psikosomatik

psikosomatik

Sabtu, 12 November 2011

Lecture Notes : Psychosomatic Medicine in Primary Care



















Saat saya menuliskan berita ini, saya sedang menunggu pesawat yang akan mengantar saya kembali ke Cengkareng, Tangerang. Pagi tadi jam 6.20 saya bertolak ke kampus FK UGM Jogjakarta untuk memberikan Lecture Notes : Psychosomatic Medicine in Primary Care. Selain diminta untuk memberikan kuliah, saya juga diminta menjadi panelis bersama Prof Mark Graber dari Department of Family Medicine University of Iowa untuk membahas kasus-kasus yang terangkum dalam buku Kedokteran Keluarga karangan beliau yang banyak membahas kasus-kasus gangguan jiwa di pelayanan primer.

Psikosomatik Untuk Dokter Keluarga
Saya diminta untuk memberikan kuliah tentang bagaimana mengenali gangguan psikosomatik di pelayanan primer. Hal ini disebabkan karena lebih dari 20 persen kasus gangguan psikosomatik yang ada datang ke pelayanan primer terlebih dahulu. Permasalahan menjadi timbul karena kebanyakan pasien-pasien dengan gangguan psikosomatik lebih sering mengeluh gangguan fisik daripada kondisi psikologisnya.
Hal ini yang menyebabkan kasus-kasus psikosomatik yang memang merupakan keluhan fisik dengan dasar psikologis agak sulit didiagnosis di pelayanan primer karena lebih sering daripada tidak dokter pelayanan primer termasuk dokter keluarga lebih banyak fokus pada kondisi fisiknya saja.
Satu hal yang paling terkait dengan kesulitan diagnosis gangguan psikosomatik dan gangguan jiwa terkait adalah sulitnya menentukan diagnosis. Kesulitan ini sangat wajar dialami karena kebanyakan dokter mengira bahwa kondisi kejiwaan adalah sesuatu yang sulit didiagnosis dan memerlukan pemeriksaan yang lama. Padahal dalam beberapa kasus tertentu terutama psikosomatik, gangguan cemas panik dan depresi, penegakan diagnosis bisa dilakukan dengan menggunakan cara-cara penggunaan skala penilaian yang sederhana, atau dengan melihat riwayat datangnya pasien ke pelayanan kesehatan. Pasien dengan banyak keluhan fisik yang seringkali berganti-ganti serta menunjukkan gejala fisik yang tidak didasari oleh hasil pemeriksaan obyektif yang nyata merupakan “kandidat” pasien psikosomatik.

Perkuat Keilmuan Dokter Keluarga
Departemen Dokter Keluarga (Dept of Family Medicine) FK UGM menyadari hal ini. Doktyer keluarga sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan juga sebenarnya mempunyai tanggung jawab dalam menangani kasu-kasus gangguan kejiwaan terkait keluhan psikosomatik. Maka dari itulah dalam rangkain kuliah tamu berupa Lecture Notes dari University of Iowa, diselipkan topik Gangguan Psikosomatik yang oleh beberapa sejawat dokter yang menjadi peserta dikatakan sebagai salah satu gangguan terkait kejiwaan yang paling banyak ditemui mereka.
Penegakkan diagnosis yang tepat dan tata laksana terapi yang sesuai akan sangat membantu pasien dalam mengatasi gangguan psikosomatiknya. Bekal ini yang coba diberikan pada saat “Lecture Notes’ tadi pagi tentang kondisi psikosomatik. Diagnosis dasar yang mendasari keluhan psikosomatik seperti depresi dan gangguan kecemasan juga dibahas agar mengingatkan kembali para dokter tentang adanya kondisi kejiwaan ini yang sangat erat kaitannya dengan psikosomatik. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa orang asia seperti juga Indonesia lebih “suka” mengeluhkan keluhan fisik daripada keluhan psikisnya.
Semoga apa yang telah dilakukan tadi pagi dapat memberikan asupan berharga bagi kepentingan perkembangan dokter keluarga di Indonesia
Salam Sehat Jiwa

Tidak ada komentar: