Rabu, 30 September 2015
Selasa, 22 September 2015
Masalah Yang Mengintai Terkait Penggunaan Alprazolam
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik RS
OMNI Alam Sutera)
Sudah banyak sekali saya menuliskan tentang masalah
penggunaan alprazolam yang tidak pada tempatnya dalam praktek sehari-hari. Alprazolam
yang dikenal dengan berbagai merk seperti Xanax, Zypraz, Alganax, Frixitas, Calmlet,
Alprazolam generik adalah obat penenang atau anti cemas golongan benzodiazepine
yang sangat dikenal luas di kalangan para dokter. Efeknya yang cepat dan poten
sering menjadi pilihan dokter untuk menangani kasus-kasus berkaitan dengan
masalah kecemasan. Sering kali pula dokter meresepkannya untuk gangguan tidur
dan beberapa diberikan pada pasien-pasien dengan keluhan psikosomatik. Sayangnya
jika dipakai tanpa pengawasan dokter yang ketat dan terlalu lama, potensi akan
toleransi atau semakin naiknya dosis dan kesulitan lepas dari obat ini
sangatlah besar.
Beberapa pasien yang tidak sadar akan masalah yang bisa
timbul karena obat ini malah memakainya dengan sesukanya dan dibeli secara
bebas lewat online atau apotek yang nakal menjual tanpa resep. Beberapa dokter
yang kurang pemahamannya akan obat ini menggunakannya untuk banyak kasus yang
sebenarnya tidak perlu obat alprazolam ini. Sayangnya sering kali nasi sudah
menjadi bubur. Saya sudah sangat sering berhadapan dengan kasus ketergantungan
alprazolam yang dimulai dari suatu proses yang salah di masa lalu. Ketidaktahuan
pasien akan potensi ketergantungan obat ini dan kurangnya pengetahuan dokter
berkaitan dengan obat ini adalah kombinasi yang kurang baik jika berkaitan
dengan alprazolam.
Ketergantungan versus
Penyalahgunaan
Alprazolam adalah obat anticemas yang sangat efektif dan
poten. Itulah mengapa obat ini menjadi favorit di kalangan para dokter dan juga
pasien untuk menggunakannya. Beberapa kasus gangguan cemas panik sangat baik
jika diobati dengan obat ini saat serangan paniknya masih datang secara
dominan. Alprazolam mungkin dianggap satu-satunya obat yang bisa mengatasi
serangan panik secara cepat dan efektif. Kegunaan obat ini yang besar
menyebabkannya masih menjadi andalan banyak dokter terutama psikiater dalam
menangani masalah kecemasan.
Sayangnya memang masalah ketergantungan mengintai. Ketergantungan
bisa saja dianggap sebagai sesuatu yang biasa terjadi pada banyak kasus medis
seperti contohnya pasien yang harus terus menerus makan obat darah tinggi, obat
anti diabetes dan obat-obatan jantung dan pembuluh darah.
Sayangnya jika
berbicara ketergantungan obat penenang orang biasanya menjadi dipenuhi
kekhawatiran dan ketakutan. Walaupun demikian banyak kasus kecemasan di dalam
prakteknya memang membutuhkan obat penenang secara lama dan terus menerus. Beberapa
pasien tidak bisa nyaman dengan obat antidepresan yang dianggap juga mempunyai
efek anticemas, kebanyakan lebih nyaman dengan obat anticemas seperti salah
satunya alprazolam. Tanpa obat anticemas ini pasien tidak bisa beraktifitas
normal. Inilah salah satu contoh ketergantungan dalam praktek sehari-hari.
