psikosomatik

psikosomatik

Senin, 29 Desember 2014

Pengobatan Menyeluruh Gangguan Tidur

Pasien dengan keluhan Insomnia atau sulit tidur mungkin merupakan pasien gangguan kejiwaan yang paling banyak ditangani oleh sejawat dokter baik umum maupun spesialis. Gangguan tidur ini memang paling banyak dikeluhkan dan sayangnya sering kali tidak ditangani dengan baik dan menyeluruh. Kasus-kasus insomnia sendiri sering kali lebih banyak diobati sendiri baik dengan obat-obatan bebas di apotek ataupun yang mencoba-coba sendiri dengan menggunakan obat psikotropika yang dibeli secara online/bebas di apotek “nakal”.

Jangan Obati Gejalanya Saja
Saya pernah mendapati banyak kasus insomnia yang fokus pengobatannya hanya pada gejala yang dirasakan pasien yaitu kesulitan tidur. Pasien bisa berbulan-bulan makan obat tidur yang merupakan golongan benzodiazepine. Sayangnya lagi banyak pula pasien yang diberikan oleh dokternya hanya obat anticemas yang mempunyai efek mengantuk seperti alprazolam (dikenal dengan merk Xanax, Alganax, Zypraz dll). Memang pasien menjadi bisa tidur dengan nyaman, tapi apakah sempat terpikir mengapa kasus insomnia diberikan obat anticemas malah bermanfaat? Ini artinya ada masalah kecemasan yang menjadi dasar gejala insomnianya.
Beberapa pasien yang berani mencoba-coba sendiri lebih buruk lagi kondisinya. Sering kali saya menemukan bahwa pasien mengalami “ketergantungan” obat tidur disebabkan karena kesalahan sendiri. Awalnya berobat ke dokter tetapi kemudian membeli obat secara bebas sendiri. Sayangnya obat-obat seperti ini memang bisa dengan mudah ditemukan secara online di Indonesia.
Ada juga pasien yang biasanya tidak mau menuruti anjuran dokter yang merawatnya, biasanya pasien seperti ini sebenarnya sudah ke psikiater tetapi ketika psikiater memberikan obat anti-insomnia dan obat antidepresan biasanya pasien hanya mau makan obat anti-insomnianya saja. Apakah hal ini terjadi hanya di Indonesia? Ternyata tidak! Pembicaraan dengan teman sejawat dokter dari Taiwan beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa trend penggunaan obat anticemas untuk gangguan cemas atau tidur lebih tinggi di orang Asia Timur daripada antidepresan. Hal ini disebabkan karena efek antidepresan yang lebih lama dan tidak langsung terasa, berbeda dengan obat anticemas yang langsung terasa efeknya.

Obati Dasar Gejalanya
Beberapa tulisan saya terdahulu terkait insomnia selalu menekankan ada baiknya kita memfokuskan pada dasar gejala gangguan tidur pasien. Tidak bisa tidur memang sering kali hanya merupakan salah satu tanda dari gangguan jiwa. Gejala lain jika kita mau lebih dalam mengeksplorasi tentunya akan lebih banyak daripada sekedar tidak bisa tidur. Pasien juga perlu diberikan pemahaman bahwa pengobatan gangguan tidur akan membutuhkan waktu.
Pasien sering kali berharap ada obat yang bisa menyembuhkan langsung gejala gangguan tidur seperti insomnia. Pasien berharap bahwa ada sejenis “antibiotik” untuk melawan “kuman insomnia”. Sayangnya hal tersebut tidak ada dalam praktek sehari-hari. Masalah tidur yang sepertinya sederhana sebenarnya sangat kompleks. Perilaku dan kebiasaan seseorang juga sangat mempengaruhi masalah tidur pasien. Sering kali pasien tidak sabar untuk melakukan terapi untuk gangguan tidurnya dan akhirnya menyerah hanya dengan menggunakan obat tidurnya saja.
Saya di atas menyebutkan pentingnya pengobatan gejala dasar. Kasus gangguan tidur banyak disebabkan karena depresi dan cemas. Pengobatan gangguan insomnia yang didasari oleh masalah depresi cemas harus juga berkaitan dengan pengobatan gangguan depresi dan cemasnya. Pengobatan yang fokus pada gejala insomnianya saja tidak akan berhasil memperbaik secara baik gangguan tidurnya.
Pasien sering kali merasa ketergantungan jika berobat untuk insomnia. Padahal tanpa sadar banyak kasus pasien yang saya tangani sebernarnya memang sudah “tergantung” dengan obat tidur karena  memakainya bertahun-tahun tanpa sadar itu sebenarnya hanya mengobati gejala saja tanpa menyentuh dasar diagnosis yang menyebakan kesulitan tidur. Pola pikir seperti ini yang perlu juga diperbaiki saat melakukan terapi insomnia di klinik sehari-hari.
Semoga penjelasan singkat ini bisa membantu pembaca memahami lebih jauh tentang pengobatan Insomnia. Salam Sehat Jiwa

Senin, 15 Desember 2014

Survey Tentang Kegunaan Media Sosial dan Website Dalam Penyebaran Informasi Psikosomatik

https://www.surveymonkey.com/s/KKRFSM2

Klinik Psikosomatik Membuka Layanan Untuk Pasien JKN-BPJS

Per Januari 2015 tepatnya Rabu, 7 Januari 2015 Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera akan membuka pelayanan untuk pasien-pasien JKN-BPJS setiap hari Rabu mulai jam 14.00-16.00. 
Pasien yang akan dilayani adalah pasien-pasien JKN yang telah membawa rujukan untuk berobat ke Spesialis Kedokteran Jiwa/Psikiater dari PKM1/Puskesmas. 
Pasien diharapkan untuk datang dan mendaftar di pendaftaran yang dibuka antara pukul 07.00-09.00. Akan ada pembatasan pasien sebanyak 15 pasien per kali praktek.
Informasi lebih lanjut silahkan hubungi RS OMNI Alam Sutera di telp (021) 53125555 mulai 2 Januari 2015.
Terima kasih atas perhatiannya

Salam Sehat Jiwa,
dr.Andri,SpKJ,FAPM  

Senin, 08 Desember 2014

Informasi Perubahan Jadwal/Cuti Praktek

Rabu, 31 Des 2014 Praktek dipindahkan ke pagi jam 8.30-11.00, Pasien dibatasi hanya 10 saja. Praktek Sore Ditiadakan

Khusus Jumat, 9 Januari 2015 Praktek Libur
Buka Seperti biasa Sabtu, 10 Januari 2015

Sabtu, 15 November 2014

Hello From Florida

Hello From Florida

Gejala Jantung Berdebar itu Selalu Sakit Jantung???

Gejala Jantung Berdebar Itu Selalu Sakit Jantung???
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM

Kemarin di hari kedua acara Academy of Psychosomatic Medicine meeting di Fort Laudardale, Florida ada salah satu pembahasan yang sangat sering saya temukan dalam praktek sehari-hari. Pembicara yang berasal dari Belanda ini berbicara tentang keluhan panik pada pasie dengan nyeri dada yang bukan jantung (non-cardiac chest pain) yang datang ke unit gawat darurat. Kebanyakan pasien yang datang ke unit gawat darurat dengan keluhan ini sebenarnya tidak mengalami gangguan jantung yang serius.

Data mengatakan bawah 50-90% pasien yang datang dengan keluhan nyeri dada didiagnosis dengan nyeri dada yang tidak melibatkan jantung. Lebih dari setengah pasien ini akan terus mengatakan adanya nyeri setelah pulang perawatan dan tetap khawatir akan adanya penyakit jantung yang serius. 

Kondisi ini secara langsung meningkatkan angka kebutuhan perawatan, pemeriksaan dan terapi terutama di unit gawat darurat.
Jika melihat hasil data penelitian yang disampaikan , sejak tahun 1993, 2003, 2008 sampai dengan 2011 maka terjadi peningkatan kasus gangguan panik di unit gawat darurat dari hanya sekitar 18% lalu menjadi 22%, 36% dan akhirnya 44%. Ini menandakan semakin tahun kondisi ini semakin banyak dialami oleh masyarakat di tempat penelitian ini diadakan. Sayangnya di Indonesia data seperti ini tidak ditemukan.

Peran Dokter
Pasien datang dengan keluhan di daerah dada tentunya kebanyakan akan berpikir jantungnya bermasalah. Apalagi jika dengan kondisi nyeri dan berdebar-debar. Walaupun pada banyak pendapat anekdot ahli yang mengatakan kalau jantungnya berdebar kencang artinya jantungnya sangat sehat, tetapi hal ini tidak bisa menentramkan pasien. Beberapa kasus serangan panik dari pengalaman pasien sering kali didiagnosis dengan gangguan lambung saat keluar dari unit gawat darurat.

Penelitian yang ditampilkan kemarin ini lebih mengedepankan seberapa banyak gangguan panik didiagnosis oleh dokter di unit gawat darurat pada pasien-pasien yang datang dengan nyeri dada.
Penelitian dengan design retrospective consecutive cohort dri Januari 2013 sampai April 2013. Pasien yang diambil adalah pasien yang mengalami nyeri dada dan jantung berdebar dan datang ke unit gawat darurat di Rumah Sakit Pendidikan di Amsterdam, Belanda. Hasil akhir penelitian ini dianalisis oleh peneliti independen.

Hasilnya dari 530 pasien yang datang dengan keluhan nyeri dada dan berdebar-debar, 367 (69%) di antaranya mengalami keluhan-keluhan nyeri dada yang tidak berkaitan dengan jantung. Janya 24 pasien (7%) yang mengalami masalah psikososial yang nyata berkaitan dengan keluhannya tersebut. Dua pasien di antaranya mengunjungi unit gawat darurat berulang lebih dari 50 kali.

Penelitian ini menemukan bahwa dokter di unit gawat darurat ketika menemukan adanya keluhan jantung berdebar dan nyeri dada yang tidak berkaitan dengan masalah jantung tidak langsung terpikir adanya masalah dengan gangguan panik. Hal ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan metode yang sama. Penelitian ini juga mengisyaratkan bahwa pelatihan para dokter unit gawat darurat tentang deteksi gangguan panik dan gejalanya di unit gawat darurat harus diadakan dan kemampuannya ditingkatkan. Hal ini karena ketidakmampuan mendiagnosis masalah gangguan panik ini bisa mengarah ke penggunaan pelayanan kesehatan yang tinggi.

Jika melihat hasil tersebut, saya mengatakan bahwa apa yang terjadi di Indonesia juga tidak jauh berbeda. Gangguan panik sering tidak menjadi diagnosis ketika pasien datang dengan keluhan debar-debar dan nyeri dada. Kebanyakan kasus seperti ini akan keluar dengan diagnosis gangguan lambung termasuk yang sekarang sedang banyak adalah GERD atau Gastro intestinal reflux disorder.

Semoga laporan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa.

Kamis, 13 November 2014

Memenuhi Harapan Pasien Gangguan Jiwa Untuk Pengobatan Lebih Baik

Memenuhi Harapan Pasien Gangguan Jiwa Untuk Pengobatan Lebih Baik 
oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera)

Saat saya menuliskan artikel ini, saya sedang berada di ketinggian 39 ribu kaki dalam perjalanan menuju Dallas dari Jepang. Perjalanan panjang ini saya tempuh untuk menghadiri annual meeting Academy of Psychosomatic Medicine di Fort Laudardale, Florida. Penerbangan ke Dallas adalah penerbangan transit sebelum melanjutkan terbang ke Fort Laudardale. Ini kali ke empat saya ke Amerika Serikat dan masih sendirian sampai saat ini ke acara annual meeting ini.

Tema pertemuan kali ini memang lebih memfokuskan pada pengalaman klinis di praktek sehari-hari ketika berhubungan dengan pasien yang mengalami gangguan kejiwaan khususnya yang melibatkan faktor psikis dan fisik. Empat hari ke depan pertemuan ini akan diisi oleh pelatihan, simposium, oral paper dan poster dari beberapa kolega dari seluruh Amerika Serikat dan internasional. Tema yang diusung kali ini “Lessons from our best teachers : patients informed advances in clinical practice, research and leadership”

Harapan Lebih Baik

Dalam berbagai pertemuan dokter di seminar-seminar kebanyakan para dokter akan membicarakan tentang bagaimana perkembangan dalam mendiagnosis pasein lebih tepat, memberikan pengobatan dan rehabilitasi lebih baik serta harapan perkembangan pengobatan yang belum bisa menjawab masalah-masalah medis yang dialami saat ini. Tujuannya adalah agar memberikan harapan kualitas hidup lebih baik kepada pasien. Walaupun sering kali kondisi ini tidak mudah dicapai karena sering kali perkembangan penelitian tidak atau belum bisa menjawab hal-hal yang terjadi di klinis sehari-hari.
Belakangan para dokter sering membicarakan bagaimana mengaplikasikan apa yang didapat dalam penelitian ke dalam praktek klinis. Sering kali ditemukan apa yang dianggap menjadi rekomendasi dalam suatu penelitian ternyata tidak dapat diaplikasikan dalam klinis. Pengobatan di dalam klinis yang bersifat individual terkadang tidak bisa dijawab dari hasil penelitian yang melibatkan subjek penelitian yang besar dan beragam. Hal ini yang sering menjadi kendala yang terus diperhatikan dalam perkembangan kedokteran.

Kendala di Pengobatan Depresi
Demikian juga dengan apa yang terjadi di kalangan medis kesehatan jiwa. Masalah gangguan kejiwaan dan terapinya bukan hanya masalah yang terjadi di sebagian negara berkembang yang masih banyak dipenuhi stigma, tetapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat. Sejak 2010 saya melihat secara langsung presentasi dari para ahli psikiatri khususnya yang bergerak di bidang psikosomatik medis dan masalah-masalah terkait diagnosis, terapi dan rehabilitasi serta pencegahan masalah gangguan jiwa masih terus berkembang. Manual kriteria diagnosis di Amerika Serikat mengalami perubahan sejak dikeluarkannya DSM-5 sejak tahun lalu, namun demikian perkembangan untuk memberikan manfaat kepada pasien tidak berhenti dengan perubahan manual kriteria diagnosis saja tetapi juga terkait dengan perkembangan terapi. Lain dari pada itu karena masalah gejala dan tanda gangguan jiwa subyektifnya cukup tinggi, beberapa kasus gangguan jiwa seperti bipolar depresi bahkan sering tidak terkenali sejak awal. Tentunya ini akan menghambat pengobatan yang tepat.
Rekomendasi di dalam pengobatan sendiri yang berkaitan dengan penelitian-penelitian dengan subjek penelitian yang besar sering kali tidak menjawab masalah klinis yang pasiennya individual. Beberapa masalah terkait pengobatan mulai dari lamanya respon terapi sampai lamanya pasien mengalami perbaikan adalah hal-hal terkait masalah gangguan depresi yang sampai saat ini masih tetap dicari tahu penyebabnya. Kebanyakan buku saat ini mengatakan bahwa respon terapi depresi biasanya baru dicapai setelah 2 minggu, bahkan beberapa sumber lain mengatakan obat antidepresan tidak akan berefek sebelum lebih dari 4 minggu digunakan.
Masalah lamanya respon akan sangat berhubungan dengan masalah kepatuhan berobat pasien depresi. Anda bisa bayangkan sendiri ketika anda berobat untuk sakit yang anda alami saat ini namun respon obatnya baru terjadi setelah dua minggu atau lebih. Apakah anda bisa menjadi yakin dengan pengobatan yang anda jalani dan akan meneruskan pengobatan? Ternyata banyak di dalam praktek sehari-hari hal ini menjadi hambatan dalam pengobatan depresi. Edukasi yang baik kepada pasien adalah satu-satunya jalan selain tentunya terus mencari pengobatan yang lebih tepat dan cepat. Topik-topik seperti inilah salah satu yang akan dibahas dalam pertemuan ini. Bagaimana mencoba memberikan solusi terbaik untuk dokter dan pasien dalam pengobatan gangguan jiwa khususnya gangguan depresi. Nantikan laporan saya selanjutnya dari pertemuan ini. Salam Sehat Jiwa.


Senin, 03 November 2014

Laporan Perjalanan ke Amerika Serikat

Tahun ini kembali saya akan mengadakan perjalanan ke Amerika Serikat untuk menghadiri Academy of Psychosomatic Medicine annual meeting. Acara penuh kursus dan seminar ini akan berlangsung 12-15 November di Fort Lauderdale, Florida. Catatan akan apa yang saya dapatkan di acara ini akan dilaporkan setiap hari selama acara di www.health.kompas.com dan live twitter di @mbahndi dengan hashtag #APM2014. Semoga bermanfaat.

Senin, 06 Oktober 2014

CUTI PANJANG

Kepada Yth.
Bapak/Ibu 

Diberitahukan bahwa Klinik Psikosomatik RS OMNI akan tidak beroperasi seperti biasa dari tanggal 
11 November s.d. 18 November 2014 dikarenakan saya akan berada di Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan di bidang Psikosomatik Medis. Praktek seperti biasa tanggal 19 November 2014
Mohon agar dapat bisa mengatur jadwal kontrol dan terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya,
dr.Andri,SpKJ,FAPM 

Minggu, 28 September 2014

“Kok ‘Sakit Jiwa’ Saya Gak Sembuh-Sembuh Ya Dok?”

“Kok ‘Sakit Jiwa’ Saya Gak Sembuh-Sembuh Ya Dok?”

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater RS OMNI Alam Sutera)

Kesembuhan tentunya menjadi idaman semua pasien. Masalah medis apapun rasanya pasien tidak ada yang ingin tidak sembuh. Di satu sisi lainnya dokter tidak pernah menjanjikan kesembuhan. Dokter hanya akan mengatakan kalau dirinya akan berusaha semampunya untuk kesembuhan pasien. Dalam ilmu kedokteran jiwa istilah sembuh pasien kadang bisa punya makna yang berbeda dengan psikiaternya. Inilah mengapa dalam praktek sehari-hari jika ada pasien yang menanyakan apakah gangguan jiwa yang dialaminya bisa sembuh maka saya biasanya akan bertanya, apa makna sembuh yang dimaksud pasien. Sering kali perbedaan persepsi ini yang sering terjadi di praktek sehari-hari.
Masalah gangguan jiwa secara umum jaman dahulu dibagi menjadi dua, yaitu gangguan jiwa psikotik dan gangguan jiwa neurotic (neurosis atau dulu disebut neurosa). Sebenarnya pembagian ini untuk menunjukkan adanya perbedaan dalam penilaian realita yang terganggu di antara kedua jenis pasien tersebut. Gangguan jiwa psikotik yang termasuk skizofrenia dan gangguan waham dikatakan adalah gangguan jiwa yang pasiennya mengalami gangguan dalam menilai realitas. Gangguan penilaian realitas ini maksudnya adalah gangguan dalam membedakan mana yang nyata dan mana yang fantasi. Adanya halusinasi dan delusi (waham) adalah pertanda adanya gangguan dalam penilain realitas. Lebih jauh pembahasan ini pernah ditulis di beberapa artikel saya sebelumnya.
Sedangkan gangguan jiwa neurosis adalah gangguan jiwa yang tidak mengalami masalah dalam penilaian realitas. Walaupun tidak sepenuhnya tepat, maka yang termasuk di dalamnya adalah gangguan depresi, gangguan bipolar, gangguan kecemasan, gangguan kepribadian dan gangguan somatoform. Mengapa saya katakana tidak sepenuhnya tepat, karena pada gangguan depresi dan gangguan bipolar bisa juga ditemukan adanya masalah penilaian realita. Misalnya pada gangguan depresi berat dengan adanya halusinasi yang menyuruh orang itu untuk bunuh diri. Begitu juga pada gangguan bipolar. Pembagian ini sekarang sudah jarang disebutkan lagi karena masing-masing gangguan jiwa dikatakan langsung dengan diagnosis yang sesuai dengan pedoman diagnosis yang berlaku (DSM atau ICD-10).  

Apakah Gangguan Jiwa Bisa Sembuh?
Pertanyaan seputar kesembuhan gangguan jiwa memang biasanya mengundang dilema. Apalagi dengan persepsi awam yang mengatakan yang dimaksud dengan sembuh itu adalah tidak menggunakan terapi lagi baik obat maupun non obat. Ini sama saja dengan mengatakan apakah pasien yang mengalami darah tinggi bisa dikatakan sembuh jika masih makan obat setiap hari dan seumur hidup?. Sekiranya apa yang dialami oleh pasien gangguan jiwa seperti itu.
Ketika seorang mengalami masalah kejiwaan yang berkaitan dengan gangguan pada pikiran, perasaan dan perilakunya maka sebenarnya tidak semua memerlukan pengobatan. Pada beberapa kasus masalah kejiwaan bisa sembuh sendiri tanpa bekas. Hal ini disebabkan karena daya adaptasi manusia itu sendiri dalam menghadapi masalah. Selain itu juga karena sifatnya yang multifactorial, pemicu masalah kejiwaan sering kali tidak sama setiap orangnya walaupun diagnosis akhirnya sama. Sehingga tidak bisa dibandingkan antara satu pasien dengan pasien yang lainnya walaupun diagnosis sama. Seorang pasien dengan gangguan depresi bisa tanpa obat dalam terapinya tapi pasien yang lain harus makan obat bahkan sampai seumur hidup.
Selain itu juga persepsi awam tentang kalau mengobati gangguan jiwa itu sama dengan mengobati gangguan medis lainnya harus diperjelas. Apa yang diberikan pada pasien gangguan kejiwaan dalam pengobatan sering kali berbeda maknanya dengan penanganan kasus medis lainnya. Misalnya pemberian antidepresan golongan serotonin (SSRI) pada kasus depresi. Apa yang diberikan kepada pasien depresi tersebut sebenarnya bukan suplemen atau sejenis “antibiotic” untuk membunuh kuman bernama “depresi” di otak. Tetapi lebih kepada bahwa obat antidepresan itu diberikan dalam upaya mengaktifkan kembali sistem pembuatan serotonin di otak dan menjamin kesediaan serotonin yang cukup di otak. Ini artinya obat “hanya” berusaha mengaktifkan kembali sistem yang terganggu dan bukan memberikan yang kurang atau mematikan yang lebih. Sedikit berbeda dengan obat antipsikotik golongan antidopamin yang memang diberikan untuk mengurangi aktifitas kelebihan dopamine di otak yang mengakibatkan gejala-gejala psikotik seperti halusinasi dan delusi pada pasien skizofrenia.
Sayangnya ternyata tidak semua pasien ketika diaktifkan kembali sistem otaknya tersebut mampu akhirnya bisa dilepas dari pengobatan. Ada yang ternyata jika tidak dibantu obat, maka sistem otaknya itu tidak aktif kembali. Tidak heran bahwa banyak kasus depresi berulang dan masalah skizofrenia yang kambuhan terutama bila tidak berobat teratur. Bahkan penelitian sendiri mengatakan bahwa pada kasus gangguan depresi walaupun sudah diterapi optimal, maka angka kekambuhannya masih bisa lebih dari 50%. Tentunya seperti diuraikan di atas tidak semua kasus demikian namun bisa menjadi informasi kepada kita bahwa pengobatan masalah kejiwaan memang unik dan individual sekali. Yang penting kualitas hidup dan fungsi pasien kembali normal.

Gaya Hidup Sehat Cegah Kekambuhan
Walaupun keliatannya apa yang saya tuliskan di atas berkaitan dengan pengobatan dengan obat-obatan. Saya tidak mengatakan bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk “sembuh” dari masalah kejiwaan. Banyak penelitian telah mengatakan bahwa cara-cara seperti olahraga, relaksasi, konseling, psikoterapi, meditasi, yoga, penambahan supleman makanan telah banyak membantu proses kesembuhan. Hal ini tentunya lebih baik lagi jika didukung datanya oleh penelitian yang sahih dan besar. Satu terapi alternative untuk kasus tertentu belum tentu akan berhasil buat yang lainnya. Itulah mengapa kita tidak bisa membandingkan langsung masalah pasien satu dengan yang lainnya karena bersifat individual.

Semoga sedikit pembahasan tentang proses kesembuhan ini bisa bermanfaat buat pembaca sekalian. Salam sehat jiwa.  

Sabtu, 30 Agustus 2014

Jangan Biarkan Sulit Tidur Mengganggu Hidup Kita, Obati Segera!

Jangan Biarkan Sulit Tidur Mengganggu Hidup Kita, Obati Segera!

Pagi tadi saya mendapatkan BBM dari pasien saya yang berasal dari salah satu daerah di Jawa Tengah. Dia mengatakan bahwa sudah 25 hari ini dia bisa tidur tanpa obat sama sekali. Saya tentunya senang mendengar kabar yang menggembirakan ini. Hasil pengobatan sejak Maret 2014 akhirnya mendapatkan akhir yang menggembirakan. Saya sedikit akan menceritakan kisah pasien pada artikel di bawah ini.

Pasien seorang wanita usia 30an, menikah dan telah mempunyai putra. Waktu pertama kali datang ke Klinik Psikosomatik RS OMNI pasien mengeluhkan kesulitan tidur yang sudah terjadi beberapa bulan. Pasien telah ke dokter spesialis non-psikiatri sebelumnya dan diberikan alprazolam. Karena kekhawatiran akan ketergantungan pasien akhirnya mencoba mencari beberapa artikel terkait dengan alprazolam. Pasien akhirnya membaca salah satu tulisan saya tentang peran alprazolam dalam pengobatan yang sering kali salah alamat. Tulisan itu yang akhirnya membawa pasien ke klinik saya.

Dalam wawancara psikiatrik yang dilakukan saat itu terlihat bahwa keluhan sulit tidur pasien adalah kesulitan memulai tidur (inisiasi tidur). Lebih jauh pasien mengatakan selama ini memang sering kali tidurnya tidak mengikuti pola yang teratur. Kadang bisa sampai pagi tidak tidur karena ada urusan atau kesibukan di malam hingga dini hari.

Saat gangguan tidur yang berhubungan dengan pola perilaku tidur dan kesulitan memulai tidur, saya biasanya menggunakan antidepresan tertentu yang mempunyai efek untuk memperbaiki irama sirkadian tidur sekaligus mempunyai efek anticemas dan antidepresi. Selain itu antiinsomnia golongan non- benzodiazepine biasanya 
dipilih untuk mengatasi masalah kesulitan mulainya tidur.

Terapi dengan cara seperti ini tentunya tidak langsung mendapatkan hasil segera. Pasien memulai terapi bulan Maret 2014. Setelah dua bulan memakai antidepresan dan antiinsomnia secara berbarengan, akhirnya pasien bisa melepaskan antiinsomnianya dan hanya menggunakan antidepresan saja. Selanjutnya antidepresan dikurangi setengahnya sampai akhirnya pasien bisa tidur tanpa obat sama sekali di awal Agustus. Itu artinya butuh sekitar 5 bulan untuk terapi sulit tidur ini.

Obati Dasar Insomnianya
Dalam keseharian praktek saya sering mendapatkan kasus-kasus seperti cerita pasien di atas. Pasien biasanya pernah mencoba menggunakan obat anti insomnia baik yang dibeli sendiri atau dengan petunjuk dokter. Sayangnya sering kali pasien dan kebanyakan dokter non-psikiater hanya fokus pada bagaimana bisa mendapatkan tidurnya segera tanpa memikirkan apa dasar sulit tidurnya tersebut.

Inilah yang membuat kebanyakan kasus sulit tidur lebih mengutamakan penggunaan antiinsomnia golongan benzodiazepine yang biasanya bersifat hipnotik (membuat tidur) dan sedative (meredakan cemas). Pada beberapa kasus memang kadang diperlukan demikian tapi sebisa mungkin jangan menggunakan antiinsomnia yang bekerja pendek tapi usahakan menggunakan antiinsomnia yang bekerja panjang. Pemilihan obat antiinsomnia ini tentunya akan lebih mudah jika pasien berobat ke psikiater untuk gangguan tidurnya.

Jangan pernah lupa bahwa gangguan tidur biasanya merupakan manifestasi gangguan jiwa yang banyak jenisnya. Gangguan depresi, gangguan bipolar, gangguan cemas, demensia, skizofrenia, masalah penggunaan zat adalah beberapa masalah gangguan jiwa yang mempunyai gejala sulit tidur. Tanpa mengobati dasar gangguan tidurnya, maka biasanya hasil yang didapatkan saat terapi kurang baik. Apalagi jika hanya mengandalkan pengobatan untuk gejala sulit tidurnya saja tanpa memperhatikan masalah dasar gangguan jiwanya.

Hal penting adalah praktisi kesehatan harus mempunyai dasar ilmu yang baik untuk mengobati kesulitan tidur pada pasien. Jangan mudah memberikan obat yang sebenarnya tidak ditujukan untuk pengobatan sulit tidur. Kebanyakan dokter mengenal alprazolam sebagai obat untuk tidur yang poten. Sayangnya sebenarnya obat alprazolam lebih ditujukan untuk pengobatan gangguan cemas khususnya gangguan panik. Pengunaannya pun biasanya tidak boleh melebihi 4 minggu. Jika digunakan lebih dari itu, pasien harus dalam pengawasan dokter ahli dalam hal ini psikiater yang akan mengawasi ketat agar tidak terjadi ketergantungan dan toleransi obat.


Orang dengan gangguan tidur juga jangan sembarangan meminum obat tanpa pengawasan dokter. Banyak ditemukan dalam praktek pasien mencoba-coba anti insomnia yang diberikan oleh temannya. Padahal tiap kasus gangguan tidur itu tidak sama untuk setiap orang. Berkunjunglah ke dokter jika mengalami masalah tidur yang mengganggu fungsi pribadi dan sosial. Jika ke dokter umum tidak bisa memberikan solusi yang baik, mungkin ada baiknya berobat ke dokter jiwa/psikiater. Semoga tulisan ini berguna. Salam Sehat Jiwa.  

Sabtu di Bulan September Praktek Sore

Sabtu, 6 September 2014 praktek mulai jam 18.00-20.00 (Pasien dibatasi 10 pasien)

Sabtu, 13 September 2014 praktek mulai jam 15.00-18.00 (Pasien dibatasi 15 pasien)

Sabtu, 20 September 2014 praktek mulai jam 17.00-20.00 (Pasien dibatasi 10 pasien)

Sabtu, 27 September 2014 praktek seperti biasa pagi jam 9.30-12.00 (pendaftaran terakhir)

Kamis, 17 Juli 2014

Jadwal Cuti Praktek

27 Juli s.d. 4 Agustus 2014 : Cuti Idul Fitri

23 Agustus 2014 : Praktek Pagi ditiadakan,diganti Praktek Sore mulai jam 15.00-18.00 (pasien dibatasi 15 pasien) 

Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera


Rabu, 25 Juni 2014

Hati-Hati...Alprazolam!

Informasi Terkait Jadwal Praktek dan Cuti

Kepada Yth
Bapak/Ibu

Informasi terkait jadwal praktek terdapat dalam informasi berikut ini :

Sabtu, 5 Juli 2014 : Praktek lebih awal jam 8 pagi dan pendaftaran ditutup lebih awal di jam 11.00. Pasien untuk praktek Sabtu khusus hari ini dibatasi 10 pasien saja.

Cuti Idul Fitri : 28 Juli s.d. 3 Agustus 2014. Praktek kembali 4 Agustus 2014

Sabtu 23 Agustus 2013 : Praktek Pagi ditiadakan dan diganti menjadi praktek Sore mulai jam 17.00 (Pasien seperti praktek sore pada hari lainnya dibatasi 10 pasien saja)

Demikian pengumuman terkait jadwal praktek dan Cuti.
Atas perhatiannya terima kasih

Salam Sehat Jiwa,
dr.Andri,SpKJ,FAPM

Sabtu, 14 Juni 2014

Alprazolam Yang Sering Membuat Repot

Alprazolam Yang Sering Membuat Repot
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI ALAM SUTERA)

Dalam seminggu ini sudah ada 2 pasien yang berkunjung untuk masalah khusus yang sering saya temui di praktek : SULIT LEPAS dari Alprazolam!. Kedua pasien saya ini adalah perempuan usia 40 tahunan, ibu rumah tangga dan pertama kali memakai Alprazolam untuk mengurangi gangguan maag. Kedua pasien telah memakai alprazolam dengan jangka waktu yang lama yaitu 2 tahun dan 4 tahun dengan dosis antara 0.25 mg s.d 1.0 mg. Tujuan berobat ke Klinik Psikosomatik tempat saya berpraktek adalah karena kesulitan melepaskan obat Alprazolam ini dan ada kecenderungan meningkatkan dosis karena efek yang diharapkan tidak terasa lagi.
Banyak pasien yang mengalami kondisi seperti di atas. Kesulitan lepas dari obat Alprazolam ini memang bukan hisapan jempol. Ada beberapa pasien yang memakainya dalam dosis yang sebenarnya mungkin adalah dosis yang biasa seperti 0.5mg tapi sangat kesulitan jika berusaha untuk lepas dari obat ini. Sayangnya sering kali didapatkan penggunaan awal obat ini sebenarnya tidak sesuai dengan indikasi obat ini yang bertujuan untuk menghilangkan serangan panik.

Obat Paling Laku di Amerika

Alprazolam (dikenal dengan merk originalnya XANAX) adalah obat untuk masalah kejiwaan yang paling banyak diresepkan di Amerika Serikat sejak tahun 2005 sampai dengan 2011. Tidak pernah tergeserkan kedudukannya menurut Top 25 Psychiatric Medication Prescriptions for 2011 yang disusun oleh John M.Grohol. Dokter di Amerika Serikat meresepkan 50 juta resep Xanax dan Alprazolam generic setiap tahunnya. Itu berarti setiap detik ada lebih dari 1 buah resep Xanax atau Alprazolam generic yang diresepkan dokter di Amerika Serikat. Banyak dokter di Amerika Serikat sendiri mengeluhkan adanya pemakaian Alprazolam yang berlebihan untuk kasus-kasus yang ringan tapi sayangnya hal tersebut masih terjadi sampai sini.

Bagaimana dengan Indonesia? Walaupun tidak ada data yang pasti tentang pemakaian Alprazolam (yang di Indonesia dijual dengan berbagai macam merk dagang) tapi penulis yakin bahwa penggunaan obat ini baik secara legal (diresepkan dokter) atau non-legal (beli sendiri tanpa resep di apotek atau online) sangat besar. Penggunanya paling banyak bahkan bukanlah dokter ahli kejiwaan seperti Psikiater, tetapi lebih banyak dokter umum atau dokter spesialis lain. Hal ini sebenarnya selaras dengan apa yang dikatakan WHO bahwa peresepan obat benzodiazepine lebih banyak dilakukan oleh dokter non-psikiater.

Sayangnya pemakaian obat Alprazolam sering kali melewati indikasinya. Dalam praktek sehari-hari sering kali saya menemukan pasien-pasien yang telah diberikan Alprazolam (baik generic maupun dengan merk lain) bukan untuk indikasi gangguan panik. Kebanyakan bahkan dalam bentuk racikan (pulveres) bersama obat penghilang sakit ataupun obat maag. Sebagian kecil pasien membeli obat sendiri dengan rekomendasi temannya yang juga menggunakan Alprazolam. Biasanya mereka membeli online atau apotek langganan yang mau memberikan obat tersebut tanpa resep. Harganya biasanya dua kali sampai tiga kali lipat dari harga normalnya di apotek resmi.

  

Sulitnya Lepas Dari Alprazolam
Masalah yang paling sulit dari penggunaan Alprazolam adalah kecenderungan obat ini untuk membuat pasiennya tergantung dan kesulitan lepas karena efek putus obatnya yang sangat menyiksa. Beberapa kasus pasien yang saya tangani kebanyakan mengatakan bahwa mereka kesulitan melepaskan Alprazolam karena begitu dilepaskan rasanya sangat tidak nyaman walaupun pemakaiannya hanya dosis kecil seperti 0.25mg.
Kecenderungan pemakaian obat Alprazolam biasanya semakin meningkat pada pengguna minuman keras Alkohol dan atau yang mempunyai riwayat penggunaan zat stimulant seperti ekstasi dan sabu-sabu. Sayangnya penggunaan alcohol saat ini di kalangan dewasa muda perkotaan sudah dianggap layak yang biasanya dikarenakan semakin maraknya tempat-tempat hang out yang menyediakan minuman beralkohol.
Pengguna Alprazolam sangat beragam, dari mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja kantor, pengusaha, pedagang dan berbagai macam profesi lain termasuk dokter sendiri. Inilah obat yang paling dianggap sangat mujarab mengobati kecemasan namun mempunyai efek ke depan yang tidak baik jika terus digunakan dalam waktu lama.
Masalah terkait penggunaan Alprazolam tidak lepas dari penggunaan obat ini yang tidak diawasi oleh dokter yang khusus dan mengerti akan penggunaan obat ini yaitu Psikiater. Banyak dokter tanpa sadar meresepkan obat ini yang mungkin dikira hanya untuk beberapa hari tetapi kemudian tanpa sadar pasien menjadi pengguna obat ini sampai bertahun-tahun. Dari dosis yang kecil sampai dosis yang mencengangkan di atas 4 miligram sehari. Kebanyakan pasien yang saya temui mengalami masalah dengan alprazolam sebenarnya mendapatkan obat ini pertama kali dari dokter yang ditemuinya.

Bijaksana Memakai Alprazolam
Sampai saat ini obat Alprazolam masih dianggap obat yang sangat poten untuk mengatasi serangan panik pada pasien gangguan cemas panik. Belum ada larangan penggunaan obat ini dalam praktek sehari-hari walapun pembatasan penggunaannya telah diumumkan sejak tahun 2009 oleh FDA di Amerika Serikat. Apalagi jika penggunaannya lebih dari 4 minggu, pasien seharusnya berkonsultasi dengan psikiater agar mampu menghindari ketergantungan dari obat ini ke depannya.
Sering kali saya bertanya kepada pasien apa sebenarnya yang menjadi dasar penggunaan obat ini. Jika memang awalnya untuk mengatasi masalah-masalah yang tidak terkait dengan gangguan cemas panik maka  sebenarnya perlu adanya ulasan ulang untuk melihat kepentingan obat ini untuk pasien. Diagnosis dasar harus ditegakkan agar pengobatan yang tepat dapat dilakukan.

Alprazolam walaupun mempunyai potensi yang baik untuk mengatasi gangguan cemas panik tetap perlu diwaspadai adanya potensi ketergantungan dan sulitnya menghadapi masalah terkait lepas obat. Hal ini perlu diingat oleh teman sejawat dokter juga jika ingin meresepkan obat ini. Penggunaannya saat ini untuk pasien asuransi kesehatan nasional di RSUD telah dibatasi dan ini sebenarnya merupakan langkah baik untuk mengurangi penggunaannya yang berlebihan. Kebijaksanaan dokter dan pasien dalam menggunakan obat Alprazolam sangat diperlukan agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa. 

Selasa, 10 Juni 2014

Pendekatan Spiritual Pada Kasus Psikosomatik

Pendekatan Spiritual Pada Kasus Psikosomatik
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera)

Saya saat ini berada di Lombok untuk menghadiri Kongres Nasional Psikiatri Religi dan Spiritual yang berlangsung di Hotel Santosa di Senggigi, Lombok. Acara yang baru pertama kali diadakan ini akan bertema “Neuroscience and Spirituality : Bridging Spirituality into Medicine and Mental Health Care”. Saya sendiri akan berbicara siang ini dalam topic Pendekatan Spiritual pada Kasus Psikosomatik.

Saat berpraktek sehari-hari, pasien yang saya hadapi memang lebih banyak merupakan pasien dengan keluhan fisik yang didasari oleh keluhan psikologis. Sayangnya memang tidak semua pasien menyadari adanya masalah terkait psikologis di belakang keluhan fisik itu sendiri. Yang banyak terjadi adalah pasien psikosomatik terlalu fokus pada dirinya dan penyakitnya sehingga terkadang menghabiskan tenaga , waktu dan uang untuk “mengatasi” kondisi gangguan psikosomatiknya. Sayang usaha itu kadang kala tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan pasien karena memang demikianlah masalah psikosomatik, keluhannya ada tapi data obyektifnya tidak mendukung.

Pendekatan spiritual dalam  kasus-kasus psikosomatik lebih akan memfokuskan pada pendekatan psikodinamik pasien dengan hubungannya dengan penyakit yang dialaminya. Sering kali saking fokusnya pasien dalam mencari tahu sebab penyakitnya melupakan hal yang lain. Kondisi ini yang sering dialami dan dibuktikan saat wawancara klinis dengan pasien psikosomatik. Pasien ketika ditanya kekhawatirannya akan kehidupan akan lebih fokus pada diri dan sakitnya. Kondisi di luar sakit dan diri pasien seperti menjadi bagian yang tidak terlalu penting untuk dipikirkan.

Pendekatan spiritual bertujuan untuk melihat bahwa apa yang dialami pasien adalah hanya sebagian kecil dari apa yang terjadi dari keseluruhan kehidupan pasien. Pasien diajak untuk melihat bahwa kehidupannya jauh melebihi kondisi kesehatan yang dia anggap tidak pada tempatnya. Pasien lebih akan diajak untuk mengenali bahwa ada hal-hal lain di luar diri pasien dan “penyakitnya”. Pendekatan ini diharapkan mempunyai makna dalam perbaikan gejala psikosomatik selain pengobatan gangguan dasar yang mendasari masalah ini.


Semoga apa yang akan disampaikan siang nanti akan dapat bermanfaat bagi sejawat dalam penanganan kasus-kasus psikosomatik di praktek sehari-hari. Salam Sehat Jiwa 

Selasa, 03 Juni 2014

Sabtu, 17 Mei 2014

Sakit Kepala dan Ganggua Jiwa

Sakit Kepala da Gangguan Jiwa
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Psychosomatic Medicine Specialist)
Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera 

Bicara sakit kepala mungkin merupakan keluhan yang paling sering dialami oleh banyak orang. Berbagai macam obat ditawarkan oleh perusahaan obat untuk mengatasi sakit kepala dari obat bebas sampai obat yang harus menggunakan resep dokter. 
Sakit kepala yang paling sering dialami oleh individu adalah sakit kepala tipe tegang dan migrain. Kedua jenis sakit kepala ini pada banyak literatur mempunyai hubungan yang erat dengan stres dan beberapa gangguan jiwa seperti cemas dan depresi. 

Sakit Kepala Tipe Tegang (Tension Headache)
Sakit kepala jenis ini adalah jenis sakit kepala yang paing banyak dialami oleh orang dewasa. beberapa orang mengatakan sakit kepala ini sebagai sakit kepala stres. Sakit kepala tipe tegang biasanya muncul secara periodik atau harian. Secara episodik muncul sekurangnya 15 kali dalam sebulan dan dikatakan kronik jika muncul lebih dari 15 kali dalam sebulan. Tipe nyeri kepala jenis ini digambarkan sebagai nyeri yang berupa ketegangan seperti kepala yang diikat, ketat atau adaya tertekan disekitar pelipis atau belakang kepala sampai leher. Kondisi ini bisa berlangsung sekitar 30 menit sampai beberapa hari. Nyeri kepala tegang biasanya berlangsung berangsur-angsur dan terjadi di tengah hari. Satu yang perlu diingat bahwa tipe nyeri kepala ini tidak mengganggu penglihatan dan keseimbangan penderitanya. 
Angka kejadian jenis sakit kepala ini di Amerika Serikat saja untuk kondisi yang datang sekali-sekali sekitar 30-80% dari populasi. Sedangkan yang berlangsung kronis berkisar antara 3%. Perempuan lebih sering mengalami kondisi nyeri kepala tipe ini daripada pria. 
Penyebabnya sendiri biasanya sangat multifaktorial dan tidak berhubungan denga faktor keturunan keluarga. Pada beberapa orang kondisi nyeri kepala tipe tegang ini disebabkan karena adanya ketegangan bagian kepala, leher dan punggung yang disebabkan oleh : postur yang tidak baik, tidak cukup istrirahat, stres psikologis termasuk depresi, kurang tidur, kecemasan, kelelahan, dan kelaparan. Pemicunya sendiri sangat berhubungan dengan stres lingkungan dan pribadi termasuk diantaranya hubungan dengan orang lain. 

Migrain
Migrain merupakan jenis sakit kepala kedua yang sering dikeluhkan pasien walaupun belum tentu keluhan sakit kepala sebelah selalu disebut migrain. Migrain adalah nyeri kepala yang berat di satu sisi atau kedua sisi kepala. Biasanya nyeri berada di sekitar pelipis atau belakang salah satu mata atau telinga. Migrain bisa menyebabkan mual dan muntah dan sensitif terhadap cahaya dan suara. Kondisi ini bisa berlangsung dari beberapa jam sampai beberapa hari. Migrain yang klasik bisa dimulai dari adanya aura atau adanya gejala penglihatan seeprti ada kilatan cahaya 10 sampai 30 menit sebelu terjadinya serangan atau kehilangan pandangan. Migrain yang biasa bisa terjadi tanpa aura. 
Kaitan antara migrain dan gangguan kejiwaan seperti depresi dan cemas sering dilaporkan di berbagai penelitian. Gangguan cemas dan depresi sering juga dialami oleh pasien yang mengalami migrain. Migrain yang kronis sering dialami oleh pasien gangguan cemas. Pasien gangguan cemas menyeluh dan gangguan cemas panik juga sering melaporkan migrain sebagai salah satu gejala yang merka alami. Laporan dari 2009, mengatakan 11 persen pasien mengeluh migrain mengalami gangguan kejiwaan di antaranya gangguan cemas dan depresi. 

Pengobatan
Obat penghilang rasa sakit sering kali diresepkan untuk pasien nyeri kepala. Beberapa obat ini bisa ditemukan di penjual obat atau apotek karena dijual secara bebas. Jika obat penghilang sakit tidak mempan biasanya diberikan juga tambahan obat untuk melemaskan otot. Beberapa obat anticemas dan antidepresan yang juga mempunyai efek anti nyeri biasanya diresepkan oleh dokter yang didatangi pasien seperti ini. 
Satu hal yang penting bahwa penggunaan obat antinyeri sering kali pada pemakaian yang lama menghilang efek terapinya. Untuk itu dokter dan pasien harus memahami untuk mencari dan memodifikasi pemicunya yang mungkin dalam hal ini adalah stres lingkungan dan pribadi. Faktor stres yang berkaitan dengan terjadinya nyeri kepala tegang dan migrain bisa membuat terapi terhambat jika hanya fokus pada obat penghilang nyeri saja. Apalagi jika gangguan jiwa seperti depresi dan cemas tergambar nyata sebagai salah satu gangguan yang mengawali sakit kepala atau sebagai suatu faktor pemberat. Jangan ragu untuk berhubungan dengan psikiater untuk masalah ini. Semoga tulisan ini berguna.

Minggu, 11 Mei 2014

Sakit Lambung, Psikosomatik dan si "Otak Kecil"

oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM
Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera

Setahun belakangan ini dengan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang kondisi gangguan jiwa dan keterkaitannya dengan fisik, banyak pasien yang berkunjung ke Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera mengeluhkan secara lebih spesifik gejala fisiknya. Gangguan lambung adalah salah satu yang paling sering dikeluhkan.

Awalnya adalah beberapa tulisan saya yang berkaitan dengan masalah gangguan lambung yang disebut Dispepsia Fungsional. Dispepsia Fungsional adalah suatu kondisi gangguan lambung sesuai dengan diagnosis kriteria Rome III. Kondisi Dispepsia Fungsional ditandai dengan adanya keluhan nyeri lambung yang biasanya dirasakan sesudah makan. Keluhan nyeri, mual, ingin muntah, penuh, kadang diare dan kembung adalah keluhan yang paling sering dikeluhkan pasien. Pemeriksaan klinis dan bahkan endoskopi ternyata tidak menemukan kelainan yang berarti. Pasien dengan kondisi seperti ini biasanya hanya diberikan obat-obat simptomatik untuk mengurangi gejalanya seperti obat golongan PPI (Omeperazole, Lanzoprazole dkk), prokinetik seperti Domperidone dan terkadang anti asam lambung lokal seperti antasida. Sayangnya keluhannya hanya berkurang dengan makan obat dan sering kali berulang jika tidak makan obat.

Lambung dan Otak
Pasien dengan keluhan lambung sering kali mengalami kebingungan kalau gejalanya tidak kunjung sembuh padahal sudah melakukan pengobatan. Kondisi gangguan kejiwaan adalah hal yang sering terkait dengan masalah ini. Namun di luar daripada itu, sebenarnya masalah lambung memang tidak bisa dilepaskan dari otak. Pakar obat psikiatrik dan ahli neurosains ternama dari Amerika Serikat, Stephen Stahl,MD,PhD dalam tulisannya di Journal of Clinical Psychiatry mengatakan suatu opini dalam bentuk anekdot antara seorang psikiater dan dokter gastroenterologi : "Psychiatrist to gastroenterologist: "Isn't it surprising how many brain neurotransmitters are also in the gut?" Gastroenterologist to psychiatrist: "Not at all, but it sure is interesting how many gut neurotransmitters are in the brain."

Hal tersebut di atas mengisyaratkan adanya hubungan yang erat antara lambung dan otak. Para ahli mengetahui bahwa beberapa neurotransmitter di otak yang berkaitan dengan perasaan dan perilaku seperti dopamin, serotonin dan norepinephrine juga terdapat di lambung, bahkan 90 persen serotonin ditemukan di lambung. Kondisi ini tentunya akan sangat berkaitan dengan bagaimana peran dalam pengobatan gangguan lambung yang sangat akan berhubungan dengan kestabilan sistem otak dalam hal ini adalah kondisi kesehatan jiwanya.

Integrasi
Karena hubungan yang erat inilah tidak heran dalam sehari saya sering mendapatkan pasien-pasien yang mengeluh gangguan lambung dan telah berkeliling dokter ahli gastroenterologis namun tidak mendapatkan perbaikan. Gejala lambung yang tidak kunjung membaik sedangkan hasil obyektifnya baik membuat pasien menjadi curiga apakah hal ini berkaitan dengan keluhan yang dikenal awam sebagai Psikosomatik. Bicara tentang Psikosomatik tentunya tidak bisa dilepaskan dari suatu kondisi di Otak, dan ini sangat berkaitan dengan bidang keilmuan psikiatri khususnya dalam bidang Psikosomatik Medis.

Terapi pada pasien gangguan lambung psikosomatik seperti misalnya pada dispepsia fungsional akan sangat berhubungan dengan bagaimana menstabilkan kondisi otaknya yang di atas dan "otak kecilnya" di lambung yang dikenal dengan sistem saraf enteric (enterci nervous system). Penggunaan obat-obat psikotropik dan antidepresan akan bisa sangat membantu perbaikan pasien. Tentunya harus tepat dan sesuai dengan petunjuk dokter yang ahli dalam hal ini adalah psikiater.

Semoga apa yang dituliskan ini bisa membantu lebih memahami masalah gangguan lambung yang sering terjadi tanpa sebab obyektif yang ada. Mungkin saja anda mengalami Dispepsia Fungsional. Salam Sehat Jiwa

Minggu, 27 April 2014

Kamis, 10 April 2014

Anda Insomnia, Hati-Hati Gangguan Jiwa Mendekat!

Anda Insomnia, Hati-Hati Gangguan Jiwa Mendekat!
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Psychosomatic Medicine Specialist RS OMNI Alam SUtera, Tangerang Selatan)

Kasus insomnia atau kesulitan tidur adalah kasus gangguan kejiwaan yang paling banyak dikeluhkan pasien baik di pelayanan primer ataupun di pelayanan spesialistik. Tidak heran sejak dibuatnya Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), insomnia termasuk dalam kategori kompetensi atau kemampuan yang harus bisa ditangani oleh seorang dokter umum.
Sayangnya banyak masalah insomnia tidak sesederhana yang dikira. Pasien yang mengalami gangguan tidur itu ternyata di belakangnya banyak menyimpan masalah gangguan jiwa yang lebih berat, paling sering adalah depresi dan gangguan kecemasan. Untuk bisa memahami lebih jauh tentang gangguan tidur ini maka di bawah ini saya tampilkan kasus yang mungkin bisa mewakili beberapa karakter gangguan tidur yang sering dikeluhkan pasien.

Kasus 1. Insomnia pada Depresi
Pasien seorang wanita 45 tahun dengan keluhan rasa putus asa dan tidak ada gairah hidup lagi. Pasien mengalami masalah dengan usahanya dan terlibat dengan kasus hukum perdata yang belum bisa diselesaikan dengan baik sampai saat ini. Gejala seperti mudah lelah, tidak bergairah, suka melamun mulai datang ketika masalah sudah berjalan sebulan. Kondisi mirip depresi ini kemudian diperberat dengan kesulitan tidur yang dialami pasien. Pasien bisa tertidur tetapi terbangun lebih awal pada dini hari dan tidak bisa tidur kembali. Setelah 3 bulan mengalami masalah ini dan tidak bisa mengatasi sendiri dengan terapi sendiri (pasien menggunakan obat batuk dan paracetamol untuk membantu tidur), akhirnya pasien berkunjung ke saya di Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera. Diagnosis pasien ditegakkan sebagai Depresi Mayor. Pengobatan dengan antidepresan yang adekuat dan bantuan obat anti insomnia dosis ringan diberikan kepada pasien. Awal sebulan pertama perubahan belum banyak terjadi namun memasuki bulan kedua gejala depresi membaik dan gejala tidur sudah kembali normal. Pasien meneruskan pengobatan antidepresannya namun sudah tidak lagi menggunakan obat anti insomnia.

Kasus 2. Insomnia pada Gangguan Kecemasan
Kasus ini paling banyak ditemukan di Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam SUtera tempat saya bekerja. Pasien dengan keluhan kesulitan tidur sering didapatkan pada pasien-pasien gangguan kecemasan. Bedanya pasien gangguan tidur pada gangguan cemas lebih sering mengeluh sulitnya tidur sedangkan pada pasien depresi lebih mengeluh pada kualitas tidur yang buruk dan pendeknya waktu tidur. Pasien gangguan kecemasan yang mengeluh sulit tidur biasanya bahkan mengatakan tidurnya baru bisa setelah jam 4 pagi sehingga kualitas hidup terganggu sekali. Karakter tidur yang sering dikatakan pada pasien cemas memang sulit memulai tidur.

Obati Kondisi Dasar
Kasus insomnia merupakan kasus yang paling sering dialami oleh pasien gangguan jiwa. Apapun dasar diagnosis pasien, banyak masalah gangguan tidur sebenarnya didasari oleh masalah kejiwaan seseorang. Walaupun sebagai seorang dokter kita harus menyingkirkan adanya bermacam gejala gangguan tidur yang disebabkan oleh penyakit medis (jantung, diabetes,prostat, kanker), pada prakteknya kasus insomnia lebih sering terkait gangguan kejiwaan.

Selain harus mengatasi kondisi dasarnya, pasien gangguan tidur sering kali harus diubah pola tidurnya juga. Sering didapatkan masalah gangguan tidur yang dialami pasien berkaitan dengan masalah yang terkait tidak teraturnya pola tidur terutama pada pasien anak muda yang sering begadang lewat tengah malam. Masalah yang seperti ini harusnya ditangani secara berbarengan dengan mengatur pola tidur yang sering kali kacau tersebut.

Penggunaan obat tidur saja untuk membantu pasien insomnia atau gangguan tidur lainnya sering kali dibutuhkan untuk pasien ini. Namun jangan pernah lupa bahwa pengobatan insomnia yang didasari oleh gangguan kejiwaan tidak cukup hanya dengan obat anti insomnia. Penggunaan obat anti insomnia sendiri tanpa mengobati gangguan dasarnya malah akan membuat penggunaan obat anti insomnia berlangsung lama dan malahan punya potensi ketergantungan.

Kunjungi dokter psikiater jika gangguan tidur sudah berlangsung lebih dari sebulan dan dokter pelayanan primer anda belum memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi insomnia anda. Jangan bergantung pada pengobatan sendiri apalagi sampai membeli obat anti insomnia golongan benzodiazepine (alprazolam,diazepam,estazolam,lorazepam) dan menggunakannya sendiri tanpa pengawasan psikiater. Hati-hati karena sering kali masalah ketergantungan obat penenang ini diawali oleh penggunaan yang salah dan berlebihan di awal terapi. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Selasa, 11 Maret 2014

Peraturan Pendaftaran Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera

Peraturan Pendaftaran Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera

-          Jadwal dan Jam Praktek : 
o   Senin s.d. Jumat : 17.00-20.00
o   Selasa, Kamis dan Sabtu : 09.30-12.00
  •           Praktek Sore pasien dibatasi hanya 10 orang, untuk Praktek Pagi pasien dibatasi sampai waktu pendaftaran jam 12 siang.
  •           Informasi pendaftaran bisa didapatkan lewat telepon ke (021) 53128222 atau (021) 53128555
  •           Pendaftaran lewat telepon tidak otomatis mendapatkan nomor antrian pasien. Namun demikian pasien bisa mendapatkan informasi tentang berapa banyak pasien yang sudah mendaftar saat itu. Hal ini untuk memberikan gambaran tentang apakah pada hari tersebut pasien sudah cukup ramai. Jika sudah mendekati 10 ada baiknya mengatur ulang jadwal kontrol. Hindari kemungkinan sudah datang jauh-jauh tapi akhirnya pasien tidak mendapatkan kesempatan berkonsultasi karena pasien sudah 10 hari.
  •           Waktu konsultasi per pasien berkisar antara 20-30 menit


Beberapa catatan yang mungkin perlu diperhatikan :
-          Pada hari-hari tertentu misalnya sepulang cuti panjang, pasien biasanya lebih banyak daripada biasa. Kadang walaupun jam praktek belum mulai, pasien yang datang sudah 10 dan pendaftaran sudah ditutup untuk praktek sore walaupun saat itu masih belum jam 17.00.
-          Selasa dan Kamis sore di mana praktek pagi juga berlangsung pada hari tersebut, biasanya lebih lengang daripada hari lainnya.
-          Karena waktu tunggu yang lama antara pasien, diharapkan pasien mempersiapkan diri sebelumnya jika ingin kontrol agar tidak merasa kesal atau bĂȘte.

-          Di sekitar RS OMNI Alam Sutera ada beberapa pusat makanan dan belanja (Flavor Bliss dan Pasar Delapan serta mal Living World dan Mal @Alam Sutera), mungkin bisa menjadi alternative menunggu giliran konsultasi terutama bagi yang berasal dari luar daerah 

Senin, 03 Maret 2014

Vertigo atau Gangguan Cemas Panik?

oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater,Psychosomatic Medicine Specialist)
Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera

Pengalaman setiap hari memfokuskan diri dalam menangani berbagai macam gangguan kecemasan sejak 5 tahun membawa saya dalam berbagai macam pemahaman dan pengalaman berharga dengan pasien-pasien saya. Banyak dari mereka bahkan hampir semua pasien yang berkunjung ke Klinik Psikosomatik RS OMNI telah sebelumnya melakukan berbagai pemeriksaan berkaitan dengan gejala panik yang mereka alami. Paling sering mereka telah melakukan pemeriksaan jantung, lambung dan ke dokter saraf. Pada tulisan berikut ini akan saya lebih tekankan tentang gejala pusing berputar yang mirip vertigo (vertigo like symptoms) yang sering dikeluhkan oleh para pasien gangguan cemas panik.

Pasien yang mengalami gangguan kecemasan panik memang sering kali tidak merasa yakin bahwa kondisi fisiknya itu murni karena masalah kejiwaan. Keluhan-keluhan fisik yang membuat tidak nyaman apalagi menakutkan seperti jantung berdebar, sesak nafas, perasaan melayang, pusing berputar, keringat dingin atau merasa dingin, perut terasa penuh dan ingin muntah adalah sebagian gejala-gejala yang bisa dirasakan saat serangan kecemasan atau panic attack menyerang. Inilah yang membuat pasien sering kali mengkonfirmasikan dulu gejalanya ke dokter-dokter yang terkait dengan kondisinya tersebut.

Vertigo adalah keluhan yang sering dikeluhkan oleh pasien gangguan cemas panik. Suatu kondisi perasaan berputar (baik sekeliling yang berputar atau diri pasien merasa berputar sampai kadang tidak mampu menutup mata) adalah yang menggambarkan seperti apa vertigo itu sebenarnya. Pasien yang benar-benar mengalami vertigo ditemukan adanya masalah di telinga dalam khususnya sistem keseimbangan. Tapi bagaimana jika anda merasa demikian tapi ternyata setelah diperiksa dokter saraf atau THT tidak menemukan adanya masalah pada telinga dalam anda. Dokter saraf atau THT yang memeriksa pasien yang menganggap dirinya mengalami vertigo ternyata tidak menemukan kelainan dan menganggap bahkan apa yang dikeluhkan bukanlah vertigo yang khas.

Vertigo atau Dizziness ?
Gejala seperti vertigo pada pasien gangguan cemas panik sebenarnya adalah gejala yang terkait dengan keluhan dizziness atau pusing. Keluhan ini biasanya menjadi mirip dengan vertigo karena selain berasa berputar juga ditandai dengan gejala lain seperti kepala ringan dan rasa mual.

Gejala vertigo bisa terjadi pada pasien dengan gangguan cemas panik karena pada serangan kecemasan atau panic attack datang pasien cemas sering mengalami hiperventilasi yaitu pasien berusaha untuk menarik nafas sebanyak-banyaknya, memasukkan oksigen ke dalam tubuh dengan bernafas cepat karena ada sensasi sesak dan kesulitan bernafas. Pada kondisi ini tubuh akan mengeluarkan banyak CO2 dan terlalu banyak mengambil O2 suatu keadaan yang akan membuat keseimbangan terganggu yang akhirnya memicu terjadinya perasaan pusing yang diartikan mirip gejala vertigo.

Gejala-gejala hiperventilasi juga akan menyebabkan keluhan yang lain selain perasaan seperti vertigo yaitu kesulitan berpikir, kepala menjadi ringan dan kelemahan tungkai. Inilah yang sering membuat pasien ketika terkena serangan panik dan mengalami hiperventilasi akhirnya malah semakin kacau dan sulit mengendalikan diri.

Kendalikan bernafas anda
Orang yang mengalami hiperventilasi pada saat serangan panik datang akan cenderung merasa kekurangan oksigen, ia akan terus berusaha mengambil oksigen dengan berbagai cara salah satunya dengan bernafas lebih cepat yang akhirnya akan menambah sensasi vertigo dan kesulitan mengontrol keadaan. Hiperventilasi juga bisa berdampak pada perasaan nyeri dada yang semakin membuat perasaan pasien tidak karuan.

Salah satu yang harus disadari adalah berusaha bernafas normal sebisa mungkin. Sindrom hiperventilasi memang tidak segera berlalu. Pasien tidak perlu meminta oksigen tambahan pada saat dirawat di IGD ketika serangan panik datang yang disertai dengan hiperventilasi. Ada baiknya pasien mencoba menyeimbangkan O2 dan CO2 dengan bernafas lebih teratur dan perlahan. Pada beberapa kasus bisa dibantu dengan bernafas melalui kantong kertas yang membuat kadar CO2 menjadi lebih seimbang (lebih banyak). Hal ini akan membuat sensasi gejala vertigo bisa menghilang.

Latihan pernafasan memang diperlukan apalagi oleh pasien yang sering datang keluhan ini secara tiba-tiba. Selain itu pengobatan gangguan cemas paniknya harus segera dilakukan. Jangan menunda masalah ini dengan tidak memperdulikan gejala dasarnya tersebut sebenarnya disebabkan karena gangguan kejiwaan. Silahkan berkonsultasi dengan psikiater terdekat di kota anda. Semoga Informasi ini berguna. Salam Sehat Jiwa




Sabtu, 01 Maret 2014

Update News : Dr.Andri Bergabung Ke Organisasi Gangguan Cemas dan Depresi Tingkat Internasional

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater,Psychosomatic Medicine Specialist)
Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera

Saat memulai memfokuskan penanganan kasus psikosomatik di praktek sehari-hari saya telah mencoba untuk melihat dasar-dasar diagnosis pasien yang mengalami gejala-gejala psikosomatik. Setelah melewati 5 tahun perjalanan sebagai psikiater yang berfokus di penanganan kasus psikosomatik, akhirnya saya menyimpulkan bahwa kebanyakan masalah terkait dengan keluhan psikosomatik adalah Gangguan Cemas dan Depresi.

Gangguan cemas yang mempunyai banyak sub tipe seperti Gangguan Cemas Panik dan Gangguan Cemas Menyeluruh, dalam praktek sehari-hari lebih banyak ditemukan sebagai salah satu masalah terkait dengan gangguan psikosomatik. Pasien gangguan cemas hampir lebih dari 80 persen mengeluh keluhan fisik (psikosomatik) dan lebih dari separuhnya telah melewati berbagai macam pemeriksaan fisik yang hasilnya tidak mendukung masalah keluhan fisiknya.

Gangguan depresi walaupun lebih dikenal sebagai gangguan suasana perasaan (mood) sebenarnya juga tidak luput dari masalah keluhan fisik (psikosomatik). Lebih dari 50 persen pasien yang mengalami kesembuhan yang tidak sempurna, kebanyakan mengeluh keluhan fisik adalah keluhan yang tidak membaik seiring dengan perbaikan suasana perasaannya. Gangguan fisik terutama nyeri sering kali menjadi keluhan yang tidak banyak mengalami perubahan dalam perbaikan gangguan depresi walaupun itu merupakan keluhan yang tidak terpisahkan sebenarnya.

Untuk itulah mulai tahun kelima setelah mendapatkan pengakuan sebagai Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine (FAPM) dari Academy of Psychosomatic Medicine di Amerika, saya mencari juga organisasi yang bisa membuat saya lebih mendalami lagi aspek-aspek dari masalah psikosomatik yang terkait ke gangguan kejiwaan terutama cemas dan depresi. Beruntungnya hasil pencarian ini mencapai titik temu. Sejak Januari 2014 saya aktif untuk melihat dan mempelajari organisasi Anixety and Depression Association of America (ADAA). Organisasi ini ditujukan untuk para pasien dan profesional. Berbeda dengan organisasi APM yang lebih ditujukan khusus kepada profesional medis khususnya psikiater yang bergerak di bidang Psikosomatik Medis. Niat bergabung saya di ADAA ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang menyeluruh bukan hanya dari kalangan praktisi klinis, namun juga dari para peneliti dan profesional lain di bidang gangguan kecemasan dan depresi. Tujuan akhirnya adalah agar mendapatkan pemahaman yang semakin menyeluruh akan penyakit jiwa yang disebut Gangguan Depresi dan Gangguan Cemas ini.

Semoga keikutsertaan saya dalam organisasi ini menambah pengetahuan agar mampu berbuat lebih baik lagi untuk pasien-pasien saya. Mohon doa dan dukungannya. Salam Sehat Jiwa


Rabu, 26 Februari 2014

Sakit Lambung Terkait Gangguan Psikosomatik

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Psychosomatic Medicine Specialist)
Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, Tangerang

Belakangan ini sejak seringnya saya menulis tentang kasus-kasus psikosomatik yang terkait dengan gangguan lambung, banyak pasien yang mengalami gangguan lambung menahun yang datang ke Klinik Psikosomatik RS OMNI. Beberapa di antaranya akan saya ilustrasikan dalam kasus di bawah ini.

Kasus 1.
Pasien usia 40 tahun, datang dengan keluhan nyeri, perih lambung dan kembung yang dominan terjadi setiap hari sudah sejak setahun yang lalu. Pasien mengatakan hal ini membuatnya pantang berbagai jenis makanan dan lebih banyak makan hanya dengan bubur kecap atau nasi tim. Lebih jauh ketika ditanyakan tentang pengobatan pasien sudah berobat ke berbagai spesialis penyakit dalam terutama yang spesialisasi saluran cerna.

Endoskopi sudah dilakukan namun tidak ada masalah berarti, H.Pylori tidak ditemukan. USG Abdomen dan pemeriksaan penunjang laboratorium telah dilakukan dan tidak juga ditemukan hal yang bermasalah. Pasien diberikan obat PPI (Proton pump inhibitor) yang biasanya diberikan kepada pasien dengan gangguan seperti ini dan juga diberikan Domperidone serta sukralfat. Hasilnya tidak banyak membantu. Pasien akhirnya disarankan oleh salah satu dokternya ke psikiater karena dianggap mengalami psikosomatik. Sebelum bertemu saya di klinik pasien sudah pernah sebelumnya juga ke psikiater tetapi tidak mendapatkan perbaikan setelah diobati selama sebulan. Saat itu obat yang diberikan berupa obat anticemas yang dicampur dengan dosis kecil antipsikotik.

Setelah saya lihat gejala dan tanda pada pasien, pasien lebih jauh mengatakan bahwa selain masalah lambung juga sering disertai dengan perasaan cemas yang berkaitan dengan jantung berdebar. Perasaan cemas ini biasanya dipicu oleh rasa tidak nyaman di lambung dan akhirnya menimbulkan jantung berdebar. Di luar masalah lambungnya, pasien tidak mengalami jantung berdebar tanpa pemicu. 

Pengobatan kepada pasien akhirnya dipilih untuk menstabilkan sistem saraf otonom di otak dan juga terutama terkait dengan sistem saraf enteric yang berkaitan dengan lambung. Pengobatan ini biasanya tidak lagi melibatkan obat-obatan untuk lambung kecuali jika diperlukan domperidone. Biasanya penggunaan dosis kecil antidepresan yang tepat dapat membantu kasus seperti ini. Setelah satu bulan pengobatan pasien merasa keluhannya sudah semakin menghilang. Perih kembung sudah tidak ada lagi. Pasien sudah bisa makan biasa tanpa harus memilih-milih.

Kasus 2.
Pasien seorang laki-laki usia 28 tahun dengan keluhan jantung berdebar-debar, sering sesak nafas dan merasa kembung tiba-tiba seperti ingin muntah. Hal tersebut terjadi tiba-tiba tanpa sebab atau pemicu. Pasien juga mengatakan sering merasa pusing dan seperti bergoyang jika kejadian itu datang. Gejala ini sering berulang dan membuat pasien sering bolak balik ke IGD karena khawatir merasa sakit jantung yang berat. Pasien jika di IGD dikatakan baik-baik saja setelah mengalami pemeriksaan lengkap. Beberapa dokter di IGD mengatakan hanya asam lambung saja naik dan diberikan obat lambung sejenis PPI. Sayangnya keluhan itu tidak mereda walau sudah makan obat yang disarankan. Kondisi ini adalah kondisi klasik untuk suatu Gangguan Cemas Panik. Pengobatan hal ini sudah beberapa kali saya bahas dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya. Saya hanya ingin menekankan bahwa pada kondisi ini pun ada masalah dengan lambung.

Lambung Punya Otak Sendiri
Dalam ilmu kedokteran khususnya bidang Psikosomatik Medis, dipercaya bahwa lambung mempunyai otaknya sendiri yang sering disebut Enteric Nervous System. Sistem saraf ini juga diatur oleh neurotransmitter yang sama seperti yang terdapat di susunan saraf pusat di otak. Saling mempengaruhi antara lambung dan otak banyak kita temukan pada beberapa kasus dispepsia fungsional, suatu kondisi gangguan lambung yang tidak didasari oleh adanya kelainan organ lambung itu sendiri. Sistem saraf enteric ini terdapat di esophagus, lambung, usus kecil dan kolon sehingga keluhan lambung terkait dengan sistem ini bisa mengenai keempat bagian organ lambung tersebut.

Karena didasari dan mempunyai neurotransmitter yang sama seperti di susunan saraf pusat jugalah yang membuat pengobatan kasus-kasus dispepsia fungsional atau masalah lambung terkait dengan sistem saraf enteric biasanya menggunakan obat-obatan yang juga bekerja di susunan saraf pusat. Penggunaannya namun sering kali agak berbeda tergantung diagnosis dasarnya.

Pada kasus pertama misalnya gejala lambung lebih mendominasi dan menjadi pemicu untuk gejala lainnya. Sedangkan pada kasus kedua gejala lambung merupakan gejala yang terkait dengan gejala lain pada pasien gangguan cemas panik.

Jika melihat dasar dari kondisi sepert ini maka tidak salah jika pasien yang mengalami gangguan lambung dan sudah berobat ke dokter spesialis penyakit dalam saluran cerna namun tidak mengalami perbaikan, bisa berkonsultasi ke psikiater yang memahami masalah lambung ini sebagai masalah terkait dengan aktifitas sistem saraf di tubuh.
Semoga tulisan ini membantu memahami. Salam Sehat Jiwa
13934138591436760378
The Brain in Your Gut (pic taken from http://kin450-neurophysiology.wikispaces.com/Enteric+Nervous+System)

Minggu, 23 Februari 2014

Perlunya Tampil di Televisi

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Psychosomatic Medicine Specialist)
Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, Tangerang

Semalam (23 Feb 2014) saya baru saja tampil kembali di acara Apa Kata Dokter di JakTV. Topik malam tadi adalah tentang Bagaimana Mengenali Depresi dan Pengobatannya yang dikaitkan dengan tema Pemilu yang akan dijelang khususnya tentang pribadi calegnya.
Bagi saya tampil di televisi bertujuan untuk memberikan informasi khususnya bagi pemirsa yang jarang membuka internet sehingga informasi tentang gangguan psikosomatik juga dapat didapatkan oleh mereka. Walaupun temanya belum tentu selalu berkaitan dengan psikosomatik tetapi sering kali saya tambahkan dalam setiap wawancara aspek psikosomatik dari suatu kondisi kejiwaan dan fisik seseorang.
Semoga ada kesempatan-kesempatan lain yang bisa saya gunakan terus untuk menyebarkan informasi tentang psikosomatik. Salam Sehat Jiwa



Rabu, 19 Februari 2014

Tumpang Tindih Gejala Kecemasan

oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Psychosomatic Medicine Specialist)
Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera

Sejak memfokuskan diri praktek psikiatri yang menangani kasus-kasus psikosomatik sejak lebih 5 tahun yang lalu saya dalam keseharian lebih banyak bertemu dengan kasus-kasus pasien gangguan kecemasan atau depresi yang mempunyai ciri keluhan fisik yang menonjol. Beberapa di antaranya bahkan mengatakan tidak mengalami masalah berkaitan dengan keluhan psikologis atau psikis dan lebih mengedepankan gejala fisik atau somatik.

Kali ini saya akan membahas lebih jauh tentang tumpang tindih gejala kecemasan pada pasien yang didiagnosis mengalami gangguan kecemasan. Hal ini disebabkan karena banyak pasien yang sering merasa bingung dengan diagnosis gangguan kejiwaannya dan berusaha untuk mencari lebih jauh dengan membuka berbagai situs di internet. Daripada bingung ada baiknya anda membaca ulasan singkat ini.

Cemas Atau Takut ?
Sebenarnya ada perbedaan mendasar ketika kita berbicara tentang suatu kondisi yang disebut Cemas. Cemas adalah ketakutan yang tidak didasari oleh adanya sumber ketakutan yang jelas. Pada berbagai buku dikatakan bahwa kecemasan lebih bersifat irasional sedangkan takut bersifat rasional karena objek yang ditakutinya ada. Beberapa orang yang mengalami kecemasan mungkin tidak setuju karena banyak pasien saya yang mengatakan bahwa mereka cemas akan sesuatu misalnya sakit atau menderita penyakit berat. Pada hakekatnya hal ini lebih disebut takut. Namun ketika kondisi ketakutan tersebut bersifat irasional karena si pasien tersebut tidak mampu menjelaskan bagaimana perasaan takut tersebut, maka kecemasan lebih cocok disematkan pada kondisi demikian.

Satu yang menarik dalam praktek ketika berhadapan dengan kasus kecemasan adalah bahwa banyak pasien yang mengatakan bahwa kecemasannya tersebut tidak beralasan, datang sendiri tiba-tiba dan sulit dialihkan. Ada pasien yang mengeluh bahwa tiba-tiba dia merasakan rasa takut yang luar biasa yang dia sendiri sulit menjelaskan takutnya pada apa. Hal ini lebih cocok disebut sebagai suatu kecemasan daripada ketakutan.

Takut Penyakit Berat
Pasien gangguan kecemasan dengan gejala fisik atau somatik lebih sering mengeluh dirinya mengalami ketakutan akan menderita sakit berat. Tidak heran pasien biasanya berulang kali memeriksakan dirinya karena keluhan-keluhan fisik yang timbul dan dirasakan pasien. Padahal kondisi ini kebanyakan tidak didasari oleh adanya masalah fisik. Ketakutan akan menderita sakit ini yang banyak dialami oleh pasien gangguan kecemasan tipe panik dan tipe menyeluruh.

Kebanyakan pasien yang mengeluh takut menderita sakit berat biasanya mengalami gangguan fisik yang dimanifestasikan dalam gejala fisik berkaitan dengan fungsi saraf otonom. Tidak heran keluhannya biasanya berkisar antara lambung, paru dan jantung. Rasa sensasi tidak nyaman di organ-organ tersebut sering kali memicu ketakutan yang lebih besar dan pikiran otomatis yang mengarah ke ketakutan akan menderita penyakit yang lebih berat.

Obsesif Kompulsif
Walaupun dalam kasus-kasus pasien yang mengalami gejala fisik seperti gangguan kecemasan panik dan menyeluruh berbeda dengan gangguan cemas obsesif kompulsif, namun pasien gangguan cemas panik dan gangguan cemas menyeluruh sering kali juga mempunyai karakter seperti pasien obsesif kompulsif. Pikiran yang berulang akan kecemasan tentang sesuatu hal yang buruk terjadi sering diungkapkan pasien. Perilaku kompulsif untuk memeriksakan diri juga merupakan karakter obsesif kompulsif yang sering dikeluhkan pasien.

Pasien gangguan kecemasan sendiri sering kali memang mempunyai dasar kepribadian obsesif kompulsif. Orang-orang perfeksionis, persisten dan konsisten serta sulit menerima kenyataan yang tidak diharapkan sering kali lebih mudah mengalami gangguan kecemasan daripada orang lain. Hal ini seperti menjadi karakter dasar pasien-pasien yang mengalami gangguan kecemasan.

Kenali Diri
Proses pengobatan selalu melibatkan faktor psikologis dan biologis agar mendapatkan perbaikan. Obat bisa digunakan sebagai fasilitator untuk mencapai keadaaan kestabilan sistem saraf otak agar mampu mengembangkan sifat positif di dalam diri. Pasien juga perlu menyadari dan mengakui adanya masalah kejiwaan yang terjadi pada dirinya. Menyangkal hal tersebut malah akan mempersulit pengobatan karena akan menghambat perbaikan gejala secara psikologis.

Pasien bisa disaranakan untuk meningkatkan kemampuan adaptasi diri dengan belajar cara-cara baru dalam beradaptasi dengan lingkungan yang sering kali dianggap sebagai pemicu stres. Pada pasien yang aktif dan mempunyai kemampuan belajar yang baik, maka hal ini bisa didapatkan dari buku-buku dan proses psikoterapi yang mencerahkan pasien. Obat akan memfasilitasi kondisi tersebut karena kenyamanan terutama perbaikan gejala-gejala fisik pada pasien cemas biasanya akan mempermudah pasien gangguan kecemasan untuk berpikir positif.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Minggu, 16 Februari 2014

Tidak Menikmati Hobi Lagi? Hati-hati Depresi !

Tidak Menikmati Hobi Lagi? Hati-hati Depresi !
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine)

Belum seminggu saya pulang dari Paris untuk mengikuti International Summit Meeting in Depression. Saya bersama salah satu rekan dari Indonesia bersama-sama dengan para psikiater dari berbagai negara Eropa mengikuti acara yang berlangsung dua hari ini di Hotel Le Meridien,Etoile, Paris. Kunjungan ke Eropa untuk melakukan seminar kali ini adalah kunjungan pertama saya karena selama ini saya lebih rutin ke Amerika Serikat untuk memperbarui pengetahuan saya khususnya di bidang Psikosomatik Medis.

Satu hal yang menarik yang mungkin bisa saya ceritakan kepada pembaca di sini adalah tentang gejala yang biasanya muncul dan dialami oleh pasien-pasien di Eropa dibandingkan mungkin di Amerika Serikat. Hal ini terungkap dalam pemaparan kasus-kasus Depresi yang didiskusikan pada saat acara summit meeting ini.

Anhedonia

Gejala Anhedonia atau ketidakmampuan menikmati sesuatu hal yang awalnya dinikmati adalah salah satu gejala yang sering diungkapkan pada pemaparan kasus-kasus depresi di acara summit ini. Beberapa psikiater yang mengungkapkan kasus-kasus pasien mereka menekankan anhedonia sebagai salah satu gejala yang penting yang dianggap menjadi salah satu faktor penentu juga keberhasilan terapi.

Hal ini agak sedikit berbeda dengan apa yang saya dengar dan dapatkan dari kasus-kasus yang biasanya diungkapkan psikiater-psikiater di Amerika Serikat tentang pasien-pasiennya. Ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu karena kelelahan adalah salah satu gejala depresi yang paling sering dikaitkan dengan kasus-kasus depresi yang dialami oleh orang Amerika Serikat. Tentunya gejala Anhedonia juga terdapat namun tidak menjadi fokus karena bagi mereka yang menjadikan sulit adalah ketika seseorang tidak mempunyai tenaga untuk melakukan aktifitas kerja sehari-hari. Ketidakmampuan menikmati hobi bukan menjadi salah satu faktor yang penting. Yang penting adalah bisa bekerja dan mempunyai tenaga untuk itu.

Beda Sudut Pandang

Saya hanya mencoba untuk menganalisis bagaimana penekanan untuk satu kondisi gangguan jiwa bisa bermakna berbeda dalam segi penekanan gejala. Betul memang harus dipahami bahwa walaupun diagnosisnya sama misalnya Gangguan Depresi Mayor, gejala yang dialami pasien bisa berbeda. Secara klasik keluhan depresi yang utama adalah Mood atau suasana perasaan yang menurun, hilangnya minat atau rasa putus asa dan psikomotor yang menurun. Kalau dilihat dari gejala yang dikeluhkan maka ketiga gejala klasik tersebut biasanya terdapat pada pasien depresi hanya saja mungkin penekanan gejala mana yang menonjol itu juga terkait individu masing-masing.

Saya menjadi berpikir apakah karena karakter budaya dan latar belakang sehingga orang Eropa lebih mengutamakan gejala Anhedonia dan orang Amerika lebih mengutamakan gejala psikomotor atau yang terkait dengan kelelahan dan ketidakmampuan bekerja. Memang jika dilihat suasana di Eropa dalam hal ini Paris agak sedikit berbeda dengan suasana di Amerika. Paris terlihat lebih santai. Jamuan makan malam pun lebih formal dan lama, banyak diisi oleh ngobrol-ngobrol. Sedangkan ketika di Amerika Serikat, semuanya agak lebih cepat dan makan buat sesuatu yang bisa untuk berlama-lama.

Tapi tentu ini belum bisa menyimpulkan karena saya baru melihat satu kota di Eropa sedangkan masih banyak pula yang belum dieksplorasi. Namun demikian penekanan gejala yang berbeda di kedua benua ini membuat kita semakin menyadari bahwa hubungan kultural dan latar belakang suatu masyarakat tersebut akan berhubungan juga dengan karakter gejala yang ditampilkan dalam diri pasien-pasien yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Bagaimana dengan Indonesia? Sepertinya perlu juga untuk mengadakan penelitian terkait hal ini yang tentunya didapatkan dari kasus-kasus yang ada dalam praktek sehari-hari. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa
13923467581294509335
Salah satu icon kota Paris saat ini (dok.pribadi)
1392346900386689618
Bersama dr.Marga Maramis,SpKJ, psikiater dari Surabaya yang juga menjadi peserta acara Summit Meeting di Paris (dok.pribadi)