psikosomatik

psikosomatik

Rabu, 09 Mei 2018

Perlunya "Time Out"

Image result for time out
TIME OUT (image from Google Picture Search)
Kita cukup beruntung bulan Mei 2018 ini banyak cuti yang kita dapatkan di hari kerja. Sebagian mungkin merasa hal ini adalah suatu berkah karena bisa membuat dirinya mempunyai banyak waktu beristirahat tapi di lain pihak mungkin ada yang tetap melakukan kegiatan kerja walaupun hari libur. Terlepas dari semua itu, istirahat memang cukup penting untuk kita agar menjaga produktifitas kita.

Salah satu yang sering kita lupa adalah kita sering kali melakukan pekerjaan di luar batas kemampuan kita. Walaupun banyak dikatakan bahwa kemampuan manusia tidak terbatas, sayangnya kita sama-sama punya waktu terbatas alias waktu yang kita punya sama 24 jam. Dalam waktu 24 jam itu kita sering mengalokasikannya untuk berbagai macam kegiatan namun sering kali kita mengesampingkan kegiatan terkait kebugaran kita termasuk tidur dan aktifitas fisik Beberapa di antara kita bahkan tidur kurang dari 5 jam sehari dan tidak pernah aktifitas fisik.

Selain tidur dan melakukan kegiatan fisik, kita juga sebenarnya membutuhkan apa yang disebut sebagai istirahat sejenak atau TIME OUT. Kata Time Out mungkin kita banyak dengar dari istilah permainan olahraga di mana pelatih melakukannya untuk memberikan waktu istirahat sejenak atau memberikan strategi di tengah-tengah jalannya permainan. Sering kali kita melihat bahwa Time Out dilakukan di saat kritis, saat angka atau skor saling ketat berkejaran, menjelang akhir permainan atau saat permainan para pemain mulai terlihat tidak baik. Artinya harapan dari Time Out itu sendiri agar para pemain bisa kembali diingatkan atau kembali ke kondisi yang cukup baik.

Kita juga sering kali memerlukan Time Out saat kita merasa kelelahan atau jenuh. Ada kalanya saat sedang mempersiapkan sesuatu kita kehilangan konsentrasi atau merasa tidak banyak hal yang dilakukan karena terhambatnya ide. Saat inilah Time Out mungkin diperlukan agar kemampuan kembali menjadi lebih baik setelahnya. Beberapa penulis artikel ilmiah sering diingatkan ketika terjadi "stuck" ide saat menulis manuskrip, maka dia bisa menundanya dan memasukkan pekerjaan tersebut ke dalam laci (sekarang mungkin menutup window di laptop/komputer terkait pekerjaan itu) dan baru membukanya kembali beberapa hari kemudian. Kebanyakan cara ini berhasil untuk memberikan kepada kita penyegaran terhadap ide atau penulisan kita.

Time Out juga bisa kita lakukan saat misalnya kita berhadapan dengan sesuatu yang sepertinya mengalami jalan buntu termasuk dalam rapat atau saat berhubungan dengan orang lain termasuk keluarga sendiri. Tidak heran ada istilah "reses" untuk rapat saat menghadapi jalan buntu. Begitu juga saat kita berkomunikasi misalnya dengan pasangan kita atau anak kita, saat diskusi berjalan tidak terlalu baik maka kita bisa meminta waktu untuk "time out" sejenak.

Jadi jangan lupa untuk Time Out jika memang kita membutuhkannya, jangan memaksakan diri untuk melakukan hal yang penting dalam kondisi tidak terlalu baik. Time Out bisa memperbaiki kemampuan kognitif kita dan juga bisa membantu perasaan kita menjadi lebih baik lagi. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Tidak ada komentar: