Kamis, 13 Oktober 2011

Gangguan Psikosomatik : Gangguan Jiwa Paling Sering

oleh : Dr.Andri,SpKJ

Kemarin (13/10/2011) telah diadakan seminar untuk para dokter lulusan baru di FK UKRIDA dengan tema “Common Mental Health in Primary Care : Diagnosis and Treatment”. Pada kesempatan ini saya mengetengahkan presentasi tentang Gangguan Psikosomatik di Pelayanan Primer, Bagaimana Diagnosis dan Tatalaksana awalnya.
Topik ini saya angkat karena pada berbagai kepustakaan, keluhan psikosomatik merupakan keluhan yang paling banyak dialami oleh pasien-pasien yang datang ke pelayanan primer. Pasien yang datang ke dokter dengan keluhan fisik ternyata 19.7-22% mengalami gangguan somatisasi yang seringkali mengganggu pasien dan kualitas hidupnya.
Gangguan psikosomatik dalam bahasa kedokteran jiwa lebih dikenal dengan sebutan Gangguan Somatisasi sebagai bagian dari payung diagnosis Gangguan Somatoform. Gejala yang paling khas dari gangguan Somatisasi adalah banyaknya keluhan yang terjadi di berbagai organ terutama lambung, otot, dan paling sering mengalami keluhan nyeri. Gejala ini biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan untuk mendapatkan diagnosis tetap sebagai suatu Gangguan Somatisasi.Pasien dengan keluhan seperti ini biasanya akan berpindah-pindah dokter karena “penyakitnya” tidak sembuh-sembuh.
Namun ternyata pada prakteknya diagnosis Gangguan Somatisasi jarang bisa ditetapkan pada pasien dengan keluhan-keluhan psikosomatik. Kebanyakan keluhan psikosomatik-nya hanya beberapa saja atau hanya fokus di salah satu gejala seperti jantung berdebar, sesak napas dan tidak nyaman di daerah dada. Lain kali pasien ada yang mengeluh lebih banyak keluhan lambungnya daripada yang lain. Kasus-kasus seperti ini yang lebih banyak terlihat di Klinik daripada yang benar-benar sebagai gangguan somatisasi. Survey yang dilakukan di Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera kepada pasien-pasien yang datang dengan keluhan psikosomatik, ternyata lebih dari 50% di antaranya, diagnosis dasarnya adalah Gangguan Cemas Panik.
Untuk itulah peran dokter umum di pelayanan primer sangat penting dalam mendiagnosis keluhan-keluhan psikosomatik pada pasiennya. Pandangan seorang dokter terhadap pasien seharusnya menyeluruh dan berpikir dengan konsep biopsikososial. Pendekatan biospikososial ini yang akan melihat pasien secara menyeluruh bukan hanya keluhan fisiknya saja tetapi juga apakah keluhan itu terkait juga dengan jiwa dan lingkungan sosialnya. Pada dasarnya semua penyakit pasti memiliki pendekatan biospikososial karena manusia memang makhluk biopsikososial.
Pada akhirnya tujuan dari seminar ini adalah agar kemampuan dokter-dokter umum khususnya yang akan berpraktek nanti akan lebih terasah dalam mendiagnosis kondisi keluhan psikosomatik yang sebenarnya sangat sering didapatkan pada pasien-pasien yang datang ke pelayanan primer dengan keluhan fisik.

http://www.facebook.com/pages/Psikosomatik-Medis/239114322787902

Rabu, 12 Oktober 2011

Mengapa Perempuan (Indonesia) Lebih Mudah Depresi ?

Oleh : Dr.Andri,SpKJ
Psikiater

Selama menangani pasien-pasien dengan keluhan psikosomatik yang datang ke klinik saya, saya sering mendapati dasar diagnosis dari pasien-pasien dengan keluhan-keluhan fisik yang tidak jelas ini adalah gangguan cemas dan depresi. Hal lain yang saya amati adalah perempuan lebih sering mengalami depresi daripada cemas. Jika memang ada gejala cemasnya juga biasanya pasien mengalami keluhan-keluhan depresi yang lebih dominan.
Hal ini tentunya bukan hal yang baru di dunia psikiatri. Perempuan memang lebih sering mengalami depresi dibandingkan dengan pria menurut berbagai penelitian yang telah dibuat. Banyak faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hal ini telah diungkapkan, namun rata-rata penelitian itu berbasis di komunitas negara-negara barat.
Saya mencoba menelaah dan memilah-milah sekiranya apa yang membuat perempuan Indonesia yang datang ke praktek lebih banyak mengalami depresi daripada gangguan kecemasan.
 
1. Hormonal
Sama seperti pada penelitian barat, perempuan Indonesia beberapa juga sangat terganggu dengan siklus hormonal bulanan yang sering juga berbarengan timbulnya dengan perubahan mood atau suasana perasaan yang tidak nyaman. Mereka biasanya mengalami kondisi tidak nyaman menjelang menstruasi dan selama menstruasi. Secara statistik memang perempuan di masa kehidupannya sejak fase pertama kali mens (menarche) sampai nanti setelah menopause akan cukup sering berkaitan dengan masalah mood terkait dengan fluktuatif hormonal.
 
2. Tuntutan Peran
Peran perempuan apalagi yang menikah sangat kompleks. Perempuan harus menjadi istri, ibu buat anaknya dan bahkan kadang "ibu" buat suaminya juga, juga seringkali menjadi orang yang diharapkan oleh keluarga perempuan untuk membantu. Kompleksitas peran ini membuat perempuan rentan stres. Apalagi jika ditambah dengan keinginan tetap mengaktualisasikaan diri yang malah seringkali terhambat. Penerimaan terhadap peran dan tuntutan di dalamnya yang bisa membantu perempuan mengatasi permasalahannya.
 
3. Konflik Rumah Tangga
Banyak kasus yang saya tangani terkait dengan konflik rumah tangga dan yang paling sering adalah perselingkuhan suami. Terkadang hal ini ditambah dengan sikap sebagian masyarakat di sekitar lingkungan perempuan itu yang "memaklumi" perselingkuhan suami. Ini semakin menjadi beban yang berat untuk perempuan yang merasa diperlakukan tidak adil.
 
4. Anak bermasalah
Anak seringkali menjadi pemicu stres orang tua terutama ibu. Perempuan dalam rumah tangga seringkali diberikan tugas lebih banyak dalam mengurus anak dan ini membuatnya seringkali lebih rentan terhadap stres terutama dalam  menghadapi anak-anaknya yang bermasalah. Peran suami dalam kondisi ini diharapkan dapat lebih membantu sehingga peran ibu menjadi lebih mudah.
Demikian sedikit hasil telaah saya terhadap kasus-kasus yang sering dialami perempuan yang mengalami depresi. Faktor-faktor lain mungkin saja terdapat dan mungkin menjadi faktor yang dominan buat masing-masing perempuan.
Berempatilah dengan perempuan Indonesia !
Salam Sehat Jiwa

Kamis, 22 September 2011

GERD, Keluhan Lambung dan Kecemasan Panik Yang Berhubungan

Oleh : Dr.Andri,SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis

Sejak mengkhususkan diri dalam menangani pasien-pasien dengan keluhan Psikosomatik, saya lebih banyak menangani pasien dengan keluhan-keluhan fisik terutama yang berkaitan dengan keluhan jantung, paru dan sistem pencernaan. Keluhan jantung berdebar, sesak napas, merasa lambung penuh dan kembung adalah keluhan-keluhan yang sering dialami pasien yang berkunjung di klinik psikosomatik tempat saya berpraktek.
Belakangan ini makin banyak datang pasien dengan keluhan lambung yang didiagnosis sebagai GERD (GastroEsophageal Reflux disorder) oleh dokter penyakit dalam yang juga datang ke tempat praktek saya. Apa hubungan GERD dengan gangguan jiwa terutama gangguan cemas panik? Hal ini akan saya jelaskan dalam pembahasan di bawah ini.

Asam Lambung Yang Naik
Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau bila diterjemahkan secara harafiah disebut sebagai penyakit lambung karena refluks asam lambung adalah masalah kesehatan umum yang menyebabkan perasaan terbakar di dada (dikenal istilah heartburn) dan regurgitasi asam lambung dari perut.
Jika kita makan, maka untuk mencerna makanan yang kita makan, perut kita akan diisi dengan asam lambung. Selama asam lambung itu tetap di perut dan melakukan tugasnya, tidak ada masalah. Tapi, ketika asam ini naik ke kerongkongan, kita akan mengalami gejala-gejala sakit maag. Apalagi jika asam ini termuntahkan ke kerongkongan, kita mungkin mengalami rasa terbakar di tenggorokan dan rasa yang sangat tidak menyenangkan di mulut kita.

Apa Penyebab GERD?
Kerongkongan adalah laksana saluran tabung otot yang menghubungkan mulut ke perut. Lower esophageal sphincter (LES) adalah sebuah cincin otot yang menutup “pintu” lambung dari kerongkongan ketika kita tidak makan. Ketika kita makan, otot ini akan mengendur untuk memungkinkan makanan masuk dari kerongkongan ke perut. LES kemudian menutup lagi sehingga makanan di perut tidak akan kembali ke kerongkongan. Pada kondisi GERD, LES tidak berfungsi dengan baik untuk mencegah naiknya asam lambung.

Kecemasan dan Depresi Tingkatkan Risiko Mengembangkan GERD
Penelitian yang telah dilakukan, baik kecemasan dan depresi berhubungan dengan risiko dua sampai empat kali lipat dari penyakit GERD. Beberapa peneliti percaya bahwa bahan kimia otak yang disebut cholecystokinin (CCK), yang telah dikaitkan dengan panik dan gangguan pencernaan, mungkin memainkan peran dalam timbulnya GERD pada orang dengan gangguan kecemasan. Faktor lain yang memungkinkan dan berkontribusi adalah ketika orang cemas mereka cenderung memicu atau memperburuk refluks asam lambung ke kerongkongan.

Apa yang bisa dilakukan ?
Pendekatan konsep biopsikososial pada kondisi medis umum adalah yang terbaik. Ini berarti bahwa pasien GERD selain perlu ditangani masalah fisik medis yang terkait dengan refluks asam lambung juga perlu mendapatkan penanganan kondisi cemasnya yang sering berkaitan dengan gangguan cemas panik dan depresi. Dalam praktek sering saya menemukan ketika kondisi cemas paniknya teratasi dengan baik, maka keluhan lambungnya bisa jauh berkurang bahkan baik sama sekali. Tata laksana yang tepat dan menyeluruh perlu dilakukan mengingat jika tidak diobati, refluks asam lambung dapat menyebabkan peradangan lapisan esofagus yang akan mengakibatkan kesulitan menelan, nyeri dada kronis, dan bahkan dapat menyebabkan kanker kerongkongan.
Seperti diungkapkan di atas bahwa cemas dan depresi bisa memperberat penyakit GERD sampai beberapa kali lipat, maka ada baiknya penanganan pasien dengan gangguan GERD yang juga mengalami kondisi kecemasan tinggi baik akibat latar belakang psikologisnya ataupun karena memikirkan penyakitnya perlu ditangani kondisi kesehatan jiwanya. Hal ini diupayakan agar mendapatkan hasil yang maksimal dalam penyembuhan kasus-kasus penyakit GERD.
Semoga informasi ini bermanfaat
Salam Sehat Jiwa

Selasa, 13 September 2011

Stres Bikin Daya Tahan Tubuh Terganggu

Oleh : Dr.Andri,SpKJ

Penelitian yang membahas tentang hubungan stres dan sistem daya tahan tubuh atau dikenal dengan sistem imun tubuh sudah semakin banyak dilakukan. Sejak berkembangnya ilmu Psikoneuroimunologi yaitu suatu ilmu yang mengkaitkan hubungan antara ilmu psikologi, saraf dan imunologi maka kondisi yang berhubungan dengan hal ini sudah semakin sering diteliti.

Psikoneuroimunologi menekankan pada pembuktian-pembuktian terkait dengan sistem imun tubuh dan hubungannya dengan stres yang terjadi pada orang tersebut. Disebutkan banyak sekali dampak stres terhadap sistem imun tubuh manusia yang mengakibatkan seseorang lebih rentang mengalami gangguan penyakit terkait dengan sistem imun tubuh.

Kemarin saat hari kedua kongres dunia International College of Psychosomatic Medicine di Seoul, Korea Selatan, pembicara Prof Christopher Coe dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat menerangkan kembali tentang Psikoneuroimunologi dalam kuliahnya yang berjudul “All Roads Lead To Psychoneuroimmunology”

Dalam kuliahnya Prof Coe mengatakan bahwa sudah semakin banyak penelitian dan fakta yang menggambarkan keterlibatan stres dalam mempengaruhi sistem imun manusia. Beberapa penyakit yang dihubungan dan ditekankan saat kuliah kemarin adalah pada Asma dan Fibromialgia.

Asma kita ketahui sebagai suatu gangguan penyakit pernapasan yang melibatkan sel-sel radang dan imun sistem dalam tubuh. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini (hanya bisa dikendalikan) sangat terkait dengan peranan sistem imun dan stres yang bisa memicu terjadinya serangan.

Fibromialgia sendiri merupakan suatu kondisi gangguan penyakit yang menekankan keluhannya pada nyeri di berbagai bagian tubuh dan suasana perasan yang tidak nyaman terkait dengan kondisi ini. Gangguan nyeri yang lebih banyak terdapat pada wanita ini belakangan semakin diteliti mempunyai dampak yang berhubungan dengan sistem stres dan imun tubuh. Kondisi yang terkait sistem imun pada pasien dengan gangguan fibromialgia terkait dengan penurunan kadar sel yang disebut Natural Killer (NK), Sitokon dan Interleukin. Kondisi seperti ini juga ditemukan pada pasien dengan depresi. Tidak heran gejala-gejala depresi dan cemas juga merupakan salah satu tanda kondisi fibromialgia. Fibromialgia sendiri memang dikenal dulunya lebih kepada suatu kumpulan gejala (sindrom) yang melibatkan berbagai macam keluhan. Kondisi sindrom yang juga sering tumpang tindih dengan berbagai kondisi lain seperti di antaranya gangguan somatoform (psikosomatik), gangguan nyeri, gangguan depresi dan gangguan lelah berkepanjangan (chronic fatigue syndrome)

Pada akhir kuliahnya Prof Coe mengatakan masih banyak terbuka lahan penelitian di bidang ini dan tentunya akan makin banyak pengetahuan yang masih bisa diperoleh dengan mempelajari stres dan hubungannya dengan sistem imun tubuh manusia.

Salam Sehat Jiwa

Sabtu, 27 Agustus 2011

Stres Bikin Daya Tahan Tubuh Menurun

Oleh : Dr.Andri,SpKJ

Penelitian yang membahas tentang hubungan stres dan sistem daya tahan tubuh atau dikenal dengan sistem imun tubuh sudah semakin banyak dilakukan. Sejak berkembangnya ilmu Psikoneuroimunologi yaitu suatu ilmu yang mengkaitkan hubungan antara ilmu psikologi, saraf dan imunologi maka kondisi yang berhubungan dengan hal ini sudah semakin sering diteliti.

Psikoneuroimunologi menekankan pada pembuktian-pembuktian terkait dengan sistem imun tubuh dan hubungannya dengan stres yang terjadi pada orang tersebut. Disebutkan banyak sekali dampak stres terhadap sistem imun tubuh manusia yang mengakibatkan seseorang lebih rentang mengalami gangguan penyakit terkait dengan sistem imun tubuh.

Kemarin saat hari kedua kongres dunia International College of Psychosomatic Medicine di Seoul, Korea Selatan, pembicara Prof Christopher Coe dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat menerangkan kembali tentang Psikoneuroimunologi dalam kuliahnya yang berjudul “All Roads Lead To Psychoneuroimmunology”

Dalam kuliahnya Prof Coe mengatakan bahwa sudah semakin banyak penelitian dan fakta yang menggambarkan keterlibatan stres dalam mempengaruhi sistem imun manusia. Beberapa penyakit yang dihubungan dan ditekankan saat kuliah kemarin adalah pada Asma dan Fibromialgia.

Asma kita ketahui sebagai suatu gangguan penyakit pernapasan yang melibatkan sel-sel radang dan imun sistem dalam tubuh. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini (hanya bisa dikendalikan) sangat terkait dengan peranan sistem imun dan stres yang bisa memicu terjadinya serangan.

Fibromialgia sendiri merupakan suatu kondisi gangguan penyakit yang menekankan keluhannya pada nyeri di berbagai bagian tubuh dan suasana perasan yang tidak nyaman terkait dengan kondisi ini. Gangguan nyeri yang lebih banyak terdapat pada wanita ini belakangan semakin diteliti mempunyai dampak yang berhubungan dengan sistem stres dan imun tubuh. Kondisi yang terkait sistem imun pada pasien dengan gangguan fibromialgia terkait dengan penurunan kadar sel yang disebut Natural Killer (NK), Sitokon dan Interleukin. Kondisi seperti ini juga ditemukan pada pasien dengan depresi. Tidak heran gejala-gejala depresi dan cemas juga merupakan salah satu tanda kondisi fibromialgia. Fibromialgia sendiri memang dikenal dulunya lebih kepada suatu kumpulan gejala (sindrom) yang melibatkan berbagai macam keluhan. Kondisi sindrom yang juga sering tumpang tindih dengan berbagai kondisi lain seperti di antaranya gangguan somatoform (psikosomatik), gangguan nyeri, gangguan depresi dan gangguan lelah berkepanjangan (chronic fatigue syndrome)

Pada akhir kuliahnya Prof Coe mengatakan masih banyak terbuka lahan penelitian di bidang ini dan tentunya akan makin banyak pengetahuan yang masih bisa diperoleh dengan mempelajari stres dan hubungannya dengan sistem imun tubuh manusia.

Salam Sehat Jiwa

Sabtu, 13 Agustus 2011

Akhirnya Lepas dari Ketergantungan Alprazolam


Atas ijin pasien saya posting email ini

Dear temans,
Saya menulis pengalaman saya ini benar-benar dari pengalaman saya pribadi dan atas pertimbangan supaya teman-teman yang masih menggunakan obat2 an jenis ini supaya lebih semangat untuk berusaha berhenti menggunakannya.
Bulan Desember 2010 lalu saya berobat ke sebuah Rumah Sakit yang terkenal di Depok dan saya pilih dokter penyakit dalam yang paling banyak pasiennya dengan harapan bahwa saya tidak salah pilih dokter.
Dari hasil diagnosa dokter tersebut saya dinyatakan kena penyakit GERD , dan pada akhir bulan Februari 2011 dilakukan endoscopy karena ada rasa panas di perut saya ( endoscopy saya lakukan atas saran dokter lain di rumah sakit lain ) , dan dari hasil esdoscopy tersebut ternyata ada baret di kerongkongan saya karena efek dari asam lambung yang sering naik ke kerongkongan dan dinyatakan saya kena esophagitis grade III .
Mengingat dari hasil endoscopy tersebut bahwa saya menderita esophagitis maka saya putuskan untuk terus berobat ke RS dan dokter tersebut terus menerus tanpa harus menunggu obat habis, dan pada akhir bulan Mei saat obat racikan dokter tersebut habis sementara obat yang lain masih ada tiba-tiba saya tidak bisa tidur sama sekali selama 4 hari 4 malam dengan perasaan yang tidak karuan, cemas . keluar keringat dingan, badan gemetar dan lemas sekali rasanya...akhirnya saya putuskan untuk ke dokter langganan saya tersebut..., dan dia bilang akan kasih saya obat tidur di racik dengan obat lambung dan jika tidak bisa tidur maka obat tersebut boleh dimakan 2 kapsul sekaligus dan memang seteah saya minum obat tersebut langsung 2 kapsul sekaligus saya langsung bisa tidur dan badan terasa segar kembali . Dua minggu kemudian saat obat tersebut habis saya kembali tidak bisa tidur dan pada malam ke 4 kira2 jam 2 malam saya pergi ke UGD ke rumah sakit langganan saya tersebut untuk minta obat yang pernah diberikan oleh dokter langganan saya ..., dan memang setelah saya minum obat racikan tersebut saya kembali tidur pulas...saat obat tersebut habis lagi , kembali saya tidak bisa tidur, dan saat itulah saya mulai sadar bahwa kemungkinan saya ketergantungan dengan obat racikan tersebut. 5 hari kemudian saya putuskan kembali ke dokter langganan saya dan saya ceitakan kondisi saya ternyata dia kasih lagi obat racikan tersebut tetapi saya sudah mulai ragu untuk mengkonsumsinya karena setelah saya konsultasikan ke dokter ahli pencernaan di rumah sakit lain dia tidak mau memberikan obat dan malah memberikan obat tidur dengan catatan dimakan jika benar-benar diperlukan.
Atas saran seorang teman saya diminta mengecek di internet jenis obat racikan tersebut yang terdiri dari Alprasolam 1/2 X 0.25ml diracik dengan 1/2 X0.5mg Clobazam dimasukkan dalam satu kapsul ternyata kedua obat racikan tersebut sejenis obat anti depresi dan anti kecemasan setelah saya check lagi ternyata dokter langganan saya tersebut sudah memberikan kepada saya mulai bulan Desember 2010 yang berarti sudah saya minum selama 6 bulan secara terus menerus yang harus saya minum 2Xsehari.
Beruntung saya bisa bertemu dengan Dr. Andri SpKJ yang saya temukan di Internet. Dan setelah saya berkenalan dan saya ceritakan persoalan saya melalui email maka saya putuskan untuk berkunjung langsung ke RS Omni Alam Sutra...dan Dr. Andri SpKJ memberikan program pengurangan dosis untuk mengatasi ketergantungan obat tersebut.
Teman-teman....ternyata sangat tidak mudah untuk mengurangi dosis obat tersebut karena selama saya menjalani program dari Dr. Andri memang tidur saya sangat tidak nyaman sehingga jika pagi hari tubuh terasa lemas, dan jika siang hari pikiran terasa cemas , linglung dan sering kali sulit mengontrol emosi...dan sudah tentu dengan kondisi seperti ini penyakit GERD saya tambah parah karena yang tadinya hanya bagian perut saja yang terasa panas, sekarang menjalar ke pinggang, dada sampai ketenggorakan terasa panas dan dada terasa sakit di tambah lagi kepala terasa pusing.
Sungguh menderita sekali rasanya...tetapi karena keinginan untuk lepas dari obat tersebut juga lebih kuat maka saya tetap tidak mau minum obat tersebut melebihi dosis yang telah di programkan oleh dokter Andri...hal berlanjut selama 2 minggu , dan saat memasuki minggu ke 3 saya putuskan untuk meminum racikan Alprasolam 1/4 X 0.25 mg sesuai anjuran dokter Andri untuk dosis terakhir , selama proses ini saya selalu aktif minta saran dokter Andri baik melalui email maupun SMS, dan atas saran Dokter tsb maka Alprasolam tersebut harus didampingi oleh Clobazam 1/2 X 0.5mg, 3 hari kemudian saya konsultasi lagi dengan dokter Andri dan memberikan program penurunan obat Alprazolam dan Clobazam tersebut...
Sehari setelah konsultasi tersebut saya putuskan untuk tidak meminum Alprazolam tersebut dan bebarapa hari efeknya semakin berkurang dan setelah satu minggu dapat saya pastikan bahwa efek putus obat dari Alprazolam benar-benar hilang...terima kasih banyak Dr. Andri SpKJ...tetapi saat itu saya masih minum Clobazam 1/4 X 0.5mg, dan belum bisa di hentikan secara mendadak, karena bebarapa kali saya coba tidak minum obat tersebut belum bisa tidur dan kepala pusing sekali.
Pada tanggal 4 Agustus kemarin saya coba tidak minum obat tersebut sama sekali dan ternyata untuk pertama kali selama 1,5 bulan sejak saya melakukan program mengurangi ketergantungan obat tersebut, tidur dan pikiran saya tidak terganggu sama sekali dengan tanpa meminum kedua obat tersebut yaitu Alprazolam dan Clobazam, mudah-mudahan ini adalah pertanda bahwa tubuh saya sudah pulih dari ketergantungan obat yang malah bikin susah tersebut.
Dari pengalaman saya ini maka sebaiknya teman-teman yang saat ini masih mengkonsumsi obat-obatan Alprazolam dan sejenisnya untuk segeralah berhenti karena efek sampingnya jauh lebih berbahaya dari manfaat yang didapat dari pemakaian obat tersebut. Mintalah bantuan pada orang yang benar-benar ahlinya..sebab hal juga dapat membantu sugesti kita untuk dapat mengatasi segala masalah yang dihapadi saat kita mengurangi dosis obat tersebut...
Demikianlah pengalaman saya ini dengan harapan dapat menjadi pelajaran sekaligus harapan bahwa separah apapun ketergantungan kita dengan Obat-obat sejenis penenang akan bisa kita atasi jika diiringi dengan kemauan yang kuat dengan didampingi oleh orang yang memang ahlinya..dan juga jangan lupa banyak-banyaklah berdo'a...dan tentu dukungan dari orang-orang dekat sangat membantu.
Salam

Tips Anti Cerai Dalam Berkeluarga

Oleh : dr.Andri,SpKJ

Mungkin sebagian dari teman-teman di sini bertanya-tanya, bergunakah tips anti cerai dari seorang yang belum genap setahun menikah ? Orang yang belum merasakan sulitnya menjaga keluarga dengan baik sehingga mampu langgeng sampai tua. Nah kalau itu yang ditanyakan kepada saya, jawaban saya adalah saya membagi tips tentunya bukan berdasarkan pengalaman saya, tetapi dari pengalaman pasien dan ilmu dasar perilaku manusia yang menjadi keahlian saya. Satu hal yang mendasari saya membuat artikel ini adalah bacaan menarik dari Stephen Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective Families.

Jadilah Pilot dan Co-Pilot

Dalam bukunya Stephen Covey mengatakan bahwa sebagai pasangan suami istri, dalam mengarungi rumah tangga bisa mengambil perumpamaan Pilot dan Co-Pilot pesawat terbang. Beberapa hal yang beliau tekankan dan saya sendiri dapatkan dari beberapa pengalaman pasien dan analisis perilakunya adalah sebagai berikut :

1. Pelatihan

Menjadi Pilot dan Co-Pilot butuh pelatihan. Untuk menjadi ahli dalam mengemudikan pesawat terbang seorang harus kursus sampai dinyatakan siap menjadi seorang pilot yang mampu menerbangkan pesawat. Bahkan dalam setiap penerbangan manual book selalu dibawa pilot sebagai persiapan kalau-kalau ada bahaya di dalam penerbangan. Itu pula yang terjadi dalam persiapan sebelum menikah. Kesiapan jiwa dan raga perlu untuk memasuki pernikahan. Materi saja belum tentu cukup, kesiapan mental terutama kesiapan untuk berkomitmen adalah yang paling utama. Pelatihan ini bisa didapatkan dari kehidupan masing-masing pasangan, pola asuh dan nilai keluarga sangat berperan dalam pembentukan karakter. Masa pacaran juga terkadang bisa menjadi masa uji coba kesiapan walaupun belum tentu semuanya sama dengan masa menikah nanti.Jangan lupa pula menambah pengetahuan dari buku-buku yang baik dalam memberikan pengetahuan tentang menjalankan rumah tangga.

2. Tujuan Yang Sama

Pilot dan Co-Pilot sebelum menerbangkan pesawat akan menentukan arah tujuan pesawatnya. Berapa ketinggiannya, berapa kecepatannya, arah mana yang akan ditempuh semua didiskusikan dan ditentukan sebelum pesawat berjalan. Begitu juga dengan pernikahan. Suami sebagai Pilot dan istri sebagai Co-Pilot juga perlu mempunyai tujuan yang sama. Tidak akan baik hasilnya jika suami dan istri berbeda tujuan.Komunikasikan tujuan ini bersama karena pesawat rumah tangga ini akan dibawa oleh kita berdua dengan pasangan.

3. Persiapan Menghadapi Badai

Terkadang dalam perjalanan pesawat kita menghadapi badai dan turbulans. Untuk itu terkadang pilot dan co-pilot harus mengubah haluan pesawat atau mendarat di bandara terdekat. Semuanya didskusikan dengan segera untuk keselamatan bersama. Begitupun juga dalam perkawinan. Seringkali badai datang mengganggu rumah tangga. Hal ini perlu disadari oleh kedua belah pihak jika ingin mengubah haluan. Bicarakan antara suami dan istri tentang apa yang harus dilakukan. Tentukan tujuan baru dan komunikasikan dengan baik dan efektif. Harapannya agar tujuan rumah tangga tetap merupakan hasil keputusan berdua.

Semoga tips di atas bisa sedikit banyak mengingatkan kita kembali akan tujuan kehidupan rumah tangga kita.