psikosomatik

psikosomatik

Jumat, 05 April 2019

Upaya Agar Lebih Mudah Memahami Gangguan Jiwa

Pasien dalam praktek keseharian saya sering bertanya "Apakah saya mengalami gangguan jiwa?". Ketika saya jawab "Iya Bu/Pak, anda mengalami gangguan jiwa". Pasien biasanya langsung kaget dan bertanya kembali "Jadi saya Gila, Dok?". Tentu saya jawab "Tidak semua gangguan jiwa itu artinya gila pak/bu". 
Orang Indonesia dan saya rasa kebanyakan masyarakat dunia juga lebih banyak mengkaitkan masalah kejiwaan dengan kegilaan. Seolah-olah hanya kegilaan saja yang dikaitkan dengan gangguan jiwa. Padahal kegilaan yang dimaksud pasien tersebut sering dihubungkan dengan gangguan jiwa berat yang bahasa medisnya Skizofrenia. Pasien skizofrenia sendiri secara global dikatakan berada pada prevalensi 1%, sedangkan di Indonesia sendiri  yang termasuk Gangguan Jiwa Berat di mana Skizofrenia termasuk di dalamnya yaitu sekitar 0,7% (Riskesdas 2018) . 
Gangguan Skizofrenia sendiri bukan satu-satunya gangguan jiwa, ada gangguan jiwa lain seperti Gangguan Depresi yang lebih merupakan masalah global. Badan kesehatan dunia WHO saja memprediksikan tahun depan yaitu tahun 2020, Gangguan Depresi akan menempati urutan nomor dua beban penyakit global setelah penyakit kardiovaskuler. Indonesia sendiri menurut hasil Riskesdas 2018 terdapat 6,1% orang yang dikategorikan mengalami Gangguan Depresi. Sayangnya hanya 9% di antara orang tersebut yang mendapatkan pengobatan. 
Gangguan Jiwa Membingungkan?
Jangankan awam bahkan kalangan kesehatan sendiri sering menganggap bahwa masalah kejiwaan membingungkan. Minat mahasiswa kedokteran di Fakultas Kedokteran untuk memasuki jenjang pendidikan spesialis kedokteran jiwa sangat rendah dibandingkan minat mereka kepada pendidikan dokter spesialis lainnya. Hal ini mungkin disebabkan karena masalah kejiwaan seolah-olah sulit dipahami. Mungkin salah satu sebabnya karena Gangguan Jiwa mengenai gangguan pada pikiran, perasaan dan perilaku manusia. Sesuatu yang sampai saat ini masih terus dipelajari oleh para ahli . 
Kondisi ini di dalam praktek sehari-hari biasanya tergambar dalam kesulitan pasien dalam menerima keadaannya ketika mengalami gangguan jiwa. Keluarga sebagai orang terdekat pasien juga sering kali merasakan hal yang sama. Tidak heran biasanya sering mereka bertanya apakah gangguan jiwa ini harus diobati atau cukup dengan sekedar memberikan dorongan pikiran positif atau meminta pasien untuk lebih banyak berdoa/sembahyang dan bersyukur. Ada lagi beberapa anggapan awam bahwa masalah gangguan jiwa ini terjadi karena si pasien kurang keimanannya dan keyakinannya terhadap agama. Hal ini sering malah membuat pasien gangguan jiwa tidak mendapatkan terapi yang baik seperti gambaran pada hasil Riskesdas 2018 tersebut. 
Apa Yang Bisa Dilakukan?
Dalam tulisan ini saya akan mencoba memberikan beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai keluarga atau orang terdekat pasien yang mengalami gangguan jiwa 
a. Jangan Paksa Pasien Menceritakan Hal Yang Tidak Ingin Mereka Ceritakan
Tidak selalu pasien gangguan jiwa menginginkan bercerita tentang apa yang mereka alami dan rasakan. Kadang mereka memerlukan waktu dan "ruang" tertentu sebelum mereka bisa menceritakan apa yang mereka rasakan dan pikirkan bahkan ke psikiater sekalipun. Sebagai orang terdekat pasien kita bisa menahan diri untuk tidak memaksa mereka menceritakan tentang perasaan dan pikirannya jika belum siap. Sediakan diri kita saja untuk mereka adalah sesuatu yang cukup untuk membuat mereka tidak sendirian menghadapi situasi berat ini. 
b. Jangan Bersikap Menghakimi dan Menyalahkan Pasien 
Gangguan jiwa bisa terjadi pada siapa saja. Jangan bersikap menghakimi dan menyalahkan pasien dengan mengatakan bahwa mereka lemah dan kurang keimanannya sehingga mengalami gangguan jiwa. Penerimaan kita apa adanya kepada kondisi pasien akan lebih membantu mereka dalam proses penyembuhan. Mereka butuh dukungan bukan penghakiman.
c. Tanyakan Apa Yang Bisa Kita Bantu
Ada lebih baiknya menanyakan kepada mereka apa yang bisa kita bantu. Sering kali apa yang kita anggap pas buat mereka belum tentu selalu cocok buat mereka. Jadi tahan dulu diri kita untuk memberikan nasehat atau bantuan tanpa menanyakan terlebih dahulu apa yang mereka butuhkan.  Kita juga bisa membantu mereka menemukan terapi yang cocok. Sering kali pasien gangguan jiwa tidak mencari pertolongan karena selain tidak tahu harus pergi ke mana juga merasa malu jika diketahui dirinya pergi ke dokter jiwa. Sikap kita yang berempati akan sangat membantu mereka. 
d. Luangkan Waktu Bersama Mereka
Kita memang kadang kesulitan mengatur waktu bersama mereka yang mengalami masalah gangguan jiwa. Hal ini juga disebabkan tidak mudah bersama mereka jika memang kita sendiri mengalami masalah kejiwaan atau dalam kondisi yang belum benar-benar sehat jiwa. Setidaknya berempati dengan apa yang pasien alami sangat membantu upaya ini. 
e. Kita Perlu Memahami Apa Itu Gangguan Jiwa
Ternyata tidak semua orang bisa memahami apa itu gangguan jiwa. Beberapa di antara kita sering mengira bahwa masalah gangguan jiwa adalah masalah yang dikarenakan si pasien yang mengalami kurang bersyukur atau terlalu melebih-lebihkan saja. Informasi terkait masalah kejiwaan sekarang ini banyak bisa ditemukan di internet. Coba cari sumber informasi terpercaya untuk membantu kita lebih memahami apa itu gangguan jiwa.  
Itulah beberapa hal yang bisa kita lakukan jika ada di antara orang terdekat kita mengalami gangguan jiwa. Hal yang tidak mudah tentunya tetapi kita harus berupaya agar kita tidak selalu mengatakan bahwa "Gangguan Jiwa Itu Susah Dipahami". Semoga bermanfaat. Salam Sehat Jiwa (Twitter : @mbahndi)

Tidak ada komentar: