Sabtu, 19 Oktober 2019

Cara Praktis Berpikir POSITIF

Saya bersama istri saat berfoto bersama ini mempersepsikan sesuatu yang positif, suatu impian untuk bisa bulan madu kembali sambil melihat salju yang sesungguhnya di Mount Titlist, Swiss suatu waktu nanti (walaupun salju bisa ditemukan juga di beberapa negara termasuk Indonesia. Tetapi keinginan saya memang membawa istri berbulan madu kembali keliling Eropa dan melihat salju di Mount Titlist). Kami memandang pemandangan di TransSnow Bekasi itu seolah-olah kami sedang berada di Mount Titlist. Kita mungkin mengistilahkannya dengan kata "membayangkan". 
Seperti biasa kalau kita berpikir positif di otak kita, maka akan ada lawan pikiran negatifnya. "Apakah bisa tercapai impian itu?", "Kapan waktunya yang tepat karena anak-anak masih kecil", "Apakah anak-anak bisa ditinggal dengan asisten saja di rumah, atau bisa minta bantuan orang tua?" dan berbagai pikiran negatif yang bisa muncul yang bisa melawan pikiran positif ingin mengajak istri kembali bulan madu. 
Fokus pada Hal Positif
Seperti kata buku yang saya baca "Resilient" walaupun dalam sehari kita mendapatkan 9 (sembilan) peristiwa positif dan satu peristiwa negatif, maka otak kita cenderung akan memikirkan hal negatif dulu sebagai suatu mekanisme pertahanan yang selama ini kita bangun: selalu berjaga-jaga untuk hal yang negatif.
Ini adalah hal yang lumrah ternyata karena memang otak kita bekerja dengan mekanisme seperti itu. Bahkan tanpa sengaja kita memang terus memberikan asupan ke arah yang lebih negatif daripada ke positif dalam banyak hal yang kita lakukan, terkadang sebenarnya hal itu untuk berjaga-jaga saja. 
Ternyata kondisi ini sudah "dibangun" oleh otak kita yang sudah berevolusi sejak dulu kala, sejak jaman nenek moyang kita yang manusia purba yang masih mengembara dan berburu untuk mendapatkan makanan.
Saat mereka harus selalu bersiap sedia terhadap segala mara bahaya di depan yang bisa sekali-kali muncul. Mereka bisa saja tidak makan sehari tapi kalau kehilangan kewaspadaan sekali saja mereka bisa tidak hidup dan tidak akan makan lagi selamanya. 
Membangun Kebiasaan Positif
Lalu bagaimana mengarahkan pikiran kita ke arah yang positif? Salah satunya adalah dengan melakukan hal-hal atau perbuatan yang positif baik oleh pikiran dan perilaku kita. Kita bisa membangun pikiran yang positif terus menerus secara sadar.
Saat bangun di pagi hari, kita berpikir dan berkata di dalam hati, "Semoga semua makhluk di alam semesta ini memperoleh kebahagian" ini adalah salah satu cara melakukan hal yang positif dengan PIKIRAN. Setelah itu kita bisa melakukan hal positif yang sangat banyak contohnya sehingga saya tidak perlu contohkan. 
Tentunya membangun kebiasaan ini juga perlu waktu. Hingga banyak orang mengatakan bahwa berpikir positif itu tidak semudah membalikan telapak tangan walaupun mungkin juga susah membalikan telapak tangan kalau terjadi kelemahan bagian tubuh akibat stroke.
Jadi ada baiknya memang kita selalu menyadari bahwa pikiran positif ini dibangun dengan proses bukan dengan segera. Semoga tulisan ringan ini bermanfaat.
Salam sehat jiwa.

Jumat, 18 Oktober 2019

Beda Cemas, Depresi dan Psikosomatik

Insomnia, Gangguan Tidur Terbanyak Yang Ditemukan


-->
Image result for shutterstock insomnia
Ilustrasi Insomnia (sumber shutterstock.com)
Bicara tentang gangguan tidur, rata-rata orang akan merujuk kepada kesulitan memulai tidur yang sering disebut Insomnia. Padahal gangguan tidur bukan hanya Insomnia tetapi masih banyak yang lainnya. Namun di dalam praktek sehari-hari memang paling banyak datang pasien dengan keluhan kesulitan tidur atau Insomnia.

Gejala dan Tanda Insomnia
Insomnia sering kali ditemukan pada pasien usia dewasa muda sampai usia lanjut. Anak kecil dan remaja cukup jarang mengalami kondisi ini walaupun tidak tertutup kemungkinan pada beberapa remaja dengan gangguan emosional ada juga yang melaporkan kondisi seperti kesulitan tidur.
Gejala yang sering dikeluhkan pasien adalah kesulitan memulai tidur. Keluhan lain yang biasa digambarkan adalah kesulitan dalam mempertahankan tidur sehingga pasien sering terbangun di antara tidur dan kesulitan memulai tidur kembali. Ada juga pasien yang mengeluhkan bangun terlalu awal walaupun baru bisa terlelap setelah dini hari.
Pasien yang mengalami kondisi insomnia ini seringkali mengeluh lemas dan mengantuk di pagi hari. Konsentrasi kerja menjadi menurun dan pasien mengeluh cepat capek. Hal ini bisa menyebabkan turunnya produktifitas individu tersebut

Dasar Insomnia
Walaupun keluhan individu adalah kesulitan tidur, namun biasanya kondisi insomnia merupakan kondisi sekunder dari suatu gangguan kesehatan jiwa. Kondisi kecemasan berlebihan atau gangguan depresi sering merupakan kondisi primer yang menyebabkan pasien mengeluh adanya keluhan insomnia. Untuk itulah dasar gangguan kesehatan jiwanya harus diobati dengan baik sehingga gejala insomnia sebagai salah satu gejalanya juga dapat menjadi baik

Pengobatan
Pengobatan insomnia pada tahap awal berpedoman pada peningkatan upaya sleep hygiene (kesehatan tidur). Hal yang bisa dilakukan misalnya dengan tidak minum minuman yang meningkatkan konsentrasi atau membantu terjaga seperti minuman ringan berperisa cola, teh, kopi atau minuman energi sesaat sebelum tidur. Gunakan pakaian yang nyaman dan ruangan cukup sejuk karena ruangan yang sejuk membantu keluarnya melatonin, zat di dalam tubuh yang fungsinya membantu tidur. Jangan pula berolahraga berat di malam hari karena faktor kelelahan otot juga dapat membuat kondisi individu menjadi sulit tidur.

Pemberian obat-obatan bisa dilakukan jika cara tersebut di atas tidak membantu. Mulailah dari penggunaan obat non-benzodiazepin seperti obat antiinsomnia yang alami atau yang merupakan sintetik melatonin (merek dagang Rozerem). Ada juga pasien yang bisa menggunakan obat antiinsomnia non-benzodiazepin seperti zolpidem (merk dagang Zolmia/Stilnox). Obat ini tidak seperti golongan benzodizepin, tidak menimbulkan risiko ketergantungan, toleransi dosis ataupun efek putus zat. Namun tentunya biasa digunakan dalam jangka pendek kecuali oleh psikiater. 

Penggunaan benzodiazepin seringkali diberikan kepada pasien oleh dokter umum atau spesialis bila pengobatan di atas tidak membantu banyak. Golongan obat yang sering diberikan adalah estazolam (Esilgan), alprazolam (Xanax, Zypraz,Alganax) dan Diazepam (Valium). Sayangnya terkadang pasien terus menerus menggunakan obat ini untuk membantu tidurnya tanpa melakukan proses terapi untuk keluhan dasarnya, yaitu kecemasan atau depresi. Sehingga seringkali ditemukan pasien memakan obat ini sampai bertahun-tahun. Apalagi seringkali mereka tidak kontrol atau membeli sendiri obat tersebut di pasar gelap yang menjual obat seperti ini.

Penggunaan obat tidur yang biasanya merupakan golongan benzodiazepine haruslah hati-hati dan atas pengawasan ahli seperti seorang psikiater. Jika tidak perlu tidak perlu sampai menggunakan obat golongan tersebut. Jangan lupa pula untuk mengobati dasar dari gangguan ini. Biasanya jika gangguan dasarnya diobati maka insomnianya juga akan membaik sehingga tidak lagi memerlukan obat.

Pesan saya terakhir adalah jangan makan obat tidur sembarangan, konsulkan dengan ahlinya jika mendapatkan obat tidur dari dokter umum atau spesialis non-psikiatri dalam jangka waktu yang cukup lama (lebih dari 1 bulan) dan usahakan untuk mengobati gangguan dasarnya bukan hanya gejalanya saja

Selasa, 15 Oktober 2019

Pemahaman Gangguan Jiwa Yang Kurang, Hambat Terapinya

Ilustrasi Depresi (dok.pribadi)
Pemahaman masalah gangguan psikiatri yg masih kurang membuat masalah dalam terapinya. Anggapan bahwa gangguan psikiatri semuanya pasti bisa sembuh dengan meningkatkan ibadah adalah salah satu hambatan orang yg mengalami gejala gangguan jiwa untuk menemui psikiater/psikolog. Hal ini ditambah lagi dengan masih khawatirnya kebanyakan orang dengan terapi psikiater yang dianggap membuat ketergantungan dan sulit dilepaskan. Ada pula yang menganggap bahwa pengobatan ke psikiater atau psikolog mahal dan lama sembuhnya sehingga memerlukan dana yang besar. Hal ini tentunya tidak sepenuhnya benar apalagi saat ini tersedia pelayanan psikiatri yang ditanggung BPJS di berbagai rumah sakit di Indonesia. 

Peran Dukungan Keluarga Sering kali keluarga dekat tidak memahami saat ada satu anggota keluarganya mengalami gejala gangguan jiwa. Mereka yang mengalami gejala gangguan jiwa sering kali tidak didukung saat mengutarakan pendapatnya untuk menemui psikolog atau psikiater. Keluarga malah kebingungan dan menanyakan mengapa menemui psikiater "Memangnya kamu sudah gila?" itu hal yang kerap ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Itulah mengapa saat ada kampanye dari WHO terkait Hari Kesehatan beberapa tahun yang lalu dengan tema Depression : Let’s Talk, saya pernah membahas, selain pasien depresinya diminta untuk mau bicara terkait keadaannya, orang yg mendengarkannya juga harus memahami apa itu depresi. Jika tidak memahami, maka kebanyakan orang akan memberikan “premature advice”, saran yg terlalu dini dan menggampangkan situasi pasien. Pasien biasanya akan lebih banyak diminta untuk tidak berlebihan dalam menghadapi perasaannya dan banyak bersabar. Banyak juga yang menyarankannya untuk memperkuat iman karena dianggap masalah kejiwaan adalah masalah kurangnya iman.

Banyak Faktor Penyebab Gangguan Jiwa
Penyebab gangguan jiwa memang tidak hanya satu faktor. Tidak seperti gangguan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri, gangguan jiwa tidak disebabkan oleh virus atau bakteri tertentu. Penyebabnya bisa datang dari faktor biologi (faktor genetik), faktor psikologi dan sosial lingkungan. Sehingga pendekatan terapinya pun harus mencakup ketiga faktor tersebut. Satu yang perlu diingat setiap orang adalah setiap orang dengan pengalaman dan faktor bawaan genetiknya akan mempunyai perbedaan dalam memandang suatu permasalahan, termasuk bagaimana cara mereka mengatasi stres dlm kehidupan sehari-hari. Tidak heran walaupun sama-sama mengalami gangguan jiwa, setiap orang bisa mengalami perbedaan dalam gambaran klinis dan pendekatan terapinya nanti. Semoga artikel singkat ini bisa membantu. Salam Sehat Jiwa. Listening Without Judging is One Of The Best Way to Give Our Support to Depressed Patients (ANDRI)

Minggu, 13 Oktober 2019

Film JOKER Tidak Berpihak Pada Pasien Gangguan Jiwa!

Image result for joker pictures
JOKER (Sumber gambar : joker-trailer.jpg https://variety.com/2019/film/reviews/joker-review-joaquin-phoenix-todd-phillips-1203317033/)

Entah karena saya terpengaruh dengan teman-teman yang mengatakan film JOKER ini "thriller psychology" atau gara-gara iklan BPJS yang menggunakan ikon JOKER dan malah kena somasi, saya jadi penasaran dan akhirnya menonton film ini. Setelah menonton saya kecewa, lagi-lagi Hollywood menempatkan pasien gangguan jiwa berpotensi jadi penjahat!.
Ada adegan saat Arthur berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa tempat ibunya dulu dirawat, dia tanya ke petugas "Apakah semua pasien ini melakukan kejahatan?". Seolah-olah ingin menegaskan kembali bahwa orang dengan gangguan jiwa berat biasa melakukan kejahatan.
Delusi atau waham yang dialami oleh Arthur itu lebih dominan memang mengarah ke psikotik. Tapi apakah dia itu mengalami skizofrenia? Tidak tahu juga, gambaran klinisnya tidak jelas. Hanya dramatisasinya yang jelas, namanya jg FILM.
Anggap saja deh si Arthur itu Skizofrenia, dan kita jadi takut kalau orang skizofrenia bisa jadi jahat begitu. Benarkah demikian kenyataannya?
Media sering mengemukakan informasi kalau pasien skizofrenia itu berkaitan dengan perilaku kekerasan, kenyataannya malah sebaliknya. Pasien skizofrenia lebih rentan menjadi korban kekerasan bahkan sampai 14 kali lipat.
Mari kita lihat penelitian :

In public perception, schizophrenia is often associated with violence. This view is reinforced each time there are media reports of violent acts by purported mentally ill persons.
Persons with schizophrenia are undoubtedly at increased risk of becoming victims of violence in the community setting, with risks up to 14 times the rate of being victimized compared with being arrested as a perpetrator (Schizophr Bull. 2011 Sep; 37(5): 877–878.)

Jadi sebenarnya kalau belakangan ini kita jadi "hype" karena film ini dan akhirnya banyak komentar yang berkeliaran di media sosial terkait film ini. Saya cuma ingin mengatakan setelah menonton film ini kalau "Film JOKER Tidak Berpihak Pasien Gangguan Jiwa!"

Salam Sehat Jiwa (Twitter : @mbahndi)

Cuti Praktek

24 - 27 OKTOBER 2019