psikosomatik

psikosomatik

Sabtu, 31 Agustus 2013

CUTI PRAKTEK

Di bawah ini adalah beberapa jadwal cuti Klinik Psikosomatik dikarenakan saya harus memberikan presentasi dan menghadiri seminar 

Sabtu, 14 September 2013
Sabtu, 12 Oktober 2013
Sabtu, 26 Oktober 2013
Kamis-Sabtu 31 Oktober s.d 2 November 2013 
12 November s.d. 19 November 2013 

Kamis, 22 Agustus 2013

BUKU TERBARU

Terbit OKTOBER 2013 


Sabtu, 17 Agustus 2013

Penyakit Ini Timbul Karena Banyak Membaca, Kok Bisa?

Penyakit Ini Timbul Karena Banyak Membaca, Kok Bisa?
oleh : dr.Andri,SpKJ 
Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, Tangerang 

Tidak usah bingung membaca judul tulisan ini, memang benar adanya kalau ada penyakit yang bisa timbul karena banyak membaca. Apa penyakit itu nanti akan saya jelaskan dalam paragraf selanjutnya. 
Saya sudah lama mulai menulis. Sejak mahasiswa saya senang menulis dan membuat bulletin. Hal ini sebenarnya karena saya ingin memberikan informasi tentang apa yang saya baca. Ketika menjalani pendidikan spesialis saya pun makin senang menulis apalagi yang terkait dengan gangguan kejiwaan. Hal ini disebabkan karena saya melihat artikel tentang gangguan kejiwaan masih sangat minim dan terjadi stigma di masyarakat kalau gangguan kejiwaan itu hanya mengurusi pasien dengan gangguan jiwa berat yang oeh awam disebut orang gila. Bahkan sampai sekarang pun pasien saya masih bertanya apakah dirinya mengalami Gangguan Jiwa sebab menurut dia gangguan jiwa itu yang seperti orang gila itu. 
Setelah memutuskan mendalami bidang psikosomatik medis di tahun 2007, tulisan saya lebih banyak berhubungan dengan gejala dan tanda gangguan psikosomatik yang kebanyakan gejala fisik. Tentunya menulis artikel psikosomatik mempunyai tantangan karena yang kita bahas kebanyakan adalah gejala fisik yang dalam ilmu kedokteran bisa mengarah ke ratusan diagnosis. Bagaimana bisa langsung berpikir itu psikosomatik, apa benar pemeriksaan yang dilakukan telah menghindarkan dari diagnosis lain? Itulah mungkin yang paling sering berkecamuk di pikiran para pembaca artikel saya yang kebetulan adalah orang-orang yang mengalami gangguan psikosomatik. 
Untuk itu maka pemahaman psikiater yang bergerak di bidang ini tentang gejala dan tanda keluhan fisik serta perjalanan penyakit (patofisiologi) haruslah benar-benar mantap. Pasien gangguan psikosomatik yang kebanyakan ragu-ragu terus menerus akan kondisi fisiknya yang sebenarnya baik-baik aja membutuhkan jawaban yang pasti dan tepat akan kebenaran "penyakit"nya. Dokter yang ragu-ragu dalam menjelaskan masalah terkait psikosomatik ini akan membuat pasien bertambah ragu dan malah mempercayai tulisan-tulisan di internet tentang berbagai macam penyakit terkait gejala yang dia rasakan. Di sinilah judul artikel saya di atas menjadi bermakna. Ternyata memang banyak pasien psikosomatik yang sebenarnya timbul penyakitnya karena terlalu banyak membaca artikel tentang penyakit di Internet!. Mengapa bisa demikian?

Ragu-Ragu
Jika mau jujur, maka pasien yang mengalami keluhan psikosomatik memang adalah orang-orang yang selalu ragu akan kondisi fisiknya. Selain ragu dengan kondisi fisiknya, pasien dengan berbagai macam keluhan psikosomatik memang sering kali mempunyai daya adaptasi terhadap nyeri yang lebih rendah daripada normal. Dalam praktek sehari-hari sering saya mengatakan kepada pasien bahwa orang dengan keluhan psikosomatik memiliki sensitifitas terhadap rasa nyeri karena ambang rasa nyerinya rendah. Hal ini memag secara biologis di otak telah diteliti disebabkan karena ketidakseimbangan serotonin dan nor-epineprin yang merupakan neurotransmitter penting di otak. Sensitifitas nyeri yang rendah ini yang menyebabkan pasien psikosomatik mudah mengalami keluhan fisik (nyeri) yang bisa berlangsung lama. 

Mudah Dipersuasi
Selain sering ragu akan kondisi fisiknya, pasien psikosomatik kebanyakan mudah dipersuasi secara negatif apaagi jika berkaitan dengan penyakit. Jika pasien mengalami gejala psikosomatik yang berupa keluhan fisik, maka pasien biasanya akan memikirkan hal-hal tentang gangguan medis yang mengerikan dulu. Berlebihan dalam menanggapi sensasi tubuh yang dirasakan oleh tubuh pasien. Sering kali gejala ringan yang bagi orang normal tidak dirasakan atau segera berlalu, buat pasien sering kali menjadi terus menerus dan terasa berat. Persepsi diri yang selalu merasa sakit ini juga yang sering membuat persuasi terutama yang negatif dan berkaitan dengan penyakit sangat masuk ke dalam otak pasien. Tidak heran semakin banyak membaca tentang penyakit, semakin banyak pula "penyakit" yang diderita pasien. 

Itulah mengapa dalam pengobatan penting menyeimbangkan sistem otak sekaligus melakukan persuasi positif kepada pasien tentang keluhannya. Psikiater yang bergerak di bidang ini juga harus mumpuni dalam keilmuan medisnya sehingga tidak menjadi ragu-ragu dalam menegakkan diagnosis. Jika mampu menulis maka ada baiknya memang psikiater menulis untuk masalah-masalah yang terkait dengan keluhan psikosomatik dengan latar belakang ilmiah yang terbaru. Hal ini agar bisa menjadi sumber informasi bagi pasien-pasien yang sering timbul penyakitnya karena membaca artikel tentang penyakit. Itulah salah satu alasan saya mengapa akhirnya banyak menulis termasuk di blog ini. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa 

Kamis, 15 Agustus 2013

Gangguan Panik : Penyakit Kambuhan Yang "Nyebelin"

Gangguan Panik : Penyakit Kambuhan Yang "Nyebelin"
oleh : Dr.Andri,SpKJ 
Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera

Pasien dalam konsultasi di klinik sering kali bertanya kepada saya apakah penyakit gangguan paniknya bisa sembuh. Saya tentunya menjawab bahwa penyakit ini bisa sembuh. Namun saya juga kemudian meneruskan bahwa walaupun bisa sembuh tapi kemungkinan pasien untuk mengalami gejala panik kembali tetap ada atau dalam bahasa kedokterannya disebut relaps (kambuh). 
Saya pernah membahas dalam blog ini juga bahwa ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan kekambuhan penyakit gangguan panik ini. Kelelahan fisik, gangguan tidur (begadang atau tidur tidak tepat waktu), diet yang terlalu ketat, penyakit medis fisik yang berat ataupun tekanan stres yang baru yang sulit diadaptasi adalah hal-hal yang sering dianggap sebagai pemicu terjadinya gangguan panik kembali. 

Mengenal Panik Lebih Baik
Saya mengatakan kepada pasien dalam praktek sehari-hari bahwa tidak perlu khawatir dan merasa putus asa karena gangguan panik bisa kambuh. Saya mengatakan karena walaupun kambuh biasanya kondisi kambuhnya tersebut gejalanya tidak separah ketika pertama kali mengalami serangan yang tidak diobati. 
Hal ini disebabkan karena pasien sudah mampu memahami gejala dan tanda dari gangguan panik tersebut. Pasien biasanya sudah beradaptasi dengan kondisi tersebut. Hal ini juga ditambah dengan perbaikan sistem saraf otak karena pengobatan yang sudah dilakukan sehingga daya tahan sistem otak terhadap stres menjadi lebih baik. 
Gejala-gejala ulangan panik memang bisa kambuh dalam rentang waktu bulanan sampai tahunan sejak dinyatakan "sembuh" dari gangguan panik. Namun demikian hal tersebut tidak selalu terjadi pada setiap pasien. Ada juga yang benar-benar sembuh dan tidak berulang lagi.

Tidak Sembuh Sempurna
Selama menangani kasus-kasus gangguan cemas terutama gangguan panik dengan berbagai jenis gejala psikosomatik yang sering kali beragam itu saya tidak selalu mengalami keberhasilan terapi. Ada beberapa pasien yang tetap mengalami gejala sisa walaupun pengobatan sudah mencapai waktu yang optimal. Ada juga pasien yang mengalami perbaikan yang sangat lambat sehingga membuat pasiennya kadang sedikit putus asa. 
Sebenarnya hal ini sangat wajar dalam pengobatan namuan sering kali memang sulit diterima oleh pasien karena harapan untuk sembuhnya yang tinggi. Daya adaptasi sistem otak, kepribadian dasar orang tersebut menjadi faktor yang sering dikaitkan dengan masalah kesulitan mencapai kesembuhan sempurna. Pasien seperti ini biasanya selain juga diberikan obat, pasien juga perlu mengalihkan pemikiran terhadap kondisi tubuhnya agar tidak selalu fokus pada keluhan psikosomatiknya. Cara ini lebih baik juga bila disadari oleh pasien sendiri. Terkadang karena kesulitan menerima dirinya mengalami gejala psikosomatik, pasien tetap merasa keluhannya yang sedikit pun dirasakan terlalu besar. Betul memang pada pasien gangguan panik, gejala psikosomatik sekecil apapun sering dirasakan berlebihan. 

Intinya dalam pengobatan gangguan panik memang harus diseimbangkan sistem otaknya baik dengan cara pengobatan dengan obat ataupun dengan cara-cara lain seperti psikoterapi olahraga, meditasi/yoga/zikir dan menjalani kehidupan sehat. Pasien dengan gangguan panik memang bisa sembuh tapi keberulangan memang masih bisa dialami juga tetapi jangan putus asa menghadapi penyakit ini. Salam Sehat Jiwa