psikosomatik

psikosomatik

Kamis, 22 Januari 2015

Tugas Internasional 2015

Tugas Internasional di Tahun 2015 

Dua hari yang lalu baru saja saya mendapatkan bukti konfirmasi bahwa saya telah resmi diangkat menjadi anggota dari International Advisory Committee dari acara World Congress of Psychosomatic Medicine 2015 di Glasgow, Skotlandia( lihat WCPM 2015 International Advisory Committee ) Saya sebelumnya telah dihubungi oleh panitia untuk menjadi salah satu anggota dari board ini dan saya telah menyetujuinya.
Tentunya hal ini menjadi salah satu kebanggaan tersendiri bagi saya. Sebagai seorang akademisi dan klinisi yang belum lama berkarier, kesempatan untuk aktif di aktifitas internasional memang saya harapkan dari dulu. Tahun 2006 saya pertama bergabung di organisasi internasional dan sejak saat itu saya berusaha untuk terlibat aktif dan bukan sebagai anggota saja. 
Saya bangga sebagai psikiater dan dosen dari Indonesia. Saya ingin membuktikan ke para dokter di luar negeri bahwa dokter Indonesia tidak terbelakang dalam ilmu pengetahuan terutama di bidang psikiatri dan khususnya psychosomatic medicine.
Semoga saya bisa menjalankan tugas pertama di tahun 2015 ini dengan baik dan membanggakan Indonesia. Mohon dukungan doanya. 
Salam Sehat Jiwa

dr.Andri,SpKJ,FAPM


Selasa, 06 Januari 2015

Dampak Pemberitaan QZ8501 Untuk Pasien Cemas

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera)

Saya dalam praktek lebih banyak berkutat dengan pasien-pasien yang mengalami gangguan cemas ataupun depresi terutama sekali yang mengalami gejala-gejala psikosomatik. Seringnya berhadapan dengan paien seperti ini saya menjadi lebih memahami ada suatu kemiripan yang hampir banyak dialami oleh pasien gangguan cemas yaitu takut akan sesuatu yang berkaitan dengan kematian.
Pasien gangguan cemas biasanya merasa tidak nyaman dengan hal-hal yang berkaitan dengan penyakit dan kematian. Mendengar kabar tetangga yang sakit keras atau meninggal bisa membuat pasien yang mengalami gangguan cemas jadi tidak nyaman dan mengalami gejala-gejala kembali. Berita-berita artis yang mengalami masalah jantung dan akhirnya meninggal juga sering jadi pemicu terjadinya kekambuhan gejala walaupun sebelumnya sudah lebih enak.

Takut Terbang
Kemiripan lain yang sering saya temukan pada kasus-kasus gangguan cemas adalah : TAKUT TERBANG. Pasien yang mengalami gangguan cemas sering kali mengatakan kesulitan untuk mengendalikan kecemasannya jika berada dalam pesawat terbang. Buat mereka, ruangan tertutup dan kemungkinan tidak bisa "turun di tengah jalan" saat menaiki pesawat bisa sangat mungkin memicu kecemasannya. Saya sering mendapatkan cerita bahwa sejak mengalami masalah kecemasan pasien saya tidak pernah berani lagi naik pesawat terbang. Bahkan ada cerita salah satu pasien pernah menunda suatu pesawat terbang gara-gara ketika pintu sudah ditutup, pasien ingin turun dari pesawat dan tidak sanggup melanjutkan penerbangan.
Beberapa pasien lain mengatakan pengalaman terbang yang sangat tidak nyaman sehingga membuat perjalanan pesawat menjadi sangat menyiksa. Hal ini menyebabkan banyak pasien akhirnya memutuskan tidak terbang kecuali sangat terpaksa. Tidak heran banyak yang kariernya agak terhambat karena selalu menolak untuk bepergian dengan pesawat walaupun itu tugas kantor. Lain pasien pernah mengeluh karena keluarga mengeluh tidak bisa kemana-mana dengan pasien karena pasien tidak mau liburan dengan mengggunakan pesawat.

Berita Kecelakaan Pesawat
Berita kecelakaan pesawat walaupun sangat jarang membuat pasien gangguan cemas panik yang sudah takut terbang semakin takut. Belakangan ini sejak adanya peristiwa jatuhnya pesawat QZ8501 dan pemberitaan yang terus menerus tentang hal ini membuat banyak pasien mengalami kekambuhan gejala walaupun sebelumnya sudah lebih nyaman.
Mereka semakin khawatir ke depannya untuk terbang. Sayangnya pasien kasus gangguan cemas tidak mampu berpikir secara rasional terkait dengan terbang itu sendiri. Apalagi jika dikatakan kepada mereka kalau memang takdir tidak akan ada yang bisa menolak. Konsep seperti itu mereka sendiri sudah tahu tetapi tetap bagi mereka kecemasannya tidak bisa hilang. Itulah yang membedakan kecemasan sebagai penyakit dengan kecemasan biasa yang bisa dialami seseorang.
Saran saya untuk pasien gangguan cemas yang masih dalam pengobatan, ada baiknya menghindari pemberitaan terus menerus tentang Air Asia QZ8501. Sulitnya adalah hampir semua media baik online maupun cetak memberitakan. Jika tidak nonton televisi tapi membuka Facebook atau Twitter isinya tetap berkaitan dengan QZ8501. Jika memang belum mampu beradaptasi ada baiknya pasie mencoba lepas dari segala pemberitaan itu. Jika karena pemberitaan QZ8501 ini mengalami kekambuhan kembali, maka ada baiknya pasien segera mengunjungi dokter jiwanya kembali agar mendapatkan terapi yang sesuai keadaanya saat ini.
Semoga bermanfaat. Salam Sehat Jiwa