dokter tentang adanya kondisi kejiwaan ini yang sangat erat kaitannya dengan psikosomatik. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa orang asia seperti juga Indonesia lebih “suka” mengeluhkan keluhan fisik daripada keluhan psikisnya.
Semoga apa yang telah dilakukan tadi pagi dapat memberikan asupan berharga bagi kepentingan perkembangan dokter keluarga di Indonesia
Salam Sehat Jiwa

Selasa, 08 November 2011

Jadwal Cuti

Dear all,

Karena akan melaksanakan tugas melakukan presentasi dan pelatihan untuk para dokter umum dan spesialis tentang Psikosomatik Medis, maka pada tanggal-tanggal di bawah ini saya akan cuti praktek (semua di hari Sabtu)

Sabtu, 12 November 2011 : Cuti karena akan memberikan kuliah tamu di FK UGM untuk dokter-dokter keluarga dengan topik penanganan kasus Psikosomatik di pelayanan primer
Sabtu, 03 Desember 2011 : Cuti karena akan memberikan seminar di Ambon, Maluku untuk dokter umum dan spesialis dengan topik PSikosomatik Medis, Apa dan bagaimana penatalaksanaan.
Sabtu, 17 Desember 2011 : Cuti praktek karena akan memberikan seminar kepada awam tentang faktor yang berpengaruh terhadap kecerdasan anak

Doakan acara tersebut sukses dan saya diberikan kesehatan untuk menjalankan semuanya dengan baik. 

Senin, 07 November 2011

Masalah Remaja : On Air di TV ONE


Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk datang ke Epicentrum Walk di bilangan Kuningan untuk membahas tentang kasus anak kabur dari rumah yang ramai dibicarakan belakangan ini. Adalah Dea (22) yang dikabarkan oleh orang tuanya kabur dari rumah.
Apa yang dibicarakan pada kesempatan pagi tadi lebih kepada apa saja yang menjadi penyebab adanya kenalakan remaja dan masalah-masalah remaja peralihan dari remaja ke dewasa muda.
Semoga acara tadi pagi ini bisa menambah wawasan kita bersama.

Jumat, 28 Oktober 2011

Tersiksa Karena XANAX


oleh : dr.Andri,SpKJ
Sengaja saya menuliskan judul dengan salah satu merk dagang obat yang terkenal di dunia medis. Obat yang dipakai bukan hanya oleh psikiater tetapi juga lebih dari 80 persen peresepannya dilakukan oleh dokter umum dan dokter spesialis lain (Data WHO 2008). Kali ini saya ingin menceritakan tentang sejawat saya sendiri yang mengalami kondisi putus obat Xanax yang kandungannya adalah Alprazolam.
Pagi tadi ketika hendak bersiap-siap kerja, saya menerima BBM dari sejawat saya seorang dokter spesialis. Dia menanyakan bagaimana bisa lepas dari efek withdrawal atau putus zat dari Xanax. Ceritanya sudah sejak 40 hari ini dia makan obat ini yang disarankan oleh seorang Konsultan Dokter Jantung di salah satu RS terkenal. Lalu karena merasa takut, sejawat ini akhirnya melepaskan tiba-tiba obat tersebut dan selama 3 hari sejak putus obat ini, teman saya ini merasakan keluhan cemas yang menjadi-jadi kembali, lemas dan nyeri otot, perasaan seperti ada listrik di badan dan sulit tidur lagi. Lalu iseng-iseng dia melihat buku Farmakologi yang membuatnya kaget bahwa apa yang dia alami adalah akibat kondisi lepas obat golongan Alprazolam, zat yang terkandung dalam Xanax. Padahal dosis yang digunakan relatif tidak besar hanya 0.5 mg saja dan dimakan tiap malam.
Sebenarnya sejawat ini pernah menanyakan kepada saya bahwa belakangan ini dia sulit tidur dan merasa gangguan perut refluks yang dikenal dengan GERD. Saya sudah menyarankan untuk bertemu saya dan mulai pengobatannya tetapi kecenderungan teman ini merasa tidak nyaman di daerah jantung juga. Hal ini membuatnya berpikir bahwa lebih baik dia berkonsultasi ke dokter jantung. Keluhan jantung memang seringkali juga merupakan keluhan yang dialami pasien gangguan cemas, biasanya adalah keluhan jantung berdebar. Pada teman saya ini, debarannya begitu hebat sampai-sampai dia bisa terbangun dengan keringatan di tengah malam.
Balik kembali ke masalah putus obat-nya. Memang apa yang dia alami adalah suatu hal yang kita kenal di kalangan medis sebagai reaksi putus zat. Pemakaian alprazolam yang lama pada berbagai literatur memang meningkatkan potensi ketergantungan dan reaksi putus zat. Hal ini disebabkan karena waktu paruh alprazolam di dalam darah yang relatif cepat hilang. Artinya seringkali orang akan cenderung merasakan efeknya hilang  jika sudah lewat 4 jam pemakaian dan akhirnya mencoba memakan lagi. Salah satu sumber mengatakan pemakaian alprazolam lebih dari dua minggu pada sebagian besar orang yang punya kecenderungan tergantung zat akan membuatnya semakin sulit melepaskan diri dari alprazolam.
Kondisi di atas lah yang membuat walaupun efektif, alprazolam sudah sangat jarang saya  gunakan apalagi pada pasien dengan riwayat penyalahgunaan zat seperti alkohol, sabu-sabu dan ectasy. Saya akan lebih memilih obat anticemas yang kerjanya panjang seperti clobazam (di kenal dengan merek dagang Frisium dan Clobazam generik) atau Clonazepam.
Semoga cerita di atas bisa menjadi bahan pembelajaran.
Salam Sehat Jiwa

Kamis, 13 Oktober 2011

Gangguan Psikosomatik : Gangguan Jiwa Paling Sering

oleh : Dr.Andri,SpKJ

Kemarin (13/10/2011) telah diadakan seminar untuk para dokter lulusan baru di FK UKRIDA dengan tema “Common Mental Health in Primary Care : Diagnosis and Treatment”. Pada kesempatan ini saya mengetengahkan presentasi tentang Gangguan Psikosomatik di Pelayanan Primer, Bagaimana Diagnosis dan Tatalaksana awalnya.
Topik ini saya angkat karena pada berbagai kepustakaan, keluhan psikosomatik merupakan keluhan yang paling banyak dialami oleh pasien-pasien yang datang ke pelayanan primer. Pasien yang datang ke dokter dengan keluhan fisik ternyata 19.7-22% mengalami gangguan somatisasi yang seringkali mengganggu pasien dan kualitas hidupnya.
Gangguan psikosomatik dalam bahasa kedokteran jiwa lebih dikenal dengan sebutan Gangguan Somatisasi sebagai bagian dari payung diagnosis Gangguan Somatoform. Gejala yang paling khas dari gangguan Somatisasi adalah banyaknya keluhan yang terjadi di berbagai organ terutama lambung, otot, dan paling sering mengalami keluhan nyeri. Gejala ini biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan untuk mendapatkan diagnosis tetap sebagai suatu Gangguan Somatisasi.Pasien dengan keluhan seperti ini biasanya akan berpindah-pindah dokter karena “penyakitnya” tidak sembuh-sembuh.
Namun ternyata pada prakteknya diagnosis Gangguan Somatisasi jarang bisa ditetapkan pada pasien dengan keluhan-keluhan psikosomatik. Kebanyakan keluhan psikosomatik-nya hanya beberapa saja atau hanya fokus di salah satu gejala seperti jantung berdebar, sesak napas dan tidak nyaman di daerah dada. Lain kali pasien ada yang mengeluh lebih banyak keluhan lambungnya daripada yang lain. Kasus-kasus seperti ini yang lebih banyak terlihat di Klinik daripada yang benar-benar sebagai gangguan somatisasi. Survey yang dilakukan di Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera kepada pasien-pasien yang datang dengan keluhan psikosomatik, ternyata lebih dari 50% di antaranya, diagnosis dasarnya adalah Gangguan Cemas Panik.
Untuk itulah peran dokter umum di pelayanan primer sangat penting dalam mendiagnosis keluhan-keluhan psikosomatik pada pasiennya. Pandangan seorang dokter terhadap pasien seharusnya menyeluruh dan berpikir dengan konsep biopsikososial. Pendekatan biospikososial ini yang akan melihat pasien secara menyeluruh bukan hanya keluhan fisiknya saja tetapi juga apakah keluhan itu terkait juga dengan jiwa dan lingkungan sosialnya. Pada dasarnya semua penyakit pasti memiliki pendekatan biospikososial karena manusia memang makhluk biopsikososial.
Pada akhirnya tujuan dari seminar ini adalah agar kemampuan dokter-dokter umum khususnya yang akan berpraktek nanti akan lebih terasah dalam mendiagnosis kondisi keluhan psikosomatik yang sebenarnya sangat sering didapatkan pada pasien-pasien yang datang ke pelayanan primer dengan keluhan fisik.

http://www.facebook.com/pages/Psikosomatik-Medis/239114322787902

Rabu, 12 Oktober 2011

Mengapa Perempuan (Indonesia) Lebih Mudah Depresi ?

Oleh : Dr.Andri,SpKJ
Psikiater

Selama menangani pasien-pasien dengan keluhan psikosomatik yang datang ke klinik saya, saya sering mendapati dasar diagnosis dari pasien-pasien dengan keluhan-keluhan fisik yang tidak jelas ini adalah gangguan cemas dan depresi. Hal lain yang saya amati adalah perempuan lebih sering mengalami depresi daripada cemas. Jika memang ada gejala cemasnya juga biasanya pasien mengalami keluhan-keluhan depresi yang lebih dominan.
Hal ini tentunya bukan hal yang baru di dunia psikiatri. Perempuan memang lebih sering mengalami depresi dibandingkan dengan pria menurut berbagai penelitian yang telah dibuat. Banyak faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hal ini telah diungkapkan, namun rata-rata penelitian itu berbasis di komunitas negara-negara barat.
Saya mencoba menelaah dan memilah-milah sekiranya apa yang membuat perempuan Indonesia yang datang ke praktek lebih banyak mengalami depresi daripada gangguan kecemasan.
 
1. Hormonal
Sama seperti pada penelitian barat, perempuan Indonesia beberapa juga sangat terganggu dengan siklus hormonal bulanan yang sering juga berbarengan timbulnya dengan perubahan mood atau suasana perasaan yang tidak nyaman. Mereka biasanya mengalami kondisi tidak nyaman menjelang menstruasi dan selama menstruasi. Secara statistik memang perempuan di masa kehidupannya sejak fase pertama kali mens (menarche) sampai nanti setelah menopause akan cukup sering berkaitan dengan masalah mood terkait dengan fluktuatif hormonal.
 
2. Tuntutan Peran
Peran perempuan apalagi yang menikah sangat kompleks. Perempuan harus menjadi istri, ibu buat anaknya dan bahkan kadang "ibu" buat suaminya juga, juga seringkali menjadi orang yang diharapkan oleh keluarga perempuan untuk membantu. Kompleksitas peran ini membuat perempuan rentan stres. Apalagi jika ditambah dengan keinginan tetap mengaktualisasikaan diri yang malah seringkali terhambat. Penerimaan terhadap peran dan tuntutan di dalamnya yang bisa membantu perempuan mengatasi permasalahannya.
 
3. Konflik Rumah Tangga
Banyak kasus yang saya tangani terkait dengan konflik rumah tangga dan yang paling sering adalah perselingkuhan suami. Terkadang hal ini ditambah dengan sikap sebagian masyarakat di sekitar lingkungan perempuan itu yang "memaklumi" perselingkuhan suami. Ini semakin menjadi beban yang berat untuk perempuan yang merasa diperlakukan tidak adil.
 
4. Anak bermasalah
Anak seringkali menjadi pemicu stres orang tua terutama ibu. Perempuan dalam rumah tangga seringkali diberikan tugas lebih banyak dalam mengurus anak dan ini membuatnya seringkali lebih rentan terhadap stres terutama dalam  menghadapi anak-anaknya yang bermasalah. Peran suami dalam kondisi ini diharapkan dapat lebih membantu sehingga peran ibu menjadi lebih mudah.
Demikian sedikit hasil telaah saya terhadap kasus-kasus yang sering dialami perempuan yang mengalami depresi. Faktor-faktor lain mungkin saja terdapat dan mungkin menjadi faktor yang dominan buat masing-masing perempuan.
Berempatilah dengan perempuan Indonesia !
Salam Sehat Jiwa

Kamis, 22 September 2011

GERD, Keluhan Lambung dan Kecemasan Panik Yang Berhubungan

Oleh : Dr.Andri,SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis

Sejak mengkhususkan diri dalam menangani pasien-pasien dengan keluhan Psikosomatik, saya lebih banyak menangani pasien dengan keluhan-keluhan fisik terutama yang berkaitan dengan keluhan jantung, paru dan sistem pencernaan. Keluhan jantung berdebar, sesak napas, merasa lambung penuh dan kembung adalah keluhan-keluhan yang sering dialami pasien yang berkunjung di klinik psikosomatik tempat saya berpraktek.
Belakangan ini makin banyak datang pasien dengan keluhan lambung yang didiagnosis sebagai GERD (GastroEsophageal Reflux disorder) oleh dokter penyakit dalam yang juga datang ke tempat praktek saya. Apa hubungan GERD dengan gangguan jiwa terutama gangguan cemas panik? Hal ini akan saya jelaskan dalam pembahasan di bawah ini.

Asam Lambung Yang Naik
Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau bila diterjemahkan secara harafiah disebut sebagai penyakit lambung karena refluks asam lambung adalah masalah kesehatan umum yang menyebabkan perasaan terbakar di dada (dikenal istilah heartburn) dan regurgitasi asam lambung dari perut.
Jika kita makan, maka untuk mencerna makanan yang kita makan, perut kita akan diisi dengan asam lambung. Selama asam lambung itu tetap di perut dan melakukan tugasnya, tidak ada masalah. Tapi, ketika asam ini naik ke kerongkongan, kita akan mengalami gejala-gejala sakit maag. Apalagi jika asam ini termuntahkan ke kerongkongan, kita mungkin mengalami rasa terbakar di tenggorokan dan rasa yang sangat tidak menyenangkan di mulut kita.

Apa Penyebab GERD?
Kerongkongan adalah laksana saluran tabung otot yang menghubungkan mulut ke perut. Lower esophageal sphincter (LES) adalah sebuah cincin otot yang menutup “pintu” lambung dari kerongkongan ketika kita tidak makan. Ketika kita makan, otot ini akan mengendur untuk memungkinkan makanan masuk dari kerongkongan ke perut. LES kemudian menutup lagi sehingga makanan di perut tidak akan kembali ke kerongkongan. Pada kondisi GERD, LES tidak berfungsi dengan baik untuk mencegah naiknya asam lambung.

Kecemasan dan Depresi Tingkatkan Risiko Mengembangkan GERD
Penelitian yang telah dilakukan, baik kecemasan dan depresi berhubungan dengan risiko dua sampai empat kali lipat dari penyakit GERD. Beberapa peneliti percaya bahwa bahan kimia otak yang disebut cholecystokinin (CCK), yang telah dikaitkan dengan panik dan gangguan pencernaan, mungkin memainkan peran dalam timbulnya GERD pada orang dengan gangguan kecemasan. Faktor lain yang memungkinkan dan berkontribusi adalah ketika orang cemas mereka cenderung memicu atau memperburuk refluks asam lambung ke kerongkongan.

Apa yang bisa dilakukan ?
Pendekatan konsep biopsikososial pada kondisi medis umum adalah yang terbaik. Ini berarti bahwa pasien GERD selain perlu ditangani masalah fisik medis yang terkait dengan refluks asam lambung juga perlu mendapatkan penanganan kondisi cemasnya yang sering berkaitan dengan gangguan cemas panik dan depresi. Dalam praktek sering saya menemukan ketika kondisi cemas paniknya teratasi dengan baik, maka keluhan lambungnya bisa jauh berkurang bahkan baik sama sekali. Tata laksana yang tepat dan menyeluruh perlu dilakukan mengingat jika tidak diobati, refluks asam lambung dapat menyebabkan peradangan lapisan esofagus yang akan mengakibatkan kesulitan menelan, nyeri dada kronis, dan bahkan dapat menyebabkan kanker kerongkongan.
Seperti diungkapkan di atas bahwa cemas dan depresi bisa memperberat penyakit GERD sampai beberapa kali lipat, maka ada baiknya penanganan pasien dengan gangguan GERD yang juga mengalami kondisi kecemasan tinggi baik akibat latar belakang psikologisnya ataupun karena memikirkan penyakitnya perlu ditangani kondisi kesehatan jiwanya. Hal ini diupayakan agar mendapatkan hasil yang maksimal dalam penyembuhan kasus-kasus penyakit GERD.
Semoga informasi ini bermanfaat
Salam Sehat Jiwa

Selasa, 13 September 2011

Stres Bikin Daya Tahan Tubuh Terganggu

Oleh : Dr.Andri,SpKJ

Penelitian yang membahas tentang hubungan stres dan sistem daya tahan tubuh atau dikenal dengan sistem imun tubuh sudah semakin banyak dilakukan. Sejak berkembangnya ilmu Psikoneuroimunologi yaitu suatu ilmu yang mengkaitkan hubungan antara ilmu psikologi, saraf dan imunologi maka kondisi yang berhubungan dengan hal ini sudah semakin sering diteliti.

Psikoneuroimunologi menekankan pada pembuktian-pembuktian terkait dengan sistem imun tubuh dan hubungannya dengan stres yang terjadi pada orang tersebut. Disebutkan banyak sekali dampak stres terhadap sistem imun tubuh manusia yang mengakibatkan seseorang lebih rentang mengalami gangguan penyakit terkait dengan sistem imun tubuh.

Kemarin saat hari kedua kongres dunia International College of Psychosomatic Medicine di Seoul, Korea Selatan, pembicara Prof Christopher Coe dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat menerangkan kembali tentang Psikoneuroimunologi dalam kuliahnya yang berjudul “All Roads Lead To Psychoneuroimmunology”

Dalam kuliahnya Prof Coe mengatakan bahwa sudah semakin banyak penelitian dan fakta yang menggambarkan keterlibatan stres dalam mempengaruhi sistem imun manusia. Beberapa penyakit yang dihubungan dan ditekankan saat kuliah kemarin adalah pada Asma dan Fibromialgia.

Asma kita ketahui sebagai suatu gangguan penyakit pernapasan yang melibatkan sel-sel radang dan imun sistem dalam tubuh. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini (hanya bisa dikendalikan) sangat terkait dengan peranan sistem imun dan stres yang bisa memicu terjadinya serangan.

Fibromialgia sendiri merupakan suatu kondisi gangguan penyakit yang menekankan keluhannya pada nyeri di berbagai bagian tubuh dan suasana perasan yang tidak nyaman terkait dengan kondisi ini. Gangguan nyeri yang lebih banyak terdapat pada wanita ini belakangan semakin diteliti mempunyai dampak yang berhubungan dengan sistem stres dan imun tubuh. Kondisi yang terkait sistem imun pada pasien dengan gangguan fibromialgia terkait dengan penurunan kadar sel yang disebut Natural Killer (NK), Sitokon dan Interleukin. Kondisi seperti ini juga ditemukan pada pasien dengan depresi. Tidak heran gejala-gejala depresi dan cemas juga merupakan salah satu tanda kondisi fibromialgia. Fibromialgia sendiri memang dikenal dulunya lebih kepada suatu kumpulan gejala (sindrom) yang melibatkan berbagai macam keluhan. Kondisi sindrom yang juga sering tumpang tindih dengan berbagai kondisi lain seperti di antaranya gangguan somatoform (psikosomatik), gangguan nyeri, gangguan depresi dan gangguan lelah berkepanjangan (chronic fatigue syndrome)

Pada akhir kuliahnya Prof Coe mengatakan masih banyak terbuka lahan penelitian di bidang ini dan tentunya akan makin banyak pengetahuan yang masih bisa diperoleh dengan mempelajari stres dan hubungannya dengan sistem imun tubuh manusia.

Salam Sehat Jiwa

Sabtu, 27 Agustus 2011

Stres Bikin Daya Tahan Tubuh Menurun

Oleh : Dr.Andri,SpKJ

Penelitian yang membahas tentang hubungan stres dan sistem daya tahan tubuh atau dikenal dengan sistem imun tubuh sudah semakin banyak dilakukan. Sejak berkembangnya ilmu Psikoneuroimunologi yaitu suatu ilmu yang mengkaitkan hubungan antara ilmu psikologi, saraf dan imunologi maka kondisi yang berhubungan dengan hal ini sudah semakin sering diteliti.

Psikoneuroimunologi menekankan pada pembuktian-pembuktian terkait dengan sistem imun tubuh dan hubungannya dengan stres yang terjadi pada orang tersebut. Disebutkan banyak sekali dampak stres terhadap sistem imun tubuh manusia yang mengakibatkan seseorang lebih rentang mengalami gangguan penyakit terkait dengan sistem imun tubuh.

Kemarin saat hari kedua kongres dunia International College of Psychosomatic Medicine di Seoul, Korea Selatan, pembicara Prof Christopher Coe dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat menerangkan kembali tentang Psikoneuroimunologi dalam kuliahnya yang berjudul “All Roads Lead To Psychoneuroimmunology”

Dalam kuliahnya Prof Coe mengatakan bahwa sudah semakin banyak penelitian dan fakta yang menggambarkan keterlibatan stres dalam mempengaruhi sistem imun manusia. Beberapa penyakit yang dihubungan dan ditekankan saat kuliah kemarin adalah pada Asma dan Fibromialgia.

Asma kita ketahui sebagai suatu gangguan penyakit pernapasan yang melibatkan sel-sel radang dan imun sistem dalam tubuh. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini (hanya bisa dikendalikan) sangat terkait dengan peranan sistem imun dan stres yang bisa memicu terjadinya serangan.

Fibromialgia sendiri merupakan suatu kondisi gangguan penyakit yang menekankan keluhannya pada nyeri di berbagai bagian tubuh dan suasana perasan yang tidak nyaman terkait dengan kondisi ini. Gangguan nyeri yang lebih banyak terdapat pada wanita ini belakangan semakin diteliti mempunyai dampak yang berhubungan dengan sistem stres dan imun tubuh. Kondisi yang terkait sistem imun pada pasien dengan gangguan fibromialgia terkait dengan penurunan kadar sel yang disebut Natural Killer (NK), Sitokon dan Interleukin. Kondisi seperti ini juga ditemukan pada pasien dengan depresi. Tidak heran gejala-gejala depresi dan cemas juga merupakan salah satu tanda kondisi fibromialgia. Fibromialgia sendiri memang dikenal dulunya lebih kepada suatu kumpulan gejala (sindrom) yang melibatkan berbagai macam keluhan. Kondisi sindrom yang juga sering tumpang tindih dengan berbagai kondisi lain seperti di antaranya gangguan somatoform (psikosomatik), gangguan nyeri, gangguan depresi dan gangguan lelah berkepanjangan (chronic fatigue syndrome)

Pada akhir kuliahnya Prof Coe mengatakan masih banyak terbuka lahan penelitian di bidang ini dan tentunya akan makin banyak pengetahuan yang masih bisa diperoleh dengan mempelajari stres dan hubungannya dengan sistem imun tubuh manusia.

Salam Sehat Jiwa

Sabtu, 13 Agustus 2011

Akhirnya Lepas dari Ketergantungan Alprazolam


Atas ijin pasien saya posting email ini

Dear temans,
Saya menulis pengalaman saya ini benar-benar dari pengalaman saya pribadi dan atas pertimbangan supaya teman-teman yang masih menggunakan obat2 an jenis ini supaya lebih semangat untuk berusaha berhenti menggunakannya.
Bulan Desember 2010 lalu saya berobat ke sebuah Rumah Sakit yang terkenal di Depok dan saya pilih dokter penyakit dalam yang paling banyak pasiennya dengan harapan bahwa saya tidak salah pilih dokter.
Dari hasil diagnosa dokter tersebut saya dinyatakan kena penyakit GERD , dan pada akhir bulan Februari 2011 dilakukan endoscopy karena ada rasa panas di perut saya ( endoscopy saya lakukan atas saran dokter lain di rumah sakit lain ) , dan dari hasil esdoscopy tersebut ternyata ada baret di kerongkongan saya karena efek dari asam lambung yang sering naik ke kerongkongan dan dinyatakan saya kena esophagitis grade III .
Mengingat dari hasil endoscopy tersebut bahwa saya menderita esophagitis maka saya putuskan untuk terus berobat ke RS dan dokter tersebut terus menerus tanpa harus menunggu obat habis, dan pada akhir bulan Mei saat obat racikan dokter tersebut habis sementara obat yang lain masih ada tiba-tiba saya tidak bisa tidur sama sekali selama 4 hari 4 malam dengan perasaan yang tidak karuan, cemas . keluar keringat dingan, badan gemetar dan lemas sekali rasanya...akhirnya saya putuskan untuk ke dokter langganan saya tersebut..., dan dia bilang akan kasih saya obat tidur di racik dengan obat lambung dan jika tidak bisa tidur maka obat tersebut boleh dimakan 2 kapsul sekaligus dan memang seteah saya minum obat tersebut langsung 2 kapsul sekaligus saya langsung bisa tidur dan badan terasa segar kembali . Dua minggu kemudian saat obat tersebut habis saya kembali tidak bisa tidur dan pada malam ke 4 kira2 jam 2 malam saya pergi ke UGD ke rumah sakit langganan saya tersebut untuk minta obat yang pernah diberikan oleh dokter langganan saya ..., dan memang setelah saya minum obat racikan tersebut saya kembali tidur pulas...saat obat tersebut habis lagi , kembali saya tidak bisa tidur, dan saat itulah saya mulai sadar bahwa kemungkinan saya ketergantungan dengan obat racikan tersebut. 5 hari kemudian saya putuskan kembali ke dokter langganan saya dan saya ceitakan kondisi saya ternyata dia kasih lagi obat racikan tersebut tetapi saya sudah mulai ragu untuk mengkonsumsinya karena setelah saya konsultasikan ke dokter ahli pencernaan di rumah sakit lain dia tidak mau memberikan obat dan malah memberikan obat tidur dengan catatan dimakan jika benar-benar diperlukan.
Atas saran seorang teman saya diminta mengecek di internet jenis obat racikan tersebut yang terdiri dari Alprasolam 1/2 X 0.25ml diracik dengan 1/2 X0.5mg Clobazam dimasukkan dalam satu kapsul ternyata kedua obat racikan tersebut sejenis obat anti depresi dan anti kecemasan setelah saya check lagi ternyata dokter langganan saya tersebut sudah memberikan kepada saya mulai bulan Desember 2010 yang berarti sudah saya minum selama 6 bulan secara terus menerus yang harus saya minum 2Xsehari.
