Selasa, 10 Mei 2016

Depresi dan Fungsi Kognitif

oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera)

Saat menulis artikel ini saya masih berada di Hongkong mengikuti acara pelatihan Depresi dan Fungsi Kognitif. Acara ini diselenggarakan oleh Lundbeck Institute dan dihadiri oleh 15 peserta dari Hongkong, Malaysia, Indonesia dan Filipina. Acara yang dikemas dalam diskusi interaktif dan workshop ini memang diperuntukkan untuk menambah pengetahuan psikiater dan dokter yang menangani kasus psikiatri (ada dokter umum dan dokter anak yang ikut dari Hongkong)  tentang Depresi khususnya hubungannya dengan fungsi kognitif.

Depresi Sulit Dikenali?
Gejala fisik pada pasien depresi membuat depresi sulit dikenali terutama oleh dokter pelayanan primer non psikiatri. Pasien yang mengalami gejala fisik biasanya tentu akan mendatangi dokter non psikiater. Sedangkan secara statistik kasus depresi yang murni tanpa adanya masalah lain hanyalah 12% dari semua kasus depresi. Ini artinya lebih dari 78% kasus depresi mengalami masalah terkait lainnya termasuk gangguan fisik.
Gangguan cemas juga salah satu yang sering berkaitan dengan depresi. Hampir lebih dari 50% kasus depresi mengalami gangguan kecemasan.
Sayangnya depresi membuat masalah yang besar bagi penderitanya walaupun pada saat gejala masih ringan sekalipun atau ketika gejalanya baru hanya satu dua saja. Gejala yang berkaitan dengan fungsi kognitif membuat depresi sendiri sering dihubungkan dengan lebih segeranya seseorang mengalami demensia (kepikunan) akibat depresi.

Gejala Kognitif Sebagai Gejala Sisa Depresi
Selama ini kita mengetahui bahwa depresi dengan pengobatan selama ini baik secara terapi obat maupun dengan psikoterapi angka keberhasilan sembuhnya tidak terlalu memuaskan. Berbagai penelitian mengatakan bahwa kemungkinan kambuh depresi pada pasien yang mengalaminya berkisar 50% walaupun dengan pengobatan yang optimal.
Selain kekambuhan, pengobatan depresi juga sering terkendala dengan adanya gejala sisa yang sering dialami oleh pasien depresi. Gejala sisa yang sering dialami pasien depresi antara lain gangguan tidur, kekelahan berkepanjangan, hilangnya minat melakukan sesuatu, masalah konsentrasi dan perasaan bersalah.
Secara khusus gejala sisa berkaitan dengan masalah fungsi kognitif yang dialami pasien depresi berkaitan dengan fungsi eksekutif, memusatkan perhatian, daya ingat dan fungsi visuospasial (berkaitan dengan ruang).
Gejala kognitif ini juga berkaitan dengan masalah pikiran negatif dan pembicaraan negatif yang sering dialami pasien depresi. Pasien depresi sering merasa bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya atau merupakan bagian dari dirinya adalah sesuatu yang buruk dan akan membuat semuanya jadi bermasalah. Pikiran negatif ini sangat kuat ada di dalam diri pasien sehingga membuat masalah terkait dengan kesembuhan juga sulit dicapai secara optimal.
Terapi seperti terapi kognitif dan perilaku serta terapi interpersonal memegang peranan penting saat ini dalam membentuk "framing" yang baik dan positif berkaitan dengan pikiran dan perilaku pasien depresi. Hal ini akan membantu pasien untuk bisa keluar dari pola pikiran negatif yang sering kali berlangsung otomatis. Walaupun kondisi ini biasanya juga sangat berhubungan dengan latar belakang pasien dan hubungan pasien dengan lingkungannya, terapi kognitif banyak dibuktikan secara ilmiah memperbaiki gejala depresi.

Arahan Terapi Depresi Ke Depan
Ada hal yang terus dikembangkan dalam penelitian berkaitan dengan penemuan obat untuk mengatasi depresi. Selain pengobatan tentunya juga psikoterapi terus dikembangkan sebagai upaya untuk memperbaiki gangguan depresi yang dialami pasien.
Penemuan obat saat ini tentunya bukan hanya berkaitan dengan bagaimana menghilangkan gejala mood atau suasana perasaan tetapi juga memperbaiki fungsi pasien sehari-hari. Target terapi untuk memperbaiki kualitas hidup ini juga memerlukan terapi yang tepat dan sesuai dengan mekanisme depresi itu sendiri.
Tidak dilupakan adalah mengembalikan fungsi kognitif pasien depresi yang sering mengalami masalah terkait dengan depresinya. Salah satu yang paling diharapkan berubah oleh pasien adalah bagaimana dia bisa merasakan hidupnya kembali. Tujuan inilah yang ingin dicapai dalam terapi dan bukan hanya berkaitan dengan hilangnya gejala saja. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa

Bersama dr.Dharmawan A.Purnama,SpKJ yang juga merupakan peserta dari Indonesia (dok.pribadi)

Saat sesi diskusi dalam kelompok membahas kasus (dok.pribadi)

1 komentar:

hariyati dewi mengatakan...

Assalamualaikum.wr.wb. perkenalkan nama saya Hariyati Dewi Tki Hongkong, saat menulis ini saya teringat memory masa lalu.saya sangat tergugah hati melihat coretan hati yang Ibu tulis. saya jadi teringat tentang masa-masa sulit dulu,karena iktiar dan usaha , seolah2 menjadi dendam bukan lagi motivasi, cuma satu tujuan saya pada saat bagaiman caranya untuk bangkit..singkat kata berbagai macam iktiar dan cara yang saya lalui, mengingat pada saat itu hutang saya 1,2m yang tidak sedikit, belum lagi bunga renternir yang bertambah. karena usaha, kesungguhan hati, akhirnya saya menemukan jalan /solusi melalui Program Pesugihan Dana Gaib Tanpa Tumbal. saya percaya ALLAH ITU TIDAK DIAM MAHA PENYAYANG , cobaan itu bukan lah ujian tapi hadiah yang tersilmut untuk kebahagiaan yang sebenar2nya. Dengan keyakina dan keberania saya ikut bergabung untuk mengikuti Program Pesugihan Dana Gaib Tanpa Tumbal dan memohonkan dana sesuai kebutuhan dan kesanggupan saya. Cuma dalam waktu 1 hari 1 malam saya mendapat telpon dari pihak Program tersebut, Alhamdulillah dana yang saya mohonkan sudah cair dan sudah dapat saya gunakan untuk melunasi hutang. jika anda ingin seperti saya silahkan hubungi
Ki Witjaksono: 085-2222-31459
Atau kunjungi website

Klik-> PESUGIHAN DANA GAIB

ingat kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kalinya