Selasa, 23 April 2013

Jangan Stop Obat Sembarangan

Oleh : Dr.Andri,SpKJ

Pasien yang berobat untuk keluhan psikosomatik biasanya dapat mencapai bebas gejala (remisi) pada 2 bulan setelah pengobatan dimulai. Namun demikian tidak disarankan untuk melepaskan obat yang digunakan setelah kondisi remisi ini tercapai. Hal ini disebabkan karena kestabilan belum tercapai sehingga mudah menyebabkan kambuh. Beberapa kasus yang saya tangani ini bisa dijadikan contoh bahwa pengobatan  harus selesai sampai psikiaternya memutuskan untuk berhenti berobat.

Kasus 1.
Laki-laki usia 30 tahun datang dengan keluhan psikosomatik sering kali erasa badannya kesemutan dan terasa tegang di seluruh otot. Perasaan cemas sering kali datang juga menyertai. Pada pasien ini tidak ditemukan gejala serangan panik, pasien hanya merasakan jika kecemasannya datang perasaan tidak enak dan tegang di otot-ototnya terasa sekali. Pasien disarankan menggunakan pengobatan Cymbalta (Duloxetine) yang dimulai dengan dosis awal. Obat diberikan selama 2 minggu dengan harapan bahwa pasien bisa datang kontrol kembali dalam waktu yang ditetapkan. Pasie baru kembali 3 bulan kemudian karena keluhannya berkurang. Pasien mengatakan pada saat memakan obat yang diberikan, pasien merasa sudah nyaman pada minggu pertama pengobatan dan akhirnya setelah obat habis pasien tidak mau kontrol lagi karena merasa sudah sembuh. Pasien datang kembali dengan keluhan yang sama tiga bulan kemudian.

Kasus 2.
Wanita usia 36 tahun dengan keluhan kecemasan terhadap segala aspek kehidupan yang ada. Pasien sering kali was-was jikalau ada apa-apa dalam kehidupan pasien. Kekhawatiran pasien tersebut sebenarnya tidak pernah terbukti, pasien hanya merasa was-was saja jika hal tersebut terjadi. Gejala-gejala psikosomatik yang jelas adalah sering keluar keringat dingin dan merasa tidak nyaman saat bernapas.
Obat diberikan kepada pasien dan untuk kasus ini dipilih Sertraline (Zoloft) yang biasanya diberikan dengan dosis awal dulu setengah dosis optimalnya. Pasien merasa nyaman pada minggu ke 3 dan meneruskan obat sampai minggu ke 6. Kontrol ke 2 kali pasien memutuskan untuk tidak datang dan berhenti mengkonsumsi obat. Satu bulan kemudian pasien datang kembali dan keluhannya kembali datang. Pasien mengatakan malas makan obat lama-lama dan memutuskan untuk stop saat merasa dirinya sudah enak.

Pembahasan
Kedua kasus di atas merupakan hal yang sering dihadapi dalam kasus sehari-hari dalam kehidupan praktek saya sebagai psikiater yang banyak terlibat pada kasus-kasus psikosomatik. Pasien yang merasa dirinya sudah baik biasanya menginginkan obatnya dihentikan. Penjelasan tentang efek obat dan waktu yang diperlukan untuk menggenapi pengobatan sebenarnya sudah dilakukan di konsultasi pertama namun karena beberapa hal pasien merasa tidak ingin melanjutkan pengobatannya. Beberapa faktor yang sering membuat pasien tidak mau meneruskan pengobatan adalah :
a. Ketakutan akan efek obat yang akan membuat ketergantungan walaupun sudah dijelaskan tidak demikian
b. Pembiayaan yang dianggap mahal jika harus berobat jangka panjang

Pasien yang mengalami perbaikan gejala harusnya tetap melakukan pengobatan secara teratur karena obat yang diberikan memang harus dimakan dalam jumlah dan waktu tertentu. Sebenarnya pasien sudah diberitahukan bahwa pada masa awal obat akan lebih banyak daripada masa akhir. Kondisi ini sering lebih harus ditekankan agar perasaan pasien menjadi lebih nyaman.
Motivasi untuk sembuh dan pengetahuan tentang penyakit yang diderita akan membuat pengobatan akan berlangsung baik. Semoga tulisan ini membantu.

Salam Sehat Jiwa

Tidak ada komentar: