psikosomatik

psikosomatik

Jumat, 27 Mei 2011

Alprazolam Yang Mengubah Hidup (Cerita Tentang Ketergantungan Obat)

Semalam saat saya praktek, saya kembali bertemu dengan pasien saya yang sedang berusaha menghentikan pemakaian Alprazolamnya (dikenal dengan merk dagang Xanax, Alganax, Zypraz, Alviz, Alprazolam generik). Bapak usia 70 tahun ini sudah mulai berhasil menurunkan Alprazolam yang dia konsumsi. Saat bertemu saya 2 bulan yang lalu, pasien sedang dalam kondisi “ketergantungan” Alprazolam dengan dosis 3×0,5 mg selama setahun. Obat ini diberikan oleh seorang dokter umum kepadanya karena kecemasan yang dia derita. Sayangnya pada kelanjutannya pasien seperti sulit lepas dari Alprazolam ini dan akhirnya memutuskan untuk terus pakai sampai akhirnya sadar dia sudah mulai ketergantungan. Kemarin saat bertemu saya, program yang kami buat bersama sudah mulai berhasil. Saat ini beliau sudah hanya makan Alprazolam 2 kali dengan dosis 0,125mg dan direncanakan akan terus turun sampai dosis nol.

Di lain kesempatan saya bertemu pasien lain yang mengalami ketergantungan terhadap Alprazolam (Xanax) dengan dosis 3 kali 2 miligram. Bayangkan beliau ini memakan obat Alprazolam dengan dosis 6 miligram perhari. Padahal dosis pengobatan paling tinggi rata-rata yang dipakai oleh pasien gangguan panik berat pun adalah 3×0,5 miligram. Obat ini pertama kali diberikan oleh dokter neurologi sekitar 10 tahun yang lalu dengan dosis 2×0,5 miligram namun terus naik sampai akhirnya mencapai dosis saat ini. Ketergantungan ini juga dibantu oleh bebasnya membeli alprazolam di apotek sebelum tahun 2009. Sejak tahun 2009 memang ada kebijakan bahwa obat golongan Benzodiazepin hanya boleh dibeli dengan resep dokter.

Saya juga punya seorang pasien dengan ketergantungan Alprazolam sampai dosis 3×1 miligram perhari. Pengobatannya pertama kali diberikan oleh psikiater di Jepang bahkan dengan campuran obat anticemas golongan lain yang di Indonesia tidak tersedia. Saat ini jika tidak makan Alprazolam, pasien merasa tidak bisa bekerja, merasa seperti Zombie dan sulit konsentrasi. Dalam forum yang beliau ikuti, beberapa kali beliau mengatakan bahwa pemakaian dan ketergantungan Alprazolamnya disebabkan karena “MUSIBAH by Procedure”. Artinya pengobatan dengan obat ini malah yang membuatnya sakit.

Lihatlah salah satu tulisan di forum yang ditulis tentang obat Alprazolam (kebetulan si bapak memakai merk Xanax) tentang pro dan contra penggunaannya :

setelah beberapa tahun ini saya baca2 soal xanax di beberapa situs dan forum2 soal xanax, ternyata masih timbul pros & cons

-di youtube dalam video siaran ABC Report about “XANAX HABBIT”, rupanya pihak FDA masih membela diri bahwa xanax masih dinyatakan aman, dalam siaran itu rupanya FDA nyewa actress yg beracting sebagai seorang “xanax addict”, tapi para penderita xanax addict beneran yg nimbrung disitu pada berkomentar “she’s a liar, she’s just an actress hired by FDA, she’s not a real xanax addict person”

-di video lainnya siaran CNN about “Hooked On Xanax part.1 & 2″ barulah banyak komen2 yg mengutuk XANAX, bahkan banyak yg menuntut agar status XANAX dirubah jadi ILEGAL.

-seorang konselor panti rehab bicara, bahwa penderita XANAX ADDICT bisa lepas total dari xanax dalam waktu 18 bulan - 2 tahun, itupun dengan taruhan kematian, sedangkan pecandu heroin bisa sembuh dalam waktu paling lama 3 bulan. withdrawal xanax 30x lebih buruk daripada withdrawal HEROIN.

-seorang pecandu Heroin selama 10 tahun bisa berhenti dengan pindah ke xanax yg tadinya dianggap aman, tapi setelah 4 tahun mengkonsumsi xanax, dia merasa susah untuk melepaskannya. dia bilang, withdrawal HEROIN: Very Painfull, sedangkan withdrawal XANAX: Very Horrible.

ALPRAZOLAM memang salah satu obat anticemas yang sering disalahgunakan dan palling banyak menimbulkan ketergantungan serta toleransi. Di buku teks Substance Abuse obat alprazolam dikatakan mempunyai potensi tinggi untuk membuat ketergantungan dan tolrensi bahkan pada dosis pengobatan. Bagi para dokter ini adalah obat yang sangat mujarab untuk menetralisir kecemasan. Indikasinya yang disahkan oleh Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat sebenarnya untuk Gangguan Panik dengan gejala panik yang berat. Artinya indikasinya memang sangat jelas namun seringkali disalahgunakan bahkan dipakai untuk obat tidur.

Saya sudah seringkali menulis tentang obat ini. Salah satu tulisan saya di Kompasiana tentang Bijak Menggunakan Obat Penenang juga berbicara tentang Alprazolam sebagai salah satu obat yang sering disalahgunakan. Penelitian beberapa peneliti dan WHO bahkan mengatakan peresepan Alprazolam paling banyak dilakukan oleh dokter umum dibandingkan dokter spesialis Psikiatri (80% dokter umum menggunakan obat ini). Pengetahuan tentang obat penenang yang terbatas tidak menyurutkan banyak dokter untuk terus meresepkan obat ini. Sehingga tidak heran terkadang kita menemukan beberapa resep obat racikan (terutam untuk gangguan lambung) yang terdapat campuran dengan Alprazolam.

Saya pribadi dalam praktek sangat jarang menggunakan obat ini. Bagi pasien gangguan panik yang dalam buku teks dibolehkan memakai obat ini pun saya hampir tidak pernah memberikan. Apalagi penelitian-penelitian terakhir mengatakan bahwa penggunaan antidepresan golongan Serotonin dinyatakan berguna dan efektif mengatasi gangguan panik. Sehingga hal ini membuat penggunaan alprazolam bisa lebih dikurangi penggunaannya.

Sekali lagi pesan saya, berhati-hatilah memakai Alaprazolam ini. Jika memang tidak perlu janganlah menggunakan. Jika perlu sekali maka gunakan sesuai indikasinya untuk gangguan panik yang berat dan tidak lebih dari 4 minggu. Jangan gunakan untuk membantu tidur atau hal-hal di luar indikasi. Jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Salam Sehat Jiwa

1 komentar:

joko lelono mengatakan...

Dok, saya mau bertanya, apakah olah-raga rutin sangat membantu produksi serotonin di otak dan tubuh kita khususnya bagi yang masih dirawat oleh psikiater ? saya pernah baca hal tersebut di buku CBT (cognitif behaviour therapy). Mohon penjelasannya dan terima kasih. Salam.