psikosomatik

psikosomatik

Kamis, 16 November 2017

Malingering atau Berpura-Pura Sakit

Malingering atau Berpura-Pura Sakit
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Twitter : @mbahndi ) 


Malingering tidak dianggap sebagai gangguan jiwa. Buku Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental atau DSM-5 edisi terakhir terbitan American Psychiatric Association menyatakan malingering menerima kode V sebagai salah satu kondisi lain yang mungkin menjadi fokus perhatian klinis. Motivasi untuk malingering biasanya bersifat eksternal misalnya menghindari tugas militer atau pekerjaan, mendapatkan kompensasi finansial, menghindari tuntutan pidana, atau mendapatkan obat-obatan terlarang.

Jadi malingering adalah perilaku yang disengaja untuk tujuan eksternal yang diketahui. Ini tidak dianggap sebagai bentuk gangguan jiwa atau psikopatologi, meski bisa terjadi dalam konteks gangguan jiwa lainnya.

Latar Belakang 
Menurut DSM-5, malingering harus dicurigai dengan adanya kombinasi dari hal-hal berikut ini:

  1.       Masalah medikolegal (misalnya, seorang pengacara merujuk pasien, seorang pasien mencari kompensasi karena cedera)
  2.      Perbedaan yang ditandai antara tekanan yang diklaim dan temuan objektif
  3.       Kurangnya kerjasama selama evaluasi dan dalam mematuhi perlakuan yang ditentukan
  4.       Adanya gangguan kepribadian antisosial

Malingering sering dikaitkan dengan gangguan kepribadian antisosial dan ciri kepribadian histrionik. Pengamatan langsung yang berkepanjangan dapat mengungkapkan bukti berkelit karena sulit bagi orang yang berkomplot terkait malingering untuk menjaga konsistensi dengan klaim palsu atau berlebihan untuk waktu yang lama.Orang yang sedang berpura-pura biasanya tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana harus bersikap dalam menjaga kelainan pura-pura itu agar tampak benar-benar sakit.

Wawancara dan pemeriksaan yang berkepanjangan terhadap seseorang yang dicurigai adanya kelainan malingering dapat menyebabkan kelelahan dan mengurangi kemampuan orang yang sedang malingering untuk mempertahankan tipuan tersebut. Urutan pertanyaan yang cepat akan meningkatkan kemungkinan tanggapan yang kontradiktif atau tidak konsisten.
Misalnya pada orang yang melakukan kelainan psikotik, dia sering membesar-besarkan halusinasi dan delusi tapi tidak bisa meniru gangguan proses pemikiran formal. Mereka biasanya tidak dapat berpura-pura meniru afek tumpul khas pasien psikotik dan ganguan berpikir konkret. Mereka sering menganggap bahwa amnesia dan disorientasi adalah ciri psikosis.

Gambaran Keluhan, Pemeriksaan Fisik dan Mental

Orang malingering biasanya keluhannya berlebihan dan tidak sesuai dengan yang biasanya dikeluhkan pasien pada umumnya. Mereka juga sering kali menyatakan ketidaksetujuan jika dianggap keluhannya tersebut tidak sesuai anatomis fisiologis yang dipahami dalam dunia kedokteran. Jika diberikan obat pun terkadang orang yang malingering menunjukkan respon yang tidak sesuai. 

Pada Pemeriksaan Status Kejiwaan bisa dijumpai :

  1.          Sikap pasien terhadap dokter pemeriksaan seringkali tidak jelas atau mengelak.
  2.      Suasana hati mungkin mudah tersinggung atau bermusuhan.
  3. \  .     Isi pikir ditandai dengan sibuk merujuk terus menerus atau “keasyikan” dengan penyakit yang diklaim atau cedera.

Meskipun neuroimaging tidak dapat digunakan untuk penilaian diagnostik, subjek yang diinstruksikan untuk melakukan dengan sengaja pada tes kognitif seolah-olah mereka menderita cedera otak akibat gangguan memori, menunjukkan aktivasi yang lebih besar pada korteks prefrontal superior dan medial saat berpura-pura cedera dibandingkan dengan kinerja optimal. Pola spasial mengisyaratkan bahwa otak yang melakukan malingering harus berusaha lebih keras untuk mengingat jawaban yang benar dan untuk menekannya. Ini tentunya harus dikonfirmasi oleh dokter saraf dan dokter radiologi yang kompeten.

Apakah Perlu Perawatan medis?
Pendekatan yang lebih disarankan adalah untuk menghadapi orang tersebut adalah secara tidak langsung dengan mengatakan bahwa temuan objektif tidak memenuhi kriteria diagnosis dokter untuk diagnosis medis. Biarkan orang yang sedang malingering kesempatan untuk “menyelamatkan muka”.
Sebagai alternatif, dokter mungkin memberi tahu orang yang malingering itu bahwa mereka diharuskan menjalani tes invasif dan perawatan yang tidak nyaman.

Orang yang malingering hampir tidak pernah menerima rujukan kejiwaan dan keberhasilan konsultasi semacam itu juga minimal. Hindari konsultasi dengan spesialis medis lainnya karena rujukan semacam itu hanya menegaskan malingeringnya. 

Perlu ketegasan dokter dan upaya dari pihak medis tanpa dicampuri oleh pihak lain dalam menangani kasus malingering. Dokter juga perlu bekerja tanpa tekanan yang bisa mempengaruhi kebebasannya dalam melakukan pekerjaan dokter. Jika kasus seperti ini terjadi di Indonesia maka hal ini tercantum dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia pasal 3 “ Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi”.
Semoga informai singkat ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa dan Raga

Referensi : 
Malingering in https://emedicine.medscape.com/article/293206-overview
Malingering in http://www.psychiatrictimes.com/forensic-psychiatry/malingering-key-points-assessment

Rabu, 08 November 2017

Jadwal Cuti (Update 9 Nov 2017)

1-2 Desember 2017

Senin, 4 Desember praktek hanya PAGI jam 08.00-12.00 (menerima hanya 15 pasien)

8-11 Desember 2017

Cuti Natal dan Akhir Tahun : 25-27 Desember 2017 

Selasa, 17 Oktober 2017

Ketergantungan Benzodiazepine Masih Jadi Momok di Praktek

Sebagai seorang praktisi di bidang psikiatri, masalah terkait dengan ketregantungan obat golongan benzodiazepine atau yang oleh awam lebih dikenal dengan istilah obat penenang memang masih menjadi salah satu momok. Obat-obat ini di Indonesia terdiri dari berbagai macam jenis dan merek yang berbeda. Alprazolam, Diazepam, Clobazam, Clonazepam, Estazolam, Bromazepam, Nitrazepam adalah sebagian nama generik obat-obat ini. Di satu pihak obat ini sangat bermanfaat dalam praktek, tetapi potensi ketergantungan dan penyalahgunaannya sangat besar.

Pasien dan Dokter Sama-Sama Tidak Paham
Sebenarnya masalah ini biasanya terkait ketidaktahuan dari pemakai obat yang sering juga dikarena ketidaktahuan dokter dalam meresepkan obat ini. Beberapa kali mendengar dari pasien bahwa awalnya pasien tidak memahami pemberian obat ini karena berada dalam racikan atau lebih sering sendiri pasien dulu mengulang resep tanpa sepengetahuan dokter yang meresepkan obat benzodiazepine ini. Sejatinya obat ini hanya diberikan dalam jangka pendek dengan dosis yang relatif kecil.
Masalah lain yang sering dialami juga adalah pasien sering tidak bisa mematuhi pengobatan dengan baik dan hanya menggunakan obat benzodiazepine yang berefek cepat dibandingkan obat lain yang diberikan misalnya obat antidepresan yang biasanya lebih lama didapat efeknya. Kenyataan ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Pada kenyataannya di luar negeri juga banyak orang lebih menyukai menggunakan benzodiazepine yang lebih cepat efeknya daripada obat antidepresan. Jepang adalah salah satu negara pengguna benzodiazepine yang cukup tinggi bahkan dari informasi beberapa pasien yang pernah tinggal di sana dan berobat ke psikiater, di Jepang psikiater sangat mudah meresepkan benzodiazepine seperti etizolam yang sangat dikenal di sana. Bahkan jika sudah pernah diresepkan maka bisa beli tanpa resep di salah satu farmasi di sana.
Pasien dengan penggunaan benzodiazepine perlu ditanyakan dulu apakah memiliki riwayat penggunaan alkohol aktif dan penyalahgunaan narkotika. Kedua masalah ini sering membuat penggunaan benzodiazepine dosisnya menjadi berbeda. Pada beberapa kasus pasien yang menggunakan alkohol sehari-hari dan juga penyalahgunaan narkotika sering kali memerlukan dosis yang lebih besar dan akhirnya lebih rentan ketergantungan.

Pahami Obat dan Kerjanya
Benzodiazepine tidak bisa dipungkiri merupakan obat yang bermanfaat untuk pasien. Pasien dengan gangguan panik misalnya sangat mendapatkan manfaat dari penggunaan benzodiazepine yang biasanya digunakan untuk meredakan panik dan rasa cemas yang berlebihan.
Beberapa pasien dengan kesulitan tidur juga terbantu dengan penggunaan benzodiazepine yang mampu mengembalikan pola tidur yang baik. Hal ini tentunya sangat bermanfaat dalam produktifitas pasien dan juga mengurangi masalah lain termasuk kecelakaan akibat mengantuk.
Satu hal yang paling harus dipahami adalah dokter dan pasien sama-sama memahami potensi obat ini baik potensi baiknya maupun negatifnya. Hal ini untuk mencegah pasien ketergantungan akan obat ini tanpa solusi yang jelas.
Penggunaan obat benzodiazepine jangka panjang masih dimungkinkan namun ada baiknya dengan pengawasan dokter juga dengan penggunaan antidepresan yang biasanya mendampingi khususnya untuk masalah gangguan cemas. Hal ini bermanfaat untuk mengurangi potensi ketergantungan pasien di kemudian hari.
Jika sama-sama memahami obat benzodiazepine ini, niscaya obat ini akan sangat bermanfaat untuk perbaikan pasien dan juga untuk membantu praktek dokter sehari-hari. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

dr.Andri,SpKJ,FAPM
Klinik Psikosomatik Omni Hospital Alam Sutera
www.psikosomatik.net