psikosomatik

psikosomatik

Sabtu, 23 Maret 2019

Pasien Cemas Harap Hindari Medsos Selama #pilpres2019 !



Saya sudah hampir 15 tahun bekerja sebagai dokter di bidang kesehatan jiwa. Empat tahun pertama sebagai seorang dokter residen di RSCM-FKUI dan hampir 11 tahun sebagai dokter jiwa di rumah sakit swasta tempat saya bekerja. Selama itu pula saya banyak menghadapi berbagai macam pasien gangguan jiwa walaupun sepulang dari Amerika Serikat saat mempelajari Psikosomatik di tahun 2010 saya lebih banyak fokus pada pasien gangguan cemas dan depresi. 
Pasien Gangguan Cemas yang sering ditemui di praktek sehari-hari sebagai dokter jiwa adalah pasien gangguan cemas panik, gangguan cemas menyeluruh, fobia sosial, gangguan stres pasca trauma dan pasien obsesif kompulsif. Keluhan utama pasien gangguan cemas adalah rasa cemas (atau sering diungkapkan pasien sebagai takut) terhadap hal yang irasional atau belum terjadi. Pasien gangguan cemas panik misalnya merasa ketakutan akan kematian karena jantungnya bisa tiba-tiba berdebar walaupun dirinya sedang santai. Kondisi itu membuatnya takut mengalami serangan jantung dan mati tiba-tiba. Anehnya pemeriksaan jantung yang lengkap dari rekam jantung EKG bahkan sampai angiografi (kateter jantung) semuanya NORMAL. Pasien gangguan cemas menyeluruh juga sering mengalami banyak kecemasan terhadap segala sesuatu hal yang tidak pernah terjadi atau tidak akan terjadi. Biasanya pasien mengkhawatirkan hal-hal di luar kendali dirinya. Semakin dia sulit mengendalikan kondisi itu semakin cemas dirinya. Secara pendekatan psikiatri biologi apa yang terjadi pada pasien cemas adalah aktifitas berlebihan di bagian otak yang disebut AMYGDALA dan rendahnya kadar Serotonin di bagian otak tersebut. Lalu apa hubungannya dengan #pilpres2019? 
Amygdala Sumber Ketakutan Manusia
Bagian otak yang disebut Amygdala ini sangat berperan dalam terjadinya gejala kecemasan pada pasien gangguan cemas. Amygdala adalah pusat rasa ketakutan dan cemas manusia. Otak ini sering juga disebut sebagai otak primitif yang lebih banyak mengandalkan fungsi responsif yang impulsif dan refleks. Sebenarnya Amygdala juga tempat menyimpan memori lama kita, kejadian bermakna baik buruk dan baik yang terjadi di masa lalu. Tidak heran sifatnya yang impulsif bisa menimbulkan respon yang tiba-tiba dan tidak terkendali. 
Itulah mengapa pasien gangguan cemas panik bisa tiba-tiba merasa sesak nafas, jantung berdebar dan rasa seperti tidak mampu mengendalikan diri ketika terjadi serangan panik. Ini karena Amygdala pasien itu tiba-tiba aktif tanpa sebab. Saya suka mengumpamakan "korslet Amygdala" pada pasien saya yang mengalami gangguan panik. Saya katakan kepada pasien saat terjadinya serangan panik, Amygdala pasien terlalu aktif dan zat kimiawi di otak bernama serotonin tidak mampu mengendalikan amygdala tersebut. Serotonin sendiri adalah zat kimiawi otak atau neurotransmitter yang dianggap sebagai salah satu sumber rasa senang, bahagia dan aman. Kondisi ini sebenarnya akibat stres berkepanjangan yang terjadi pada pasien. Aktifasi amygdala yang berlebihan akhirnya menimbulkan serangan panik. 
Banyak Berita Menakutkan di #Pilpres2019 Bikin Amygdala Aktif Selalu
Sayangnya saat #pilpres2019 ini banyak sekali status, unggahan dan berita di media sosial yang lebih mengedepankan tema ketakutan. "Hati-hati pilih capres itu nanti PKI bisa bangkit!", "Hati-hati pilih capres itu nanti Khilafah berdiri", "Hati-hati kalau capres itu menang Indonesia dikuasai Asing dan Aseng", "Awas kalau sampai capres itu menang, Orde Baru berkuasa kembali!". Kalimat di atas hanyalah sebagian kecil dari seliweran postingan di media sosial kita beberapa bulan sejak kampanye #pilpres2019 dimulai. Para buzzer dan pasukan cyber masing-masing capres semakin meramaikan dengan membuat berbagai macam tagar yang menyebarkan ketakutan. Intinya semua postingan tersebut menyasar Amygdala tempat memori disimpan dan ketakutan manusia dirasangsang. 
Tidak heran jika pasien gangguan cemas bisa semakin cemas jika banyak berhadapan setiap harinya dengan postingan menyebarkan ketakutan seperti itu. Orang yang tidak mengalami gangguan cemas sendiri bisa saja jika dirangsang terus Amygdalanya akhirnya akan mengalami masalah kecemasan dan akhirnya bisa berpikir yang irasional terkait dengan sesuatu hal. 
Saya sebagai dokter jiwa berharap para pasien gangguan cemas bisa mengurangi bahkan berhenti melihat media sosial dan postingan-postingan mengumbar ketakutan seperti itu. Agar tidak menjadi sesuatu yang malah membuat kondisi kecemasannya semakin buruk. Kita bisa menjalankan puasa medsos dulu selama masa kampanye #pilpres2019 ini atau boleh juga seterusnya untuk mengurangi asupan buruk dari medsos kepada otak kita. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa. 

Tidak ada komentar: