psikosomatik

psikosomatik

Kamis, 26 Maret 2015

Nyeri Pada Depresi

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM*
Pasien yang saya tangani sehari-hari di klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera memang kebanyakan adalah pasien yang mengalami gejala-gejala psikosomatik. Beberapa di antaranya secara spesifik mengeluhkan rasa nyeri yang dialaminya sebagai bagian dari gejala gangguan kejiwaan yang membawa pasien datang berobat. 
Pasien sering tidak menyadari bahwa gangguan nyeri yang dialaminya adalah bagian dari gangguan kejiwaan sampai ketika semua pemeriksaan yang dilakuan menghasilkan kesimpulan bahwa pasien dalam kondisi baik-baik saja. Nyeri yang dialami pada pasien dengan dasar gangguan jiwa pun sering kali sulit dibedakan dengan pasien yang tidak didasari gangguan kejiwaan. Di bawah ini akan saya bahas sedikit kasus nyeri pada pasien gangguan jiwa yang sering ditemukan di klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera.
Nyeri Kepala
Nyeri kepala atau beberapa pasien mengatakannya sakit kepala adalah keluhan yang cukup sering dikeluhkan pasien yang datang berkunjung ke saya di klinik. Nyeri kepala ini biasanya bersifat nyeri kepala tegang, migrain atau vertigo. Kebanyakan di antaranya sudah melakukan pemeriksaan imaging otak seperti MRI dan dinyatakan semua normal. Pasien juga sudah menggunakan obat-obatan penghilang sakit yang biasanya diberikan oleh dokter spesialis saraf tetapi tidak ada perubahan. Artinya nyeri kepala hanya hilang jika makan obat tetapi kembali kambuh sesudahnya. 
Nyeri kepala tegang memang sering ditemukan pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan terutama gangguan kecemasan dan depresi. Pasien yang mengalami Gangguan Kecemasan Menyeluruh dalam berbagai penelitian dikatakan sering mengeluh nyeri kepala tegang. Migrain atau nyeri kepala sebelah juga sering diungkapkan pasien depresi dan cemas. Banyak pasien yang mengalami nyeri kepala kronis juga rentan mengalami depresi. Penelitian mengatakan bahwa ketika pasien mengalami nyeri kepala dan disertai rasa cemas akan sakit kepalanya maka kecenderungan pasien mengalami gangguan depresi lebih besar.
Beberapa antidepresa yang biasa digunakan oleh psikiater juga mempunyai efek anti nyeri seperti antidepresan golongan trisiklik dan golongan SNRI. Beberapa kasus diperlukan penggunakan anti cemas golongan benzodiazepine namun penggunaannya harus hati-hati karena mempunyai potensi ketergantungan dan toleransi. 
Nyeri Lambung
Nyeri lambung sering dikeluhkan pasien gangguan lambung. Selain rasa begah/sebah, nyeri lambung adalah keluhan lambung yang juga sering didapatkan pada pasien gastritis atau peradangan lambung dan dispepsia. Beberapa pasien kasus gangguan cemas sering juga mengalami gejala-gejala nyeri lambung. Pasien dispepsia fungsional yang tidak didasari oleh adanya kelainan organ juga sering mengeluh nyeri lambung.
Sebagai salah satu organ otonom yang besar, lambung memang memiliki kerentanan untuk mengalami gangguan terkait kecemasan yang dialami individu.  Penanganan kasus untuk pasien dengan keluhan lambung yang tidak didapatkan kelainan organ mungkin sebaiknya juga melibatkan peran psikiater di dalamnya. 
Nyeri Otot
Beberapa pasien yang datang ke klinik saya sering mengatakan dirinya mengalami kejang otot. Sebagian pasien bahkan telah menjalani pemeriksaan EMG dan didapatkan hasil spasmofilia. Masalah nyeri otot sendiri merupakan masalah yang kompleks yang sering ditemukan pada pasien-pasien gangguan jiwa. Pasien dengan diagnosis gangguan kecemasan, somatoform, fibromialgia dan depresi sering memunculkan gejala nyeri otot yang nyata. 
Kasus-kasus nyeri otot pada pasien fibromialgia juga sering dikeluhkan pasien terutama pasien perempuan. Masalah nyeri memang bisa mengakibatkan masalah untuk pasien depresi dan cemas karena keluhan nyeri adalah keluhan yang subyektif dan sering kali ini menimbulkan kesulitan dalam terapinya jika hanya fokus pada rasa nyerinya saja. 
Tangani Dengan Baik dan Menyeluruh
Kebanyakan kasus gangguan depresi yang disertai dengan rasa nyeri yang dominan biasanya banyak dialami pasien lanjut usia. Saat ini banyak pasien muda usia juga mengalami kondisi seperti ini. Tentunya diagnosis fibromialgia seperti banyak disebutkan pada kasus gangguan nyeri adalah diagnosis eksklusi. Artinya pasien harus mendapatkan pemeriksaan yang lengkap untuk menyingkirkan masalah lain sebelum jatuh pada diagnosis fibromialgia. 
Gangguan depresi yang dominan gejalanya nyeri juga sering didapatkan pada kasus-kasus depresi yang tidak ditangani secara baik. Gejala nyeri sering menjadi gejala sisa pada pasien depresi yang tidak tertangani baik. Untuk ini dokter perlu dengan cermat untuk mendiagnosis masalah berkaitan nyeri dan menanggulanginya dengan baik. 
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Salam Sehat Jiwa 
* dr.Andri,SpKJ,FAPM adalah dokter di Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, Serpong