psikosomatik

psikosomatik

Minggu, 09 Desember 2018

Kenali Baby Blues Syndrome, Cegah Depresi Pasca Melahirkan

Sabtu, 8 Desember 2018 kemarin bertempat di Omni Hospital Alam Sutera, dengan dukungan Orami Parenting Club saya memberikan seminar berjudul "Mengenali dan Terapi Baby Blues Syndrome". Harapan saya dalam seminar ini terwujud karena selain para ibu dan calon ibu yang hadir, ada juga para suami sebagai pendamping ikut hadir mendengarkan. Hal ini menjadi penting karena masalah terkait dengan Baby Blues cukup sering dikaitkan dengan peran suami selama kehamilan dan pasca persalinan. 
Apakah sebenarnya Baby Blues Syndrome itu? Baby Blues Syndromeadalah sekumpulan gejala terkait dengan suasana perasaan yang depresif yang terjadi pada hari pertama sampai hari ke empat belas pasca persalinan yang terjadi pada ibu. Beberapa gejala Baby Blues Syndrome adalah seperti tercantum di bawah ini : 
  • Mudah menangis
  • Tidak tertarik kepada kegiatan 
  • Mudah lupa
  • Cemas dan Gelisah 
  • Mudah marah
  • Mudah lelah 
  • Sensitif
  • Pikiran kosong
  • Hilang harapan 
  • Tidak merasa bahagia 
  • Manarik diri
  • Tidak percaya diri 
Walaupun hal ini bisa terjadi pada semua perempuan yang baru saja melahirkan namun ada beberapa faktor risiko terjadinya Baby Blues Syndrome, seperti tersebut di bawah ini :
  • Dukungan sosial yang kurang
  • Kejadian buruk yang sering dan berulang (kematian orang tua dan pasangan)
  • Riwayat PMS (premenstrual syndrome), gangguan mood saat menjelang mens (Premenstrual Dysphoric Disorder) dan riwayat infertilitas 
  • Riwayat kekerasan saat anak-anak
  • Gangguan tiroid
  • Infeksi jamur yang kronis (berkepanjangan)
  • Morning sickness atau ngidam yang berat
  • Hubungan yang kurang harmonis dengan orang tua  
  • Riwayat depresi pasca melahirkan sebelumnya 
  • Air Susu Ibu (ASI) yang tidak keluar setelah melahirkan
  • Peningkatan berat badan yang berlebihan saat kehamilan dan BB kurang menurun setelah melahirkan
  • Adanya penyulit saat proses kelahiran
  • Kehamilan yang tidak diinginkan 
  • Kehamilan di usia tua (di batas 35 tahun)
  • Masalah pernikahan sebelum hamil
Jika ada pertanyaan apakah penyebab dari masalah terkait Baby Blues Syndrome ini, pertanyaan ini biasanya dapat dijawab dengan dua pendekatan yaitu pendekatan Psikososial dan Pendekatan Biologis seperti tercantum di bawah ini : 
  • Faktor Psikososial
    • Konflik berkepanjangan dalam perkawinan
    • Suasana perasaan suami istri yang tidak stabil 
    • Melahirkan di usia tua untuk perempuan melahirkan (di atas 35 tahun)
  • Faktor Biologis 
    • Penurunan estrogen dan progesteron 
    • Hormon dan zat kimiawi otak yang berperan : cortisol, thyroxin, serotonin, norepinephrin and dopamine
Baby blues syndrome perlu dikenali karena membuat kualitas kehidupan ibu dan anak menjadi buruk. Ibu menjadi kesulitan atau tidak mampu mengurus anak. Kondisi Baby Blues Syndrome juga bisa berlanjut ke depresi pasca melahirkan jika dua minggu tidak membaik. Pada kondisi yang berat sering kali ditemukan adanya pikiran bunuh diri sampai upaya melakukan upaya bunuh diri dan membunuh anaknya 
Bagaimana Mencegah dan Terapinya?
Seprti yang diungkapkan di depan, peran keluarga apalagi suami adalah sangat penting. Sarankan ibu untuk banyak beristirahat dan tidak melakukan aktifitas yang membuat stres. Sering kali yang dialami ibu pasca melahirkan adalah kesulitan tidur karena harus menjaga dan menyusui anak secara rutin. Untuk itu disarankan ibu untuk tidur jika si anak tidur. Minta bantuan suami atau pengasuh untuk menjaga bayi jika memang merasa kelelahan. Di Indonesia peran keluarga besar cukup bisa membantu banyak. Saya sering menemukan dalam praktek sehari-hari di mana ibu yang mengalami Baby Blues Syndrome yang lalu berlanjut ke depresi pasca melahirkan mendapatkan bantuan dari keluarga suami seperti ipar dan mertua untuk mengurus anaknya. Sering pula ketika punya bayi, ibu menjadi kehilangan banyak waktu untuk bersantai. Untuk itu disarankan untuk tetap punya waktu untuk relaksasi dan berinteraksi dengan teman-teman. Satu hal yang perlu diingat yaitu jika perlu konsultasikan ke psikiater untuk mendapatkan konseling dan atau pengobatan, apalagi jika dalam waktu dua minggu sejak pasca melahirkan kondisi ibu tidak membaik. 
Semoga apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini bisa membantu ibu-ibu yang sedang hamil dan akan segera melahirkan agar bisa mengenali segera jika mengalami masalah terkait baby blues syndrome. Di bawah adalah video yang saya buat setahun yang lalu untuk edukasi terkait Baby Blues Syndrome dan Depresi Pasca Melahirkan. Semoga berguna. Salam Sehat Jiwa 

Rabu, 28 November 2018

Minggu, 16 September 2018

Cuti Praktek

Sabtu, 01 Desember 2018


Jumat, 07 September 2018

Mampukah Pasien Depresi Berfungsi Normal Kembali?

Masterclass in Antidepressant Treatment 2018 (dok.pribadi)
Saat saya menuliskan artikel ini saya sedang berada di Amsterdam dalam rangka mengikuti Masterclass in Antidepressant Treatment 2018. Acara yang diikuti oleh 125 delegasi dari 22 negara ini berlangsung selama dua hari sejak 7-8 September 2018. Indonesia sendiri diwakili oleh dua orang psikiater termasuk saya di antaranya. Pembahasan gangguan depresi beberapa tahun belakangan ini memang memfokuskan pada fungsi pasien yang mengalaminya termasuk dalam pertemuan ini juga hal ini menjadi bahasan penting. 
Penelitian terbaru mengatakan bahwa keminatan untuk beraktifitas kembali yang ada pada pasien depresi menjadi salah satu faktor prediksi kuat terhadap keluaran terapi depresi. Gejala Depresi yang paling sering diungkapkan pasien dalam beberapa kali penelitian dikatakan adalah ketidakmampuan dalam berfungsi dalam kehidupan sehari-hari selain gejala suasana perasaan yang sedih, kehilangan minat dan kesulitan konsentrasi. Pasien depresi sering kali mengatakan dan menaruh perhatian yang besar terhadap harapan hidup yang bermakna, kemampuan untuk menikmati hidup dan rasa puas terhadap diri sendiri. Hal-hal ini yang menjadi perhatian pasien depresi, bukan hanya sekedar sembuh dari gejala-gejala klasik seperti suasana perasaan yang sedih dan rasa putus asa. 
Masalah Kognitif Pada Depresi
Gejala kognitif atau bagaimana proses pikiran dalam pasien depresi belakangan menjadi perhatian berbagai macam penelitian terbaru di bidang depresi. Ketidakmampuan pasien depresi kembali ke fungsi kognitif yang baik paling sering menjadi masalah yang akan tinggal bertahun-tahun dan kesulitan untuk diperbaiki. Hal ini yang kemudian meninggalkan gejala depresi yang tidak tertangani atau disebut gejala residual yang mengurangi kemungkinan pasien depresi untuk kembali berfungsi normal kembali setelah sembuh dari gejala depresi. Salah satu penelitian menyatakan istilah "Scar Hypothesis" yaitu bahwa fungsi kognitif yang nyata berkurang pada pasien depresi dan sulit diperbaiki menurunkan angka kembalinya pasien ke fungsi normalnya selain faktor yang sudah diketahui sebelumnya seperti banyaknya episode keberulangan depresi sebelumnya. 
Pasien depresi sendiri mempunyai beberapa masalah kognitif yang paling sering dikaitkan dengan masalah sekolah dan pekerjaan, hubungan dalam keluarga dan sosial. Gejala seperti kehilangan konsentrasi, ketidakmampuan atau penurunan produktifitas serta ketidakmampuan mempertahankan fungsi belajar sangat sering dirasakan pada pasien yang aktif sekolah dan bekerja. Dalam peran pasien depresi di keluarga juga pasien depresi sering mengalami perjuangan yang besar untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga biasa yang membutuhkan perhatian sehingga sulit untuk berpartisipasi dalam kegiatan keluarga sehari-hari. Lupa terhadap janji, ketidakmampuan memenuhi tenggang waktu tugas, menunda-nunda pekerjaan dan sulit memutuskan sesuatu dengan baik membuat pasien depresi mengalami masalah di pekerjaannya selain juga menjadi menurun kualitas kehidupan sosialnya. 
Masalah kognitif ini menjadi salah satu perhatian karena ternyata ketika skor perbaikan depresi yang biasanya diukur dengan Hamilton Depression rating scale (HAM-D) didapatkan membaik (skornya kurang atau sama dengan 7) ternyata fungsi kognitif ini sering kali tidak otomatis membaik. Bahkan beberapa penelitian mencatat lebih dari 50% pasien merasa tidak mengalami perbaikan atau berkurangnya gejala depresinya karena faktor tidak membaiknya fungsi terkait kognitif ini. 
Kriteria Sembuh Pasien Depresi
Pasien mempunyai persepsi yang berbeda dari dokter ketika berbicara tentang depresi. Pasien depresi mengatakan bahwa yang disebut sembuh oleh pasien adalah ketika pasien menjadi lebih optimis dan percaya diri, meningkat fungsinya dalam kehidupan, kemampuan mengontrol emosi serta mampu menikmati aktifitas sehari-hari dan berhubungan dengan orang lain. Persepsi ini lebih luas daripada persepsi dokter tentang sembuh yang sering kali lebih menekankan pada hilangnya gejala depresi. 
Salah satu yang sering menjadi harapan dokter dalam pengobatan depresi memang lebih berkaitan dengan menghilangnya semua gejala depresi, sesuatu yang dalam kenyataan praktek sebenarnya sangat sulit didapatkan. Dokter sering harus menghadapi kenyataan bahwa gejala depresi pasiennya tidak semua mampu disembuhkan dan akhirnya meninggalkan gejala sisa. 
Kembalinya fungsi pasien menjadi lebih normal daripada sebelum depresi menjadi harapan setiap dokter dan pasien. Inilah yang membuat beberapa tahun belakangan ini perbaikan gejala sisa depresi seperti gejala fisik (somatik) dan juga gejala kognitif menjadi fokus perhatian penelitian depresi. Tujuannya adalah mengembalikan pasien depresi kembali ke fungsi normalnya selain menghilangkan gejalanya. Fungsi kembali normal ini tentunya akan meliputi fungsi kerja atau sekolah, dalam keluarga dan sosial. Semoga kita semua mampu mewujudkannya dengan kerjasama yang baik antara pasien, dokter dan keluarga yang didukung oleh terapi depresi yang baik, mutakhir dan tepat sasaran. Salam Sehat Jiwa 

Sabtu, 25 Agustus 2018

Psikiater dan Media Sosial

Saya saat menuliskan tulisan ini masih berada di Seoul, Korea Selatan dalam rangka mengikuti kongres Asian College of Psychosomatic Medicine (ACPM) ke-18 yang berlangsung dari 24-26 Agustus 2018 yang kali ini mengambil tema "Beginning of New Life in 4th Industrial Revolution". Tema ini sengaja dipilih karena saat ini kita sedang berada di era digital dengan kecanggihan teknologi internet dan kepintaran buatan. 
Sembilan tahun berselang sejak pertama kali menggunakan media sosial untuk mengedukasi masyarakat terkait masalah kejiwaan khususnya psikosomatik, pada tahun ini bertepatan dengan 10 tahun pengabdian di bidang kesehatan jiwa, saya mempresentasikan makalah saya di kongres Asian College of Psychosomatic Medicine yang ke-18. 
Laporan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mengatakan bahwa penetrasi internet di Indonesia berada di 143,26 juta jiwa pada 2017, sekitar 54,68% dari total populasi Indonesia yang 262 juta jiwa. Pertumbuhan pengguna internet sendiri di Indonesia cukup pesat, dari sekitar 20 juta pengguna pada tahun 2007 menjadi 143,26 juta pada 2017. 
Saat sesi tanya jawab ACPM 2018 (dok.pribadi)
Saat sesi tanya jawab ACPM 2018 (dok.pribadi)
Walaupun demikian dibandingkan negara di Asia Tenggara lain seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, Vietnam bahkan Brunei, persentase penetrasi kita masih relatif di bawah negara-negara tersebut yaitu hanya sekitar 51%, bandingkan dengan Malaysia yang 71% dan Singapura yang 82% misalnya. Hal ini tentunya terkait dengan jumlah populasi kita yang besar dan penyebaran internet yang belum merata. Hal yang sama juga terjadi pada penggunaan media sosial yang masih sekitar 40%, masih di bawah Malaysia 71%, Singapura 77% dan Thailand 67%.
Hasil survey 2016 menyatakan bahwa pengguna media sosial paling besar adalah pengguna Facebook yaitu sekitar 71,6% (71,6 juta jiwa) disusul Instagram 19,9% (15 Juta jiwa) dan YouTube 11%(14,5 Juta jiwa). Data juga menyebutkan bahwa perilaku internet di Indonesia menggunakan internet untuk mengakses media sosial (97,4% atau 129,2 juta jiwa) selain berita dan hiburan. Konten yang dicari oleh pengguna internet di Indonesia ternyata 93,8% (124,4 juta jiwa) ternyata terkait dengan pendidikan. 
Dokter dan Media Sosial
Dokter selama ini dikenal dengan menggunakan cara-cara konvensional lewat penyuluhan langsung dan media televisi serta radio untuk menyebarkan informasi kesehatan. Namun dengan berkembangnya internet khususnya media sosial, maka menurut Panahi dan Watson di Health Informatics Journal bulan Juni 2016 mengatakan dokter dapat memanfaatkan media sosial salah satunya untuk membagi pengetahuan kepada masyarakat. 
Saya sendiri memulai edukasi di internet sejak tahun 2009 dimulai dengan memposting video berdurasi 6-7 menit di YouTube channel "Andri Psikosomatik" dan di Twitter dengan akun @mbahndi. Baru pada sekitar 2016, akun FB "Dokter Andri Psikiater" yang awalnya hanya bersifat untuk pribadi, digunakan juga untuk menyebarkan informasi lewat status dan juga akhirnya live FB setahun belakangan ini. 
Survey yang saya lakukan di tahun 2015 terkait hal edukasi psikosomatik di media sosial mengatakan bahwa pemirsa media sosial saya paling banyak berada pada kisaran usia 21 tahun sampai 35 tahun (lebih dari 65%). Lebih dari 95,34% membuka media sosial setiap hari dengan media sosial Facebook, YouTube dan Twitter yang paling banyak diakes. Keminatan mereka terhadap situs kesehatan cukup baik, lebih dari 40% membuka situs kesehatan setiap hari selebihnya 20,31% membuka 3 kali seminggu. 
Responden ini cukup memahami apa istilah psikosomatik yaitu lebih dari 80 persen memilih kondisi medis yang berhubungan dengan pikiran dan badan seseorang. Saya cukup senang mengetahui bahwa lebih dari 61% responden mengakses Twitter @mbahndi untuk mendapatkan informasi terkait masalah kejiwaan dan psikosomatik serta 35,86% di antaranya mengakses YouTube channel Andri Psikosomatik. Saat ini Twitter saya sendiri diikuti oleh 26.5 ribu dan YouTube channel saya dilanggan oleh lebih dari 11.800 pemirsa. Sementara itu untuk Facebook "Dokter Andri Psikiater" selain teman yang sudah mencapai 5000, follower akun FB ini juga sudah lebih dari 10 ribu. 
Apresiasi dari President of ACPM
Senangnya kemarin ada saat diskusi malah banyak pertanyaan (presentan lain yang bertanya hanya moderator, presentasi saya kemarin yang bertanya ada 3 orang peserta dan mendapat komentar positif dari moderator serta presiden kongres ACPM kali ini yaitu Prof Kim Byungsung). Lebih senang lagi karena presentasi saya disaksikan oleh President of Asian College of Psychosomatic Medicine, Prof Chiharu Kubo dari Kyushu University, Jepang. 
Setelah presentasi pun Prof Kubo menyatakan apresiasinya terkait upaya edukasi lewat media sosial yang saya lakukan dan menanyakan bagaimana cara mempunyai banyak follower di media sosial dan konten psikosomatik apa yang menarik buat orang Indonesia. Hal-hal seperti ini yang membuat saya lebih terpacu untuk membuat presentasi terkait hal yang menarik terkait masalah kesehatan jiwa khususnya masalah psikosomatik. Semoga laporan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa 

Tulisan asli di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/psikosomatik_andri/5b816d1dbde57517ee1f76e2/psikiater-dan-media-sosial

Rabu, 22 Agustus 2018

Peran Media Sosial Dalam Edukasi Psikosomatik



Besok malam saya akan berangkat ke Seoul, Korea Selatan dalam rangka menghadiri kongres Asian College of Psychosomatic Medicine (ACPM) yang ke-18. Ini merupakan kunjungan saya dua tahun berturut-turut ke Seoul setelah tahun lalu menghadiri Asian Central Nervous System meeting. Kali ini  kongres ACPM mengambil tema "Beginning of New Life in The 4th Industrial Revolution".
Ungkapan 'Revolusi Industri Keempat' pertama kali digunakan pada tahun 2016, oleh World Economic Forum. Revolusi Industri Keempat menandakan revolusi industri yang dilandaskan pada revolusi digital.

Revolusi Industri Keempat ditandai dengan munculnya terobosan teknologi di sejumlah bidang, termasuk robotika, kecerdasan buatan, nanoteknologi, komputasi kuantum, bioteknologi dan hal terkait lainnya. Dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution, Profesor Klaus Schwab, pendiri dan ketua eksekutif World Economic Forum, menjelaskan bagaimana revolusi keempat ini pada dasarnya berbeda dari tiga sebelumnya, yang terutama ditandai oleh kemajuan teknologi. Teknologi ini memiliki potensi besar untuk terus menghubungkan miliaran lebih banyak orang ke berbagai situs di dunia internet, secara drastis meningkatkan efisiensi bisnis dan organisasi dan membantu meregenerasi lingkungan alam melalui pengelolaan aset yang lebih baik.

Sayangnya kondisi kemajuan digital dan revolusi digital ini tidak terlepas dari manusia dan masalah yang terkait dengan kejiwaan manusia. Kompleksitas kehidupan di era digital ini dan berbagai tantangan terkait arus informasi yang demikian cepat membuat masalah sendiri bagi manusia yang terlibat di dalamnya dan sering kali menimbulkan masalah kejiwaan khususnya psikosomatik.

Arus informasi yang mudah diakses oleh siapa saja yang memiliki akses internet membuat keadaan ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk dokter jiwa seperti saya untuk memanfaatkan teknologi internet terutama media sosial sebagai cara menginformasikan masalah kejiwaan khususnya psikosomatik. Kesempatan presentasi saya kali ini di ACPM membawa topik terkait bagaimana membangun kesadaran masyarakat terkait masalah psikosomatik melalu media sosial. Semoga bisa membawa manfaat untuk para peserta dokter nanti terkait pemanfaatan teknologi informasi khususnya media sosial di era Revolusi Industri Keempat ini. Salam Sehat Jiwa


Senin, 20 Agustus 2018

Ubah Diri Ubah Nasib

To Approach Change Differently, Change Your Approach
Sumber : To-Approach-Change-Differen.jpg

Sering kali dalam kehidupan kita berharap kondisi berubah menjadi lebih baik. Kalimat "Saya berharap kondisi lebih baik buat saya" sering kali kita katakan sebagai cara untuk membuat diri kita lebih nyaman. Kita berharap orang lain juga berubah, "Saya pasti akan lebih sukses jika dia mendukung saya!". Benarkah itu yang seharusnya terjadi?

Pada kenyataannya kita yang harus berubah. Kita punya kapasitas diri untuk berubah ke arah yang lebih baik dengan kemampuan yang kita punya. Kemampuan kita untuk belajar sesuatu juga tidak terbatas selama kita hidup. Sayangnya sering kali kondisi ini tidak terjadi karena kita sendiri membatasi diri kita. Selama kita tidak berubah maka kondisi kita tidak berubah. Jangan berharap kondisi berubah untuk kita tetapi berharaplah kita berubah sehingga kondisi kita berubah.

Semoga dengan kemauan dan kemampuan kita terus belajar, kita dapat mengubah diri menjadi orang yang lebih baik lagi. Salam Sehat Jiwa