Jumat, 7 Oktober 2016
Jam : 11.00-12.00 WIB (LIVE)
Rabu, 21 September 2016
Minggu, 18 September 2016
Kamis, 15 September 2016
Senin, 12 September 2016
Mengapa Orang Perfeksionis Rentan Alami Gangguan Kecemasan?
oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik Omni Hospital Alam Sutera)
Selama 8 tahun berpraktek memfokuskan diri pada pasien yang mengalami gangguan kecemasan, saya melihat beberapa hal yang berkaitan dengan kondisi terkait kepribadian pasien dan kecenderungannya untuk mengalami suatu gangguan kejiwaan tertentu. Dalam hal gangguan kecemasan terutama gangguan panik dan gangguan cemas menyeluruh, saya melihat bahwa kepribadian perfeksionis sangat berhubungan dengan masalah terkait gangguan cemas yang dialami pasien. Dalam tulisan ini saya akan sedikit membahas tentang hal ini.
Kepribadian Perfeksionis
Kepribadian perfeksionis di dalam ilmu kedokteran jiwa lebih dikenal sebagai kepribadian anankastik atau kepribadian obsesif kompulsif. Jangan salah mengira bahwa orang yang perfeksionis itu mengalami OCD (Obessesive Compulsive Disorder) karena hal ini sesuatu yang berbeda walaupun sedikit banyak ada kemiripan. Kepribadian anankastik atau perfeksionis suka dengan keteraturan.
Orang yang memiliki kepribadian ini biasanya sangat konsisten dan persisten. Dia biasanya agak sulit untuk bisa menerima jika ada orang lain yang tidak bisa sama seperti dirinya. Kadang orang yang perfeksionis suka terburu-buru dalam melakukan hal tertentu, selalu merasa diburu deadline atau ada suatu target yang ingin dicapai. Walaupun demikian dalam karier orang perfeksionis biasanya sering memiliki karier yang bagus dibandingkan yang lain. Lalu apa hubungannya dengan masalah kecemasan?
Sebenarnya hal tersebut bisa dijelaskan secara ilmiah tentang apa yang terjadi di otak orang yang perfeksionis. Ketika ada stres dalam tubuh kita, maka untuk menjaga keseimbangan di otak dan tubuh kita maka stres tersebut akan direspon tubuh dengan cara-cara tertentu agar keseimbangan otak dan tubuh terjaga. Saat stres maka akan terjadi respon hormonal lewat jalur aksis hipotalamus pituitary adrenal (HPA Axis) sehingga tubuh akan mengeluarkan hormon stres lebih banyak yaitu kortisol. Sistem saraf otonom juga akan merespon stres tersebut untuk membuat tubuh seimbang. Sistem saraf otonom yang terdiri dari sistem saraf simpatis dan parasimpatis akan melakukan respon saraf otonom sehingga kita akan merasakan seperti adanya jantung berdebar, tegang otot, keringat lebih banyak, ada keinginan BAB dan BAK berulang, dan nafas menjadi lebih cepat. Pada dasarnya respon stres ini akan berlangsung jika ada stres. Namun jika otak mendapatkan signal stres setiap saat atau sangat sering misalnya karena orang yang memiliki kepribadian perfeksionis merasa dirinya selalu dikejar waktu dan goal, maka bisa saja tubuh mengartikan kondisi ini sebagai stres yang terus menerus. Maka yang terjadi respon stres lewat jalur hormonal dan sistem saraf otonom juga akan berlangsung terus menerus.
Kondisi seperti ini yang akhirnya bisa membuat orang mengalami gangguan kecemasan ke depannya jika ternyata sistem adaptasi di tubuh orang tersebut sudah tidak mampu lagi beradaptasi dengan stres yang ada. Tidak heran bisa saja terjadi tiba-tiba serangan panik sebagai suatu respon tubuh yang sudah tidak tahan dalam menghadapi stres.
Perkuat Adaptasi Tubuh dan Hindari Stres Berlebihan
Tidak ada kehidupan yang bebas dari stres, namun perlu diingat bukan stres yang membunuh kita tetapi respon kita terhadap stres yang membunuh kita. Kata-kata tersebut dikatakan Hans Seyle sejak awal abad 20. Untuk itu kita perlu bisa mengurai stres kita atau beradaptasi dengan baik terhadap stres tersebut.
Pada orang-orang dengan kepribadian perfeksionis, dia harus mampu untuk mengenali dirinya sendiri dan mempunyai kesadaran bahwa kondisi itu jika tidak dapat dikendalikan baik malah akan membuatnya mudah mengalami gangguan jiwa. Relaksasi ddengan cara berolahraga, meditasi atau melakukan relaksasi akan sangat bemanfaat. Liburan yang bisa diambil setelah kerja panjang dan lama adalah pilihan yang bisa. Kadang tidak perlu selalu keluar kota atau ke luar negeri, halaman belakang dan atau depan rumah saja bisa menjadi tempat bersantai yang baik. Cari sendiri apa yang bisa membuat kita nyaman dengan hidup kita. Usahakan ada hal-hal yang menyenangkan dan membuat kita relaks. Hidup Seimbang adalah Kuncinya. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/psikosomatik_andri/mengapa-orang-perfeksionis-rentan-alami-kecemasan_57d6aff182afbdb73c9ee269
Selama 8 tahun berpraktek memfokuskan diri pada pasien yang mengalami gangguan kecemasan, saya melihat beberapa hal yang berkaitan dengan kondisi terkait kepribadian pasien dan kecenderungannya untuk mengalami suatu gangguan kejiwaan tertentu. Dalam hal gangguan kecemasan terutama gangguan panik dan gangguan cemas menyeluruh, saya melihat bahwa kepribadian perfeksionis sangat berhubungan dengan masalah terkait gangguan cemas yang dialami pasien. Dalam tulisan ini saya akan sedikit membahas tentang hal ini.
Kepribadian Perfeksionis
Kepribadian perfeksionis di dalam ilmu kedokteran jiwa lebih dikenal sebagai kepribadian anankastik atau kepribadian obsesif kompulsif. Jangan salah mengira bahwa orang yang perfeksionis itu mengalami OCD (Obessesive Compulsive Disorder) karena hal ini sesuatu yang berbeda walaupun sedikit banyak ada kemiripan. Kepribadian anankastik atau perfeksionis suka dengan keteraturan.
Orang yang memiliki kepribadian ini biasanya sangat konsisten dan persisten. Dia biasanya agak sulit untuk bisa menerima jika ada orang lain yang tidak bisa sama seperti dirinya. Kadang orang yang perfeksionis suka terburu-buru dalam melakukan hal tertentu, selalu merasa diburu deadline atau ada suatu target yang ingin dicapai. Walaupun demikian dalam karier orang perfeksionis biasanya sering memiliki karier yang bagus dibandingkan yang lain. Lalu apa hubungannya dengan masalah kecemasan?
Sebenarnya hal tersebut bisa dijelaskan secara ilmiah tentang apa yang terjadi di otak orang yang perfeksionis. Ketika ada stres dalam tubuh kita, maka untuk menjaga keseimbangan di otak dan tubuh kita maka stres tersebut akan direspon tubuh dengan cara-cara tertentu agar keseimbangan otak dan tubuh terjaga. Saat stres maka akan terjadi respon hormonal lewat jalur aksis hipotalamus pituitary adrenal (HPA Axis) sehingga tubuh akan mengeluarkan hormon stres lebih banyak yaitu kortisol. Sistem saraf otonom juga akan merespon stres tersebut untuk membuat tubuh seimbang. Sistem saraf otonom yang terdiri dari sistem saraf simpatis dan parasimpatis akan melakukan respon saraf otonom sehingga kita akan merasakan seperti adanya jantung berdebar, tegang otot, keringat lebih banyak, ada keinginan BAB dan BAK berulang, dan nafas menjadi lebih cepat. Pada dasarnya respon stres ini akan berlangsung jika ada stres. Namun jika otak mendapatkan signal stres setiap saat atau sangat sering misalnya karena orang yang memiliki kepribadian perfeksionis merasa dirinya selalu dikejar waktu dan goal, maka bisa saja tubuh mengartikan kondisi ini sebagai stres yang terus menerus. Maka yang terjadi respon stres lewat jalur hormonal dan sistem saraf otonom juga akan berlangsung terus menerus.
Kondisi seperti ini yang akhirnya bisa membuat orang mengalami gangguan kecemasan ke depannya jika ternyata sistem adaptasi di tubuh orang tersebut sudah tidak mampu lagi beradaptasi dengan stres yang ada. Tidak heran bisa saja terjadi tiba-tiba serangan panik sebagai suatu respon tubuh yang sudah tidak tahan dalam menghadapi stres.
Perkuat Adaptasi Tubuh dan Hindari Stres Berlebihan
Tidak ada kehidupan yang bebas dari stres, namun perlu diingat bukan stres yang membunuh kita tetapi respon kita terhadap stres yang membunuh kita. Kata-kata tersebut dikatakan Hans Seyle sejak awal abad 20. Untuk itu kita perlu bisa mengurai stres kita atau beradaptasi dengan baik terhadap stres tersebut.
Pada orang-orang dengan kepribadian perfeksionis, dia harus mampu untuk mengenali dirinya sendiri dan mempunyai kesadaran bahwa kondisi itu jika tidak dapat dikendalikan baik malah akan membuatnya mudah mengalami gangguan jiwa. Relaksasi ddengan cara berolahraga, meditasi atau melakukan relaksasi akan sangat bemanfaat. Liburan yang bisa diambil setelah kerja panjang dan lama adalah pilihan yang bisa. Kadang tidak perlu selalu keluar kota atau ke luar negeri, halaman belakang dan atau depan rumah saja bisa menjadi tempat bersantai yang baik. Cari sendiri apa yang bisa membuat kita nyaman dengan hidup kita. Usahakan ada hal-hal yang menyenangkan dan membuat kita relaks. Hidup Seimbang adalah Kuncinya. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/psikosomatik_andri/mengapa-orang-perfeksionis-rentan-alami-kecemasan_57d6aff182afbdb73c9ee269
Rabu, 31 Agustus 2016
Informasi Praktek (update 09 Oktober 2016) :
Informasi Praktek (update 09 Oktober 2016)
Jumat, 14 Oktober 2016 Praktek jam 15.00-18.00 (terima pasien seperti biasa max 10)
15-16 Okt 2016 : Cuti Praktek (Pelatihan Depresi di Shanghai, China)
Senin, 17 Okt 2016 : Praktek Pagi TIDAK ADA, Praktek Sore jam 15.30-20.00 (Terima Maksimal 15 pasien)
15-16 Okt 2016 : Cuti Praktek (Pelatihan Depresi di Shanghai, China)
Senin, 17 Okt 2016 : Praktek Pagi TIDAK ADA, Praktek Sore jam 15.30-20.00 (Terima Maksimal 15 pasien)
Terima Kasih
dr.Andri,SpKJ,FAPM
Senin, 22 Agustus 2016
Keluhan Fisik pada Pasien Depresi dan Cemas (laporan dari Fukuoka)
oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik OMNI Hopital Alam Sutera)
Kemarin 21/08/2016 saya baru saja memberikan presentasi saya berkaitan dengan Gejala Fisik pada Pasien Depresi di salah satu simposium di Asian College of Psychosomatic Medicine di Fukuoka, Jepang. Saya memilih tema ini berkaitan dengan latar belakang saya sebagai seorang psikiater yang mempunyai pengalaman klinis yang banyak pada pasien-pasien dengan keluhan fisik terutama sekali yang berkaitan dengan gangguan cemas dan depresi. Simposium saya ini bertema Depression and Somatization diisi oleh tiga pembicara yaitu dari Jepang, Mongolia dan saya sendiri dari Indonesia.
Saya sendiri mempresentasikan survei yang saya lakukan mulai tahun lalu berkaitan dengan masalah fisik pada pasien dengan gangguan cemas dan depresi. Gangguan depresi dan cemas sendiri lebih banyak kita temukan pada pasien di pelayanan primer. Pasien dengan gangguan fisik tentunya tidak banyak datang langsung ke psikiater walaupun sebenarnya gejala dan keluhannya tersebut didasari oleh gangguan psikologis. Orang biasa menyebutnya sebagai gejala psikosomatik sedangkan para ahli di kedokteran jiwa menyebutnya sebagai gejala somatik.
Hasil survey yang saya paparkan kemarin memang ternyata tidak jauh berbeda dari penelitian-penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya di bidang psikosomatik. Penelitian sebelumnya kebanyakan mengatakan keluhan yang paling sering didasari oleh gangguan depresi dan cemas adalah gejala nyeri (pain), jantung berdebar (palpitasi), gejala lambung dan kelelahan (fatigue). Inilah gejala yang bisa membuat orang mengalami masalah dalam kehidupannya karena mereka sering menjadi bingung sendiri apalagi jika tidak ditemukan adanya masalah terkait dengan keluhan atau gejala tersebut. Hasil survey di Indonesia yang saya lakukan juga demikian. Tiga terbesar keluhan yang paling sering dialami pasien adalah gejala jantung berdebar, nyeri (pain) dan kelelahan (fatigue). Nomor empat disusul oleh gejala gangguan lambung. Sekiranya penelitian yang dilakukan secara sederhana ini juga memberikan hal yang sama tentang masalah terkait gangguan psikosomatik di Indonesia.
Saya berharap hasil penelitian kecil ini bisa untuk menjadi dasar penentuan diagnosis sehari-hari dokter di pelayanan klinis. Pasien dengan keluhan fisik yang sering berpindah dan berkaitan dengan masalah emosional baik disadari maupun tidak ada baiknya untuk bisa dipikirkan adanya kemungkinan masalah depresi dan cemas jika dasar fisiologis atau medis fisik dari gejalanya tersebut tidak jelas. Beberapa penelitian telah mengatakan semakin banyak gejala fisik yang dikeluhkan pasien maka semakin tinggi kemungkinannya untuk mengalami depresi.
Semoga tulisan ini bermanfaat. Sampai berjumpa dua hari lagi di Semarang dalam Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Saya di sana akan presentasi dalam dua topik simposium berkaitan dengan gangguan cemas dan gangguan tidur. Sampai di laporan berikutnya. Salam Sehat Jiwa
![]() |
| Saat presentasi di salah satu simposium ACPM 2016 Fukuoka (dok.Pribadi) |
![]() |
| Bersama para pembicara dan faculty member of ACPM 2016 (dok Pribadi) |
Sabtu, 20 Agustus 2016
Laporan dari Asian College of Psychosomatic Medicine
![]() |
| ACPM 2016, Fukuoka, Japan |
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater)
Saat saya menuliskan artikel ini saya sedang berada di Fukuoka, Jepang dalam rangka untuk menghadiri Asian College of Psychosomatic Medicine (ACPM) 2016 yang berlangsung di Centennial Hall, Medical Faculty, Kyushu University. Selain datang sebagai peserta, saya juga berkesempatan untuk berbicara di salah satu simposium kongres ini berkaitan dengan tema Somatic Symptoms and Depression. Saya juga sebelumnya telah diminta dalam persiapan acara ini menjadi salah satu International Organizing Committee bersama president of ACPM 2018 nanti Prof Byung Sung Kim.
Acara ini diikuti oleh peserta dari Asia seperti Indonesia, Korea Selatan, China, Mongolia, Canada, Taiwan dan tentunya Jepang sebagai tuan rumah. Indonesia diwakili oleh empat psikiater dan empat internist psikosomatik dari berbagai daerah. Topik yang dibawakan kebanyakan berkaitan dengan penemuan terbaru dengan adanya pengaruh stres dan perilaku terhadap tubuh manusia.
Saya sendiri merasa beruntung bisa mewakili Indonesia dalam acara ini. Setelah tahun lalu di acara World Congress of Psychosomatic Medicine (WCPM) 2015 di Glasgow, Skotlandia juga saya ikut serta dalam salah satu simposium yang ada. Kesempatan untuk bisa berkontribusi lebih besar dalam acara ini juga dimulai tahun lalu dengan menjadi penasehat internasional bersama beberapa ahli lagi. Saya berharap dengan keikutsertaan aktif ini dapat membawa nama Indonesia lebih besar lagi di kalangan psikosomatik dunia dan khususnya Asia. Saya berharap juga tahun depan di Beijing, China saya bisa kembali aktif menjadi salah satu pembicara di World Congress of Psychosomatic Medicine.
Nantikan laporan selanjutnya dari ACPM 2016, Fukuoka Japan. Salam Sehat Jiwa
![]() |
| Salah satu pembicara dalam Simposium ACPM 2016 Tentang Somatic Complaints and Depression |
![]() |
| Menjadi Salah Satu International Organizing Committee (dok Pribadi) |
Langganan:
Postingan (Atom)




