psikosomatik

psikosomatik

Selasa, 10 April 2018

Info Libur Praktek dan Perubahan Jam Praktek

Sabtu, 14 April 2018 : LIBUR NASIONAL (TIDAK PRAKTEK)

Sabtu, 21 April 2018 : Praktek bergeser ke jam 15.30-20.00 (menerima maksimal 15 pasien)


Terima Kasih

Selasa, 03 April 2018

Seminar Awam Psikosomatik

Seminar Awam bersama Dr Andri dan Mind Up Consulting

“Psikosomatik, Ansietas dan Stres di Sekitar Kita : Apa dan Bagaimana Mengatasinya?”

Hari/Tanggal : Minggu, 6 Mei 2018
Jam : 14.00-16.00 WIB
Tempat : Backspace @ Lippo Mall Puri 1st Floor
Investasi : Rp.100.000 (termasuk coffe break dan doorprize)
CP dan Pendaftaran : Willy (wa : 0821-1377-5600)

Sabtu, 31 Maret 2018

Empat Pilar Hidup Sehat



Siapa yang tidak ingin SEHAT? Rasanya semua ingin sehat. Saya bisa mengatakan bahwa kesehatan adalah harta terbesar yang dimiliki oleh manusia. Jika kita sehat kita bisa melakukan apapun. Bayangkan diri kita mempunyai banyak harta tetapi tidak punya kesehatan, maka akan percuma tentunya.
Sayangnya tidak semua orang memiliki komitmen untuk menjaga kesehatan. Salah satunya karena kebiasaan yang tidak dibentuk. Orang kecenderungan akan membuat hidupnya lebih mudah tapi kondisi saat ini sering kali membuat kemudahan tersebut malah menjauhkan diri kita dari kesehatan, salah satunya dari gadget yang kita miliki.
Pada kesempatan ini saya ingin sedikit berbagi tentang bagaimana agar sehat fisik dan psikis yang bisa dilihat dari empat pilar hidup sehat ini.

1. Diet Yang Benar 
Diet bukan selalu berarti mengurangi makanan. Jika tubuh kita sudah ideal dalam artian Indeks Massa Tubuhnya sudah normal (Indeks Massa Tubuh didapatkan dari hasil pembagian antara berat badan (dalam kilogram) dengan tinggi badan (dalam meter) kuadrat dan hasilnya antara 18,5 s.d. 22,9), maka yang paling penting adalah menjaganya agar tetap ideal.
Kebanyakan dari kita kesulitan menjaga berat badan ideal setelah usia tertentu, misalnya kebanyakan laki-laki di usia di atas 30-an sering lebih gemuk daripada saat dia lebih muda.
Salah satu diet yang baik bisa dimulai dengan mengurangi asupan kalori berlebihan, kurangi makanan yang mengandung gula pasir dan garam serta kurangi makanan yang digoreng.

2. Tidur Yang Baik
Tidur yang baik adalah salah satu upaya menjaga kesehatan. Sering kali kita mengabaikan pola tidur teratur dan membiarkan tubuh kita tidak berisitirahat optimal. Salah satu masalah yang sering disepelakan adalah tidur sesukanya dengan jam yang tidak teratur.
Tidur sebaiknya berkisar antara 6-8 jam dengan kualitas yang baik dan kemampuan untuk jatuh tertidur kurang dari 30 menit. Biasakan tidur sebelum jam 12 malam dan bangun di waktu yang sama.
Salah satu hal yang menunjukkan jam biologis tubuh kita baik adalah kita bisa bangun tidur di jam yang kira-kira sama setiap harinya tanpa alarm.

3. Aktifitas Fisik Yang Baik
Melakukan olahraga teratur mungkin buat sebagian orang sulit dilakukan, tetapi melakukan aktifitas fisik yang baik perlu dilakukan agar tubuh terbiasa untuk bergerak. Pola kerja saat ini yang banyak duduk sebenarnya merugikan secara kesehatan. Lakukan aktifitas fisik yang teratur, misalnya dengan berjalan kaki ke mana pun di sekitar tempat kerja anda. Bisa melakukan 10 ribu langkah per hari adalah aktifitas minimal yang dilakukan.
Latihan bisa ditambah dengan "resistance training" seperti plank (20-60 detik di ulang kembali setelah istirahat 20 detik sampai mampu), squat, atau lunges. Bisa dilakukan saat di kantor juga kan ? :)

4. Relaksasi 
Berikan waktu barang sejenak untuk pikiran kita berisitirahat. Perlu waktu sekitar 10-30 menit sehari melepaskan diri dari gadget dan rutinitas kita untuk "time out". Bisa dengan meditasi, relaksasi atau hanya memandang air (jikalau bisa di aquarium, kolam atau sekedar air di gelas kita).
Cara ini bisa membuat kita lebih relaks dan lebih baik lagi dalam menata pikiran yang sering kali tercampur aduk berbagai kepentingan.

Semoga tips sederhana di atas bisa membantu kita agar lebih sehat lagi ke depannya.

Sabtu, 24 Maret 2018

Terapi Depresi Yang Optimal dan Segera

Bersama pembicara saat diskusi (dok.pribadi)


Saat saya menuliskan artikel ini saya sedang berada di Bandara Juanda di Sidoarjo, Jawa Timur untuk menuju Cengkareng setelah menyelesaikan tugas siang tadi memberikan presentasi di depan psikiater dan calon psikiater di Surabaya. Topik kali ini berkaitan dengan terapi depresi yang optimal dan segera. Selain saya, ada beberapa pembicara lain dalam seminar Manajemen Depresi dan Cemas kali ini yaitu Dr.dr.Margarita Maramis,SpKJ(K) dan dr.Agustina Konginan,SpKJ(K) dari UNAIR serta pembicara tamu Profesor Toba Oluboka, psikiater dari Universitas Ontario, Kanada.

Topik yang saya bicarakan memang kali ini lebih mengarah kepada terapi obat untuk pasien depresi yang optimal dan segera. Seperti telah diketahui bahwa pasien depresi sendiri sering kali tidak mematuhi pengobatan yang disarankan oleh psikiaternya. Hal ini disebabkan salah satunya oleh ketakutan pasien akan pengobatan psikotropika dan juga karena menganggap depresi seperti gangguan medis infeksi yang bisa sembuh dengan pengobatan singkat. Kenyataannya depresi membutuhkan terapi jangka panjang dan sering kali seumur hidup.

Masalah terkait dengan pengobatan depresi memang sering kali menyebabkan pasien sendiri mengalami perasaan tidak nyaman. Hal ini dikaitkan dengan kecenderungan pasien melepaskan pengobatan di awal bulan pertama pengobatan. Penelitian mengatakan bahkan 28% pasien menghentikan obat di bulan pertama pengobatan dan lebih dari 60% pasien menghentikan obat di 6 bulan pertama pengobatan. Kondisi ini tentunya akan meningkatkan risiko keberulangan yang sudah cukup tinggi di pasien depresi.

Adakah Obat Depresi Yang Cocok Untuk Semua Pasien?

Pasien yang mengalami depresi jika mereka berobat ke psikiater tentunya akan menjalani pengobatan. Terapi yang dilakukan psikiater biasanya akan berhubungan dengan terapi obat dan terapi psikologis atau psikoterapi. Pengobatan yang diberikan biasanya berupa pengobatan antidepresan yang biasanya diberikan di awal sejak pertemuan pertama saat diagnosis ditegakkan. Beberapa rekomendasi obat lini pertama yang terbukti secara penelitian biasanya akan diberikan kepada pasien namun tidak semua pasien akan mendapatkan respon terapi yang sama.

Respon terapi yang berbeda bisa disebabkan oleh banyak faktor. Selain faktor genetik bawaan, keparahan depresi, riwayat depresi atau gangguan jiwa sebelumnya dan juga jenis gejala yang dialami pasien bisa membuat perbedaan dalam keberhasilan terapi. Sering kali kita menemukan dalam praktek bahwa pasien berasal dari latar belakang yang berbeda ditambah dengan kepatuhan yang berbeda.

Pada dasarnya obat yang beredar di masyarakat untuk pengobatan depresi secara ilmiah terbukti mampu memperbaiki gejala depresi. Perbedaan yang biasanya dikaitkan dalam terapi depresi adalah kemampuan pasien untuk beradaptasi dengan obat yang diberikan. Pilihan dokter biasanya adalah obat-obat yang mampu ditoleransi baik oleh pasien dan biasanya terbukti efektif dalam mempebaiki gejala depresi. Untuk sampai pada kondisi ini sering kali dokter harus mengubah pengobatan bahkan di minggu-minggu pertama.

Perbaiki Gejala Pasien Depresi Segera!

Kita memahami bahwa depresi membawa dampak yang tidak baik buat pasien. Kualitas hidup pasien akan menurun dengan adanya gejala depresi. Gejala suasana perasaan yang menurun, putus asa, susah konsentrasi, sulit tidur atau kebanyakan tidur dan sering kali keluhan fisik yang tidak jelas dasarnya adalah sebagian besar gejala depresi yang mengganggu kehidupan pasien yang menderitanya. Kondisi ini tentunya tidak bisa terlalu lama dibiarkan.

Dokter jiwa dalam hal ini perlu melakukan upaya segera setelah diagnosis ditegakkan. Setelah pasien didiagnosis langkah selanjutnya adalah memberikan terapi obat pada pasien untuk membantu menyeimbangkan sistem saraf dan neurotransmitter di otaknya. Obat yang akan dipilih biasanya adalah obat yang telah terbukti secara penelitian dengan dosis awal yang biasanya setengah dari dosis optimal. Ketika dalam terapi ternyata setelah dua minggu pasien tidak mendapatkan perbaikan maka dosis ditingkatkan ke dosis optimal sambil terus dilihat apakah pasien cukup toleransi dengan efek samping yang mungkin timbul. Jika dalam empat minggu dosis optimal tidak juga tercapai perbaikan maka kita perlu segera mencari alternatif terapi lainnya atau dalam hal ini mengganti obat.

Hal tersebut bertujuan untuk mencapai fase pulih yang lebih segera dan mampu untuk mengembalikan fungsi pasien dengan lebih baik. Harapannya tentu agar kualitas hidup pasien akan meningkat kembali. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Sabtu, 17 Maret 2018

Mampukah Lebih Cepat Pulih dari Depresi?

Prof Roger MacIntyre bersama sebagian peserta APAC CNS Speaker Bureau Masterclass 17-18 Maret 2018 di Bangkok (dok.pribadi)

Saat saya menuliskan artikel ini saya masih berada di Bangkok, Thailand dalam rangka mengikuti acara Asia Pacific Central Nervous System Speaker Bureau Masterclass yang diadakan dua hari dari tanggal 17-18 Maret 2018. Ada beberapa negara yang ikut serta dalam acara ini selain Indonesia, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand sebagai tuan rumah, India, Pakistan, dan Hongkong . Acara yang ditujukan untuk memberikan hal-hal terbaru terkait depresi ini ditujukan agar para peserta bisa menjadi narasumber terpercaya nantinya di bidang depresi di negara mereka masing-masing. Acaranya sendiri dipandu oleh Prof Roger MacIntyre dari University of Toronto dan Prof Chee Ng dari Australia. 
Beberapa hal terkait depresi yang dikemukakan kembali dalam pertemuan ini adalah bagaimana di era digital saat ini kemungkinan atau kerentanan orang untuk mengalami depresi semakin tinggi. Apalagi telah diprediksikan oleh badan kesehatan dunia WHO bahwa tahun 2020 nanti Depresi akan menjadi beban global nomor dua setelah penyakit jantung dan pembuluh darah. Salah satu masalah yang terkait dengan depresi di masyarakat adalah bahwa gangguan medis ini tidak dikenali bahkan oleh kalangan dokter sendiri. Penelitian epidemiologi mengatakan lebih dari 50% kasus depresi tidak dikenali atau tidak mendapatkan terapi yang baik di pelayanan kesehatan. Sayangnya perbaikan depresi akan lebih baik jika dikenali dini dan diterapi segera. 
Kembalikan Fungsi Pasien Depresi
Salah satu yang menjadi fokus utama dalam pembicaraan kemarin adalah bagaimana mencapai fungsi optimal kembali setelah terapi dan kembali pulih dari depresi. Salah satu yang ditekankan adalah selain deteksi dini, depresi juga berkaitan dengan kebutuhan terapi yang sering tidak bisa diwujudkan dengan baik. Terapi depresi sendiri bersifat individual yang memerlukan keterampilan klinis yang tinggi dari dokter yang menemui kasus ini di klinik sehari-hari. 
Salah satu masalah yang berkaitan dengan kembalinya fungsi adalah pasien depresi sering kali tidak mematuhi pengobatan dengan baik. Lebih dari 70% kasus depresi tidak mendapatkan terapi sampai tuntas atau batas waktu yang disarankan. Kebanyakan pasien depresi melepaskan pengobatan kurang dari 6 bulan pertama setelah pemberian obat. Inilah yang membuat banyak penelitian mengatakan bahwa kegagalan terapi pada pasien depresi berkisar antara 40-60%. Tidak mengherankan pula jika pada kenyataannya kekambuhan pasien depresi bisa mencapai lebih dari 80% dan bahkan untuk pasien yang telah lebih dari dua kali mengalami episode depresi maka meningkat menjadi lebih dari 90%. Inilah yang menyebabkan kebanyakan kasus depresi yang berat dan berulang disarankan untuk melakukan terapi seumur hidup. 
Penyulit untuk kembalinya pasien ke fungsi optimal juga terkait gangguan medis yang dialami pasien. Gangguan medis yang berkaitan dengan depresi pada banyak penelitian dikatakan adalah gangguan endokrin seperti diabetes tipe dua dan gangguan jantung yang kronis. Kondisi medis yang berkepanjangan memang sering kali menjadi penyulit dalam proses terapi selain memang secara fisiologis tubuh gangguan medis seperti jantung dan diabetes menyimpan masalah yang erat dengan terjadinya depresi. 
Gejala Depresi Pada Pasien Asia 
Beberapa gejala yang dicatat sebagai gejala yang sering dialami pasien depresi dan menggangu fungsi pekerjaannya adalah gangguan konsentrasi, kelelahan dan insmonia. Selain itu juga penelitian mencatat bahwa gejala depresi dikaitkan juga dengan keluhan fisik yang berkepanjangan dan sepertinya "tidak bisa sembuh". Berkaitan dengan penelitian epidemiologi, pasien depresi di budaya Asia dikaitkan dengan keluhan fisik yang lebih dominan daripada keluhan psikologis. Hal ini mungkin dikaitkan dengan penerimaan masyarakat dan keluarga untuk gejala fisik lebih baik atau bisa diterima daripada mengeluhkan keluhan psikologis. 
Hal ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh para dokter yang menangani pasien dengan keluhan fisik yang sering kali tidak sesuai fisiologis tubuh atau bahkan tidak ada dasarnya, perlu memikirkan kemungkinan ke arah depresi. 


Upaya penyembuhan pasien depresi untuk mencapai hasil yang optimal terus diupayakan. Salah satu hal yang penting untuk dilakukan adalah kesadaran kita semua akan masalah depresi dan bagaimana mengenalinya dengan baik. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menjadi pendengar yang baik tanpa bersifat menghakimi jika ada teman dekat atau keluarga kita mengeluhkan keluhan depresinya. Nasehat yang terlalu dini atau mengatakan depresi hanya permainan pikiran yang berlebihan malah akan membuat orang yang mengalami depresi enggan untuk melanjutkan cerita tentang keluhan mereka dan akhirnya menjadi tidak mampu didiagnosis baik dan diterapi dengan benar. Semoga kita semua bisa lebih memahami depresi dan meningkatkan dukungan terhadap keluarga atau teman kita yang mengalami depresi, setidaknya dengan mendengarkan mereka. Semoga artikel laporan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa. 

Fakta Depresi di Sekitar Kita