Kamis, 22 September 2011
GERD, Keluhan Lambung dan Kecemasan Panik Yang Berhubungan
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis
Sejak mengkhususkan diri dalam menangani pasien-pasien dengan keluhan Psikosomatik, saya lebih banyak menangani pasien dengan keluhan-keluhan fisik terutama yang berkaitan dengan keluhan jantung, paru dan sistem pencernaan. Keluhan jantung berdebar, sesak napas, merasa lambung penuh dan kembung adalah keluhan-keluhan yang sering dialami pasien yang berkunjung di klinik psikosomatik tempat saya berpraktek.
Belakangan ini makin banyak datang pasien dengan keluhan lambung yang didiagnosis sebagai GERD (GastroEsophageal Reflux disorder) oleh dokter penyakit dalam yang juga datang ke tempat praktek saya. Apa hubungan GERD dengan gangguan jiwa terutama gangguan cemas panik? Hal ini akan saya jelaskan dalam pembahasan di bawah ini.
Asam Lambung Yang Naik
Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau bila diterjemahkan secara harafiah disebut sebagai penyakit lambung karena refluks asam lambung adalah masalah kesehatan umum yang menyebabkan perasaan terbakar di dada (dikenal istilah heartburn) dan regurgitasi asam lambung dari perut.
Jika kita makan, maka untuk mencerna makanan yang kita makan, perut kita akan diisi dengan asam lambung. Selama asam lambung itu tetap di perut dan melakukan tugasnya, tidak ada masalah. Tapi, ketika asam ini naik ke kerongkongan, kita akan mengalami gejala-gejala sakit maag. Apalagi jika asam ini termuntahkan ke kerongkongan, kita mungkin mengalami rasa terbakar di tenggorokan dan rasa yang sangat tidak menyenangkan di mulut kita.
Apa Penyebab GERD?
Kerongkongan adalah laksana saluran tabung otot yang menghubungkan mulut ke perut. Lower esophageal sphincter (LES) adalah sebuah cincin otot yang menutup “pintu” lambung dari kerongkongan ketika kita tidak makan. Ketika kita makan, otot ini akan mengendur untuk memungkinkan makanan masuk dari kerongkongan ke perut. LES kemudian menutup lagi sehingga makanan di perut tidak akan kembali ke kerongkongan. Pada kondisi GERD, LES tidak berfungsi dengan baik untuk mencegah naiknya asam lambung.
Kecemasan dan Depresi Tingkatkan Risiko Mengembangkan GERD
Penelitian yang telah dilakukan, baik kecemasan dan depresi berhubungan dengan risiko dua sampai empat kali lipat dari penyakit GERD. Beberapa peneliti percaya bahwa bahan kimia otak yang disebut cholecystokinin (CCK), yang telah dikaitkan dengan panik dan gangguan pencernaan, mungkin memainkan peran dalam timbulnya GERD pada orang dengan gangguan kecemasan. Faktor lain yang memungkinkan dan berkontribusi adalah ketika orang cemas mereka cenderung memicu atau memperburuk refluks asam lambung ke kerongkongan.
Apa yang bisa dilakukan ?
Pendekatan konsep biopsikososial pada kondisi medis umum adalah yang terbaik. Ini berarti bahwa pasien GERD selain perlu ditangani masalah fisik medis yang terkait dengan refluks asam lambung juga perlu mendapatkan penanganan kondisi cemasnya yang sering berkaitan dengan gangguan cemas panik dan depresi. Dalam praktek sering saya menemukan ketika kondisi cemas paniknya teratasi dengan baik, maka keluhan lambungnya bisa jauh berkurang bahkan baik sama sekali. Tata laksana yang tepat dan menyeluruh perlu dilakukan mengingat jika tidak diobati, refluks asam lambung dapat menyebabkan peradangan lapisan esofagus yang akan mengakibatkan kesulitan menelan, nyeri dada kronis, dan bahkan dapat menyebabkan kanker kerongkongan.
Seperti diungkapkan di atas bahwa cemas dan depresi bisa memperberat penyakit GERD sampai beberapa kali lipat, maka ada baiknya penanganan pasien dengan gangguan GERD yang juga mengalami kondisi kecemasan tinggi baik akibat latar belakang psikologisnya ataupun karena memikirkan penyakitnya perlu ditangani kondisi kesehatan jiwanya. Hal ini diupayakan agar mendapatkan hasil yang maksimal dalam penyembuhan kasus-kasus penyakit GERD.
Semoga informasi ini bermanfaat
Salam Sehat Jiwa
Selasa, 13 September 2011
Stres Bikin Daya Tahan Tubuh Terganggu
Oleh : Dr.Andri,SpKJ
Penelitian yang membahas tentang hubungan stres dan sistem daya tahan tubuh atau dikenal dengan sistem imun tubuh sudah semakin banyak dilakukan. Sejak berkembangnya ilmu Psikoneuroimunologi yaitu suatu ilmu yang mengkaitkan hubungan antara ilmu psikologi, saraf dan imunologi maka kondisi yang berhubungan dengan hal ini sudah semakin sering diteliti.
Psikoneuroimunologi menekankan pada pembuktian-pembuktian terkait dengan sistem imun tubuh dan hubungannya dengan stres yang terjadi pada orang tersebut. Disebutkan banyak sekali dampak stres terhadap sistem imun tubuh manusia yang mengakibatkan seseorang lebih rentang mengalami gangguan penyakit terkait dengan sistem imun tubuh.
Kemarin saat hari kedua kongres dunia International College of Psychosomatic Medicine di Seoul, Korea Selatan, pembicara Prof Christopher Coe dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat menerangkan kembali tentang Psikoneuroimunologi dalam kuliahnya yang berjudul “All Roads Lead To Psychoneuroimmunology”
Dalam kuliahnya Prof Coe mengatakan bahwa sudah semakin banyak penelitian dan fakta yang menggambarkan keterlibatan stres dalam mempengaruhi sistem imun manusia. Beberapa penyakit yang dihubungan dan ditekankan saat kuliah kemarin adalah pada Asma dan Fibromialgia.
Asma kita ketahui sebagai suatu gangguan penyakit pernapasan yang melibatkan sel-sel radang dan imun sistem dalam tubuh. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini (hanya bisa dikendalikan) sangat terkait dengan peranan sistem imun dan stres yang bisa memicu terjadinya serangan.
Fibromialgia sendiri merupakan suatu kondisi gangguan penyakit yang menekankan keluhannya pada nyeri di berbagai bagian tubuh dan suasana perasan yang tidak nyaman terkait dengan kondisi ini. Gangguan nyeri yang lebih banyak terdapat pada wanita ini belakangan semakin diteliti mempunyai dampak yang berhubungan dengan sistem stres dan imun tubuh. Kondisi yang terkait sistem imun pada pasien dengan gangguan fibromialgia terkait dengan penurunan kadar sel yang disebut Natural Killer (NK), Sitokon dan Interleukin. Kondisi seperti ini juga ditemukan pada pasien dengan depresi. Tidak heran gejala-gejala depresi dan cemas juga merupakan salah satu tanda kondisi fibromialgia. Fibromialgia sendiri memang dikenal dulunya lebih kepada suatu kumpulan gejala (sindrom) yang melibatkan berbagai macam keluhan. Kondisi sindrom yang juga sering tumpang tindih dengan berbagai kondisi lain seperti di antaranya gangguan somatoform (psikosomatik), gangguan nyeri, gangguan depresi dan gangguan lelah berkepanjangan (chronic fatigue syndrome)
Pada akhir kuliahnya Prof Coe mengatakan masih banyak terbuka lahan penelitian di bidang ini dan tentunya akan makin banyak pengetahuan yang masih bisa diperoleh dengan mempelajari stres dan hubungannya dengan sistem imun tubuh manusia.
Salam Sehat Jiwa
Sabtu, 27 Agustus 2011
Stres Bikin Daya Tahan Tubuh Menurun
Oleh : Dr.Andri,SpKJ
Penelitian yang membahas tentang hubungan stres dan sistem daya tahan tubuh atau dikenal dengan sistem imun tubuh sudah semakin banyak dilakukan. Sejak berkembangnya ilmu Psikoneuroimunologi yaitu suatu ilmu yang mengkaitkan hubungan antara ilmu psikologi, saraf dan imunologi maka kondisi yang berhubungan dengan hal ini sudah semakin sering diteliti.
Psikoneuroimunologi menekankan pada pembuktian-pembuktian terkait dengan sistem imun tubuh dan hubungannya dengan stres yang terjadi pada orang tersebut. Disebutkan banyak sekali dampak stres terhadap sistem imun tubuh manusia yang mengakibatkan seseorang lebih rentang mengalami gangguan penyakit terkait dengan sistem imun tubuh.
Kemarin saat hari kedua kongres dunia International College of Psychosomatic Medicine di Seoul, Korea Selatan, pembicara Prof Christopher Coe dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat menerangkan kembali tentang Psikoneuroimunologi dalam kuliahnya yang berjudul “All Roads Lead To Psychoneuroimmunology”
Dalam kuliahnya Prof Coe mengatakan bahwa sudah semakin banyak penelitian dan fakta yang menggambarkan keterlibatan stres dalam mempengaruhi sistem imun manusia. Beberapa penyakit yang dihubungan dan ditekankan saat kuliah kemarin adalah pada Asma dan Fibromialgia.
Asma kita ketahui sebagai suatu gangguan penyakit pernapasan yang melibatkan sel-sel radang dan imun sistem dalam tubuh. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini (hanya bisa dikendalikan) sangat terkait dengan peranan sistem imun dan stres yang bisa memicu terjadinya serangan.
Fibromialgia sendiri merupakan suatu kondisi gangguan penyakit yang menekankan keluhannya pada nyeri di berbagai bagian tubuh dan suasana perasan yang tidak nyaman terkait dengan kondisi ini. Gangguan nyeri yang lebih banyak terdapat pada wanita ini belakangan semakin diteliti mempunyai dampak yang berhubungan dengan sistem stres dan imun tubuh. Kondisi yang terkait sistem imun pada pasien dengan gangguan fibromialgia terkait dengan penurunan kadar sel yang disebut Natural Killer (NK), Sitokon dan Interleukin. Kondisi seperti ini juga ditemukan pada pasien dengan depresi. Tidak heran gejala-gejala depresi dan cemas juga merupakan salah satu tanda kondisi fibromialgia. Fibromialgia sendiri memang dikenal dulunya lebih kepada suatu kumpulan gejala (sindrom) yang melibatkan berbagai macam keluhan. Kondisi sindrom yang juga sering tumpang tindih dengan berbagai kondisi lain seperti di antaranya gangguan somatoform (psikosomatik), gangguan nyeri, gangguan depresi dan gangguan lelah berkepanjangan (chronic fatigue syndrome)
Pada akhir kuliahnya Prof Coe mengatakan masih banyak terbuka lahan penelitian di bidang ini dan tentunya akan makin banyak pengetahuan yang masih bisa diperoleh dengan mempelajari stres dan hubungannya dengan sistem imun tubuh manusia.
Salam Sehat Jiwa
Sabtu, 13 Agustus 2011
Akhirnya Lepas dari Ketergantungan Alprazolam
Tips Anti Cerai Dalam Berkeluarga
Oleh : dr.Andri,SpKJ
Mungkin sebagian dari teman-teman di sini bertanya-tanya, bergunakah tips anti cerai dari seorang yang belum genap setahun menikah ? Orang yang belum merasakan sulitnya menjaga keluarga dengan baik sehingga mampu langgeng sampai tua. Nah kalau itu yang ditanyakan kepada saya, jawaban saya adalah saya membagi tips tentunya bukan berdasarkan pengalaman saya, tetapi dari pengalaman pasien dan ilmu dasar perilaku manusia yang menjadi keahlian saya. Satu hal yang mendasari saya membuat artikel ini adalah bacaan menarik dari Stephen Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective Families.
Jadilah Pilot dan Co-Pilot
Dalam bukunya Stephen Covey mengatakan bahwa sebagai pasangan suami istri, dalam mengarungi rumah tangga bisa mengambil perumpamaan Pilot dan Co-Pilot pesawat terbang. Beberapa hal yang beliau tekankan dan saya sendiri dapatkan dari beberapa pengalaman pasien dan analisis perilakunya adalah sebagai berikut :
1. Pelatihan
Menjadi Pilot dan Co-Pilot butuh pelatihan. Untuk menjadi ahli dalam mengemudikan pesawat terbang seorang harus kursus sampai dinyatakan siap menjadi seorang pilot yang mampu menerbangkan pesawat. Bahkan dalam setiap penerbangan manual book selalu dibawa pilot sebagai persiapan kalau-kalau ada bahaya di dalam penerbangan. Itu pula yang terjadi dalam persiapan sebelum menikah. Kesiapan jiwa dan raga perlu untuk memasuki pernikahan. Materi saja belum tentu cukup, kesiapan mental terutama kesiapan untuk berkomitmen adalah yang paling utama. Pelatihan ini bisa didapatkan dari kehidupan masing-masing pasangan, pola asuh dan nilai keluarga sangat berperan dalam pembentukan karakter. Masa pacaran juga terkadang bisa menjadi masa uji coba kesiapan walaupun belum tentu semuanya sama dengan masa menikah nanti.Jangan lupa pula menambah pengetahuan dari buku-buku yang baik dalam memberikan pengetahuan tentang menjalankan rumah tangga.
2. Tujuan Yang Sama
Pilot dan Co-Pilot sebelum menerbangkan pesawat akan menentukan arah tujuan pesawatnya. Berapa ketinggiannya, berapa kecepatannya, arah mana yang akan ditempuh semua didiskusikan dan ditentukan sebelum pesawat berjalan. Begitu juga dengan pernikahan. Suami sebagai Pilot dan istri sebagai Co-Pilot juga perlu mempunyai tujuan yang sama. Tidak akan baik hasilnya jika suami dan istri berbeda tujuan.Komunikasikan tujuan ini bersama karena pesawat rumah tangga ini akan dibawa oleh kita berdua dengan pasangan.
3. Persiapan Menghadapi Badai
Terkadang dalam perjalanan pesawat kita menghadapi badai dan turbulans. Untuk itu terkadang pilot dan co-pilot harus mengubah haluan pesawat atau mendarat di bandara terdekat. Semuanya didskusikan dengan segera untuk keselamatan bersama. Begitupun juga dalam perkawinan. Seringkali badai datang mengganggu rumah tangga. Hal ini perlu disadari oleh kedua belah pihak jika ingin mengubah haluan. Bicarakan antara suami dan istri tentang apa yang harus dilakukan. Tentukan tujuan baru dan komunikasikan dengan baik dan efektif. Harapannya agar tujuan rumah tangga tetap merupakan hasil keputusan berdua.
Semoga tips di atas bisa sedikit banyak mengingatkan kita kembali akan tujuan kehidupan rumah tangga kita.
Selasa, 12 Juli 2011
Pelayanan Kesehatan Terintegrasi Melalui Pendekatan Psikosomatik
Pelayanan Kesehatan Terintegrasi Melalui Pendekatan Psikosomatik
Oleh : Dr.Andri,SpKJ
Beberapa minggu yang lalu saya mendapat permintaan dari senior sejawat saya di RS Marzuki Mahdi, Bogor untuk berbicara tentang konsep Consultation Liaison Psychiatry (CLP) di Rumah Sakit. Akhirnya dua hari yang lalu saya mendapatkan undangan resmi yang isinya meminta saya untuk memamparkan konsep CLP dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit tanggal 20 Juli 2011 nanti bersama tim keperawatan di depan anggota komite medis lainnya. CLP adalah suatu pendekatan terintegrasi pelayanan kesehatan jiwa di bidang medis lain. Kerjasama multidispilin antar spesialis yang diantaranya adalah psikiater adalah konsep dasar CLP. Bidang CLP sendiri saya pelajari sejak tahun 2006 dan merupakan sub spesialisasi baru di psikiatri dan baru diresmikan tahun 2005 di Amerika Serikat.
Pekerjaan Psikiater yang berhubungan dengan tim CLP adalah bekerja sama dengan spesialis lain bukan hanya dalam perawatan pasien namun juga pencegahan penyakit atau gangguan kesehatan jiwa pada kondisi medis umum. Sifat kerjanya pro-aktif dan tidak hanya menunggu konsultasi dari sejawat lain. Itulah mengapa konsep kerja tim adalah yang paling baik dalam menggambarkan konsep CLP.
Biaya Besar
Perawatan inap pasien di rumah sakit adalah hal yang paling menghabiskan biaya besar. Biaya ini akan bertambah besar jika pasien gangguan medis umum itu juga mengalami gangguan kesehatan jiwa. Sayangnya adanya gangguan jiwa pada kondisi medis umum seringkali tidak terdeteksi dan luput dari pengamatan. Hal ini mungkin disebabkan karena dokter yang merawat lebih fokus pada kondisi medis fisiknya dan melupakan kalau pasien juga merupakan individu yang mempunyai sisi psikologis.
Penelitian psikiatri modern bahkan telah mengungkapkan bahwa banyak gangguan medis umum yang erat kaitannya dengan gangguan psikologis, sekaligus juga gangguan psikologis bisa memperberat sakit medisnya saat ini. Salah satu contohnya kondisi depresi pada pasien diabetes melitus atau kencing manis. Depresi bisa membuat pasien kencing manis tidak mematuhi pengobatan, tidak menjalankan diet dan enggan berolahraga. Penelitian terakhir bahkan menjelaskan bahwa pasien dengan gangguan depresi lebih mudah mengalami kencing manis disebabkan karena pengaruh sistem endokrin.
Kondisi gangguan jiwa yang tidak tertangani pada pasien medis umum akan menyebabkan biaya semakin besar. Hal ini disebabkan selain karena memperpanjang masa rawat inap, kebutuhan akan pelayanan medis pada pasien dengan gangguan kesehatan jiwa juga meningkat. Kondisi ini semakin ditambah apabila kondisi itu tidak terdeteksi dengan segera dan diobati secara efektif.
Model Pelayanan
Model klasik pelayanan di Rumah Sakit dengan pendekatan CLP adalah dengan konsultasi. Dalam hal ini psikiater hanya bekerja jika ada konsultasi dari sejawat dokter yang merawat pasien. Kondisi ini seringkali tidak efisien dan efektif dalam mengurangi biaya karena deteksi gangguan kesehatan jiwa seringkali terlambat karena faktor ketidaktahuan atau kesulitan mengenali gejala gangguan jiwa pada kondisi medis umum. Psikiater hanya bersifat pasif, menunggu konsultasi dan akhirnya menyebabkan gerak psikiater pun menjadi terbatas.
Model yang disarankan adalah bekerja dalam tim. Psikiater dalam hal ini bekerja sama dalam tim yang terdiri dari multidisplin termasuk perawat dan pekerja sosial. Psikaiter dalam tim ini bersifat pro-aktif bukan hanya dalam mengobati gangguan jiwa pada kondisi medis umum tetapi juga berusaha mencegah dengan langkah-langkah deteksi dan tatalaksana dini. Perkembangan pasien yang diperiksa oleh masing-masing anggota tim dilaporkan secara berkala dalam pertemuan ahli. Di sini para ahli membahas secara menyeluruh pasien ini dan berdiskusi tentang langkah terbaik.
Model integrasi tim CLP ini yang paling ideal dilakukan. Model ini terbukti mempunyai hasil yang baik dalam pengurangan biaya, pengurangan lamanya perawatan inap dan kualitas hidup pasien. Deteksi dini dan pengobatan yang tepat untuk kasus-kasus gangguan jiwa pada kondisi medis umum juga membuat perawatan kembali pasien menjadi menurun. Bagi anggota tim, komunikasi yang adekuat di antara sesama anggota tim dan antara anggota tim dengan pasien akan mencegah kesalapahaman dan mengurangi tuntutan malpraktik. Ini tentunya akan sangat baik buat rumah sakit yang menjalankan model ini.
Intinya Kolaborasi
Kolaborasi adalah inti dari model pelayanan CLP. Setiap disiplin ilmu merasa dirinya bagian dari tim dan tidak berbicara sendiri-sendiri dan menganggap disiplin lain lebih tidak penting darinya. Keinginan untuk membuat pasien lebih baik adalah moral yang harus dipegang oleh setiap anggota tim dan semangat inilah yang paling penting dalam setiap layanan kesehatan yang diberikan.
Peningkatan kualitas hidup pasien adalah di atas segalanya. Kerjasama ini tentunya akan menghasilkan hasil yang baik jika semangat kolaborasi tetap menjiwai setiap anggota tim dalam pekerjaannya. Inilah yang paling baik dilakukan dalam pelayanan kesehatan terintegrasi kesehatan jiwa di Rumah Sakit. Perlu dipelajari dan diaplikasikan dengan sungguh-sungguh.
Semoga bermanfaat
Salam Sehat Jiwa
Kamis, 07 Juli 2011
Kerja Seorang Konsultan Psikiater Psikosomatik
oleh : Dr. Andri,SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis
Sejak bergabung 5 tahun yang lalu di American Psychosomatic Society dan Academy of Psychosomatic Medicine banyak rekan sejawat bertanya kepada saya apa sebenarnya yang saya kerjakan sehari-hari sebagai seorang psikiater yang mendalami psikosomatik medis, apakah ada perbedaan dengan psikiater yang lain. Tulisan di bawah ini akan sedikit mencoba menjelaskan tentang pekerjaan saya sehari-hari.
Klausal dari Academy of Psychosomatic Medicine mengatakan ada tiga tugas utama seorang Psikiater yang bekerja di bidang psikosomatik medis. Uraian selanjutnya akan saya terangkan untuk memperjelas tentang hal ini.
1. Bertugas merawat pasien dengan kondisi medis, kondisi neurologis dan kondisi bedah/termasuk obstetri dan ginekologik yang akut dan kronik yang mengalami gangguan kesehatan jiwa/psikiatrik dan secara aktif mempengaruhi perawatannya dan kualitas hidupnya.
Maksud dari klausal pertama ini adalah kami psikiater yang bergerak di bidang psikosomatik medis biasa bekerja sama baik dalam ranah konsultasi atau tim dengan spesialis di bidang lain. Pasien gangguan medis umum seeprti gangguan jantung misalnya, merupakan salah satu contoh keadaan yang bisa menimbulkan kerjasama di antara para spesialis. Pasien dengan depresi saaat kehamilan, pasien dengan kondisi depresi pasca stroke, pasien dengan kondisi luka bakar adalah sebagian kecil contoh-contoh pasien yang berhubungan dengan psikiater bidang psikosomatik medis. Seringkali kondisi medis umum secara obyektif dianggap sudah baik namun kondisi kesehatan jiwanya masih sangat berpengaruh, di sinilah peran psikiater untuk meningkatkan kualitas hidup orang tersebut.Untuk itu dalam bekerja saya termasuk dalam tim-tim di Rumah sakit tempat saya bekerja, saat ini masuk ke dalam tim Neuroscience bersama dokter bedah saraf dan tim Seks bersama spesialsi urologi dan obgin. Selain itu secara rutin menerima konsultasi dari berbagai spesialis termasuk spesialis penyakit dalam, jantung, bedah orthopedi, saraf dan anak.
2. Bekerja dengan pasien dengan gangguan somatoform, atau pasien yang gangguan psikologisnya mempengaruhi kondisi fisiknya (psikosomatik) , baik disertai atau tidak dengan adanya kondisi medis umum.
Pasien dengan kondisi psikosomatik klasik ini yang paling banyak saya tangani sehari-hari. Hampir lebih dari 80 persen pasien yang datang ke Klinik Psikosomatik tempat saya bekerja adalah pasien dengan gangguan ini. Inilah gangguan yang paling banyak dialami dari sekian banyak gangguan jiwa yang ada.
3. Pasien dengan gangguan psikiatrik yang merupakan akibat langsung dari keadaan di otaknya , misalnya : Delirium dan Demensia.
Seringkali pasien pasca operasi atau pasien orang lanjut usia yang mengalami ketidakseimbangan eletrolit mengalami gangguan perubahan kesadaran. Pasien bisa tiba-tiba menjadi kacau, agresif dan tidak ingat sedang berada di mana. Kesadaran terhadap lingkungannya berkurang dan kadang bisa terjadi secara tiba-tiba. Psikiater biasanya bekerja di sini untuk melihat kondisi pasien secara keseluruhan dan memberikan assesment serta pengobatan yang tepat. Demensia atau dikenal dengan penyakit Pikun juga merupakan salah satu pasien yang seringkali datang ke psikiater baik secara langsung ataupun rujukan dari sejawat lain.
Demikianlah kerja seorang Psikiater yang bergerak di bidang Psikosomatik Medis secara umum. Selain kondisi yang berhubungan dengan Penyakit Dalam, psikiater konsultan psikosomatik medis juga bekerja sama dengan bidang lain termasuk bedah dan obgin.
Semoga informasi ini berguna buat kita semua.
Salam Sehat Jiwa