Definisi lain adalah penyalahgunaan. Penyalahgunaan lebih
diartikan menggunakan obat tanpa sesuai dosis dan indikasi yang biasa digunakan
dalam proses pengobatan. Penyalahgunaan obat anticemas seperti alprazolam
sering kali ditemukan pada pasien yang pernah terlibat atau bersinggungan
dengan narkotika seperti heroin dan golongan stimulan seperti metamfetamine dan
amfetamine. Dosis penyalahgunaan biasanya tidak seperti pada dosis terapi
tetapi biasanya lebih besar. Bayangkan dosis terapi alprazolam yang 0,5mg untuk
serangan panik bisa digunakan oleh orang yang menyalahgunakan obat ini sampai 20x
lipatnya atau sampai 10mg. Orang yang menyalahgunakan memang mencari efek lain
dari obat tersebut dan bukan efek terapinya.
Pengawasan Penggunaan
Obat
Psikiater dianggap sebagai dokter yang memahami lebih dalam
tentang penggunaan alprazolam. Kebanyakan psikiater akan sangat hati-hati
ketika menggunakan obat ini. Dosis kecil dan sering kali diberikan jika perlu
lebih sering disarankan untuk pasien daripada dosis besar dan diminum rutin. Beberapa
psikiater malah mungkin lebih banyak menghindari penggunaan alprazolam ini jika
tidak terlalu perlu.
Pasien juga perlu menyadari bahwa obat anticemas bukanlah
satu-satunya cara untuk sembuh dari gangguan cemas. Tulisan saya terdahulu di
blog ini juga menegaskan adanya kemungkinan sembuh dari gangguan kecemasan
tanpa perlu ke psikiater. Hal ini bertujuan agar pasien menyadari bahwa obat
untuk masalah gangguan cemas bukan satu-satunya jalan keluar apalagi obat yang
hanya efektif sesaat seperti alprazolam ini.
Salah satu yang perlu diingat pasien dan dokter adalah bahwa
sebelum memberikan alprazolam dan kebanyakan benzodiazepine lainnya, perlu
ditanyakan adanya riwayat penggunaan narkotika dan alkohol pada pasien. Jika ada
maka ada baiknya menghindari penggunaan alprazolam karena potensi untuk
ketergantungan dan penyalahgunaan akan lebih besar daripada yang tidak.
Semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Salam Sehat Jiwa
Kamis, 17 September 2015
Rabu, 09 September 2015
Tarif Konsultasi (per 1 September 2015)
Tarif Konsultasi di Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera per 1 September 2015 didasarkan pada waktu konsultasi (konsultasi biasa tidak lebih dari 30 menit) dan berkisar antara Rp. 300 ribu s.d. Rp. 400 ribu ( di luar biaya administrasi Rp. 50 ribu dan obat-obatan).
Sesi Psikoterapi (di lakukan pada praktek pagi kec Sabtu) yang biasanya memakan waktu konsultasi antara 30-40 menit berbeda tarifnya (Rp. 450 ribu s.d. Rp. 550 ribu)
Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera
Senin, 07 September 2015
Perubahan Jadwal Praktek Sementara
INFO PRAKTEK
Sabtu 12 Sept Praktek jam 7.30-11.00 (pasien dibatasi 15)
Senin 14 Sept Pagi Tidak Praktek,Sore Praktek seperti Biasa
Sabtu 12 Sept Praktek jam 7.30-11.00 (pasien dibatasi 15)
Senin 14 Sept Pagi Tidak Praktek,Sore Praktek seperti Biasa
Kamis, 03 September 2015
Jumat, 28 Agustus 2015
Sadar Psikosomatik Via Media Sosial (Laporan dari Glasgow)
Sadar Psikosomatik via Media Sosial

Berforto bersama peserta para Profesor dari Jepang setelah presentasi di World Congress of Psychosomatic Medicine di Glasgow 21 Agustus 2015 (dok.pribadi)
oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater, Psychosomatic Medicine Specialist, Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine (USA) )
Saya baru saja kembali ke kampus dan praktek setelah mengikuti World Congress of Psychosomatic Medicine yang ke-23 di Glasgow, Skotlandia. Pada acara tersebut saya diundang untuk mempresentasikan tentang apa yang selama ini saya lakukan di Indonesia berkaitan dengan penyebaran informasi untuk peningkatan kesadaran masyarakat tentang masalah psikosomatik.
Saya merasa beruntung bisa menjadi wakil Indonesia di forum ini. Ini merupakan kali kedua saya menghadiri acara kongres psikosomatik tingkat dunia sejak yang terakhir saya hadiri pertama kali di Seoul, Korea Selatan tahun 2011. Pada kesempatan tahun ini pula saya beruntung karena diminta untuk melakukan presentasi di salah satu simposium utama. Ini merupakan pencapaian tersendiri setelah terakhir mengikuti acara ini saya berkesempatan presentasi di poster. Tapi pada kesempatan kali ini pun selain saya melakukan presentasi di simposium, saya juga masih melakukan presentasi poster. Hal ini karena saya berpikir sayang sekali sudah jauh-jauh datang kalau tidak memaksimalkan apa yang kita bisa lakukan di kongres tingkat dunia ini.
Saya menjadi salah satu wakil dari dua orang dokter Indonesia yang pergi ke kongres ini. Tidak banyak memang dokter yang berminat di bidang ini walaupun kasus-kasus psikosomatik sangat banyak terjadi di praktek umum sehari-hari. Saya sendiri sudah menyebarkan informasi terkait dengan psikosomatik sejak tahun 2009 dan mulai intensif sejak 2010 sepulang dari Amerika Serikat mengikuti course di American Psychosomatic Society yang saat itu dilaksanakan di Portland, Oregon. Saya memang memilih menyebarkan informasi lewat internet via blog (termasuk Kompasiana) dan media sosial. Media sosial sendiri mempunyai arti yang sangat besar di Indonesia. Facebook di Indonesia merupakan media sosial yang paling banyak dipakai dengan 62 juta pengguna menurut survei tahun 2014. Twitter menempati tempat kedua dengan 20 juta pengguna aktif (dari 29 juta pengguna yang memiliki akun twitter). Indonesia pun dikenal sebagai salah satu negara "terbawel" di Twitter dengan sering kali menyumbang trending topic di lini masa Twitter. Kondisi ini membuat saya melihat adanya kesempatan untuk menyebarkan informasi terkait dengan psikosomatik melalui media sosial.
Sampai saat ini sudah ada sekitar 16.300 follower saya di twitter dengan akun @mbahndi dan ada 5000 teman dan 1875 follower di Facebook. Jumlah ini menurut saya cukup punya arti untuk bisa menyebarkan kesadaran akan psikosomatik. Posting di lini masa yang bersifat pribadi tetap ada tetapi memang kebanyakan saya lebih fokus dalam menyebarkan informasi terkait psikosomatik kepada para followers saya. Hal inilah yang akhirnya menarik minat panitia dan kemudian meminta saya untuk menjadi pembicara berkaitan dengan bagaimana membangun kesadaran publik tentang psikosomatik.
Saat presentasi kemarin, moderator Prof Singh dari Kanada memberikan komentar bahwa membangun kesadaran tentang masalah psikosomatik sangat baik dilakukan karena masyarakat saat ini sangat tergantung dengan informasi dari internet. Sayangnya sering kali informasi di internet tidak memberikan informasi yang baik atau sulit dimengerti oleh pembacanya. Ada pula masalah pasien yang sering kali mendiagnosis dirinya sendiri hanya bermodalkan artikel dari internet. Hal ini yang menyebabkan adanya kebutuhan informasi yang terpercaya dan kalau bisa datang dari seorang yang memang sehari-sehari berkutat di bidang ini.
Saya berharap ke depan akan banyak penelitian berkaitan dengan peran media sosial dalam menyebarkan informasi terkait psikosomatik. Tentunya juga didukung oleh penelitian yang lebih mendalam tentang hal ini.
Bersama Dr Mike Gow ketua panitia WCPM
Berdiri di depan poster yang dipresentasikan juga di WCPM 2015 Glasgow
Langganan:
Postingan (Atom)


