Selasa, 03 Januari 2017

Stigma

Stigma
Oleh : Dokter Andri Psikiater
Semalam ada pasien dengan masalah dispepsia fungsional yang datang atas konsulan dokter Ari Fahrial Syam SpPD, KGEH seorang konsultan di bidang gastrointestinal yang memang sering bekerja sama dalam penanganan pasien untuk masalah psikosomatik lambung. Pasien bercerita bahwa kedatangannya agak tertunda walaupun sudah dikonsulkan oleh dokter Ari sejak awal November. Salah satu penyebabnya adalah pasien sempat ke dokter lain dan dikatakan tidak perlu ke psikiater karena nanti bisa bikin ketergantungan obatnya.
Kondisi seperti sudah sering saya hadapi dalam praktek sehari-hari. Stigma terhadap terapi psikiater dengan penggunaan obatnya memang bukan hanya ada di kalangan masyarakat awam tetapi juga di kalangan praktisi kesehatan. Ada kesan bahwa pengobatan psikiater dengan obat-obat psikofarmakanya itu tidak perlu dalam terapi paikiatri. Obat-obatan itu semua bikin ketergantungan dan tidak memperbaiki dalam terapi. Padahal secara ilmiah sudah terbukti khasiat obat tersebut.
Hal ini mungkin juga disebabkan karena kebanyakan dari kita masih berpikir bahwa obat psikiater pasti obat penenang yang membuat otak menjadi lamban alias "bego". Padahal banyak obat jenis lainnya seperti antidepresan, antipsikotik, mood stabilizer, dan obat anticemas.
Masalah ketergantungan sendiri kadang sulit dilepaskan dari pengobatan psikiater karena banyak yang belum memahami bahwa sebenarnya ada beberapa pasien gangguan jiwa yang memerlukan pengobatan seumur hidup seperti pada pasien Skizofrenia, gangguan Bipolar dan juga Gangguan depresi yang sering kambuh dan membahayakan diri pasien. Hal ini sebenarnya tidak beda dengan pasien jantung, darah tinggi, kencing manis atau diabetes dan beberapa gangguan medis lainnya yang membutuhkan pengobatan seumur hidup.
Itulah yang membuat saya sampai saat ini masih menulis dan kadang membuat video YouTube tentang masalah kejiwaan. Stigma yang melekat kuat di psikiatri adalah hal yang memang masih ada dan harus tetap diperjuangkan agar makin banyak orang yang memahaminya termasuk dokter.
Semoga kita bersama bisa mengurangi stigma pada pengobatan psikiatri. Salam sehat jiwa

1 komentar:

Dwi Nawang mengatakan...

Selamat pagi, dok.
Saya perempuan berusia 25th.
Saya penderita hipertiroid, sdh sejak usia 20th berarti sdh 5th saya sakit.
Awalnya saya jarang kontrol jd mengulang terus, sampai pd akhirnya di pertengahan thn 2016 saya drop sampai harus di opname.
Tp sampai saat ini saya merasa semakin drop sejak menderita dispepsia, semakin hari semakin tdk karuan rasanya.
Dan entah kenapa sejak abis di opname, sering timbul rasa takut, cemas, serangan panik, khawatir, sedih, stress yg tidak mendasar, kadang susah tidur/kaget2an sampai saya tdk bisa mendengar hal yg mengagetkan sedikit saja karna pasti bikin lemas pusing serasa mau pingsan.
Saya di sarankan ke psikiatri lalu di kasih obat alprazolam 0,5mg, nopres 20mg, clobazam 10mg.
Tp saya udh takut duluan, dok untuk minum obat itu, takut ketergantungan karna pernah sekali saya minum rasanya lemas nadi lemah tensi rendah/drop.
Menurut dokter, apakah bisa ditanganin hanya dengan terapy tanpa obat?
Seperti hipnoterapi atau apa gitu?
Mohon bantuannya, dok.
Terimakasih.