psikosomatik

psikosomatik

Kamis, 17 Mei 2018

Jadwal Cuti 12-18 Juni 2018

CUTI PRAKTEK 12-18 JUNI 2018 

Selasa, 19 Juni 2018 kembali Praktek Seperti Biasa

Salam Sehat Jiwa,
dr.Andri 

Rabu, 09 Mei 2018

Perlunya "Time Out"

Image result for time out
TIME OUT (image from Google Picture Search)
Kita cukup beruntung bulan Mei 2018 ini banyak cuti yang kita dapatkan di hari kerja. Sebagian mungkin merasa hal ini adalah suatu berkah karena bisa membuat dirinya mempunyai banyak waktu beristirahat tapi di lain pihak mungkin ada yang tetap melakukan kegiatan kerja walaupun hari libur. Terlepas dari semua itu, istirahat memang cukup penting untuk kita agar menjaga produktifitas kita.

Salah satu yang sering kita lupa adalah kita sering kali melakukan pekerjaan di luar batas kemampuan kita. Walaupun banyak dikatakan bahwa kemampuan manusia tidak terbatas, sayangnya kita sama-sama punya waktu terbatas alias waktu yang kita punya sama 24 jam. Dalam waktu 24 jam itu kita sering mengalokasikannya untuk berbagai macam kegiatan namun sering kali kita mengesampingkan kegiatan terkait kebugaran kita termasuk tidur dan aktifitas fisik Beberapa di antara kita bahkan tidur kurang dari 5 jam sehari dan tidak pernah aktifitas fisik.

Selain tidur dan melakukan kegiatan fisik, kita juga sebenarnya membutuhkan apa yang disebut sebagai istirahat sejenak atau TIME OUT. Kata Time Out mungkin kita banyak dengar dari istilah permainan olahraga di mana pelatih melakukannya untuk memberikan waktu istirahat sejenak atau memberikan strategi di tengah-tengah jalannya permainan. Sering kali kita melihat bahwa Time Out dilakukan di saat kritis, saat angka atau skor saling ketat berkejaran, menjelang akhir permainan atau saat permainan para pemain mulai terlihat tidak baik. Artinya harapan dari Time Out itu sendiri agar para pemain bisa kembali diingatkan atau kembali ke kondisi yang cukup baik.

Kita juga sering kali memerlukan Time Out saat kita merasa kelelahan atau jenuh. Ada kalanya saat sedang mempersiapkan sesuatu kita kehilangan konsentrasi atau merasa tidak banyak hal yang dilakukan karena terhambatnya ide. Saat inilah Time Out mungkin diperlukan agar kemampuan kembali menjadi lebih baik setelahnya. Beberapa penulis artikel ilmiah sering diingatkan ketika terjadi "stuck" ide saat menulis manuskrip, maka dia bisa menundanya dan memasukkan pekerjaan tersebut ke dalam laci (sekarang mungkin menutup window di laptop/komputer terkait pekerjaan itu) dan baru membukanya kembali beberapa hari kemudian. Kebanyakan cara ini berhasil untuk memberikan kepada kita penyegaran terhadap ide atau penulisan kita.

Time Out juga bisa kita lakukan saat misalnya kita berhadapan dengan sesuatu yang sepertinya mengalami jalan buntu termasuk dalam rapat atau saat berhubungan dengan orang lain termasuk keluarga sendiri. Tidak heran ada istilah "reses" untuk rapat saat menghadapi jalan buntu. Begitu juga saat kita berkomunikasi misalnya dengan pasangan kita atau anak kita, saat diskusi berjalan tidak terlalu baik maka kita bisa meminta waktu untuk "time out" sejenak.

Jadi jangan lupa untuk Time Out jika memang kita membutuhkannya, jangan memaksakan diri untuk melakukan hal yang penting dalam kondisi tidak terlalu baik. Time Out bisa memperbaiki kemampuan kognitif kita dan juga bisa membantu perasaan kita menjadi lebih baik lagi. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Kamis, 03 Mei 2018

Takut Terhadap Kalajengking? Itu Termasuk Fobia !


Beberapa spesies kalajengking memiliki dua jenis racun kalajengking. Kredit: Wikipedia




Orang yang mengalami ketakutan yang berlebihan terhadap kalajengking bisa dikategorikan mengalami Fobia Spesifik. Biasanya orang yang ketakutan terhadap sesuatu yang spesifik seperti kalajengking atau binatang spesifik lainnya akan mengalami gejala-gejala seperti serangan panik ketika dia tidak mampu menghindari sumber ketakutannya.

Pada dasarnya orang yang mengalami fobia spesifik terhadap apapun akan menghindari untuk melihat, bersentuhan bahkan membayangkan benda yang dia takuti. Jika dia tidak mampu menghindarinya maka biasanya akan terjadi gejala-gejala kecemasan akut seperti jantung berdebar, sesak nafas, keluar keringat dingin, kepala seperti ringan hingga bisa mengalami penurunan tekanan darah sampai pingsan. Paling sering pasien akan mengalami serangan panik atau reaksi histerikal yang biasanya sering membuat pasien tidak bisa mengendalikan diri.

Orang dengan fobia spesifik seperti ini biasanya tidak banyak yang berobat ke psikiater atau psikolog. Mereka kebanyakan akan menghindari saja kondisi yang bisa memicu fobianya. Jika kondisi yang bisa memicu fobianya adalah sesuatu yang umum dan sering dihadapi misalnya ada yang takut nasi, buah jeruk atau hal umum lainnya, maka biasanya orang tersebut akan berobat. Salah satu teknik yang biasanya dilakukan adalah dengan melakukan desensitisasi atau exposure therapy. Namun demikian terapi ini biasanya akan diawali dengan teknik relaksasi atau juga terkadang memerlukan pengobatan dengan obat antidepresan dan atau anticemas agar saat respon cemasnya datang, pasien tidak mengalaminya secara berlebihan. Semoga informasi singkat ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Senin, 30 April 2018

Pendekatan Spiritual Pada Pasien Psikosomatik



Pasien yang sering saya temui di dalam praktek keseharian memang lebih banyak adalah pasien dengan gejala psikosomatik. Mereka lebih sering mengeluhkan gejala fisik namun seringkali tidak didasari oleh adanya kelainan fisik. Berbagai pemeriksaan telah dilakukan namun hasilnya tidak ada yang mendukung gejala fisik yang dikeluhkan. Saat seperti ini biasanya membuat pasien bingung kemana lagi akan mencari jawaban agar diri dan hidupnya kembali normal. 
Masalah psikosomatik sebenarnya memang dikaitkan dengan gangguan kejiwaan. Dalam berbagai literatur sering dikatakan bahwa keluhan fisik yang tidak ada dasarnya (keluhan somatik ; lebih dikenal awam sebagai keluhan psikosomatik) sering terjadi pada pasien depresi dan cemas. Saya sudah sering menjelaskan masalah psikosomatik terkait penanganan terapi dengan obat dan psikoterapi. Kali ini saya akan membahasnya dari sisi pendekatan spiritual. 

Pendekatan Spiritual Pada Pasien Psikosomatik

Banyak orang menyamakan pendekatan spiritual dengan pendekatan agama, walaupun sebenarnya pendekatan tersebut berbeda. Saya dalam konteks tulisan ini tidak membahas perbedaannya namun akan lebih menekankan pada pembahasan spiritual. 
Pasien yang mengalami penyakit fisik memang banyak yang beralih ke pendekatan agama dan spiritual ketika mengetahui penyakitnya berlangsung lama (kronis) dan mulai kehilangan harapan. Beberapa faktor yang berpengaruh kepada pasien yang mencari pendekatan spiritual adalah penyakit yang tidak pasti, adanya ketakutan, nyeri yang bersifat lama dan mengalami gangguan fungsi sehari-hari, merasa kehilangan kontrol dan merasa putus asa serta tidak ada harapan sembuh. 
Gangguan psikosomatik termasuk dalam kondisi yang gangguan yang dianggap pasien tidak pasti, berlangsung lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Dalam praktek saya sendiri sehari-hari menerima kenyataan ini dan sering kali mengatakan kepada pasien bahwa kondisi psikosomatik sebenarnya bisa dijelaskan namun memang kondisinya sedikit berbeda dengan gangguan fisik pada penyakit medis pada umumnya. Edukasi yang baik kepada pasien biasanya akan membuat pasien lebih memahami gangguannya dan sering kali membuat pasien bisa menerima. Walaupun demikian biasanya banyak juga pasien yang bertanya mengapa dirinya tidak bisa kembali normal seperti dulu. Pembahasan khusus terkait dengan hal ini tercantum dalam video YouTube saya Menjalani Hidup Setelah Gangguan Cemas  

Pada pendekatan spiritual pada kasus-kasus psikosomatik, ada beberapa poin yang kita harus ingat yang akan saya uraikan di bawah ini : 

1.Kita TUMBUH dan BERUBAH Senantiasa 
Kita tidak selalu mudah untuk "kembali ke normal". Hal ini perlu dipahami oleh pasien dan juga dokter agar keduanya bisa secara sadar dan realistis dalam melihat kenyataan terkait dengan gangguan psikosomatik. 
Pasien seringkali mengatakan bagaimana dia bisa kembali normal. Saya selalu mengatakan kepada pasien jikalau pasien kembali ke normal seperti sebelum sakit, berarti pasien akan kembali ke kondisi sebelum dia mengalami gangguan dan akan mengalami gangguan. Pasien biasanya agak bingung apa maksud pernyataan saya ini. Saya menjelaskan jika pasien ingin kembali ke masa di mana dia sebelum sakit, maka masa itu adalah masa di mana dia akan menuju sakit. Kondisi terkait gangguan psikosomatik bukan terjadi langsung karena bukan dari bakteri atau kuman tetapi lebih kepada proses adaptasi stres yang tidak berjalan baik. Jadi jika dia ingin seperti dulu maka artinya dia tidak berubah. Untuk itulah yang penting dilakukan pasien adalah dia tumbuh ke arah yang lebih baik dan mampu beradaptasi lebih baik saat ini agar tetap sehat ke depannya. Inilah yang penting, pasien harus memahami dia harus berkembang dan berubah ke arah yang lebih baik

2. Kita Menyadari bahwa kondisi terkait gangguan psikosomatik mengubah hidup kita. Untuk itulah secara sadar dan ikhlas kita bisa menerima ini. Penerimaan terhadap gangguan psikosomatik yang mungkin dianggap berbeda dengan gangguan medis lainnya sangat penting karena dengan ini pasien bisa menyadari akan proses perubahannya dan mau menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya. Video terkait hal ini ada di Belajar Ikhlas Menghadapi Gangguan Kecemasan

3. Kita mengenali kerentanan kita sendiri dan kemungkinan akan berulangnya gejala psikosomatik ini. 
Pasien biasanya akan bertanya apakah gejalanya bisa kambuh kembali dan saya mengatakan jika kita tidak menjaga diri kita dengan baik maka bisa saja gejala itu kambuh dan itu harus diterima oleh pasien dengan baik. Proses terapi adalah proses yang aktif. Pasien juga perlu berupaya untuk menjadi orang yang lebih baik dalam beradaptasi dan tidak hanya menyerahkan pada obat sebagai satu-satunya yang bisa memperbaiki pasien. Video terkait hal ini ada di Mencegah dan Mengobati Gangguan Cemas

4. Kita mengembangkan dan mempertahankan pola hidup sehat 
Salah satu yang saya selalu pesankan kepada pasien adalah bagaimana dia bisa memulai untuk menjaga pola hidup sehatnya. Pasien harus terus berupaya mengembangkan hidup sehat yang cocok untuk dirinya dan mempertahankannya agar terus menjadi sumber yang baik untuk pasien. Video berikut ini menggambarkan bagaimana perubahan diri adalah kunci lepas dari cemas Perubahan Diri : Kunci Lepas dari Cemas 

Demikian sekilas apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi gangguan psikosomatik. Pendekatan spiritual terkait dengan hal ini memang salah satu yang penting. Penerimaan terhadap diri yang mengalami gangguan psikosomatik dan kemauan untuk berubah adalah kunci lepas dari gangguan psikosomatik. Semoga bermanfaat. Salam Sehat Jiwa 


Info Cuti Lebaran

Cuti Praktek 

Mulai Selasa, 12 Juni 2018 sampai dengan 18 Juni 2018 

Rabu 19 Juni Praktek Seperti Biasa mulai jam 13.00