Beruntung saya bisa bertemu dengan Dr. Andri SpKJ yang saya temukan di Internet. Dan setelah saya berkenalan dan saya ceritakan persoalan saya melalui email maka saya putuskan untuk berkunjung langsung ke RS Omni Alam Sutra...dan Dr. Andri SpKJ memberikan program pengurangan dosis untuk mengatasi ketergantungan obat tersebut.
Teman-teman....ternyata sangat tidak mudah untuk mengurangi dosis obat tersebut karena selama saya menjalani program dari Dr. Andri memang tidur saya sangat tidak nyaman sehingga jika pagi hari tubuh terasa lemas, dan jika siang hari pikiran terasa cemas , linglung dan sering kali sulit mengontrol emosi...dan sudah tentu dengan kondisi seperti ini penyakit GERD saya tambah parah karena yang tadinya hanya bagian perut saja yang terasa panas, sekarang menjalar ke pinggang, dada sampai ketenggorakan terasa panas dan dada terasa sakit di tambah lagi kepala terasa pusing.
Sungguh menderita sekali rasanya...tetapi karena keinginan untuk lepas dari obat tersebut juga lebih kuat maka saya tetap tidak mau minum obat tersebut melebihi dosis yang telah di programkan oleh dokter Andri...hal berlanjut selama 2 minggu , dan saat memasuki minggu ke 3 saya putuskan untuk meminum racikan Alprasolam 1/4 X 0.25 mg sesuai anjuran dokter Andri untuk dosis terakhir , selama proses ini saya selalu aktif minta saran dokter Andri baik melalui email maupun SMS, dan atas saran Dokter tsb maka Alprasolam tersebut harus didampingi oleh Clobazam 1/2 X 0.5mg, 3 hari kemudian saya konsultasi lagi dengan dokter Andri dan memberikan program penurunan obat Alprazolam dan Clobazam tersebut...
Sehari setelah konsultasi tersebut saya putuskan untuk tidak meminum Alprazolam tersebut dan bebarapa hari efeknya semakin berkurang dan setelah satu minggu dapat saya pastikan bahwa efek putus obat dari Alprazolam benar-benar hilang...terima kasih banyak Dr. Andri SpKJ...tetapi saat itu saya masih minum Clobazam 1/4 X 0.5mg, dan belum bisa di hentikan secara mendadak, karena bebarapa kali saya coba tidak minum obat tersebut belum bisa tidur dan kepala pusing sekali.
Pada tanggal 4 Agustus kemarin saya coba tidak minum obat tersebut sama sekali dan ternyata untuk pertama kali selama 1,5 bulan sejak saya melakukan program mengurangi ketergantungan obat tersebut, tidur dan pikiran saya tidak terganggu sama sekali dengan tanpa meminum kedua obat tersebut yaitu Alprazolam dan Clobazam, mudah-mudahan ini adalah pertanda bahwa tubuh saya sudah pulih dari ketergantungan obat yang malah bikin susah tersebut.
Dari pengalaman saya ini maka sebaiknya teman-teman yang saat ini masih mengkonsumsi obat-obatan Alprazolam dan sejenisnya untuk segeralah berhenti karena efek sampingnya jauh lebih berbahaya dari manfaat yang didapat dari pemakaian obat tersebut. Mintalah bantuan pada orang yang benar-benar ahlinya..sebab hal juga dapat membantu sugesti kita untuk dapat mengatasi segala masalah yang dihapadi saat kita mengurangi dosis obat tersebut...
Demikianlah pengalaman saya ini dengan harapan dapat menjadi pelajaran sekaligus harapan bahwa separah apapun ketergantungan kita dengan Obat-obat sejenis penenang akan bisa kita atasi jika diiringi dengan kemauan yang kuat dengan didampingi oleh orang yang memang ahlinya..dan juga jangan lupa banyak-banyaklah berdo'a...dan tentu dukungan dari orang-orang dekat sangat membantu.
Salam