Senin, 06 Oktober 2014

CUTI PANJANG

Kepada Yth.
Bapak/Ibu 

Diberitahukan bahwa Klinik Psikosomatik RS OMNI akan tidak beroperasi seperti biasa dari tanggal 
11 November s.d. 18 November 2014 dikarenakan saya akan berada di Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan di bidang Psikosomatik Medis. Praktek seperti biasa tanggal 19 November 2014
Mohon agar dapat bisa mengatur jadwal kontrol dan terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya,
dr.Andri,SpKJ,FAPM 

Minggu, 28 September 2014

“Kok ‘Sakit Jiwa’ Saya Gak Sembuh-Sembuh Ya Dok?”

“Kok ‘Sakit Jiwa’ Saya Gak Sembuh-Sembuh Ya Dok?”

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater RS OMNI Alam Sutera)

Kesembuhan tentunya menjadi idaman semua pasien. Masalah medis apapun rasanya pasien tidak ada yang ingin tidak sembuh. Di satu sisi lainnya dokter tidak pernah menjanjikan kesembuhan. Dokter hanya akan mengatakan kalau dirinya akan berusaha semampunya untuk kesembuhan pasien. Dalam ilmu kedokteran jiwa istilah sembuh pasien kadang bisa punya makna yang berbeda dengan psikiaternya. Inilah mengapa dalam praktek sehari-hari jika ada pasien yang menanyakan apakah gangguan jiwa yang dialaminya bisa sembuh maka saya biasanya akan bertanya, apa makna sembuh yang dimaksud pasien. Sering kali perbedaan persepsi ini yang sering terjadi di praktek sehari-hari.
Masalah gangguan jiwa secara umum jaman dahulu dibagi menjadi dua, yaitu gangguan jiwa psikotik dan gangguan jiwa neurotic (neurosis atau dulu disebut neurosa). Sebenarnya pembagian ini untuk menunjukkan adanya perbedaan dalam penilaian realita yang terganggu di antara kedua jenis pasien tersebut. Gangguan jiwa psikotik yang termasuk skizofrenia dan gangguan waham dikatakan adalah gangguan jiwa yang pasiennya mengalami gangguan dalam menilai realitas. Gangguan penilaian realitas ini maksudnya adalah gangguan dalam membedakan mana yang nyata dan mana yang fantasi. Adanya halusinasi dan delusi (waham) adalah pertanda adanya gangguan dalam penilain realitas. Lebih jauh pembahasan ini pernah ditulis di beberapa artikel saya sebelumnya.
Sedangkan gangguan jiwa neurosis adalah gangguan jiwa yang tidak mengalami masalah dalam penilaian realitas. Walaupun tidak sepenuhnya tepat, maka yang termasuk di dalamnya adalah gangguan depresi, gangguan bipolar, gangguan kecemasan, gangguan kepribadian dan gangguan somatoform. Mengapa saya katakana tidak sepenuhnya tepat, karena pada gangguan depresi dan gangguan bipolar bisa juga ditemukan adanya masalah penilaian realita. Misalnya pada gangguan depresi berat dengan adanya halusinasi yang menyuruh orang itu untuk bunuh diri. Begitu juga pada gangguan bipolar. Pembagian ini sekarang sudah jarang disebutkan lagi karena masing-masing gangguan jiwa dikatakan langsung dengan diagnosis yang sesuai dengan pedoman diagnosis yang berlaku (DSM atau ICD-10).  

Apakah Gangguan Jiwa Bisa Sembuh?
Pertanyaan seputar kesembuhan gangguan jiwa memang biasanya mengundang dilema. Apalagi dengan persepsi awam yang mengatakan yang dimaksud dengan sembuh itu adalah tidak menggunakan terapi lagi baik obat maupun non obat. Ini sama saja dengan mengatakan apakah pasien yang mengalami darah tinggi bisa dikatakan sembuh jika masih makan obat setiap hari dan seumur hidup?. Sekiranya apa yang dialami oleh pasien gangguan jiwa seperti itu.
Ketika seorang mengalami masalah kejiwaan yang berkaitan dengan gangguan pada pikiran, perasaan dan perilakunya maka sebenarnya tidak semua memerlukan pengobatan. Pada beberapa kasus masalah kejiwaan bisa sembuh sendiri tanpa bekas. Hal ini disebabkan karena daya adaptasi manusia itu sendiri dalam menghadapi masalah. Selain itu juga karena sifatnya yang multifactorial, pemicu masalah kejiwaan sering kali tidak sama setiap orangnya walaupun diagnosis akhirnya sama. Sehingga tidak bisa dibandingkan antara satu pasien dengan pasien yang lainnya walaupun diagnosis sama. Seorang pasien dengan gangguan depresi bisa tanpa obat dalam terapinya tapi pasien yang lain harus makan obat bahkan sampai seumur hidup.
Selain itu juga persepsi awam tentang kalau mengobati gangguan jiwa itu sama dengan mengobati gangguan medis lainnya harus diperjelas. Apa yang diberikan pada pasien gangguan kejiwaan dalam pengobatan sering kali berbeda maknanya dengan penanganan kasus medis lainnya. Misalnya pemberian antidepresan golongan serotonin (SSRI) pada kasus depresi. Apa yang diberikan kepada pasien depresi tersebut sebenarnya bukan suplemen atau sejenis “antibiotic” untuk membunuh kuman bernama “depresi” di otak. Tetapi lebih kepada bahwa obat antidepresan itu diberikan dalam upaya mengaktifkan kembali sistem pembuatan serotonin di otak dan menjamin kesediaan serotonin yang cukup di otak. Ini artinya obat “hanya” berusaha mengaktifkan kembali sistem yang terganggu dan bukan memberikan yang kurang atau mematikan yang lebih. Sedikit berbeda dengan obat antipsikotik golongan antidopamin yang memang diberikan untuk mengurangi aktifitas kelebihan dopamine di otak yang mengakibatkan gejala-gejala psikotik seperti halusinasi dan delusi pada pasien skizofrenia.
Sayangnya ternyata tidak semua pasien ketika diaktifkan kembali sistem otaknya tersebut mampu akhirnya bisa dilepas dari pengobatan. Ada yang ternyata jika tidak dibantu obat, maka sistem otaknya itu tidak aktif kembali. Tidak heran bahwa banyak kasus depresi berulang dan masalah skizofrenia yang kambuhan terutama bila tidak berobat teratur. Bahkan penelitian sendiri mengatakan bahwa pada kasus gangguan depresi walaupun sudah diterapi optimal, maka angka kekambuhannya masih bisa lebih dari 50%. Tentunya seperti diuraikan di atas tidak semua kasus demikian namun bisa menjadi informasi kepada kita bahwa pengobatan masalah kejiwaan memang unik dan individual sekali. Yang penting kualitas hidup dan fungsi pasien kembali normal.

Gaya Hidup Sehat Cegah Kekambuhan
Walaupun keliatannya apa yang saya tuliskan di atas berkaitan dengan pengobatan dengan obat-obatan. Saya tidak mengatakan bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk “sembuh” dari masalah kejiwaan. Banyak penelitian telah mengatakan bahwa cara-cara seperti olahraga, relaksasi, konseling, psikoterapi, meditasi, yoga, penambahan supleman makanan telah banyak membantu proses kesembuhan. Hal ini tentunya lebih baik lagi jika didukung datanya oleh penelitian yang sahih dan besar. Satu terapi alternative untuk kasus tertentu belum tentu akan berhasil buat yang lainnya. Itulah mengapa kita tidak bisa membandingkan langsung masalah pasien satu dengan yang lainnya karena bersifat individual.

Semoga sedikit pembahasan tentang proses kesembuhan ini bisa bermanfaat buat pembaca sekalian. Salam sehat jiwa.  

Sabtu, 30 Agustus 2014

Jangan Biarkan Sulit Tidur Mengganggu Hidup Kita, Obati Segera!

Jangan Biarkan Sulit Tidur Mengganggu Hidup Kita, Obati Segera!

Pagi tadi saya mendapatkan BBM dari pasien saya yang berasal dari salah satu daerah di Jawa Tengah. Dia mengatakan bahwa sudah 25 hari ini dia bisa tidur tanpa obat sama sekali. Saya tentunya senang mendengar kabar yang menggembirakan ini. Hasil pengobatan sejak Maret 2014 akhirnya mendapatkan akhir yang menggembirakan. Saya sedikit akan menceritakan kisah pasien pada artikel di bawah ini.

Pasien seorang wanita usia 30an, menikah dan telah mempunyai putra. Waktu pertama kali datang ke Klinik Psikosomatik RS OMNI pasien mengeluhkan kesulitan tidur yang sudah terjadi beberapa bulan. Pasien telah ke dokter spesialis non-psikiatri sebelumnya dan diberikan alprazolam. Karena kekhawatiran akan ketergantungan pasien akhirnya mencoba mencari beberapa artikel terkait dengan alprazolam. Pasien akhirnya membaca salah satu tulisan saya tentang peran alprazolam dalam pengobatan yang sering kali salah alamat. Tulisan itu yang akhirnya membawa pasien ke klinik saya.

Dalam wawancara psikiatrik yang dilakukan saat itu terlihat bahwa keluhan sulit tidur pasien adalah kesulitan memulai tidur (inisiasi tidur). Lebih jauh pasien mengatakan selama ini memang sering kali tidurnya tidak mengikuti pola yang teratur. Kadang bisa sampai pagi tidak tidur karena ada urusan atau kesibukan di malam hingga dini hari.

Saat gangguan tidur yang berhubungan dengan pola perilaku tidur dan kesulitan memulai tidur, saya biasanya menggunakan antidepresan tertentu yang mempunyai efek untuk memperbaiki irama sirkadian tidur sekaligus mempunyai efek anticemas dan antidepresi. Selain itu antiinsomnia golongan non- benzodiazepine biasanya 
dipilih untuk mengatasi masalah kesulitan mulainya tidur.

Terapi dengan cara seperti ini tentunya tidak langsung mendapatkan hasil segera. Pasien memulai terapi bulan Maret 2014. Setelah dua bulan memakai antidepresan dan antiinsomnia secara berbarengan, akhirnya pasien bisa melepaskan antiinsomnianya dan hanya menggunakan antidepresan saja. Selanjutnya antidepresan dikurangi setengahnya sampai akhirnya pasien bisa tidur tanpa obat sama sekali di awal Agustus. Itu artinya butuh sekitar 5 bulan untuk terapi sulit tidur ini.

Obati Dasar Insomnianya
Dalam keseharian praktek saya sering mendapatkan kasus-kasus seperti cerita pasien di atas. Pasien biasanya pernah mencoba menggunakan obat anti insomnia baik yang dibeli sendiri atau dengan petunjuk dokter. Sayangnya sering kali pasien dan kebanyakan dokter non-psikiater hanya fokus pada bagaimana bisa mendapatkan tidurnya segera tanpa memikirkan apa dasar sulit tidurnya tersebut.

Inilah yang membuat kebanyakan kasus sulit tidur lebih mengutamakan penggunaan antiinsomnia golongan benzodiazepine yang biasanya bersifat hipnotik (membuat tidur) dan sedative (meredakan cemas). Pada beberapa kasus memang kadang diperlukan demikian tapi sebisa mungkin jangan menggunakan antiinsomnia yang bekerja pendek tapi usahakan menggunakan antiinsomnia yang bekerja panjang. Pemilihan obat antiinsomnia ini tentunya akan lebih mudah jika pasien berobat ke psikiater untuk gangguan tidurnya.

Jangan pernah lupa bahwa gangguan tidur biasanya merupakan manifestasi gangguan jiwa yang banyak jenisnya. Gangguan depresi, gangguan bipolar, gangguan cemas, demensia, skizofrenia, masalah penggunaan zat adalah beberapa masalah gangguan jiwa yang mempunyai gejala sulit tidur. Tanpa mengobati dasar gangguan tidurnya, maka biasanya hasil yang didapatkan saat terapi kurang baik. Apalagi jika hanya mengandalkan pengobatan untuk gejala sulit tidurnya saja tanpa memperhatikan masalah dasar gangguan jiwanya.

Hal penting adalah praktisi kesehatan harus mempunyai dasar ilmu yang baik untuk mengobati kesulitan tidur pada pasien. Jangan mudah memberikan obat yang sebenarnya tidak ditujukan untuk pengobatan sulit tidur. Kebanyakan dokter mengenal alprazolam sebagai obat untuk tidur yang poten. Sayangnya sebenarnya obat alprazolam lebih ditujukan untuk pengobatan gangguan cemas khususnya gangguan panik. Pengunaannya pun biasanya tidak boleh melebihi 4 minggu. Jika digunakan lebih dari itu, pasien harus dalam pengawasan dokter ahli dalam hal ini psikiater yang akan mengawasi ketat agar tidak terjadi ketergantungan dan toleransi obat.


Orang dengan gangguan tidur juga jangan sembarangan meminum obat tanpa pengawasan dokter. Banyak ditemukan dalam praktek pasien mencoba-coba anti insomnia yang diberikan oleh temannya. Padahal tiap kasus gangguan tidur itu tidak sama untuk setiap orang. Berkunjunglah ke dokter jika mengalami masalah tidur yang mengganggu fungsi pribadi dan sosial. Jika ke dokter umum tidak bisa memberikan solusi yang baik, mungkin ada baiknya berobat ke dokter jiwa/psikiater. Semoga tulisan ini berguna. Salam Sehat Jiwa.  

Sabtu di Bulan September Praktek Sore

Sabtu, 6 September 2014 praktek mulai jam 18.00-20.00 (Pasien dibatasi 10 pasien)

Sabtu, 13 September 2014 praktek mulai jam 15.00-18.00 (Pasien dibatasi 15 pasien)

Sabtu, 20 September 2014 praktek mulai jam 17.00-20.00 (Pasien dibatasi 10 pasien)

Sabtu, 27 September 2014 praktek seperti biasa pagi jam 9.30-12.00 (pendaftaran terakhir)