Minggu, 01 Juli 2012

Obat Antidepresan dan Seluk Beluknya


Oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater Keminatan Psikosomatik Medis)

Praktek sehari-hari saya kebanyakan menangani kasus-kasus gangguan kecemasan dan gangguan depresi. Pasien dari dua jenis gangguan jiwa ini sangat sering mengeluh gejala-gejala fisik yang tidak didasari adanya bukti obyektik (Gejala Psikosomatik). Hal ini membuat ketika melakukan terapi maka saya akan mengedepankan menterapi diagnosis dasarnya seperti yang telah saya bahas pada tulisan-tulisan saya terdahulu tentang gangguan psikosomatik.
Pengobatan untuk gangguan cemas dan gangguan depresi tentunya perlu meliputi ketiga aspek yang mempengaruhi kejiwaan seseorang. Pendekatan biologis, psikologis dan sosial (termasuk spiritual) adalah hal yang tidak bisa dilepaskan pada pengobatan pasien-pasien tersebut. Apa yang akan saya bahas kali ini lebih kepada pengobatan dengan obat-obatan terutama antidepresan.

Efektifitas Obat
Ketika diagnosis sudah ditegakkan, maka sebagai dokter tentunya saya akan mengatur strategi pengobatan. Strategi pengobatan ini tentunya didasarkan pada rujukan pedoman pengobatan yang telah disetujui bersama oleh para ahli. Organisasi psikiatri baik di Indonesia maupun di luar negeri telah membuat pedoman-pedoman pengobatan untuk kasus-kasus psikiatri yang dihadapi sehari-hari.
Kali pertama yang terpikir oleh saya untuk meresepkan obat tertentu kepada pasien terutama untuk kasus gangguan cemas dan depresi adalah efektifitas obat tersebut. Obat Antidepresan golongan Serotonin Selective Reuptake Inhibitor (SSRI) dan Serotonin Norephineprine Reuptake Inhibitor (SNRI) adalah pilihan-pilihan obat yang digunakan untuk kasus depresi. Kedua golongan obat ini dipakai saat ini karena dinilai efektif untuk mengobati gangguan depresi.
Pasien dengan gangguan cemas juga mendapatkan manfaat dari pengobatan dengan golongan antidepresan. Selain efektif juga mempunyai profil obat yang lebih relatif aman dibandingkan dengan pengobatan menggunakan obat anticemas golongan benzodiazepine (obat penenang). Seperti kita tahu obat anticemas seperti Alprazolam, Lorazepam, Bromazepam, walaupun efektif mengatasi kecemasan sering kali menimbulkan permasalahan lain yaitu toleransi (dosis yang semakin meningkat) dan ketergantungan.

Tolerabilitas Obat
Selain efektif mengobati, pemilihan obat juga perlu melihat tolerabilitasnya atau kemampuan pasien dalam beradaptasi dengan obat itu. Kadang memang ada obat yang efektif tapi pasien tidak tahan dengan efek samping yang sering muncul akibat obat yang dia minum.
Antidepresan golongan SSRI atau SNRI seperti yang disebutkan di atas cukup mempunyai tolerabilitas yang baik. Pasien biasanya cukup nyaman dengan obat yang diberikan. Sering kali memang muncul efek samping obat pada awal penggunaan, biasanya berlangsung pada minggu pertama. Namun demikian efek samping ini hanya bersifat sementara dan sering kali bisa dilewati tanpa perlu menambahkan obat lain. Efek samping yang sering muncul pada obat yang bekerja di serotonin adalah gangguan perut atau maag, perasaan mengantuk, kadang bisa mengalami insomnia, sering merasa kepala berat atau pusing dan perasaan cemas. Untuk itu biasanya pada pasien diberikan dosis setengah dulu untuk pasien mampu lebih beradaptasi dengan obat ini.

Keamanan Obat
Kita memahami bahwa pasien dengan penggunaan antidepresan biasanya berlangsung lama. Pada berbagai literatur terbaru disarankan agar pasien tetap melanjutkan pengobatan walaupun sudah membaik sampai minimal 6 bulan sejak perbaikan gejala. Hal ini adalah agar keberulangan gejala tidak terjadi.
Untuk itu pemilihan obat selain tolerabilitas dan efektifitas, maka keamanan obat jika dipakai dalam jangka waktu panjang atau jika dipakai bersamaan dengan obat lain perlu diperhatikan. Pasien yang memakai obat antidepresan golongan SSRI atau SNRI masih bisa menggunakan obat lain misalnya obat flu, obat demam atau obat batuk yang sering takut digunakan. Kebanyakan peringatan di obat flu bahwa obat flu tidak boleh digunakan bersama antidepresan adalah obat antidepresan dari golongan Monoamine Inhibitor (MAOIs).

Farmakoekonomi
Jangan lupakan salah satu yang perlu diperhatikan juga tentang farmakoekonomi. Yaitu bagaimana pemilihan obat yang baik dan efektif juga perlu dibarengi dengan suatu upaya untuk memberikan obat yang secara ekonomis bisa terjangkau. Sering kali ini menjadi dilema karena pengobatan dengan obat-obat golongan terbaru seperti SSRI dan SNRI memang memerlukan biaya yang cukup besar. Walaupun demikian jika memandang dari segi cost and benefit mungkin penggunaan obat-obat antidepresan golongan SSRI dan SNRI masih bisa dianggap sebagai mampu memberikan perhitungan ekonomis yang masuk akal. Hal ini disebabkan karena perbaikan gejala depresi dan cemas yang baik dan didukung dengan kemampuan kerja secara ekonomis pasien-pasien yang mengalami depresi dan cemas, keuntungan secara ekonomis memakai obat ini bisa terpenuhi.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

2 komentar:

ismansyah mengatakan...

Salam pak Andri yang baik. Saya telah menderita gangguan psikosomatis selama kurang lebih 4 bulan dengan gejala2 yang bapak sebutkan dalam tulisan bapak (jantung berdebar, perasaan sesak napas, keringat dingin, ingin buang air besar/kecil, perasaan melayang, rasa seperti tidak stabil, gemetaran, kesemutan, perasaan tidak terkendali). Sebelumnya saya juga sudah melakukan pemeriksaan beberapa kali di beberapa dokter. Semua obat yang diberikan sepertinya tidak berpengaruh kecuali obat penenang (alprazolam) sehingga akhirnya saya berkeseimpulan (dengan bantuan internet juga) saya menderita psikosomatis. Sekarang keadaan saya sudah lebih baik. Akan tetapi masih ada beberapa keluhan yang saya alami khususnya disore hari seperti wajah dan leher terasa tegang, terkadang kesulitan bernafas, perut penuh dan kembung (sering sendawa), dan perasaan melayang. Saya ingin meminta saran kepada bapak apa yg harus saya lakukan. Perlu diketahui bahwa saya sudah tidak mengkonsumsi obat jenis apapun kecuali madu.Sebelumnya saya juga sudah pernah mengikuti hipnoterapi. Terima kasih Pak Andri, saya sangat menantikan jawaban anda :)

Dr.Andri,SpKJ mengatakan...

Gejala cemas kadang memang tidak hilang sepenuhnya dari kondisi pasien. Lebih tidak nyaman memang jika gejala tersebut menimbulkan keluhan-keluhan psikosomatik. Namun demikian kemampuan kontrol pasien terhadap kecemasan ini yang sebenarnya sangat diharapkan. Bila bapak masih mampu mengendalikan perasaan cemas dan gejala psikosomatik tersebut maka sebenarnya bapak sedang menuju perbaikan. Tetap semangat, tetap melakukan meditasi atau relaksasi dan boleh saja teruskan minum madunya. Salam Sehat Jiwa